
“Raseyannnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn……………………………………….”.
Alea pingsan setelah meneriakkan nama pemuda itu. Sepertinya Alea trauma. Saat melihat tubuh Raseyan yang diangkat oleh tangan raksasa, Alea langsung jatuh terkulai.
Kavindra pun panik bukan main.
Ia buru-buru menyeret Alea ke belakang bebatuan besar.
Pria itu tidak bisa berpikir lagi. Tanpa Naga Swarna maupun kekuatan dewa dewi, apa yang bisa ia lakukan?
Kavindra menatap Raseyan yang kini berada di genggaman Gosta Cola. Ia nyaris menjerit saat melihat kemunculan sesosok pria berjubah hitam panjang. Pria itu kini menggendong Raseyan di pundaknya.
“Kom Alle Sammen!!!!!!!” ujarnya.
Dahi Kavindra mengernyit. Ia tidak paham bahasa sang pria berjubah hitam.
“Ah, jeg glemte… Kalian, masuklah ke tempat ini!!!!!!! Aku sudah membuka pintunya…..”.
Lima belas menit berlalu.
Tidak ada siapapun yang datang.
Pria berjubah hitam itu masih berdiri di antara lapangan.
Ia kemudian menaruh Raseyan di permukaan tanah. Pria bertubuh besar itu memutar bahunya ke
depan dan ke belakang. Sepertinya bahu pria itu pegal, gumam Kavindra.
Pria tersebut mulai terlihat resah. Sebentar-bentar, ia memicingkan mata. Jelas sekali ia sedang menunggu kedatangan seseorang. Kavindra dapat mendengar pria itu menggerutu dalam bahasa asing.
Tidak lama berselang, tujuh pemuda bertubuh ceking datang menyapanya.
“Tuan Gosta Cola! Salam hormat”.
Dada Kavindra berdegup. Ia melirik ke arah Alea yang pingsan di pangkuannya.
“Mati Le, beneran Gosta Cola…” bisiknya, sembari berharap sang sahabat bisa segera siuman.
Kavindra pelan-pelan mengintip.
Ia terkejut saat melihat penampakan ketujuh pemuda tersebut.
“The Great Destroyer? Damn, mereka berhasil masuk ke dunia ini!”.
Kavindra pelan-pelan meletakkan kepala Alea di tanah.
Ia lalu merangkak, tentu saja dengan sangat hati-hati. Kavindra membayangkan dirinya menjadi seorang agen rahasia. Ia dengan gesit menutupi dirinya dengan sejumlah ranting dan daun-daun kering. Kavindra pun membalurkan sejumlah lumpur ke wajahnya.
Saat ketujuh pemuda itu lengah, ia merangkak mendekati tempat mereka berdiri. Bak bunglon, Kavindra memberanikan diri untuk jongkok di antara semak-semak. Ia benar-benar yakin dengan penyamarannya.
“Kenapa kalian lama sekali? Aku letih sudah menunggu kalian” seru Gosta Cola dengan aksen Indonesianya yang khas.
“Sudah letih kali tuan…” ujar salah seorang pemuda membetulkan tata bahasa sang penyihir.
“Ya apapun itu… kenapa kalian sampai sampai tidak?” tanya Gosta Cola.
“Tidak sampai-sampai kali tuan…” seru pemuda itu lagi.
Gosta Cola cemberut. Ia memang baru satu tahun belakangan ini belajar Bahasa Indonesia.
Itu pun belajarnya dari youtube. Setelah mendapatkan petunjuk mengenai keberadaan Oor dan pusakanya, ia pun mulai menyelidiki misteri tanah nusantara.
Gosta Cola benar-benar tidak mengira jika negara tropis tersebut menyimpan ribuan energi pusaka yang bisa ia gunakan untuk menjadi dewa.
Ia mulai merekrut pemuda-pemuda yang memiliki kemampuan khusus dan tertarik pada dunia sihir maupun gaib. Ketujuh pemuda itu ia latih secara diam-diam. Setelah berhasil menarik pusaka dari sebuah pulau kecil di Jakarta, Gosta Cola pun memerintahkan ketujuh pemuda itu untuk melaksanakan misi berikutnya.
Ia telah mendeteksi kekuatan besar yang menyerupai energi Odin, pemimpin para dewa Skandinavia di tanah
Sunda. Oleh karena itu, ia menyuruh pasukan bentukannya untuk menyelidiki Gunung Padang.
Gosta Cola tidak percaya dengan laporan Rico sang pemimpin pemburuan. Pemuda berkacamata itu meyakinkan sang penyihir bahwa mereka tidak menemukan kekuatan besar di Gunung Padang. Untung saja penyihir itu bersikeras.
Ia pun mulai menyelidiki energi misterius yang tersimpan di balik situs megalitik tersebut.
Dugaan Gosta Cola tidak salah. Ada sebuah dunia yang tersembunyi di balik Gunung Padang. Dunia dimana ia menemukan energi legenda yang konon dapat membantunya menjadi setengah dewa. Itu artinya setengah jalan lagi, ia akan menjadi dewa.
Kedudukannya akan sama seperti anak-anak Odin dan Freig. Para dewa yang selama ini telah membuatnya terhina.
Gosta Cola tidak akan pernah melupakan caci maki dan penghinaan yang ia terima. Statusnya sebagai manusia telah membuat para dewa merendahkannya. Puluhan tahun ia mengabdi dan menjilat kaki para dewa. Akhirnya ia menemukan sesuatu yang dapat memecah belah dewa-dewa itu. Gosta Cola pun mulai melakukan adu domba. Ia berhasil memporak-porandakan hubungan para dewa di belahan utara Eropa.
Pertikaian itu membuat sejumlah dewa terbunuh termasuk Freya, istri Odin. Dewa itu membawa jasad sang istri keluar istana, lalu melarikan diri. Tidak ada yang menduga jika Odin akan pergi meninggalkan Skandinavia begitu saja. Kekuasaan pun jatuh ke putranya, Baldr. Sayang sekali, kekuatan Baldr tidak setangguh Odin.
Brisingamen, kalung milik Freya pun hilang secara misterius. Dua hari setelah hilangnya Odin dan jasad Freya, kalung itu ikut hilang dari kotak penyimpanan. Baldr panik karena Brisingamen menyimpan kekuatan yang ia butuhkan untuk mengendalikan Skandinavia.
Gosta Cola yang mengetahui hal tersebut pun mulai memburu keberadaan Brisingamen. Ia pernah
menyentuh Brisingamen secara langsung saat mencuri kalung itu bersama atasannya Loki. Penyihir itu menyesali kebodohannya. Seandainya ia tahu bahwa kalung tersebut merupakan sumber kekuatan negeri utara, ia mungkin akan membunuh Loki di tempat.
Gosta Cola bisa merasakan energi Brisingamen di dunia transisi.
Saat menggendong Raseyan, ia pun mendeteksi keberadaan Brisingamen.
“Jadi kenapa kalian datangnya lama?” hardik Gosta Cola emosi.
“Nyasar tadi tuan…”.
“Buang air kecil dulu tuan”.
“Foto-foto dulu…”.
“Cari sinyal buat aplot di ig”.
Seru ketujuh pemuda itu bersamaan. Gosta Cola yakin bahwa sebagian dari mereka berbohong. Jawaban mereka tidak seragam.
Tapi ia tidak punya waktu untuk meladeni kebohongan mereka.
“Ya sudah, aku harus tahu cari orang ini…”.
“Cari tahu kali tuan, kalau tahu bisa sampai cari orang... geger dunia, tuan”. Salah satu dari anggota pasukan kembali membetulkan perkataan Gosta Cola.
“Iya, ceweret sekali sih kalian!!!”.
“Cerewet tuan….” sahut pemuda itu lagi dengan wajah polos.
Gosta Cola menepuk dahi. Ia sudah lama curiga dengan para anggota pasukan yang direkrutnya.
“Tidak ada yang beres! Tapi bagaimana lagi aku tidak punya banyak waktu. Aku harus menemukan brisingamen itu sebelum Baldr dan anak-anak Odin membalaskan dendamnya” gerutu penyihir itu.
“Sudah, sudah… cari coba….sisa pusaka itu di tempat ini”.
“Coba…” mulut Nando, pemuda yang sedari tadi selalu membetulkan kalimat Gosta Cola ditutup oleh Rico, sang pemimpin perburuan.
“Diem aja bro…. emang dia baru belajar bahasa kita…. “ bisik Rico.
“Tapi kata emak, kita dapat pahala kalau membetulkan yang salah” jawab Nando polos.
Rico buru-buru menarik tangan Nando.
“Udah daripada banyak omong, coba elo panggil roh-roh halus yang bermukim di sini”.
Nando adalah salah satu anggota yang mampu berkomunikasi dengan makhluk gaib. Ia sering menjadi medium bagi makhluk yang ingin berbagi informasi.
Pria itu mengeluarkan sebuah kantung kain berisi bunga kering. Bunga-bunga tersebut disebarnya di tanah.
Ia kemudian duduk bersila, dan berkonsentrasi untuk mengeluarkan jiwanya dari tubuh.
Tiga puluh menit.
Tiga puluh menit sudah ia bersemedi.
Pemuda itu kemudian membuka mata.
“Apa ada tanda-tanda?” tanya Rico.
Ia sudah memerintahkan anggota lain untuk bersiaga.
Nando mengangguk.
“Tanda apa? Dimana? Ke arah mana?” desak Gosta Cola.
“Begini tuan…”.
“Apa?” tanya Gosta Cola dan keenam temannya
“Saya dengar bunyi…”.
“Lalu?”.
“Ternyata…”.
Gosta Cola menanti kata-kata Nando berikutnya dengan gelisah. Ia tidak sabar lagi menemukan keberadaan Brisingamen.
“Ternyata dari perut saya sendiri…… “.
Penyihir Skandinavia itu hampir saja kehilangan akal sehat. Ia nyaris mengutuk anak
“Ya, Nando… kan tadi sebelum kesini uda dibilangin makan dulu…” keluh Awi, rekannya.
“Abis panggilannya tiba-tiba. Aku baru mau order di hp” jawabnya polos.
“Memang mau pesen apa tadi?” timpal Awi.
“Pecel lele..” jawab Nando.
Gosta Cola pun meninggalkan kedua pemuda ceking tersebut dengan wajah kesal.
Namun langkahnya terhenti.
Ia mendengar suara berisik di balik semak-semak.
Suara itu sebenarnya datang dari Kavindra yang terkejut dengan kedatangan Alea.
“Uda sadar, Le?” bisik Kavindra sambil menutupi wajah Alea dengan daun keringnya.
Gadis itu mengangguk.
“Tadi gue denger ada yang pesen pecel lele….. “.
Kavindra menatap wajah Alea. Gadis itu benar-benar seperti kembarannya.
“Elo yakin kita bukan kakak adik yang tertukar, Le?”.
“Gue anak tunggal…. Ga mungkin punya kembaran atau kakak ade…”.
“Tapi sifat kita kaya pinang dibelah dua, kita mencintai makanan lebih dari mencintai diri sendiri…”.
Alea membalas tatapan mata Kavindra dengan sinis. Di dalam hati, ia mengakui kalau sifatnya sedikit mirip dengan Kavindra. Saat mendengar kata pecel lele, tubuhnya bereaksi. Ia pun tidak tahu kenapa bisa siuman secepat itu.
“Udah ah ga penting. Ngomong-ngomong kok mereka bisa ada disini? Casing hp.. casing hp gue mana?” tanya Alea menagih benda yang dijanjikan Kavindra.
Kavindra tidak berani menjawab pertanyaan Alea. Kalau sampai Alea tahu mengenai kebohongannya, ia yakin gadis itu akan menyiksanya tanpa ampun.
“Gue ga tau mereka masuk dari mana…. Tiba-tiba aja datang… dan mereka sepertinya bawahan Gosta Cola… itu yang pake jubah hitam” tunjuk Kavindra mengalihkan perhatian.
“Bule?” bisik Alea terkejut.
“Iya… gue duga di mungkin orang Norwegia atau Swedia… gue ga gitu paham ama bahasa yang dia pakai tapi… kalau dugaan gue ga salah… dia dari negeri utara”.
“Jadi dia ada hubungannya sama Odin?”.
Kavindra mengangkat bahu. Sepanjang pengamatannya, ia tidak mendengar Gosta Cola menyebut nama Odin.
“Raseyan…. Gimana Raseyan?”.
Alea menangis melihat Raseyan yang tergeletak di permukaan tanah. Wajah pria itu membiru. Rona wajah itu mengingatkan Alea pada kutukan yang pernah diderita Raseyan.
“Kita harus menyelamatkannya….”.
Kavindra menahan gerakan Alea. Ia menggeleng tidak setuju.
“Jangan sekarang, Le….”.
“Kenapa?”.
“Kita harus tahu pusaka yang dicari sama The Great Destroyer. Mereka tidak akan
menyakiti Raseyan selama pusaka-pusaka itu belum ditemukan”.
“Mereka cari pusaka apa?” bisik Alea.
Suara Gosta Cola dari balik bebatuan hampir membuat Alea dan Kavindra keluar dari persembunyiannya.
“Aku mendengar suara aneh dari semak-semak!” ujar penyihir itu.
Keringat dingin Alea dan Kavindra bercucuran.
Mereka bertukar pandang.
Bagaimana kalau Gosta Cola sampai menemukan mereka?
“Sial, kita harus cepat menemukan keberadaan Brisingamen itu…. ups, maksudku pusaka-pusaka untuk menambah kekuatan kita” rupanya penyihir itu kelepasan bicara.
Mata Kavindra terbelalak. Ia teringat dengan game yang dimainkannya beberapa bulan yang lalu. Odin, Freya dan Brisingamen.
“Le… kita harus balik ke kediaman Oor…”.
“Gimana caranya?” tanya Alea pucat.
Kavindra pun melempar batu kecil ke arah Nando.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…………………………..” teriak pemuda itu.
Strategi Kavindra berhasil, seluruh perhatian pun tertuju pada Nando yang kesakitan. Pria itu langsung menarik tangan Alea. Mereka berdua kemudian berlari ke celah yang terletak di antara batu dolmen Andulu dan Amatya.
Kavindra langsung menggeser batu pipih yang ada di pintu kediaman Oor. Rupanya batu itu merupakan kamuflase yang digunakan oleh sang dewa untuk menyembunyikan keberadaan pintu masuk.
“Wo-hooooooooooooooooooooo” teriak Kavindra lega. Ia berhasil menyelamatkan diri dari The Great Destroyer dan Gosta Cola.
Pria itu kemudian mendekati pecahan batu bintang milik Odin.
“Le… gue sepertinya tahu apa yang dicari sama mereka”.
“Ini?” tanya Alea sambil menunjuk ke pecahan batu bintang.
“Yes, ini mungkin adalah meteor yang selama ini mengisi kekuatan Brisingamen….”>
“Brisin apa?”.
“Brisingamen… kalung milik Freya yang menjadi penyebab peperangan antara para raja”.
Alea memanyunkan bibir. Ia tidak paham dengan penjelasan Kavindra.
“Gue tau ini dari game yang gue mainin. Brisingamen itu adalah kalung Freya yang ia dapat dengan cara yang cukup vulgar. Odin tidak terima dengan perbuatan Freya, lalu ia meminta Loki untuk mengambil kalung tersebut. Freya terus minta ke Odin untuk balikin kalungnya. Terus Odin memberi syarat bahwa Freya harus membuat dua
raja manusia berperang dalam mantera dan sihir”.
“Lalu? Peperangan itu terjadi?”.
“Ya…..”.
“Jadi menurutmu batu meteor ini adalah Brisingamen?” tanya Alea bingung.
“Ya, tapi ada yang tidak cocok dengan cerita mengenai kalung itu….”.
“Apa?”.
“Kalung itu diperoleh oleh Freya dari para peri cebol… gue ga pernah denger cerita bahwa Brisingamen merupakan meteor. Setahu gue itu perhiasan aja” ujar Kavindra mencoba mengingat isi game yang ia mainkan.
“Bentar… maksud lo Freya… brisingamen ini bukan hadiah dari Odin?” tanya Alea bingung.
Gadis itu kemudian mencoba mengingat mimpi dan penerawangannya. Benar kata Kavindra, ada ketidakcocokan di antara cerita legenda Skandinavia tersebut dengan mimpinya.
“Tapi itu fiksi kan? Gamenya?”.
“Ya, tapi itu berdasarkan legenda populer sih, paling ditwisted dikit”.
Alea menyentuh pecahan batu bintang itu sekali lagi.
Kini ia melihat sesuatu yang berbeda. Kenapa bisa, gumamnya? Apakah karena Oor tidak lagi di tempat ini? Memori yang tersimpan di batu tersebut berbeda dengan memori yang ia baca sebelumnya.
“Kita harus menemukan pecahan batu bintang yang tersisa untuk mengetahui apakah batu-batu itu adalah brisingamen milik Freya” seru Alea panik.
“Tapi gimana caranya? Tujuh pemuda cungkring itu di luar?”.
Alea terdiam. Ia sebenarnya membutuhkan Raseyan untuk menyelidiki kembali lokasipecahan batu bintang. Saat ia menyentuh pemuda itu, Alea memang melihat keberadaan lima batu bergores lainnya. Namun ia tidak mengenali seluk beluk dunia ini.
Bagaimana caranya ia bisa mencari bebatuan tersebut?
Saat menurunkan tangannya dari bagian puncak batu, kulit Alea tidak sengaja tergores.
Tetesan darahnya secara ajaib terserap ke dalam batu bintang.
Alea dan Kavindra terpana.
Batu itu mengeluarkan sinar terang menyala.
“Le… kalau darah lo dipake…. Kita bisa nemuin batunya….” senyum Kavindra lebar.
Alea melihat tetesan darahnya yang jatuh ke lantai.
Tanpa banyak bicara, ia segera mengambil bejana kecil di atas meja.
Ia menampung tetesan darahnya sebanyak yang ia bisa.
“Kita punya harapan Kav… gue rasa kita bisa nemuin seluruh batu bergores dengan darah gue”.
Alea berdoa. Semoga darahnya bisa kembali menyelamatkan dunia dari kekacauan.
***