
"Weilan!?"
Feng Jiu baru saja kembali dari berlatih di air terjun, dia berencana bertemu dengan Tang Weilan di gua tempatnya tinggal sebelum berlatih di air terjun.
Tapi Feng Jiu tidak menemukan pangeran ketiga belas di sana, dan terlihat banyak bercak darah di sekitar gua.
"Apakah pangeran pertama mengirim orang untuk menangkap Weilan?" Feng Jiu memperhatikan bercak darah yang berada di lantai gua.
"Ini masih belum kering.." dia menemukan darah di sana masih belum mengering, yang berarti apapun yang telah terjadi di sini masih belum lama.
Feng Jiu juga menemukan beberapa bekas tapak kuda di tanah, entah mengarah kemana.
'Apakah aku harus membantunya?' Feng Jiu melakukan konflik batin karena bimbang.
'Cih, aku tidak bisa membiarkannya begitu saja..' Feng Jiu mengeluarkan pedang logam biru dari cincin penyimpanannya dan mulai mengikuti jejak tapak kuda yang di tinggalkan.
...{•••}...
"Utusan pangeran pertama akan datang kemari untuk mengambil pangeran ke tiga belas. Jadi kita harus bergegas!" salah seorang pria dengan kulit yang sedikit gelap berbicara dengan nada yang sedikit besar pada pria lain di sebelahnya.
"Cih, kau kira kita akan bisa sampai ke markas dalam waktu cepat? Beristirahat dan bersenang-senang selama beberapa jam kan tidak masalah!" pria itu menyahut.
"Jangan membantah! Jika kita membuat utusan pangeran pertama menunggu, ketua akan memenggal kepala kita!" dia berteriak pada rekannya itu, tapi malah diabaikan.
"Adik Ten, tenanglah. Asalkan kita membawa pangeran ketiga belas, ketua tidak mungkin akan menghukum kita. Aku yakin dia akan memberikan hadiah besar!" pria yang lainnya menyela.
"Apa? Aih kalian ini..." pria berkulit gelap itu menggeleng melihat tingkah laku temannya itu.
Mereka kemudian memacu kudanya dengan cepat menuju ke sebuah jalan besar yang terhubung ke sebuah kota.
"Di depan sana adalah kota Kaifeng. Kita akan beristirahat beberapa jam dan bersenang-senang di salah satu rumah hiburan.."
Saat rombongan pria itu sudah mendekati gerbang kota, mereka terpaksa berhenti karena melihat antrian masuk yang lumayan panjang. Mereka harus mengantri sebelum memasuki kota Kaifeng - seperti yang terjadi di banyak kota besar lainnya.
"Hah, ini yang paling membuatku malas saat pergi berjelajah. Mengantri sangat membosankan..." salah satu dari mereka mengeluh.
Sementara itu, Feng Jiu dapat dengan mudah menemukan sekelompok pria yang dia duga telah menculik Tang Weilan. Namun dia bingung di mana mereka menyimpan nya.
'Apa jangan-jangan di antara karung-karung tersebut?'
Setiap dari pria tersebut membawa sebuah karung bersama mereka yang diletakkan di belakang kuda yang mereka tunggangi.
Feng Jiu sendiri sangat yakin bahwa mereka adalah orang yang menculik Tang Weilan, karena dia sudah mengikuti mereka sejak di kawasan hutan monster.
"Aku harus mencari cara untuk mencari tahu isi dari karung-karung tersebut!" Feng Jiu berpikir selama beberapa menit di atas sebuah pohon.
Kemudian dia mengeluarkan sebuah topi caping yang terbuat dari jerami dan memakainya.
Ia sengaja menggunakan topi jerami agar tidak menarik perhatian, tapi malahan perhatian semua orang tertuju padanya.
"Siapa dia? Bajunya terlihat mahal, tapi menggunakan sebuah topi jerami?" bisik-bisik orang di antrian.
"Tidak tahu.. Tapi sepertinya dia adalah pembela diri karena membawa pedang di punggungnya."
"Sebaiknya kita tidak menyinggung nya.."
Feng Jiu mengabaikan semua bisik-bisikan tersebut, tapi dia merasa aneh saat semua orang menepi seperti memberikannya jalan untuk masuk duluan.
"Tuan, silahkan anda saja yang duluan. Kami sudah terbiasa menunggu.." seorang pedagang berniat meminta Feng Jiu untuk segera berjalan ke antrian terdepan terdahulu.
"Ya benar. Silahkan silahkan.."
Dahi Feng Jiu mengerut, sungguh bingung dengan semua ini. Tapi tidak ada yang dapat melihat wajahnya karena dia sedikit menunduk.
Feng Jiu menghela nafasnya, "Baiklah, terimakasih.." para pedagang sedikit terkejut mendengar suaranya yang masih muda.
...{•••}...
"Kota seluas ini bagaimana cara mencari mereka?" Feng Jiu memikirkan tempat yang paling pasti di datangi oleh orang-orang berkuda tersebut.
"Penginapan? Aku bisa mulai dari sini sepertinya.."
Feng Jiu mulai mendatangi satu persatu penginapan di kota Kaifeng. Hanya dengan mengandalkan ingatannya, dia mulai mencari orang atau kuda yang mereka tunggangi sebelumnya.
Ilmu meringankan tubuh dan penglihatan kekacauan sangat membantu bagi Feng Jiu, dalam waktu kurang dari sepuluh menit, dia bisa menemukan kelompok berkuda yang ia curigai.
Mereka berhenti di suatu penginapan, dan mulai memarkirkan kuda mereka. Setelah itu masuk ke dalamnya.
"Tuan, selamat datang.." seorang pelayan menyapa Feng Jiu dengan sopan. Melihat pakaian Feng Jiu yang termasuk mahal dan sebuah pedang terselip di punggungnya, wajar pelayan itu bersikap sopan padanya.
Seperti kebanyakan penginapan, lantai satunya berfungsi seperti sebuah rumah makan.
'Kenapa semua orang memperhatikan ku?' Feng Jiu membatin kala melihat semua orang memperhatikannya.
"Dia menggunakan topi jerami.. Apakah salah satu dari 'mereka'?"
"Tidak tahu, tapi sebaiknya kita tidak menyinggung nya. Kekuatan kelompok itu sangat mengerikan, bahkan setara dengan sekte terkuat di daerah ini.."
'Kelompok apa? Sebanding dengan sekte terkuat di daerah sekitar?' Feng Jiu bertanya dalam hatinya.
Pengalamannya tentang dunia luar bisa dibilang dangkal, seperti tentang kelompok-kelompok yang memiliki kekuatan sangat besar yang dapat di sandingkan dengan sebuah sekte besar.
'Kelompok seperti apa yang dapat bersanding dengan Sekte Pedang Bambu?' jika saja kelompok tersebut sangat kuat hingga dapat di setara dengan sekte terkuat di daerah itu, seharusnya Feng Jiu sudah mengetahuinya.
'Sudahlah aku tak perlu memikirkan nya. Lebih baik fokus terhadap mereka..' Feng Jiu menatap tajam dua belas pria yang sedang makan dan meminum arak di sebuah meja.
"Kok tiba-tiba aku merinding ya?" salah satu dari dua belas pria itu memegangi kedua tangannya.
"Perasaan mu saja kali. Mungkin udaranya dingin.." pria lainnya menyahut dan menenggak arak yang berada di dalam guci.
...{•••}...
"Sebelumnya mereka berjumlah 15. Tapi sekarang hanya 12 orang saja. Tiga lagi kemana ya?" Feng Jiu berpikir sembari duduk bersila di kasur yang berada di dalam kamar yang ia sewa.
Ia berpikir untuk meningkatkan kekuatannya sedikit, jika bisa satu level untuk menyiapkan diri pada kemungkinan pertarungan yang akan terjadi.
Di tengah meditasi nya, Feng Jiu mendengar suara gaduh di kamar sebelahnya. Karena penasaran, ia melompat keluar dari jendela dan menguping apa yang terjadi di kamar tersebut lewat loteng.
"Pangeran kau manis sekali. Kebetulan adik Hen itu penyuka sesama jenis, jadi..." pria berkepala botak di sampingnya terbatuk karena tersedak nafasnya sendiri.
"Sejak kapan?!" pria botak itu berteriak di samping telinga pria yang mengejeknya.
"Hari ini!"
"Berantem kita?!"
"Ayok!"
"Kalian tenanglah!" seorang pria berewokan melerai mereka. Pria botak dan temannya terlihat menurutinya tanpa perlawanan.
'Pria janggut tebal itu memiliki aura yang sangat kuat. Sepertinya hampir menerobos ke Alam Kultivasi..'
"Sebaiknya kalian jangan melakukan apa-apa terhadap pangeran ketiga belas. Takutnya nanti jika pangeran Tang Yuoren tertangkap atau ambisinya gagal, pangeran pertama akan memiliki kesempatan untuk menghancurkan kita!"
Perkataan pria brewok itu seperti secara tidak langsung mengatakan bahwa mereka ho-mo. Namun tidak keluar kata-kata bantahan dari kedua pria itu.
"Tang Weilan.. Sabarlah, aku akan mencari cara untuk menyelamatkan mu.." Feng Jiu mengepalkan tangannya dengan keras.
Untuk sekarang dia tidak bisa melakukan apa-apa. Menyerang mereka secara langsung hanya cari mati saja.
Melawan 15 orang dengan kekuatan Alam Pemurnian sendirian? Sangat mustahil bagi Feng Jiu.
Apalagi mereka terlihat dapat bertarung dengan kompak serta berkoordinasi dengan baik satu sama lain, membuat persentase kemenangan Feng Jiu, di bawah 10%!