Demon Martial Arts

Demon Martial Arts
25. Tang Weilan



Karena hujan, tanah pun menjadi basah membuat langkah sosok berjubah putih melambat.


Tidak lama kemudian, beberapa sosok orang berpakaian hitam dengan penutup wajah menyusulnya dengan melompati satu pohon ke pohon lainnya.


"Ck ck ck, menyedihkan sekali.. Jika pangeran tidak memintamu mati, aku tidak tega untuk membunuh mu..." salah satu pria berbaju hitam yang sedang bertengger di sebuah pohon mengejek sosok berjubah putih itu.


"Hanya beberapa ekor bandit saja! Aku bisa membunuh kalian jika sedang tidak terluka!" sosok berjubah putih itu berteriak pada mereka.


Pria berbaju hitam yang merupakan bandit tampak menatapnya dengan sinis, dan dibalik penutup wajahnya mereka menyeringai.


"Benar, kami akan kalah jika kau dalam keadaan prima. Tapi.. Setelah bertarung dengan ketua dan terluka parah, kau tidak ada bedanya dengan anak ayam!"


Kedua pihak tersebut kemudian terkejut mendengar suara seperti auman dari jarak yang cukup jauh.


Suara tersebut berhasil membuat para bandit dan sosok jubah putih bergetar ketakutan karena mengira suara itu di keluarkan oleh hewan spiritual tingkat tinggi.


"Mengerikan sekali! Sepertinya di depan sana ada hewan spiritual tingkat tinggi!" salah satu bandit sampai tidak sanggup berdiri lagi karena tubuhnya dikuasai oleh ketakutan.


"Hey! Kau masih bisa berlari? Ayo cepat kita bunuh dia agar urusan kita selesai! Jangan membuang-buang waktu, takutnya hewan spiritual itu akan datang kesini!" mendengar penuturan rekannya, bandit yang lain menarik senjata masing-masing.


Sedangkan sosok berjubah putih yang merasa tidak akan bisa menang melawan para bandit mulai bimbang.


'Apakah aku harus mati di tangan mereka? Atau..'


Terdengar suara yang lainnya, namun kini lebih besar dari sebelumnya. Para bandit menjadi ketakutan dan tidak jadi menyerang.


'Aku harus bertaruh. Mungkin aku masih bisa hidup setelah ini!' sosok berjubah putih membalikkan badannya dan berlari menuju sumber suara mengerikan tersebut, berharap para bandit tidak akan mengejarnya lagi.


"Di-dia pergi ke arah suara itu!"


"Apakah kita harus mengejarnya lagi?"


Salah satu bandit mengeluarkan pendapatnya, "Dia tidak mungkin bisa hidup saat memasuki wilayah kekuasaan hewan spiritual tingkat tinggi! Sebaiknya kita kembali dan melaporkan misi kita!"


Perkataan nya di anggap masuk akal oleh beberapa rekannya. Padahal mereka tidak berani melangkah lebih jauh.


...{•••}...


"ROOOAARRGGHH!"


"Suara itu berada di dekat sini.." sosok jubah putih penasaran makhluk apa sebenarnya yang mengeluarkan suara teriakan semacam Auman mengerikan seperti ini.


Dia mendekati sumber suara tersebut dengan waspada. Semakin lama, suara yang dia dengar tidak semengerikan sebelumnya. Suara tersebut berubah menjadi parau dan perlahan menghilang.


Walau begitu, dia menemukan sebuah gua dan yakin suara tersebut berasal dari gua tersebut. Sekarang dia menjadi ragu apakah suara barusan di keluarkan oleh hewan spiritual atau tidak.


Karena gua tersebut tidak mengeluarkan aura yang mengerikan, seperti yang biasa dimiliki oleh hewan spiritual tingkat tinggi.


"Sepertinya suara ini berasal dari seorang manusia?" dia berjalan perlahan mendekati mulut gua. Terlihat ada daun-daun yang dibentuk menjadi sebuah tempat tidur.


"Siapa kau?" sosok berjubah putih terkejut saat mendengar seseorang bertanya padanya.


Saat dia berbalik badan, sebuah pedang berwarna putih kebiruan terhunus ke lehernya. Dia mengerutkan keningnya saat melihat seorang laki-laki 12-13 tahun yang ternyata menghunuskan pedang itu padanya.


"Tunggu kak! Aku bukan orang jahat!" dia mengangkat kedua tangannya seperti pertanda menyerah.


"Anu..." dia menggigit bibir bawahnya, merasa ragu harus memberitahu identitasnya pada laki-laki yang sedikit lebih tua darinya.


Sama seperti anak laki-laki itu, dia juga tidak mudah mempercayai orang yang tidak dikenalnya. Tapi sekarang nyawanya sedang dipertaruhkan, sebenarnya anak laki-laki itu tidak terlihat seperti orang yang kuat, tapi melihatnya berada di dalam hutan monster sendirian membuktikan dia bukan orang dengan kekuatan yang lemah.


"Aku Tang Weilan, pangeran ke 13 kerajaan Hou." Tang Weilan mengeluarkan sebuah plakat dari emas dengan lambang kerajaan Hou.


"Tang Weilan? Pangeran ke tiga belas? Apa yang kau lakukan di kerajaan Kunlun?" anak laki-laki yang tidak lain Feng Jiu bertanya dengan curiga.


Pangeran ketiga belas tidak tahu harus menjawab apa tentang pertanyaan dari Feng Jiu. Namun dia merasa sebentar lagi berita tersebut akan segera menyebar di kerajaan Kunlun, jadi tak ada salahnya jika dia bercerita sedikit.


...{•••}...


"Pemberontakan ya..?" Feng Jiu kurang mengerti tentang dunia politik dan sebagainya, maka dari itu yang dia tangkap dari cerita Tang Weilan adalah; pangeran ke 6 yang bernama Tang Yuoren yang berambisi menjadi raja.


Padahal sebenarnya posisi raja sudah pasti akan diwariskan pada kakaknya, pangeran pertama yang memegang posisi pangeran mahkota.


"Apakah Raja Hou tidak menangkapnya dan menghukumnya sebagai pengkhianat?" Feng Jiu bertanya karena dia heran, kenapa Raja Hou tidak mengeluarkan maklumat untuk menangkap Tang Yuoren dan mengeksekusi nya sebagai penghianat kerajaan.


Pangeran Tang Weilan mengeluarkan helaan nafas pendek, "Yang mulia telah mengeluarkan perintah untuk menangkap pangeran Yang Yuoren, bahkan berbagai misi penangkapan nya telah keluar di berbagai sekte di Kerajaan Hou, namun..."


Tang Weilan lagi-lagi menghela nafasnya, "Pangeran Hou ternyata di lindungi oleh sebuah kelompok misterius yang ternyata mendukung ambisi nya, dan mengirim pengikut mereka untuk membantunya."


'Kelompok misterius? Ternyata ini lebih rumit daripada yang kupikirkan.' Feng Jiu merasa Kerajaan Hou akan mengalami gejolak besar.


Pertama tentang pangeran ke 6 yang melakukan pemberontakan, dengan membunuh 3 selir raja dan 4 pangeran serta seorang putri. Bahkan dia membumihanguskan sebuah sekte yang mendukung pangeran pertama untuk naik ke tahta raja, walaupun posisi itu sudah pasti di sematkan padanya.


"Terus, bagaimana kondisi pangeran pertama?" Feng Jiu bertanya, dan Tang Weilan hanya menggeleng sebagai jawaban.


"Uhuk!" Tang Weilan terbatuk dan memuntahkan seteguk darah segar. Dia hampir tumbang jika saja tidak di tangkap oleh Feng Jiu.


"Ah, aku lupa jika kau dikejar sebelumnya.." Feng Jiu memapah Tang Weilan ke dalam gua tempatnya tinggal dan membaringkan tubuh anak dengan latar belakang tak biasa itu.


"Aku tak memiliki pil penyembuhan sama sekali jadi.." Feng Jiu menatap Tang Weilan dengan penuh makna.


Tang Weilan mengerti maksud tatapannya dari perkataan Feng Jiu. Dia berusaha mengeluarkan sebuah botol giok dari cincin penyimpanan nya.


"Uhuk!" Tang Weilan memuntahkan darah lagi, membuat Feng Jiu menjadi panik dan mengeluarkan sebutir pil dan memasukkan nya ke mulut Tang Weilan. Namun tubuhnya tidak sanggup lagi untuk menelan pil tersebut.


"Ah sial!" Feng Jiu hendak mengambil air di telaga, namun Tang Weilan terbatuk kembali dan mengeluarkan seteguk darah lagi yang menandakan kondisinya sudah sangat kritis saat ini.


"Tidak ada cara lain..."


...{•••}...


Beberapa jam berlalu, kondisi pangeran ke tiga belas telah kembali stabil, setidaknya tidak mengeluarkan darah lagi setiap terbatuk.


Sedangkan Feng Jiu, anak itu melamun di depan unggun yang dibuatnya untuk memasak potongan daging rusa yang ia buru.


'Aku ingin melupakannya, tapi kenapa tidak bisa?! Ingatan ini terus-menerus berputar di pikiranku!' terjadi konflik batin di pikiran Feng Jiu.


'Apakah ada pil yang dapat menghapuskan ingatan tertentu?! Ingatan ini terus menganggu ku! Jika tidak ada, aku akan menjadi alkemis untuk menciptakan pil semacam ini! Arrggh!' Feng Jiu menjambak rambutnya dan berteriak seperti orang gila..