
"Tarian Taring Naga!" Feng Jiu mengeluarkan ilmu berpedang yang baru di pelajari nya dengan kombinasi Langkah Awan. Membuat gerakan pedangnya menjadi gesit.
Tanpa para perampok sadari, sebuah pedang yang dingin mengincar nyawa mereka. Feng Jiu tiba-tiba muncul di antara para perampok dan mulai melakukan gerakan berpedang yang sungguh cepat.
Kedatangannya membuat para perampok terkejut dan perhatian mereka terpecah. Pimpinan pengawal karavan melihat kedatangan Feng Jiu dengan jelas, namun kembali fokus bertarung dengan lawannya.
Dia menjadi diuntungkan karena pimpinan perampok perhatian nya menjadi terbagi karena melihat anak buahnya menjadi berkumpul untuk menyerang Feng Jiu yang tiba-tiba muncul.
Pengawal yang sedang bertarung menjadi bingung karena lawan mereka tiba-tiba mundur namun setelah itu mereka sadar dengan kemunculan seorang anak belasan tahun di tengah kerumunan perampok.
"Tunggu... Anak siapa itu?" salah satu pengawal menjadi khawatir dan hendak membantu Feng Jiu.
Dia merupakan seorang yang sudah berkeluarga, melihat anak-anak yang berada dalam kepungan perampok membuatnya menjadi khawatir akan keselamatannya.
Tapi sedikit tidak masuk akal jika seorang anak yang muncul tiba-tiba di kerumunan para perampok keselamatannya tidak di perhitungkan.
Feng Jiu menggunakan ilmu Tarian Taring Naga dan membunuh 3 orang dalam waktu kurang dari sepuluh detik.
Hal ini membuat para perampok menjadi terkejut dan waspada akan keberadaan nya. Melihat tidak ada yang maju untuk melawannya, Feng Jiu mendatangi sendiri para perampok itu.
Dengan ilmu meringankan tubuhnya, Feng Jiu tiba di depan seorang perampok dan membuat pria itu terkejut setengah mati. Sebelum bisa bereaksi, kepalanya sudah terlepas dari tubuhnya.
Perampok lainnya lagi-lagi dibuat terkejut. Feng Jiu mampu membunuh seorang perampok dengan satu jurus saja.
Para perampok itu memiliki kekuatan di atas Alam Bawaan level 13. Bahkan ada yang mencapai level 15.
Namun hal itu tidak membuat seorang anak berusia belasan tahun itu gentar. Malahan dia datang mendekati para perampok dan mulai menyerang mereka dengan ilmu pedangnya.
Beberapa saat kemudian, Feng Jiu berhasil membunuh satu perampok lainnya, tapi dia tidak bisa bernafas dengan baik setelahnya karena ada puluhan perampok lainnya yang menyerangnya bersamaan.
'Tidak bisa begini terus... Bisa-bisa aku akan kalah.' setelah mengeluh sesaat, Feng Jiu mengeluarkan senyuman tipis diiringi dengan terbunuhnya satu perampok di ujung pedangnya.
Para perampok menjadi merinding dan berkeringat dingin melihat senyuman Feng Jiu yang mereka artikan sebagai senyuman kesenangan.
Padahal Feng Jiu tersenyum karena pengawal karavan datang membantunya. Jujur dia juga bingung melihat tatapan para perampok berubah dan mereka berjalan mundur perlahan.
Tapi Feng Jiu tidak memikirkannya lagi. Dia menggunakan ilmu meringankan tubuhnya untuk mempersempit jarak antara dirinya dan perampok.
Setelah cukup dekat Feng Jiu menggunakan ilmu pedang Tarian Taring Naga. Gerakannya yang cepat dan mematikan membuat para perampok kewalahan.
Gerakan berpedang Feng Jiu yang seperti sedang menari di lautan musuh bersama sebuah pedang membuat beberapa perampok bahkan pengawal karavan terbius.
Beberapa tebasan dan gerakan yang mengenai tubuh perampok meninggalkan luka pedang yang dalam, membuat mereka menjadi sulit bergerak dan bertahan sebelum mati di tangan Feng Jiu dan para pengawal karavan.
Pertarungan ini tidak bertahan lama karena pada perampok sudah di kalahkan dengan mudah setelah bertarung dengan Feng Jiu.
Sementara pimpinan perampok yang melihat anak buahnya tewas, hendak melarikan diri. Tapi dia melupakan bahwa sebuah pedang bukan hanya digunakan untuk menebas dan menusuk, tapi juga bisa di lempar!
Feng Jiu melempar Pedang Logam Biru ke arah pimpinan perampok. Walaupun tidak membunuhnya, setidaknya dapat melumpuhkannya dan menggagalkan pelariannya.
"Uhuk! Sialan!" dengan keadaannya yang terluka setelah bertarung dengan pimpinan pengawal dan pedang yang menembus perutnya, dia tidak dapat berlari lagi.
Pimpinan perampok itu mulai merasa putus asa dan merelakan hidupnya, entah mati atau hidup.
Feng Jiu mendekati pimpinan perampok itu untuk mengambil Pedang Logam Biru kembali. Dia menemukan tatapan mata pria itu tajam dan penuh akan balas dendam.
Pimpinan perampok itu meringis. Setelah Pedang Logam Biru di tarik, pendarahan hebat mulai terjadi di perutnya.
Dia hanya bisa menggunakan Energi Spiritual untuk memperlambat proses pendarahan karena Energi Beratribut nya telah kering.
"Tuan muda..." pandangan Feng Jiu teralihkan pada suara yang seperti memanggilnya.
"Terimakasih atas bantuan mu... Aku tak tahu apa yang akan terjadi jika saja pengawal ku kalah melawan para perampok ini."
Seorang gadis dengan gaun mewah berterimakasih padanya dengan nada yang sopan dan ramah.
Feng Jiu tersenyum canggung, "Bukan apa-apa, aku hanya melihat kalian sedang kesusahan. Jadi memberikan bantuan sedikit yang ku bisa." setelah berkata seperti itu, Feng Jiu melihat gadis itu mengerutkan dahinya.
Sementara itu di dalam hatinya, gadis itu bertanya dengan heran, 'Bagaimana dia bisa berbicara dengan santai setelah membunuh orang?'
Dirinya yang tidak bertarung dan membunuh saja merasa terbebani dan cemas saat melihat mayat perampok yang bergelimpangan. Tapi laki-laki yang sebaya dengannya itu dapat tersenyum dan berbicara dengan santai setelah membunuh para perampok.
Dia sendiri kurang mengetahui seperti apa cara Feng Jiu membunuh lawannya. Tapi yang dia ketahui, sebagian besar perampok yang menyerang mereka di bunuh oleh anak laki-laki di depannya.
"Tuan muda berasal dari sebuah sekte?" gadis itu bertanya setelah beberapa saat. Kini giliran Feng Jiu yang mengerutkan dahi.
Memberi tahu identitas diri orang yang tidak di kenal merupakan hal yang bisa membawa malapetaka di dunia bela diri.
Gadis itu dengan cepat menyadari bahwa dirinya telah salah bertanya, "Anu, maaf dengan pertanyaan yang berhubungan dengan latar belakang mu."
"Tidak, tidak. Namaku Feng Jiu. Soal aku berasal darimana, mungkin tidak bisa ku beritahukan." Feng Jiu tersenyum ramah setelah mengatakannya.
Gadis di depan Feng Jiu itu terpaku diam saat melihat senyuman Feng Jiu yang ramah. Feng Jiu di buat terheran-heran.
'Apakah aku sudah sangat terkenal sampai terdengar keluar dari sekte?' Feng Jiu tidak yakin dengan pikirannya ini.
Gadis di depannya terdiam karena hal lain. Namun dia tidak berusaha untuk menyadarkan nya. Dia hendak mengucapkan salam pamit, namun gadis tersebut tersadar dari lamunannya.
"Tunggu, aku mempunyai sesuatu untuk mu!" dia berteriak tepat di depan wajah Feng Jiu.
"Nona.. Tidak perlu berteriak seperti itu.. Aku bisa mendengar suaramu bahkan jika kau berbisik." Feng Jiu tersenyum saat melihat gadis itu salah tingkah setelahnya.
"Nah, ambillah. Cepat pergi dan jangan pernah muncul di hadapan ku lagi. Dasar bodoh!"
"Eh?" ekspresi wajah Feng Jiu berubah dan dia membatu.
Dia melihat gadis itu menghentakkan kakinya karena kesal kemudian membalikkan badannya dan naik ke sebuah kereta kuda.
'Master mengatakan hati manusia paling tidak bisa di tebak. Apalagi hati perempuan..'
...{•••}...
Terimakasih yang sudah memberi novel ini dukungan. Seiring berkembangnya novel ini, saya membuat beberapa rencana rencana kecil-kecilan.
Salah satunya menambah kata per episode nya. Setiap popularitas novel ini bertambah, saya akan menambah kata per episodenya sebanyak 100 kata.
Tapi yang pasti, jumlah kata per episode novel ini tidak akan mencapai 2000 kata.
Capek bro tulisnya wkwk