
Pertarungan Feng Jiu dan Kailu membuat kehebohan di Puncak Yunjin. Murid-murid menghentikan aktivitas mereka dan berkerumun di arena pelatihan untuk menonton.
"Apa ini masih dikategorikan sebagai pertarungan Alam Bawaan?" tanya seorang murid senior terheran-heran.
"Tidak tau, kecepatan mereka sangat cepat, bahkan aku tak bisa melihatnya dengan jelas." murid yang lain menjawab.
SLASH
"Shh, sial!" Feng Jiu mengumpat saat pedang Kailu berhasil menggores punggung lengannya.
Untung luka tersebut tidak terlalu parah hingga dia tidak bisa menggunakan pedang lagi, "Kurasa kau sebelumnya tidak serius." ucap Feng Jiu di sela-sela pertukaran serangan mereka.
"Hahaha! Sama seperti mu juga!" sahut Kailu yang membuat Feng Jiu bingung.
"Ha? Maksudnya?" Kailu melompat ke belakang. Kemudian mengarahkan satu pedangnya ke arah Feng Jiu.
"Gunakan ilmu mengeraskan tubuh mu! Aku ingin pertarungan yang adil!" ujarnya yang membuat Feng Jiu sedikit kaget. Kemudian dia memikirkan jika Kailu sudah dari tadi menonton pertarungannya dengan Ratu Neraka.
"Tujuan ku bertarung disini bukan untuk pamer kekuatan, tapi untuk berlatih." jawaban Feng Jiu membuat Kailu tersenyum tipis.
Setelahnya Kailu kembali melesat ke arah Feng Jiu dengan kecepatan yang lebih cepat lagi. Pertukaran serangan yang kedua ini membuat Feng Jiu merasa kewalahan.
Dengan kecepatan Kailu yang sungguh mengerikan baginya, Feng Jiu juga tidak memiliki pengalaman melawan orang dengan senjata ganda.
Melawan orang dengan senjata ganda sangat sulit, apalagi jika memiliki kecepatan yang cepat. Bayangkan jika kita kesulitan menghindari serangan senjata pertamanya, bagaimana caranya kita menghindari serangan dari senjata kedua.
Itulah yang Feng Jiu rasakan. Dia tidak dapat fokus terhadap satu serangan pedang saja, tapi harus fokus terhadap dua serangan pedang yang beruntun.
Jika sedikit saja salah langkah dalam menghindari serangan pertama, Feng Jiu bisa terkena serangan yang kedua.
'Sampai kapan dia bisa bertarung begini?' Feng Jiu terus memperhatikan gerakan Kailu yang semakin lama semakin gesit, seperti Kailu tidak merasa lelah saat bertarung.
Beberapa menit kemudian, pertarungan mereka masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.
Murid-murid yang menonton dapat melihat jika pertarungan mereka sedikit berimbang, walaupun Feng Jiu berada dalam keadaan yang lebih terpojok karena tak bisa memberikan serangan balasan.
'Jika seperti ini terus, aku bisa kalah. Tujuan ku memang untuk berlatih, tapi bukan untuk kalah! Aku harus menggunakan aura gravitasi..' Feng Jiu memfokuskan pikirannya untuk mengendalikan aura langit bumi di sekitarnya untuk menciptakan medan gravitasi.
Butuh beberapa tarikan nafas agar medan gravitasi tersebut tercipta. Hasilnya, Kailu merasakan tubuhnya menjadi lebih berat dan dia kesulitan untuk bergerak cepat.
'Apa yang terjadi?' Kailu berhenti menyerang karena tertekan oleh medan gravitasi tersebut.
'Ini adalah efek samping dari teknik 8 Jalan Penguasa Pedang?' batin Kailu kebingungan.
'Tidak mungkin, energi spiritual di tubuhku tidak berkurang sama sekali.. Apa jangan-jangan ini..'
Feng Jiu tersenyum secara diam-diam melihat Kailu yang kebingungan. Tanpa aba-aba dia melesat mendekati Kailu dan mulai menyerangnya.
Feng Jiu menggunakan banyak energi iblis di dalam serangannya, membuat serangan Feng Jiu menghasilkan gelombang kejut yang menyapu debu di lantai arena.
Banyak penonton yang berdecak kesal karenanya dan mengumpati Feng Jiu.
"Kau memiliki banyak sekali energi.. Sudah sejauh ini pun masih bisa memberikan serangan yang kuat!" Kailu memuji Feng Jiu.
Feng Jiu merasa sedikit terganggu karena Kailu masih dapat menjaga ketenangannya walaupun berada di bawah tekanan gravitasi dan posisi yang terpojok.
"Diam kau se-" Kailu menghentikan kalimatnya karena melihat sosok Feng Jiu yang muncul dihadapannya, tentu dengan pedangnya yang diselimuti oleh cahaya hitam kemerahan yang pekat.
CRAASH
"Ap- Uaakhh!" Feng Jiu menorehkan luka tebasan yang dalam mulai dari bahu hingga perut Kailu.
Tidak berhenti di situ, Feng Jiu berlari memutar dan meninju punggung Kailu hingga dia dibuat terbang dan menabrak tiang arena yang berada di pojokan hingga runtuh.
"Sepertinya aku terlalu berlebihan.." Feng Jiu menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat melihat tiang arena yang hancur lebur.
Untuk keadaan dari Kailu, sulit untuk mengatakannya karena debu mengepul di tempat tiang tersebut hancur. Tapi samar-samar terlihat cahaya biru yang menandakan jika Kailu masih hidup, bahkan baik-baik saja.
"Pertarungan yang sangat menarik... Hmm, aku merindukan masa muda ku dulu. Bertarung untuk menghilangkan kebosanan, tapi sayangnya tubuh tua ini sudah tidak bisa diajak kompromi. Hahaha.."
Semua penonton yang fokus ke pertarungan mengalihkan pandangannya ke sosok yang berbicara. Seketika mata mereka melebar dan langsung menelungkupkan tinju untuk memberi hormat.
"Tetua Naga!" pria sepuh yang dipanggil Tetua Naga tersebut tersenyum dan mengangkat satu tangannya.
Feng Jiu juga mengalihkan pandangannya dari tempat Kailu dan menatap Tetua Naga. Dia bisa merasakan pria sepuh tersebut sangat kuat. Buktinya dia bisa berdiri di udara dengan stabil, menunjukkan dia memiliki tingkat yang sangat tinggi.
DHUAAR
Pandangan semua orang kembali teralihkan ke arah ledakan energi yang berasal dari tempat Kailu. Sekarang terlihat sedikit cahaya merah dari kepulan debu.
"Ini? Teknik legendaris lagi? Hey, kau sepupunya kan? Berarti satu keluarga, coba jelaskan tentang teknik ini.." seorang murid senior menyenggol lengan Monlu yang sedang menganga.
"Ya, kami juga ingin tahu tentang teknik ini. Kulihat Kailu menjadi sangat kuat setelah teknik ini diaktifkan."
Monlu yang melihat banyak orang yang tertarik dengan teknik legendaris keluarganya menyeringai.
"Jika kalian ingin tahu, cukup bayar 500 keping perak saja, aku jamin penasaran kalian akan puas." ucap Monlu dengan tangan yang mengadah.
"Cuih, 500 keping perak itu setara dengan 5.000 kontribusi. 5.000 kontribusi itu sangat banyak kau tahu? Kau ingin memeras ya?!" protes salah satu murid yang penasaran.
"Yah kalau kalian tak ingin tahu ya tak usah bayar." jawab Monlu tak peduli.
"Cih, baiklah! Cepat katakan!" semua murid yang penasaran memberikan Monlu sekantung koin perak yang berjumlah 500 keping.
'Asyik, panen besar!' Monlu tersenyum lebar melihat tumpukan kantung yang berisi perak di depannya.
"Baiklah, mari kita mulai dari teori teknik ini. Teknik 8 Jalan Penguasa Pedang merupakan teknik khusus yang diciptakan untuk keturunan leluhur keluarga ku. Leluhur keluarga ku memiliki garis darah unik yang diturunkan oleh hewan suci.." Monlu kemudian menjeda, melihat bagaimana reaksi para murid.
Melihat mereka cukup tertarik, Monlu melanjutkan, "Teknik ini berfokus pada pengumpulan energi spiritual di sekitar tubuh sebagai kekuatan utama. Seperti namanya, teknik ini memiliki 8 tingkat. Yaitu 8 jalan yang dimulai dari pikiran, amarah, kehidupan, penderitaan, keteguhan, kekosongan, penglihatan, dan kematian."
"8 jalan ini mewakili 8 titik pusat energi yang dimiliki oleh tubuh. Membuka pusat energi akan membuat tubuh dapat menyerap energi spiritual dengan jumlah yang sangat banyak dalam waktu singkat dan meningkatkan kekuatan tubuh dengan signifikan."
"Membuka satu jalan akan meningkatkan kekuatan 2 sampai 10 kali dari sebelumnya. Begitu juga dengan membuka jalan yang kedua, kekuatan akan meningkat 2 sampai 10 kali dari jalan sebelumnya, begitu juga dengan jalan ketiga sampai jalan terakhir." Monlu menutup penjelasannya.
"Begitu.." banyak orang yang mengangguk paham.
"Teknik ini sungguh kuat, tidak mungkin tak ada efek sampingnya kan?"
"Tentu saja ada. Yang paing ringan adalah tubuh pegal, kebas, kesemutan hingga lumpuh sementara atau permanen. Bisa saja kehilangan penglihatan dan yang paling parah adalah kematian. Resikonya akan semakin besar jika jalan yang dibuka semakin banyak."