Damar: Love Is On The Way

Damar: Love Is On The Way
Date! Again?



Bening POV


Berat hati sebenarnya meninggalkan ayah dan ibu. Kalau saja Arya, kakakku satu-satunya tidak tinggal bersama Ayah dan Ibu, aku mungkin tidak akan kembali ke Jakarta. Aku tidak yakin Arya akan tinggal lama tetapi kali ini mungkin lama. Menurut pengakuan ibu semalam, Arya sedang patah hati dan ingin melupakan kekasihnya. Semoga lelaki tampan yang usianya lima tahun tahun lebih tua dariku bisa segera move on. Aku bahkan tak tahu berapa usia Damar. Argh ... kenapa aku malah mengingat lelaki keras kepala itu? Berapapun usianya bukan urusanku.


Lamunan liarku segera terpotong oleh bunyi lagu All i see is you milik Dave Koz. Salah satu penyanyi favoritku. Aku menarik ponsel pintar yang aku selipkan di tas kecil yang mengantung di samping tubuhku.


Lagi-lagi nama Damar muncul di layar. Dari sekian banyak kontak yang aku kumpulkan selama ini, Damar lah yang paling sering menelpon. Apa lagi mau lelaki berhidung bangir itu?


"Kau sudah di Jakarta?" tanya Damar begitu sambungan terhubung. Aku bahkan tak sempat mengatakan 'halo' terlebih dahulu. Lelaki ini sungguh membuatku jengkel. Apa aku harus membuat laporan dimana keberadaanku setiap saat?


"Iya, pesawatku baru saja mendarat." Aku menarik kopor berwarna merah yang berisi bajuku menjauhi tempat claim barang.


"Aku akan menjemputmu," katanya lagi dengan nada tegas. Aku lelah meladeni setiap niatnya. Apa ia tak bisa membiarkanku sendiri? Apa ia tak punya pekerjaan lain yang lebih penting selain menelpon dan bertanya tentang keberadaanku.


"Tidak perlu!" Aku menolak dengan tegas. Jika aku sering berinteraksi dengannya, hatiku yang lemah dan mudah jatuh cinta pada perhatian yang ditawarkan cuma-cuma. Aku tidak mau! Aku menginginkan hubungan yang jelas. Usiaku juga tidak muda, aku tidak butuh pacar tetapi suami, calon suami.


Aku tidak mau menjadi pemeran utama yang di sutradarai oleh lelaki tampan yang banyak digandrungi orang. Aku menginginkan hubungan serius dengan siapapun yang berniat baik.


"Aku dalam perjalanan, tunggu disana!" perintahnya tak mau dibantah. Aku mengangguk pelan kepada Damar yang tak bisa melihatnya.


Lelaki yang berhasil membuat dadaku bergetar ini tak mengetahui pergulatan batin yang aku alami.


Aku harus mengatakan kalimat baik untuk mengakhiri ini. Aku harus rela kehilangan kesempatan dekat dengan lelaki berduit itu. Lihat saja mobilnya, mobil jeep yang aku tabrak beberapa waktu lalu jelas bukan mobil jeep murahan yang biasanya digunakan untuk mengangkut balok kayu.


Sebuah mobil BMW berwarna merah metalik membunyikan klaksonnya beberapa kali sebelum berhenti di depanku. Fancy car yang hanya berisikan dua kursi ini membuatku membatin. Oh God, aku juga ingin membelinya.


Aku mengalihkan padang dari mobil sport yang menyilaukan mata ini. Mencari-cari mobil jeep milik Damar yang sudah familiar olehku.


Mobil merah di depanku kembali membunyikan klakson sebelum turun dari mobilnya. Lelaki yang mengusik benakku beberapa hari ini turun dari mobil merah itu. Ia mengenakan setelan serba hitam kecuali dasi perak yang mengantung rapi di lehernya.


"Masuklah!" Ia berjalan memutari mobilnya dan berhenti tepat di depanku. Bukan membukakan pintu seperti yang umumnya terjadi di film romantis namun ia mengambil koper mini milikku dan menaruhnya di jok belakang. Lari memutari mobilnya lalu melirikku.


Aku menurut tanpa menyahut. Salah satu impianku menaiki mobil mewah terkabul, meski hanya nebeng. Setidaknya sudah terwujud karena mustahil membelinya mengingat gajiku hanya cukup untuk menutupi kebutuhan hidup perbulan. Aku harus memiliki karir dengan penghasilan ratusan juta per bulan untuk membeli semua impian dan meski pada kenyataannya uang bukan segala-galanya, tapi segala-galanya butuh uang.


Aku mengamati interior mobil yang di dominasi warna coklat itu. Mobil mewah memang beda.


Damar yang sudah duduk anteng di belakang kemudinya meliriku sekilas.


"Sabuk!" katanya singkat sebelum melajukan mobilnya. Mobil bersuara lirih ini melaju dengan kecepatan pelan meninggalkan bandara Soekarno-Hatta.


Suasana hening menemani perjalan kami. Lelaki berparas elok ini terlalu fokus dengan kemudinya dan tak mengindahkan keberadaanku yang berhasil membuat hatiku meronta. Entah apa yang ada di dalam benaknya?


Aku ingat kalimatnya yang mengatakan ia akan menjemputku di bandara. Jadi seperti ini rasanya punya sopir tampan yang diam-diam membuatku kesal. Kesal karena ia mendiamkanku sejak beberapa waktu lalu.


"Ini bukan arah ke apartement ...," kataku menyadari jalanan yang biasa aku lewati berbeda. Aku meliriknya, menunggu jawaban.


"Kita makan siang dulu." Ia menjawab tanpa menoleh. Mata elangnya fokus pada jalanan aspal hitam di depannya.


"Tidak perlu, aku bawa bekal." Aku menolak ajakan itu. Bekal makan siang yang dibungkuskan ibu dari rumah masih utuh di dalam kotak yang berada di ransel hitam milikku.


"Ada yang harus kita bicarakan!" Kali ini Damar melirikku dengan wajah serius.


"Tidak ada yang harus kita bicarakan!" kataku sama seriusnya. Pembicaraan macam apa yang ia tawarkan.


"Bening!" Aku menciut. Nada suaranya membuatku beku. Bukan karena suaranya yang tinggi tetapi nada rendah itu penuh ancaman. Garis-garis wajahnya mengencang.


Aku membeku. Suasana hening kembali hingga kami sampai di sebuah restoran. Restoran yang tentu saja tidak familiar bagiku. Beberapa mobil memenuhi pelataran restoran. Pemandangan yang umum mengingat jam makan siang baru saja dimulai.


Aku mengikuti langkah Damar turun dari mobil. Lelaki tampan ini berhenti dan menatapku dengan mata hitamnya.


Kami memesan makanan tanpa suara. Damar tidak mengatakan apapun kecuali menyantap hidangan dengan lahap. Nampaknya ia sedang lapar. Aku tersenyum melihatnya.


Ponselku berdering dan nama Leon muncul di layar. Damar mengawasiku dengan seksama. Setelah menyentuh tombol berwarna hijau aku mendengar suara berat Leon.


"Aku akan menemuimu setelah ini, iya, maaf, aku bersalah padamu. Iya, maaf," kataku sebelum menutup telpon.


"Siapa?"


"Leon"


"Pacar?"


"Bukan urusanmu!"


"Lalu, kemana saja kau tiga hari ini?" tanyanya dengan nada sinis.


"Kau sengaja menghilang untuk menghindariku?" Selidiknya. Damar menegakkan tubuhnya yang sudah tegak. Matanya mengawasi seperti elang yang sedang lapar.


'Kalau ia tahu, kenapa masih bertanya.' Aku hanya bisa membatin.


"Siapa yang menghindarimu?" elakku. Meski pada kenyataannya demikian.


"Jadi, apa yang sebenarnya kau lakukan tiga hari terakhir?"


Sial, rupanya Damar tak akan berhenti sebelum aku menjawab semua pertanyaannya.


"Masalah pribadi." Aku tak suka menjelaskan masalah pribadi pada orang asing terlebih masalah menyangkut lelaki yang kini duduk berhadapan denganku.


"Jadi, kau memang segaja ...," desaknya. Ia menghentikan menyendok nasi dan mengjadiahiku tatapan tajam.


"Cukup! Aku tidak bisa melakukan ini semua. Kebohongan ini, kebohonganmu," kataku beramarah. Suaraku yang melengking membuat beberapa pasang mata menoleh ke meja kami.


"Bening, pelankan suaramu."


"Aku tidak peduli, aku tidak mau terlibat apapun denganmu. Aku sudah melunasi janjiku. Mobil sialan itu, berapa besar biaya perbaikannya? Aku bayar semua tapi kau harus berjanji tidak akan menggangguku lagi."


"Bening, kita bisa bicara baik-baik!"


"Tidak! tidak akan baik-baik saja apa yang dimulai dengan kebohongan. Seharusnya kau tahu itu, kebohongan hanya akan melahirkan kebohongan baru dan begitu seterusnya. Aku tidak bisa melakukannya. Dia itu ibumu, dia pasti ingin yang terbaik untukmu. Kenapa tidak mencobanya dulu, maksudku kalian bisa bertemu dan kenalan dulu, jika memang tidak ada ketertarikan kau bisa menolaknya. Kau tidak akan diminta untuk langsung menikahinya, bukan?"


"Selesaikan makan siangmu, lalu aku akan mengantarmu."


"Tidak perlu!" kataku dengan nada ketus. Ia kembali menghadiahiku dengan tatapan bengisnya. Aku menghembuskan napas pelan dan berkata, "Terserah kau saja," kataku kemudian mengalihkan perhatianku pada hidangan di depanku. Selera makanku sudah lenyap tetapi aku tidak bisa membiarkan makanan ini berakhir di tong sampah. Ibu akan memarahiku jika tahu.


Suasana menjadi hening. Damar terasa sangat jauh. Aku tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Mengatakan ingin menjauh dari kehidupannya tetapi hati ini meronta ingin dekat. Hatiku berdenyut saat kedua mata ini beradu di udara sepersekian detik sebelum dia membuang muka. Ada apa dengan hatiku ini? Apa yang sebenarnya aku inginkan?


Kenapa aku tidak mencoba saja?


'Mencoba apa?' Sial! Suara lain dikepalaku ikut berbicara.


Aku menggeleng pelan menampik perasaan asing yang meresap masuk perlahan-lahan. Perasaan apapun yang aku miliki untuknya tidaklah penting. Aku harus menyiapkan hatiku untuk mencintai siapapun calon suamiku kelak. Bukan memberikannya pada Damar yang tak jelas arahnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Fyi,



Bangir \= mancung



halo semua, maaf ya kemarin nggak sempat update. Hehehe. Lagi rempong sama tugas negara ini itu.


Semoga kalian suka ya .... Btw, jangan lupa like dan komen ya. Vote juga boleh. Apalagi kalau mau bantu promo karyaku 😂😍. Tanks banget buat yang selalu mengikuti jejakku, semoga bisa menginspirasi.


Salam bahagia


Nina K.


!!!!