
Tetesan air hujan tidak menyurutkan semangat Alea untuk mengunjungi makam Andulu dan Amatya. Gadis itu yakin jika makam kedua shaman Raseyan tersebut dapat menjawab rasa penasarannya.
Alea pun mempercepat langkah.. Ia tidak mau kehilangan kesempatan. Misteri di balik batu
bergores darah itu harus ia selesaikan secepatnya.
Mereka bertiga kemudian tiba di dekat area pemakaman Andulu dan Amatya. Alea dapat melihat dua struktur dolmen yang lokasinya cukup berdekatan. Dolmen adalah formasi bebatuan yang umum ditemukan pada zaman Neolitikum. Dolmen biasanya dibangun di atas sebuah makam orang yang memiliki posisi dalam kelompok masyarakat. Batu bersusun ini dapat ditemukan di seluruh dunia namun tidak ada seorang pun yang mengetahui kenapa formasi batuannya serupa. Siapa yang menginspirasi mereka? Sampai saat ini, pertanyaan tersebut tetap menjadi misteri.
Menurut Raseyan, kedua shaman itulah yang menetapkan lokasi makam tepat dua hari sebelum kematian mereka. Mereka juga yang mengajarkan penduduk desa untuk meletakkan batu besar dengan presisi tertentu. Batu besar itu kemudian disangga oleh batu-batu yang berukuran lebih kecil.
“Apa itu makam mereka?” tanya Alea.
Raseyan mengangguk. Respon pemuda itu tidak sehangat biasanya.
Alea tahu jika Raseyan masih marah. Sejak semalam, pemuda itu tidak mau begitu diajak bicara. Ia banyak diam.
Terkadang tatapannya terlihat kosong.
“Elo muka tembok ya Le…” bisik Kavindra.
“Bawel…. Kalau ga gini dia mana mau bawa kita ke makam ini” timpal Alea.
“Gue mah ga bisa kaya elo… gue kan pemalu…. “.
“Hah?” Alea berharap telinganya salah dengar. Sejak kapan Kavindra jadi pria pemalu?
“Yang ada malu-maluin” gumam gadis itu geram.
Tentu saja tidak mudah bagi Alea untuk membuang gengsinya jauh-jauh. Ia sebenarnya tidak ingin bersikap agresif. Tapi jika ia tidak melakukannya, Raseyan mana mungkin mau mengantarnya ke makam sang shaman.
Sedari pagi Alea terus merengek manja. Ia tahu kalau hati Raseyan pasti luluh mendengar permintaannya.
Sebenarnya, jauh di lubuk hatinya, Alea merasa bersalah.
Ia tahu jika aksinya sama saja dengan mempermainkan hati Raseyan.
Tapi apa yang bisa ia perbuat? Ia harus menguak misteri batu bergores agar bisa melindungi dunia transisi dari The Great Destroyer. Selain itu, ia juga ingin cepat pulang. Sejak melihat penampakan mata aneh itu di langit, Alea jadi semakin rindu dengan Mahesa.
Ia ingin bercerita dan juga mengadu. Sejudes-judesnya Mahesa, Alea tahu kalau dewa itu pasti bisa menemukan jalan keluar.
Tanpa disadari Alea, air matanya menetes.
Ia rindu Mahesa.
Kenapa takdir selalu berusaha memisahkan mereka? gumamnya sedih.
Gadis itu berusaha menghapus air mata sebelum Raseyan dan Kavindra melihatnya.
Tapi entah kenapa, air matanya terus mengalir.
Dadanya begitu sesak.
Ia seakan tidak bisa menemukan ruang untuk bernapas.
Kerinduannya memuncak.
Ia ingin segera menghamburkan diri ke pelukan Mahesa.
Menerima seluruh omelan judes sang dewa.
Kemudian merasakan belaian lembut jemari tangan Mahesa yang hangat.
Akibat pikirannya yang kacau, Alea pun nyaris terpeleset saat menginjak permukaan tanah yang becek.
“Alea!!”. Raseyan dengan gesit menangkap tubuh Alea.
Hatinya perih saat melihat air mata gadis itu. Ia spontan mendekatkan kepala Alea ke dadanya.
Raseyan sengaja tidak bertanya apapun. Pemuda itu terlalu takut untuk mendengar jawaban jujur Alea.
Ia khawatir jika tangisan tersebut ditujukan untuk Mahesa, saingannya.
Sungguh rencana pernikahan Alea dan Mahesa telah mengoyak perasaan Raseyan. Sejak semalam pikiran pemuda itu kacau. Jujur saja, ia sempat berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Ia tidak bisa menerima kenyataan jika Alea tidak bisa menjadi miliknya.
Raseyan tidak habis pikir kenapa Mahesa harus menjatuhkan pilihan pada Alea. Bukankan keduanya berasal dari
dunia yang berbeda? Lagipula, bukankah Mahesa bisa memilih dewi-dewi lain di kahyangan. Alea sudah pasti bukan satu-satunya opsi yang tersedia.
Tapi tidak dengannya.
Alea adalah gadis pertama yang ia lihat di dalam hidupnya. Raseyan bahkan tidak pernah melihat sosok sang ibu yang melahirkannya. Ia yang besar dalam pelarian dan ketakutan, tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari ia akan bertemu dengan sosok lawan jenis yang bernama perempuan.
Raseyan hanya mendengar cerita mengenai sosok perempuan dari mulut Andulu dan Amatya. Menurut kedua shamannya yang telah meninggal itu, perempuan adalah sosok manusia yang memiliki sifat berlawanan dengan para lelaki. Mereka memiliki sifat lemah lembut yang akan menaklukkan sifat laki-laki yang keras. Sayang sekali tubuh mereka ringkih dan lemah. Oleh karena itu mereka membutuhkan perlindungan dari kaum lelaki.
Tapi teori kedua shamannya mengenai seorang perempuan tidak berlaku untuk Alea.
Gadis itu bukan perempuan lemah dan penakut. Alea yang ia tahu berani membunuh seekor kalajengking raksasa demi melindungi laki-laki penyakitan seperti dirinya. Ya, ia dulu adalah hanya seorang pangeran lemah yang terkena kutukan. Hanya Alea perempuan yang bisa melindungi, mengerti dan menjaganya.
Lagipula, bukankah ia yang sudah terlebih dahulu menikahi Alea?
Pernikahan mereka tidak pernah dibatalkan, dan itu berarti bahwa Alea masih menjadi istrinya!
Raseyan menghapus air mata yang membasahi pipinya. Ia kini semakin bertekad untuk mempertahankan Alea di sisinya.
Kavindra kali ini mati kutu. Ia tidak tahu harus berbuat apa saat melihat Raseyan dan Alea yang menangis secara bersamaan.
Pria itu tidak paham kenapa kedua manusia dari beda zaman itu terlihat begitu sedih.
Bola matanya berputar ke atas dan bawah. Ia mencoba memahami situasi yang sedang terjadi.
“Apa jangan-jangan mereka takut sama mata raksasa kemaren ya? Bisa juga sih… mungkin Alea dan Raseyan ketakutan…. “ duga pria itu sambil memainkan janggut.
Ia dengan sok tahu mendekati Raseyan dan Alea. Tanpa pikir panjang, Kavindra memeluk keduanya dengan erat.
“Gue ada disini, fren… kita akan selalu bersama dalam senang dan duka….. huhuhu” serunya dengan tangisan yang dibuat-buat.
Pelukan Kavindra membuat Alea dan Raseyan terdiam. Keduanya spontan berhenti menangis.
Mereka berdua melirik ke arah Kavindra dengan wajah bingung.
“Kamu…. Ngapain?” tanya Raseyan dengan alis kanan terangkat.
Kavindra terdiam sesaat. Ia baru sadar jika dirinya ternyata merupakan nyamukdi antara hubungan Alea dan Raseyan.
Pria itu tersenyum lebar. Gigi-gigi putihnya terlihat. Ia terlihat menyembunyikan rasa malu yang tidak terkira. Langkahnya salah. Raseyan dan Alea ternyata tidak membutuhkan pemeran figuran dalam hubungan mereka.
“Hahaha.... dingin, barusan gue kedinginan....maap bro sis... silahkan dilanjutkan” tukas Kavindra sambil melepaskan diri.
Alea beranjak. Ia lalu meminta maaf pada Raseyan yang sedari tadi memeluknya.
“Maaf… aku tadi sempat kehilangan akal sehatku” ucap gadis itu sambil menghapus air mata
.
Alea mengambil napas panjang. Kini ia mengerti kenapa perasaannya semakin terasa berat. Sentuhan
Raseyan telah membuatnya melihat misteri yang tersimpan di balik makam Andulu dan Amatya.
Ada sesuatu yang tersembunyi di balik keberadaan dolmen kembar di belakang perkampungan yang mereka huni.
“Kavindra, gue butuh bantuan elo…” panggil Alea.
“Bantuan apa?” tanya Kavindra ragu. Ia khawatir jika Alea meminta darahnya.
“Le... gue belum nikah Le… jangan kejam-kejam ama gue”.
“Emangnya gue mau ngapain elo?” tanya Alea.
“Pake darah gue untuk pengorbanan?” jawab Kavindra ragu.
“Kebanyakan ngayal sih… gue mau nanya tentang sosok kemaren yang elo sebut….wait siapa namanya?”.
“Odin dan Freya?”.
Ketika Kavindra menyebutkan kedua nama itu, dolmen kembar di dekat mereka tiba-tiba bergeser ke arah yang berlawanan.
Raseyan mundur tiga langkah.
Ia benar-benar terkejut.
Apakah barusan terjadi gempa?
Jika tidak, bagaimana mungkin batu-batu besar tersebut dapat bergeser tanpa campur tangan manusia?
Alea pun tersenyum. Penglihatannya tidak salah.
Saat Raseyan menyentuhnya, gadis itu melihat keberadaan sepasang makhluk di depan dolmen Andulu dan Amatya.
“Mereka… bisa jadi adalah penabur pecahan bintang di dunia ini”.
“Maksudmu?” tanya Kavindra bingung.
“Kita sedang berurusan dengan kekuatan dari kebudayaan lain…” ujar Alea. Gadis itu berjalan menuju ke celah
kecil yang terbuka akibat pergeseran dolmen.
“Alea… tunggu, bahaya…” Raseyan mencoba mencegah tindakan nekad Alea.
“Kalau kamu takut, kamu disini saja” seru gadis itu.
Harga diri Raseyan terusik. Mana mungkin ia akan membiarkan Alea masuk sendirian.
Di bayangan pria itu, ada ratusan ular kecil yang tengah bersembunyi. Bukankah celah sesempit itu biasanya
merupakan tempat tidur para ular?
“Kamu disini saja… panggil Naga Swarna untuk mengawasi kami” perintah Alea.
“Bagaimana cara memanggilnya?” tanya Kavindra bingung. Meskipun ia adalah keturunan Wangsa Syailendra, tapi ia sama sekali tidak tahu tata cara untuk mengendalikan naga.
Alea menatap Kavindra dengan sinis.
Jika saja Naga Swarna tidak muncul, mungkin gadis itu akan kembali meragukan status Kavindra sebagai keturunan Wangsa Syailendra.
Alea menyuruh Kavindra untuk meletakkan tangan di dada kanan.
“Panggil namanya….” perintah Alea.
“Naga Swarna….” panggil Kavindra dengan nada tidak yakin.
“Graoooooooooo……………………….” Suara lolongan Naga tiba-tiba terdengar. Naga berwarna emas menyala itu terlihat terbang melintasi angkasa.
Kaki-kakinya yang kokoh kemudian menyambar pepohonan di dekatnya. Naga itu mendarat tepat di belakang Kavindra, manusia yang kini telah menjadi tuan barunya.
Naga Swarna membalas tatapan Alea. Ia seperti membaca seluruh rencana gadis itu untuk membongkar misteri di balik lokasi dolmen kembar.
Naga itu membuka mulutnya lebar-lebar. Ia menarik napas sebentar lalu menghembuskan napas yang bercampur
dengan api yang berkobar.
Dugaan Alea tidak salah.
Celah itu semakin terbuka.
Ada sesuatu yang tengah menunggunya di antara makam kedua shaman tersebut.
“Alea…”. Raseyan menarik telapak tangan gadis itu. Ia meminta Alea untuk berjalan di belakangnya.
“Biar aku yang maju dulu…” ujar Raseyan sambil mengarahkan tombaknya ke depan.
Alea menggeleng. "Aku akan baik-baik saja...." serunya penuh percaya diri.
Ia menghempas pegangan Raseyan. Tubuhnya yang mungil mulai memasuki celah sempit tersebut.
Saat telapak kakinya menyentuh mulut celah, diameter celah itu pun membesar.
Dari balik celah-celah itu muncul sebuah sinar yang menyinari jalan mereka.
Raseyan heran kenapa gadis itu terlihat penuh percaya diri. Apakah ia sudah melihat sesuatu di dalam penerawangannya, gumamnya penasaran.
Semakin dalam Alea masuk, semakin besar diameter yang terbuka.
Kavindra mengucek matanya berulang kali.
Ia berharap penglihatannya salah.
Pemuda itu seperti melihat bayangan transparan yang mengikuti Alea dari belakang.
“Aku perlu masuk nggak ya?” tanyanya ke sang naga.
Naga Swarna menggeleng.
Ia menghembuskan napas sekali lagi, kali ini tanpa api. Naga itu lalu membungkuk. Ia seakan-akan tengah memberikan penghormatan pada sesuatu yang tidak terlihat.
Kavindra mengangguk pelan. Ia memutuskan untuk percaya dengan insting naga tersebut.
Namun setelah ini ada sesuatu yang ingin ia tanyakan pada Alea.
Siapa bayangan transparan tersebut? Apakah Alea mengetahui keberadaannya?
“Alea…” panggil Raseyan. Ia buru-buru menyambar tangan gadis itu. Hatinya resah. Ia khawatir jika kali ini
Alea dikelabui oleh kekuatan gelap.
“Apa tidak sebaiknya kita kembali? Apa yang menjamin cahaya ini menuju ke sebuah tempat yang aman?”.
Alea tersenyum. Ia mengangkat tangannya yang tengah digenggam oleh Raseyan.
“Memorimu... panduanku” senyumnya manis.
Hati Raseyan berdesir.
Seharusnya Alea tidak melemparkan senyuman itu padanya.
Senyuman gadis itu membuatnya serakah. Ia ingin menguasai Alea untuk dirinya sendiri.
“Lihat ke depanmu….” bisik Alea.
Raseyan tercengang saat melihat bongkahan batu hitam berkilau di depannya.
Rupanya cahaya yang menyinari mereka berasal dari batu tersebut.
“Ini batu yang dicari oleh makhluk tadi malam….”.
“Apa maksudmu?” tanya Raseyan bingung.
“Pecahan bintang yang disembunyikan oleh Odin dan Freya, sepasang dewa dewi dari negeri dingin Skandinavia”.
Tiba-tiba keduanya merasakan semilir angin dingin.
Bulu kuduk Alea berdiri, temperatur ruangan yang berubah drastis membuatnya terkejut.
Temperatur ruangan yang tidak normal tersebut telah mendorong kecurigaan Alea.
Ada tamu yang tidak diundang.
Atau justru, pemilik ruangan yang telah menunggu mereka?
“endelig fant du oss (akhirnya kau menemukan kami)….” sapa suara yang tidak jelas datang dari mana.
“I don’t speak your language…. “ balas Alea dengan berani.
“Guds favoritt jente (gadis favorit dewa)…..” tukas makhluk itu pelan.
“Aku yakin kau bisa berbicara bahasa penduduk setempat bukan? Aku melihatmu berbicara dengan kedua shaman
yang dimakamkan di kiri dan kanan tempat ini”.
Pertanyaan Alea telah menyudutkan makhluk itu.
Ia pun menunjukkan sosoknya. Sosok yang membuat Raseyan terkejut bukan main.
Makhluk itu adalah bagian dari masa lalunya!
Sosok tinggi besar yang mengenakan jubah berwarna perak.
“Oor?” panggil Raseyan setengah tidak percaya.
“Pangeran Raseyan… akhirnya kita bertemu lagi”.
Alea terkejut. Bagaimana mungkin Raseyan mengenal sosok makhluk di depan mereka?
“Kau bukan sekedar bunga tidurku…”. Senyum Raseyan mengembang. Wajahnya terlihat bahagia dan lega.
“Alea, makhluk ini… ia yang telah melindungiku di saat aku tidak bisa terbangun karena kutukan Agros. Di saat aku tertidur, aku dijaga olehnya di alam mimpi. Ia selalu menyembunyikanku di sebuah ruangan atau di balik jubahnya”.
Makhluk yang mengenakan jubah perak itu tertawa.
“Dan apakah kau mengenali ruangan ini pangeran?”.
Raseyan melihat ke sekelilingnya.
Ia kemudian mengangguk.
“Jadi sejak dulu, aku sudah berpetualang ke tempat ini?” tanyanya terkejut. Ruangan itu tidak berubah. Raseyan masih ingat dengan batu hitam yang sering ia duduki tersebut.
Alea terdiam. Ia menatap makhluk itu dengan curiga.
“Namamu Oor? Apakah kau dewa? Atau hanya penghuni tempat ini?”.
“Satu-satu gadis muda, pertanyaannmu terlalu banyak…” kekehnya.
“Kau seharusnya tidak sendiri, dimana pasanganmu?”.
Wajah Oor berubah mendengar pertanyaan Alea. Bagaimana mungkin gadis itu bisa tahu bahwa ia tidak bertugas sendirian?
Itu adalah rahasia yang hanya diketahui oleh segelintir dewa.
Dan jelas sekali bahwa gadis yang bersama Raseyan bukan termasuk dewa-dewa yang tahu rahasianya.
Oor menggerakan tongkat kayunya yang memiliki banyak ukiran unik.
Ia mencoba menyelidiki identitas dewa yang melindungi Alea.
Saat ia mengayunkan tongkatnya, dewa itu pun terlempar ke dinding.
Tubuhnya menggigil.
Ia tidak tahu siapa dewa yang berada di balik kedatangan gadis itu. Tapi satu hal yang pasti, dewa itu memiliki
kedudukan yang lebih tinggi darinya!! Oor kembali mengarahkan tongkatnya. Ia harus mencari tahu siapa dewa yang kini tengah menjadi patron manusia bumi di hadapannya.
***