
"Cih minggir kalian!" seorang perempuan menerobos antrian. Terlihat murid laki-laki yang melihatnya menjadi ketakutan dan langsung memberinya jalan.
"Bu-bukannya dia itu Ratu Neraka?! Kenapa dia ada di sini?" nampak sekali banyak murid laki-laki memiliki pengalaman buruk terhadap perempuan yang dipanggil Ratu Neraka itu.
"Kau ingin menantang murid teratas, kan?" murid perempuan dengan sebutan Ratu Neraka itu tersenyum manis dihadapan Feng Jiu.
Selama beberapa detik Feng Jiu merasa dirinya terbang di langit dan hatinya berbunga-bunga. Namun sesuatu mendorong pikirannya untuk sadar dan menatap Ratu Neraka dengan tajam.
"Kau memiliki semacam ilmu mengendalikan pikiran?" tanya Feng Jiu dengan tatapan menyelidik.
Di samping itu Ratu Neraka nampak terkejut, kemudian dia menyeringai, "Kau berbeda dengan laki-laki lain.. Tapi tetap saja, semua yang laki-laki inginkan adalah satu, yaitu yang dibawah..."
Tiba-tiba dunia dia penglihatan Feng Jiu menjadi sebuah padang rumput yang luas dengan banyak sekali ladang bunga. Feng Jiu mendengar suara kicauan burung yang merdu.
'Tu-tunggu!' Feng Jiu membelalakkan matanya melihat godaan duniawi dari kejauhan.
Mau bagaimanapun Feng Jiu juga adalah seorang laki-laki normal. Dia mengeluarkan darah dari hidungnya karena mimisan melihat adegan tersebut.
Sementara itu, orang-orang melihat Feng Jiu sedang terpaku menatap Ratu Neraka, tentu dengan hidung yang mengeluarkan darah.
"Yah, sayang sekali dia bertemu dengan Ratu Neraka. Kudengar dari murid laki-laki ilusinya sangat cocok untuk menggoyahkan iman, bahkan yang memiliki iman baja pun bisa meleleh..." seorang murid perempuan menyayangkan Feng Jiu yang harus bertemu dengan Ratu Neraka yang dikenal sangat suka menyiksa murid laki-laki dengan ilusinya.
Sedangkan murid laki-laki yang menonton itu melompat kegirangan karena mereka merasa sebentar lagi Feng Jiu akan tumbang di pertarungan pertama.
Ratu Neraka mendekati Feng Jiu yang sedang terpaku dengan sebuah belati berwarna hitam di tangannya. Dia tampak menyeringai dan mengangkat tangan Feng Jiu.
"Hm.. Tangan yang sangat besar, banyak perempuan yang suka dengan milikmu ini.. Wajah mu juga sangat tampan, kurasa aku bisa menggoresnya sedikit untuk kenang-kenangan bukankah begitu?" Ratu Neraka mengayunkan belati di tangannya ke arah wajah Feng Jiu.
Namun setelahnya, tangan Feng Jiu bergerak dan menangkap belati tersebut dan membuat Ratu Neraka terkejut bukan main.
"Aku hanya ingin melatih ilmu berpedang saja. Apa perlu memasukkan ku ke dalam ilusi yang mengerikan seperti ini? Apalagi merusak wajah ku.." Feng Jiu tersenyum lebar setelah mengatakan itu.
Murid perempuan lainnya langsung klepek-klepek, sedangkan Ratu Neraka menjadi keringat dingin.
"Kau sendiri yang memulainya, jadi aku akan mengakhirinya!" tangan Feng Jiu yang menggenggam belati milik Ratu Neraka berubah menjadi hitam kemerahan dan cahaya merah tipis melapisi tangannya hingga ke ujung.
Feng Jiu menggenggam belati hitam tersebut dengan sangat kuat hingga belati tersebut hancur berkeping-keping. Pemandangan ini membuat banyak orang terpukau dan terkejut.
Terutama Ratu Neraka yang menjadi ketakutan. Bukan hanya laki-laki itu dapat lolos dari ilusinya, tapi dia juga bisa menghancurkan senjata spiritual tingkat dengan hanya dengan genggaman tangannya.
"I-ilmu apa yang kau gunakan?!" perempuan itu mundur beberapa langkah dan menatap ngeri Feng Jiu.
Feng Jiu baru akan memberikan stempel lima jari di wajah Ratu Neraka. Namun dia berhenti karena memikirkan apa yang terjadi setelah itu. Kemungkinan besar semua orang akan kabur dan tidak jadi menantangnya.
Akhirnya Feng Jiu menarik kembali tangannya dan menatap tajam murid perempuan dengan kemampuan ilusi itu.
"Aku tidak tahu ada dendam apa yang membuatmu memberikan ku ilusi yang seperti itu. Jika kita bukan murid satu perguruan, aku akan membunuhmu dengan tamparan ku!" Feng Jiu menggerakkan tangannya seperti sedang menampar dan membuat hembusan angin yang kuat.
"Pergilah, kau hanya akan membuat dirimu sendiri malu jika duduk di sana terus." Feng Jiu berujar dengan dingin.
Ratu Neraka menuruni arena tanpa mengatakan apapun. Padahal di dalam hatinya dia terus mengumpati sosok Feng Jiu yang dapat dengan mudah keluar dari dunia ilusi terkuatnya di dalam hati.
"Wuah, mudah dimengerti dan seru. Sepertinya ayam yang ku pelihara baru saja melahirkan. Aku tidak jadi menantang.."
"Baju yang ku jemur di kawah gunung berapi kayaknya basah kena hujan. Harus tengok dulu.."
Satu persatu penantang yang berasal dari peringkat murid teratas pergi setelah Ratu Neraka turun dari arena. Feng Jiu terdiam membatu, merasa memberi stempel lima jari pada Ratu Neraka merupakan pilihan yang seharusnya dia lakukan.
"Oy, kalian tidak berani menantang bocah kemarin sore sepertinya?" seorang laki-laki dengan tubuh yang sedikit kurus mengejek kelompok murid tersebut.
"Cih, jika kau berani, lawanlah dia!" salah satu murid menyahut ucapannya.
"Tidak mungkin, aku baru Alam Bawaan Level 11, melawan yang level 14 pasti kalah, itu saja kalian tidak mengerti. Bodoh!" dia tersenyum mengejek.
"Hm, kau sepertinya Monlu?" Feng Jiu menepuk pundak laki-laki yang sebaya dengannya itu.
"Ternyata masih ada yang mengenalku. Ya, aku Monlu." Monlu terlihat lebih arogan setelah Feng Jiu mengalahkannya.
Feng Jiu tidak mengerti darimana arogansi nya datang, "Apakah kau berniat untuk melawan ku?" tanya Feng Jiu.
"Tentu saja tidak, tapi sepupu ku yang akan menantang mu!" setelah mengucapkan itu, seseorang melompat dari bawah arena dan mendarat dengan sempurna.
Seorang murid laki-laki dengan tiga buah sarung pedang di pinggangnya memberi hormat pada Feng Jiu.
"Kailu, murid peringkat 87, ingin menantang mu!" Feng Jiu sedikit tertarik dengan sifat sopan murid laki-laki bernama Kailu itu. Yang dimana berbanding terbalik dengan Monlu.
Feng Jiu dapat merasakan kekuatan Kailu lebih tinggi darinya, tapi tidak mencapai Alam Pemurnian, yang berarti dia berada di Alam Bawaan Level 15, atau mungkin level sempurna.
"Dia adalah Kailu? Murid terkuat dengan tingkat Alam Bawaan saat ini. Kudengar dia dapat mengalahkan Alam Pemurnian level 4 dalam beberapa jurus.."
"Sungguh sehebat itu? Berbeda sekali dengan sepupunya yang tidak tahu malu itu."
"Dia sangat jarang berada di sekte, setiap hari selalu mengambil misi untuk berlatih dengan keras. Sesekali akan kembali dan menantang murid yang peringkatnya di atas untuk menguji kemampuannya.."
Mendengar pujian yang terus menerus ditujukan pada Kailu, membuat Feng Jiu semakin tertarik untuk bertarung dengannya.
Kailu sendiri tidak mempedulikan pujian yang dilontarkan padanya. Dia masih setia menunggu jawaban tantangan darinya.
"Sebelum itu, mereka mengatakan kau menantang murid yang memiliki peringkat yang lebih tinggi dari mu. Dan aku tidak memiliki peringkat yang tinggi, tapi kenapa kau menantang ku?" tanya Feng Jiu sembari tangannya menunjuk ke arah para penonton.
"Aku menantang mereka karena merasa mereka lebih kuat dari aku. Aku menantang mu juga sama, karena kau lebih kuat dari semua orang yang pernah ku lawan." jawab Kailu dengan tegas.
"Oh, berarti tujuan kita sama-sama untuk berlatih, benarkan?" Kailu mengangguk sebagai jawaban.
"Baiklah, mari kita bertarung!" Feng Jiu menarik pedang logam biru dari sarungnya.
Disini Kailu menunjukkan gaya bertarungnya yang unik. Dimana dia menggunakan masing-masing satu pedang di kedua tangannya, dan satu pedang di mulutnya.
"Cara bertarung mu begitu unik, aku tak pernah melihatnya.." ucap Feng Jiu bersemangat.
"Terimakasih atas pujiannya. Cara bertarung ini adalah turun temurun di keluarga ku. Tapi sepupu ku adalah orang idiot, jadi tak bisa menggunakannya dengan baik." jawab Kailu dengan lancar, padahal di mulutnya menggigit gagang pedang.
"Puff! Kailu sialan kau!"