
Feng Jiu melihat rombongan karavan gadis itu bergerak menuju ke kota Taiyuan. Dia mengangkat bahunya dan memasukkan kembali Pedang Logam Biru ke sarungnya.
Setelahnya Feng Jiu berlari dengan ilmu meringankan tubuhnya. Dengan cepat dia dapat melewati karavan yang bergerak lumayan cepat itu.
...{•••}...
Kota Taiyuan memiliki sebuah dinding yang berfungsi sebagai pelindung serta untuk membatasi wilayahnya.
Taiyuan hanya memiliki satu gerbang masuk yang selalu ramai. Ini adalah satu-satunya yang paling Feng Jiu tidak sukai saat mengunjungi Taiyuan karena antrian untuk masuk ke kota sangat panjang.
Dia pernah pergi ke Taiyuan bersama salah satu murid Master Yunjin. Mereka menunggu sampai malam tiba dari pagi agar bisa masuk ke kota Taiyuan.
Sebenarnya saat itu kakak seperguruannya dapat menggunakan pengaruh nya dalam sekte sebagai murid Master Puncak Yunjin untuk masuk secara langsung, namun dia hanya bisa masuk sendiri tanpa membawa Feng Jiu.
Feng Jiu teringat bahwa tanda pengenal nya belum di buat. Jadi satu-satunya opsi agar bisa masuk ke dalam Taiyuan adalah menunggu.
'Setidaknya antrian sekarang tidak sepanjang dulu...' Feng Jiu merasa lega karena melihat antrian masuk Taiyuan tidak sepanjang seperti ingatannya.
Tapi walaupun begitu, kebanyakan yang mengantri adalah karavan pedagang. Jadi proses pemeriksaan nya memakan waktu cukup lama.
Sembari menunggu Feng Jiu melihat kotak yang diberikan oleh gadis yang pergi bersama karavan pedagang sebelumnya. Dia melihat sebuah pil berwarna kuning mengkilap.
Feng Jiu tidak mengetahui jenis pil apa ini, namun di lihat dari aromanya yang memberikan ketenangan, setidaknya pil ini merupakan pil tingkat 3 atau 4.
Tanpa Feng Jiu menyadari, banyak pasang mata yang memandang pil itu dengan wajah tertarik, bahkan ada yang mengeluarkan keinginan untuk membunuh yang samar.
'Punggung ku terasa sedikit dingin. Kenapa ya?' Feng Jiu melihat kebelakang nya dan menemukan beberapa pria dewasa yang menatapnya kemudian mereka memalingkan wajahnya.
'Sepertinya mereka bukan orang baik-baik.' melihat dari reaksi mereka saat melihat Feng Jiu mengeluarkan pil tersebut, ia yakin bahwa pil yang dimilikinya merupakan pil berharga.
Sekitar 5 jam kemudian, giliran Feng Jiu untuk di periksa sebelum masuk ke Taiyuan. Dia diminta untuk memberikan identitas nya.
Feng Jiu memberikan tanda pengenalnya yang masih seorang murid biasa. Penjaga gerbang menunjukkan raut wajah terkejut, kemudian dia bertanya dengan sedikit antusias.
"Kau adalah Feng Jiu yang terkenal itu?!" penjaga gerbang itu bertanya dengan wajah antusias.
"A-apa maksud anda?" Feng Jiu tersenyum canggung karena tidak mengerti maksud dari 'terkenal' yang dia maksud.
"Jangan pura-pura tidak tahu, banyak yang sudah mengetahui tentang kamu yang dapat mengalahkan lawan yang kekuatannya berbeda 3 level, bahkan menghancurkan sebuah senjata spiritual tingkat 3 dengan sebuah tendangan."
Anak belasan tahun itu terkejut karena kabar tentang nya sudah menyebar luas bahkan sampai ke kota Taiyuan.
Dia tidak tahu harus mengatakan apalagi. 'Kurasa terlalu terkenal sedikit tidak baik. Dengan kemampuan ku sekarang, dikenal banyak orang bisa membawa bahaya yang tidak pasti bagiku.'
Pemikiran Feng Jiu berbanding terbalik dengan kebanyakan anak sebayanya. Anak-anak seumuran Feng Jiu berpikir untuk terkenal agar bisa mendapatkan perhatian dan lebih banyak sumber daya untuk berlatih.
Memang, itu adalah hal yang baik saat mereka berada di dalam sekte, tapi saat berada di dunia luar, banyak yang akan mengincar nyawa mereka karena menganggap jika anak-anak berbakat ini berkembang maka dia bisa menjadi ancaman.
"Umm, tuan. Sekarang aku boleh masuk?" pertanyaan Feng Jiu menyadarkan penjaga gerbang yang terlihat masih muda itu.
Feng Jiu merasa penjaga gerbang dihadapannya adalah orang yang baru bekerja. Dilihat dari perlengkapannya serta kemampuannya yang belum mencapai Alam Pemurnian.
"Boleh boleh, tentu saja." dia mempersilakan Feng Jiu untuk memasuki Taiyuan.
Dari kejauhan Feng Jiu juga dapat melihat sebuah pagoda raksasa yang menjulang tinggi di pusat kota.
Pagoda itu mengalahkan semua bangunan dalam tingkat ketinggian nya. Feng Jiu memang berencana ke pagoda tersebut karena tempat itu merupakan perpustakaan yang menyimpan berbagai ilmu di Sekte Pedang Bambu.
Sebenarnya orang dari luar sekte juga dapat mengakses masuk ke dalam perpustakaan, namun sebatas hingga lantai 3 sesuai dengan kemampuan mereka.
Berbeda dengan anggota sekte yang bahkan dapat mengakses hingga lantai 10 berdasarkan kemampuan dan posisi di sekte, sedangkan lantai 11 dapat di akses oleh mereka yang telah melewati serangkaian ujian khusus.
Rumor yang beredar mengatakan, lantai sebelas perpustakaan menyimpan sebuah kitab ilmu tingkat ajaib yang dijaga ketat oleh dua orang yang bahkan kekuatannya setara dengan Master Puncak.
Rumor tentang adanya kitab ilmu tingkat ajaib masih tidak bisa dibuktikan dengan jelas. Namun banyak yang percaya akan rumor itu karena keberadaan dua orang yang menjaga lantai sebelas memang benar adanya.
Tapi masih tidak diketahui tingkatan kekuatan mereka sehingga rumor ini masih simpang siur.
Feng Jiu tidak terburu-buru ke perpustakaan sekte. Dia terlebih dahulu berjalan-jalan menikmati suasana kota yang lebih hidup daripada Puncak Yunjin.
Lebih banyak pedagang yang berjualan aneka jajanan yang lebih beragam di Taiyuan. Feng Jiu mencoba mereka satu persatu dan dia sangat menyukainya.
Beberapa saat berjalan-jalan, kedua tangan Feng Jiu sudah penuh membawa jajanan yang ia beli. Tak lama, perhatian nya teralihkan karena melihat banyak orang yang sedang penonton pertarungan pembela diri yang berada di atas sebuah arena.
Dia memperhatikan lebih jauh dua orang yang sedang bertarung itu. Seorang pria berkepala plontos yang bertelanjang dada.
Terlihat dia sengaja begitu karena ingin memamerkan ototnya yang padat serta enam roti sobek di perutnya.
Di dunia bela diri jarang sekali orang ingin melatih dan membentuk otot mereka sampai sejauh pria itu. Karena hal tersebut hanya membuang waktu saja bagi mereka yang ingin mendapatkan kekuatan.
Biasanya orang-orang akan mengkonsumsi pil dan tanaman spiritual untuk meningkatkan kekuatan fisiknya melalui Energi Beratribut.
Lagian penentu kekuatan fisik bukan saja dari otot yang besar, tapi pengaruh yang lebih besar datang dari organ serta tulang.
BUMM
Lawan pria plontos itu terguling setelah terkena tinjuan nya. Bahkan pedang nya patah menjadi dua bagian.
"Ti-tidak mungkin!" dia histeris melihat pedang kesayangannya patah menjadi dua. Pemuda itu menatap pria plontos itu kemudian berlari sambil membawa pedangnya yang patah.
"Iiibuuuu....!"
"Siapa lagi yang ingin menantang ku!" pria kepala plontos melipat tangannya.
Feng Jiu masih belum memahami maksud dari pertarungan ini. Jadi dia memutuskan untuk bertanya pada orang yang menonton.
"Paman..." Feng Jiu menarik pakaian salah seorang penonton yang sedang berbincang dengan orang di sebelahnya.
"Eh? Anak siapa ini? Apa yang kau lakukan di sini nak?" Feng Jiu sekilas terlihat seperti anak-anak yang tidak berbahaya dan memiliki kekuatan.
Jadi mereka menganggap nya seperti anak kecil biasa yang kehilangan orang tuanya dan nyasar.
"Bolehkah aku tahu kenapa paman itu menantang orang untuk berkelahi?" dia bertanya dengan mata yang dibuat berkaca-kaca.
"Eee.."