Demon Martial Arts

Demon Martial Arts
05. Sebuah Penindasan



Setelah mempelajari dua jurus dari Prasasti Kaisar Iblis, Feng Jiu melakukan meditasi untuk mengumpulkan Energi Spiritual yang nantinya di ubah menjadi Energi Iblis agar naik tingkat.


Di tengah meditasi nya, Feng Jiu memikirkan sesuatu. 'Energi Iblis sangat sulit di kendalikan. Jika aku ingin menyimpannya untuk digunakan, bukankah tubuh ku akan meledak?'


Untung saja dia menemukan solusinya. Energi Iblis dapat di simpan di tulang yang telah di tempa dengan Energi Iblis.


Jadi dia bisa menggunakannya pada ilmu nya atau untuk memperkuat serangan nya seperti Energi Spiritual.


Malam itupun dihabiskan oleh Feng Jiu dengan bermeditasi.


{•••}


Sekte Pedang Bambu merupakan sekte yang cukup terkenal di Kekaisaran Kunlun. Sekte Pedang Bambu melahirkan banyak jenius.


Di dalam Sekte Pedang Bambu, terdapat tiga divisi yang berada di tiga puncak yang berbeda di daerah Sekte Pedang Bambu.


Yang pertama adalah Puncak Menghu, murid dari puncak ini di fokuskan untuk berlatih formasi pendukung, walaupun begitu kemampuan beladiri mereka juga tidak termasuk lemah.


Yang kedua, Puncak Yunjin, tempat di mana Feng Jiu berada. Puncak Yunjin adalah tempat yang sangat subur dengan konsentrasi Energi Spiritual yang tinggi.


Sehingga tanaman spiritual tumbuh dengan subur di sini. Membuat Puncak Yunjin merupakan puncak terkuat sekaligus yang terkaya. Karena dapat menghasilkan tanaman spiritual dan memiliki murid yang kuat dari bantuan tanaman spiritual mereka.


Terakhir, Puncak Bazhang. Puncak Bazhang merupakan sumber utama penghasilan dari Sekte Pedang Bambu.


Di Puncak Bazhang terdapat gerbang menuju Dimensi Komet Minor Tak Terbatas. Di dimensi ini, Sekte Pedang Bambu dapat menambang besi spiritual untuk mendapatkan uang atau di buat menjadi senjata untuk murid sekte.


Murid di Puncak Bazhang termasuk banyak, tapi tidak sekuat kedua puncak lainnya. Karena murid-murid disini merupakan murid yang bakatnya kurang sehingga mereka dikirim untuk pergi menambang di dimensi tersebut.


Dulu, saat para tetua di Puncak Yunjin mengetahui bahwa Feng Jiu tidak dapat menjadi Pembela Diri Spiritualist, mereka hendak mengirim Feng Jiu ke Puncak Bazhang.


Namun gagasan mereka di tolak oleh Master Puncak Yunjin. Jadi masih untung Feng Jiu tetap berada di Puncak Yunjin.


{•••}


"Masih belum cukup untuk naik level. Ternyata menggunakan esensi hidup manusia lebih baik. Tapi Kaisar Iblis itu mengatakan jangan terlalu sering menggunakan esensi hidup manusia..." Feng Jiu memikirkan cara untuk menaikkan tingkatnya.


"Obat? Tidak-tidak, terlalu mahal bagiku sekarang. Jika ke pegunungan hewan buas, terlalu berbahaya." Feng Jiu tiba-tiba tersenyum lebar.


Dia pergi membersihkan dirinya dan pergi ke Aula Misi untuk mencari misi. Dia memiliki sebuah ide yang bagus untuk naik level nantinya.


Setiap harinya, sekte akan menyiapkan misi untuk para murid. Dimana jika berhasil, mereka akan mendapat imbalan berupa poin kontribusi, obat spiritual, senjata spiritual, atau uang.


Sekte jarang mengeluarkan misi yang berbahaya karena takut akan kehilangan banyak murid berbakat. Jadi kebanyakan dari misi-misi tersebut adalah memburu hewan buas atau mengawal rombongan.


Dia telah tiba di Aula Misi. Sangat banyak murid yang berkumpul di sana, mencari misi yang sekiranya mudah, namun hadiahnya besar.


Seperti yang sudah di duga oleh Feng Jiu, dia menjadi pusat perhatian murid di sana. Banyak cibiran dan hinaan yang ditujukan pada Feng Jiu.


Feng Jiu berusaha mengabaikan mereka dan melihat ke papan misi. Mencari misi yang dia perlukan.


Dia bisa mengambil misi perburuan hewan buas. Misi ini memiliki resiko paling besar karena harus melawan hewan buas sendirian. Jika membawa orang lain maka imbalan akan dibagi.


Feng Jiu bisa saja mengambil misi ini dan membawa orang lain, dimana dia hanya akan mengambil 20% dari hadiahnya saja dan esensi hidup hewan buas. Walaupun dia tidak yakin esensi kehidupan hewan buas bisa membuatnya naik tingkat.


Karena tidak mungkin akan selalu ada pertarungan. Misi ini bisa menjadi misi paling beresiko besar jika lawannya terlalu kuat. Imbalan nya juga tidak sebesar misi perburuan.


"Feng Jiu!"


Feng Jiu keluar dari pemikirannya karena ada seseorang yang memanggilnya. Dia menoleh kebelakang dan melihat seorang gadis yang dikenalnya.


"Lan Meiyu?"


"Apakah kamu ingin mengambil misi? Dan..." mata Lan Meiyu terbuka lebar saat merasakan aura pelatihan milik Feng Jiu.


Note : Aura Pelatihan itu semacam akumulasi Energi Spiritual yang dikeluarkan oleh tubuh setelah dikuatkan. Ini merupakan salah satu cara paling mudah untuk mengetahui tingkat kekuatan orang lain.


"Kau sudah naik ke Alam Bawaan Level 2?!" tanya Lan Meiyu dengan nada yang tinggi.


Perkataan nya menarik lebih banyak perhatian. "Apa? Feng Jiu sudah bisa berlatih? Bahkan sudah di level kedua."


"Lagi, kemarin aku bertemu dia di Aula Penukaran dan masih tidak memiliki aura pelatihan." terdengar bisik-bisikan dari murid-murid di sana.


"Apakah dia menyembunyikan pelatihannya?"


Di samping itu, Feng Jiu merasa risih karena melihat Lan Meiyu yang menatapnya dengan tatapan bersemangat.


"Ehm, itu bukan apa-apa.." ekspresi wajah Feng Jiu berubah masam saat melihat orang-orang menatapnya dengan tatapan membunuh.


Ekspresi mereka menggambarkan kalimat 'Beraninya kau mencuri betinaku, sampah!'


'Sepertinya akan ada masalah yang datang...'


"Memangnya kenapa jika dia sudah bisa berlatih? Toh dia masih Alam Bawaan Level 2, masih jauh dibawah ku yang berada di Alam Bawaan Level 10!" seorang pemuda dengan tubuh yang agak tinggi keluar dari kerumunan.


"Kau tidak tahu malu ya. Wajar saja jika kau berada di level yang lebih tinggi, usia mu sudah 15 tahun. Jika dengan dibandingkan Nona Meiyu yang berusia 12 tahun, kau masih sangat jauh!" suara lainnya terdengar dari kerumunan.


"Siapa yang berbicara?!" pemuda itu berteriak bertanya siapa yang berbicara meremehkannya.


"Aku, memangnya kenapa." sosok anak sebaya Feng Jiu keluar dari kerumunan, dia adalah orang yang paling Feng Jiu benci, tidak tepat mengatakannya sebagai yang paling dia benci. Tapi tidak ada kata lain untuk menggambarkannya.


"T-tuan muda Ling Qian?!" wajah pemuda itu menjadi pucat karena ketakutan. Dia bukan takut akan kekuatan Ling Qian, melainkan ayahnya yang merupakan seorang tetua.


Apalagi ayahnya berada di sekitar sana karena dia yang mengurus Aula Misi.


"Ma-maafkan kelancangan ku tuan muda!" dia membungkuk pada Ling Qian.


"Kalahkan sampah itu, akan aku maafkan kau. Mungkin jika bermurah hati, aku akan memberikanmu 10.000 perak!"


Pernyataan Ling Qian membuat pemuda itu tersenyum senang.


"Terimakasih tuan muda!"


'Sudah kuduga. Ini namanya penindasan!'