
Feng Jiu mendapatkan tatapan aneh dari murid-murid sejak masuk ke Puncak Yunjin. Di samping itu dia merasa ada banyak orang yang mengikutinya diam-diam. Hal ini membuat Feng Jiu merasa sedikit tidak nyaman.
"Dia sangat tampan, kenapa aku tak pernah melihatnya sekalipun?" seorang murid perempuan terpana dengan paras Feng Jiu yang berubah sejak pelatihannya hingga sulit untuk mengenalnya kembali.
"Benar, kenapa orang setampan nya tidak terkenal?" lebih banyak murid perempuan yang mengikuti Feng Jiu.
'Oh ayolah, aku hanya ingin berjalan-jalan dengan santai saja tidak bisa.' Feng Jiu mengeluh karena apa yang ia lakukan membuat kehebohan bagi murid perempuan yang mengikutinya.
Bahkan dia melihat beberapa orang nenek-nenek yang mengikutinya, membuat Feng Jiu hampir muntah darah dan memutuskan untuk pulang kerumahnya.
Tentu saja dia menggunakan ilmu meringankan tubuhnya agar para wanita tidak mengejarnya sampai rumah. Dia juga mengecoh mereka dengan berlari tak tentu arah baru kemudian kembali ke rumahnya.
"Huft.. Menjadi tampan terjadi tidak mudah ya. Dan lagi, sepertinya aku terlalu cepat dewasa.." Feng Jiu tidak terlihat kelelahan setelah berlari selama beberapa puluh menit.
Namun dia berlagak seperti baru saja melakukan hal yang melelahkan seperti menggali gunung dengan kaki dan mengeluh.
"Hm? Rumah ku begitu bersih. Sepertinya seseorang membersihkannya saat aku pergi berlatih." langkah Feng Jiu terhenti sebelum memasuki rumahnya.
Dia menyadari halaman rumahnya sangat bersih. Padahal di sekitar rumahnya banyak pepohonan dan tanaman bambu. Seharusnya banyak daun berjatuhan yang memenuhi halaman rumahnya.
Namun halaman rumah Feng Jiu terlihat sangat bersih. Feng Jiu kemudian menemukan suara senandung yang kecil berasal dari dalam rumahnya.
"Kau sudah pulang?" suara lembut seorang perempuan terdengar dari dalam rumahnya.
"Eh? Kau bukan Feng Jiu.." sosok familiar membuka pintu kayu tersebut.
Feng Jiu tersenyum masam, merasa semua orang sulit untuk mengenalnya. Tapi dia merasa wajar karena penampilannya saat ini berbeda seratus delapan puluh derajat dengan sebelumnya.
Tanpa praktik yang tinggi, sulit untuk mengenalnya sebagai Feng Jiu hanya dengan melihat penampilannya saja.
"Ha, kau bicara apa.. Tentu saja aku adalah Feng Jiu." Lan Meiyu masih menatap lamat-lamat wajah laki-laki tersebut.
Dia merasa wajah tersebut sangat familiar dan hatinya berdebar saat menatapnya, membuat Lan Meiyu yakin jika laki-laki itu adalah Feng Jiu. Namun dirinya mempertanyakan bagaimana bisa pertumbuhan Feng Jiu sangat cepat.
Hanya dalam beberapa minggu saja anak dua belas tahun itu sudah tumbuh menjadi seperti lima belasan tahun. Lan Meiyu pernah mendengar tentang kabar Feng Jiu yang mengalahkan seorang murid super jenius dari Sekte Beruang Besi dengan beradu kekuatan fisik.
Kabar tersebut mengatakan dia mendapatkan kitab Seni Dewa Besi. Lan Meiyu berspekulasi kalau Seni Dewa Besi ada ikut andil dalam pertumbuhan tubuh Feng Jiu yang tidak wajar.
Ini membuat Lan Meiyu menjadi iri karena tingginya sekarang hanya sebatas dada Feng Jiu. Padahal sebelumnya dia sedikit lebih tinggi dari Feng Jiu.
"Jadi kau yang membersihkan rumah ku?" Feng Jiu menyadarkan lamunan Lan Meiyu dengan pertanyaannya.
"A-ah? Iya, be-benar aku.. Itu.." kerutan di dahi Feng Jiu yang menunjukkan keheranannya karena melihat Lan Meiyu yang tiba-tiba salah tingkah.
'Sebelumnya dia terlihat penuh waspada dan curiga, sekarang menjadi seperti anak kucing..' batin Feng Jiu heran.
"Oh ya, apakah Master Yunjin menitipkan pesan padamu?" tanya Feng Jiu karena dia merasa kehadiran cucu orang paling disegani di Puncak Yunjin tersebut di rumahnya bukan hanya untuk merawat rumah tersebut saja.
Lan Meiyu terlihat berpikir sebelum menjawab, "Kakek memintamu untuk menemuinya dua tiga hari lagi.. Eh tidak, dua hari lagi. Kurasa.."
"Dan.. Ayahku akan datang kesini untuk membicarakan sesuatu tentang masa depan kita.." nada bicara Lan Meiyu menjadi lebih kecil.
"Masa depan? Maksudmu tentang.." Lan Meiyu mengangguk sebelum Feng Jiu menghabiskan kata-katanya.
'Pertunangan.. Aku sudah melupakannya beberapa tahun belakangan ini. Jika Jenderal Kerajaan ingin membatalkannya pun tidak apa-apa. Aku juga tidak terlalu memikirkannya. Namun memikirkan perasaan Lan Meiyu yang bisa hancur dan bisa merusak pelatihannya..'
Feng Jiu dapat melihat Lan Meiyu sedih dan menjadi lesu. Jelas sekali Lan Meiyu tahu tentang apa yang akan terjadi saat ayahnya datang nantinya.
...{•••}...
Master Yunjin merasa pada masa depan, Feng Jiu akan menjadi orang yang berpengaruh di dunia beladiri. Hal ini membuatnya tanpa banyak runding langsung menjodohkan cucunya dengan Feng Jiu.
Feng Jiu dan Lan Meiyu yang masih enam tahun di pertemukan dan mereka di latih bersama, dipaksa untuk saling mengenal dan menjalin hubungan yang dekat.
Seiring berjalannya waktu, terlihat Feng Jiu yang tidak tertarik sama sekali dengan gadis yang dijodohkan dengannya, Master Yunjin menganggap nya masih terlalu kecil untuk tumbuh rasa suka.
Namun berbeda dengan cucunya yang terlihat memiliki perasaan pada Feng Jiu. Padahal mereka memiliki usia yang sama. Hal ini membuat Master Yunjin bingung dengan Feng Jiu yang tidak memiliki perasaan apapun pada cucunya.
Entah dia memang tidak tertarik atau masih terlalu muda, tapi cucunya terlalu cepat dewasa dalam pemikiran tentang lawan jenis.
"Aku akan mencoba yang terbaik untuk membuat ayah mu senang, jadi kau tidak perlu khawatir. Fokus saja berlatih.." Feng Jiu mencoba tersenyum dengan hangat untuk membuat gadis tersebut merasa lebih baik.
"Terimakasih Feng Jiu! Aku akan kembali berlatih." Lan Meiyu terlihat bersemangat setelahnya.
...{•••}...
"Tarian Taring Naga milikku sudah mendekati penerobosan semenjak bertarung beberapa kali. Kurasa aku bisa mencoba untuk melatihnya sedikit untuk mendapatkan pencerahan."
Feng Jiu mengeluarkan pedang logam biru. Semenjak digunakan olehnya, pedang yang memiliki bilah berwarna biru tersebut menjadi pudar keabuan, mungkin karena terkena darah makanya warnanya menjadi pudar walaupun tidak masuk akal warna logam pedang tersebut berubah hanya karena darah.
"Tetap saja pelatihan terbaik adalah bertarung dengan langsung! Beberapa jam berlatih ilmu ini aku tidak mendapatkan kemajuan apapun." Feng Jiu merasa kesal karena beberapa jam waktunya dihabiskan hanya untuk melatih ilmu pedangnya, namun tidak ada kemajuan.
Feng Jiu duduk bersila di halaman rumahnya untuk merenungkan ilmu berpedangnya. Kemudian dia teringat dengan tingkat murid teratas Puncak Yunjin. Ia merasa dapat meningkatkan penguasaannya terhadap ilmu pedang dengan bertarung melawan mereka.
'Semua murid teratas memiliki pengalaman berpedang yang tinggi. Jika aku bertarung dengan mereka, aku dapat mengasah kemampuan pedang ku. Hm, sepertinya ini jalan tercepat..'
Orang lain akan muntah darah jika mengetahui Feng Jiu memanfaatkan murid teratas hanya untuk sebatas berlatih, padahal orang lain mati-matian berlatih untuk dapat mengalahkan murid teratas dan mendapatkan peringkatnya agar bisa memperoleh sumberdaya pelatihan yang banyak.
Feng Jiu membersihkan dirinya sebelum kemudian pergi ke arena latih tanding...
...{•••}...
Feng Jiu berpikir mungkin akan membutuhkan waktu lama bagi para murid teratas untuk tertarik melawannya. Namun berbeda dengan pikirannya, sekarang ada tiga puluhan murid teratas yang sedang mengantri untuk melawannya.
Terlihat mereka menatap tajam Feng Jiu bahkan ada yang sedang menulis nama Feng Jiu di sebuah batu.
'Buset, kenapa yang datang sebanyak ini. Aku hanya ingin melawan lima orang saja..' Feng Jiu menggaruk kepalanya yang tidak gatal menatap murid teratas yang ingin melawannya.
Mereka mayoritas adalah laki-laki, sehingga Feng Jiu mengetahui apa penyebab banyaknya penantang setelah melihat banyak murid perempuan yang menatapnya terus menerus.
"Lawan aku! Akan ku robek mukamu itu dan memberikannya pada anjing!"
"Diam kau! Dia adalah lawan ku! Minggir!"