Damar: Love Is On The Way

Damar: Love Is On The Way
Tamu tak diundang



Bening POV


Matahari bersinar lembut menerobos masuk melewati kaca dengan gorden putih tipis sebagai penghalangnya. Berkas cahaya putih itu masih mampu menembus masuk kedalam ruangan, membuat ruangan terang tanpa penerangan. Aku selalu mimpikan punya rumah dengan jendela besar. Sekarang aku harus bersyukur dengan apartment yang aku tinggali. Setidaknya aku masih masih memiliki jendela berukuran imut agar ada cahaya matahari yang masuk kedalam ruangan.


Apartment ini memiliki satu kamar utama, kamar Mandi, ruangan tamu Dan dapur kecil tanpa sekat. Ruang tamu yang lebih sering aku manfaatkan sebagai ruang nonton film karena terdapat televisi datar yang menempel di dinding.


Ruang khusus untuk melepas lelah setelah bekerja seharian. Sacred place.


Seperti saat ini, hari minggu aku habiskan untuk menonton anime kesayangan yang sudah tamat alias maraton lagi atau yang saat ini sedang tayang. Kalau sedang malas menonton, tentu saja membaca komik.


Aku duduk di sofa dengan kaki berselonjor. Jam dinding yang berbentuk oval mengantung pasrah di dinding. Jarum pendeknya menunjuk angka delapan sementara jarum panjangnya menunjuk angka lima.


Aku mengambil remote tivi dan menekan tombol on,  begitu tivi menyala muncul wajah artis yang tidak familiar bagiku di acara gosip minggu pagi.


Aku hendak berdiri ketika bel di pintu berbunyi. Aku mengabaikannya, mungkin aku salah mendengarnya karena tidak mungkin ada orang yang bertamu ke apartementku sepagi ini. Jihan? Tidak mungkin, pikirku menepis bayangan Jihan dibalik pintu.


Aku menarik salah satu flashdisk yang aku letakkan di toples dan memasangnya di tivi. Menekan tombol masukan usb dan memilih koleksi film. Kemudian tampilan flashdisk muncul di layar. Aku menekan beberapa tombol hingga aku menemukan folder anime, menekan tombol ok lalu muncul beberapa koleksi anime yang aku miliki. Ada SAO dan Naruto serta Naruto shippuden. Akhirnya, aku memilih SAO.


Setelah menekan tombol ok muncul daftar episode SAO. Setelah memastikan episode pertama terputar aku kembali duduk di sofa dan meletakkan remote tivi di atas meja.


Sayub-sayub aku mendengar bel kembali berbunyi. Aku mengecilkan suara tivi dan mendengar bunyi bel yang sama. Bel yang terdengar nyaring di depan pintu.


Aku berjalan mendekati pintu dan menempelkan telinga di pintu, suara bel terdengar lebih jelas. Ada seseorang di balik pintu yang terdengar tak sabar karena kembali menekan bel.


Siapa yang bertamu sepagi ini? 


Aku membuka pintu dan menemukan Damar berdiri di ambang pintu. Aku menatapnya tak percaya. Laki-laki berkulit perunggu itu balas menatapku.


"Boleh, aku masuk?" tanyanya tak sabar. Bagaimana mungkin laki-laki ini berdiri di depan pintu apartemenku.


"Tidak!" kataku setelah melamun sekian detik. Aku berdiri di celah pintu yang sedikit terbuka dan menghalangi niatnya.


Damar mendorong tubuhku lalu menerobos masuk, mengabaikan ucapanku.


"Hei ...," protesku tak membuat Damar mengurungkan niatnya. Ia menuju sofa dimana aku duduk beberapa saat lalu. Aku menghela nafas pelan sebelum menutup pintu dan berjalan mendekatinya dan melipat kedua tanganku di dada. Ia terlalu nyaman duduk di sofa abu-abu itu. Kedua matanya menatap layar televisi yang menampulkan wajah Kirito. Pemain SAO.


"Bagaimana kau bisa tahu aku tinggal disini?" Selidikku. Aku tak ingat mengatakan sesuatu. Apalagi tempat tinggal dan nomer apartement dan lantai berapa kecuali ...


"Kau sendiri yang bercerita waktu itu," kata Damar datar mengabaikan tatapan bengisku.


Aku memutar bola mataku dan mengutuk dalam hati. Ia bahkan dengan santainya menyandarkan punggungnya di sofa. Daya ingat yang bagus itu membuatku tak senang.


"Kamu masih menonton kartun anak-anak?" tanyanya dengan nada mengejek. Aku menatapnya tajam tanpa menjawab. Aku suka menonton kartun atau bukan, itu adalah hobiku, bukan hobinya.


Ia tidak merasakan aura gelap yang tiba-tiba menyelimuti. Tidak peka!


"Aku sudah tidak punya utang padamu," kataku masih berdiri. Aku berharap Damar mengerti bahwa aku tak mengharapkan kehadirannya di minggu pagi yang menyenangkan. Setidaknya, sebelum lelaki yang mengenakan kaos putih polos ini datang dan menghancurkan rencana minggu pagiku.


Aku ingin berteriak dan mengusirnya saat ini juga, tapi bagaimana melakukannya. Aku tidak mau ia melihatku dalam keadaan marah atau yang lain. Duh ... kenapa aku malah memikirkan apa yang dipikirkan Damar. Padahal sudah jelas darimana datangnya emosi ini.


"Ibuku menelpon, tidak ... sebenarnya video call," katanya memberitahu. Ia mengangkat wajahnya dan menatapku.


"Lalu ... "


"Aku butuh bantuanmu,"


"Aku tidak melihat ada hubungan, antara ibumu video call denganku," kataku berargumen. Aku menyampaikan logika masuk akal tentang itu.


"Sebenarnya ada ... " katanya ragu-ragu. Aku menatapnya tanpa suara dan membiarkan Damar melanjutkan kalimatnya. "Sebenarnya, aku mengatakan, aku sedang bersamamu, saat ibu memintaku menemaninya belanja. Dan, saat ibu berkata ingin melihatmu, aku berbohong bahwa kamu sedang ke kamar mandi." Tatapan matanya tidak goyah. Ia sudah mengatakan yang sebenarnya dan yang membuatku tak menyukai laki-laki tampan ini adalah kenyataan bahwa aku dijadikan tameng.


Aku berhasil mengumpat pelan. Melupakan keberadaan laki-laki yang kini mengangkat satu alisnya. Sial! Emosiku kembali meloncat.


"Itu urusanmu, aku tidak punya tanggung jawab atas kebohonganmu," kataku kesal mengetahui tujuannya. Kenapa ia kembali melibatkanku dalam kebohongan yang sengaja dibuat? Bukankah, ia sudah tahu satu kebohongan akan berujung dengan kebohongan lain yang tidak ada habisnya. Layaknya lingkaran setan.


"Aku tahu, tapi ibuku memaksa ingin berbicara denganmu, sepertinya ibu menyukaimu," katanya dengan nada halus. Apa ia hendak merayu? Tidak mempan! Aku sudah meminun ramuan kebal untuk hari ini. Ia menegakkan punggungnya.


Aku memutar bola mataku menanggapi kalimat terakhir Damar. Untuk kedua kalinya aku mengutuk.  Aku tidak bertanggung jawab jika ibunya menyukaiku, itu hak pribadi. Aku juga punya hak untuk tidak merespon.


"Sebenarnya apasih masalahmu?" tanyaku gemas. "Pertama kamu meminta bantuan untuk menemanimu makan malam, lalu sekarang kamu memintaku untuk menjawab video call dari ibumu. Jujur, aku tidak mau terlibat dalam masalah pribadimu," kataku dengan jujur. Aku tidak mau ada salah paham diantara kami, aku, Damar, dan tentu saja Ibunya.


"Aku tahu, tapi kau harus membantuku sekali ini saja," katanya dengan nada memohon.


"Waktu itu, kamu juga mengatakan hal yang sama!" kataku mengingatkan. "Bukankah lebih baik, kamu jujur pada ibumu, akan banyak hal baik yang terjadi jika kamu jujur," saranku.


Damar tertawa kering mendengar komentarku.


"Jadi, menurutmu menikahi orang asing akan mendatangkan hal baik, begitu?" kali ini Damar menatap mataku. Aku mengangkat bahu menanggapinya. Aku tidak punya jawaban.


"Kalian bisa saling mengenal setelah menikah. Banyak pernikahan yang berawal dari perjodohan bahagia dan kudengar mereka bersyukur karenanya," kataku mencoba memberi gambaran positif tentang perjodohan. Aku sendiri tidak tahu, aku hanya memcoba berpikir positif. Bukankah yang terpenting visi dalam pernikahan itu sendiri yang terpenting. Dua insan dapat bertahan mengarungi bahtera rumah tangga karena mereka punya tujuan yang sama dalam pernikahan. Perbedaan bukanlah alasan. Laki-laki dan perempuan pun berbeda dalam segala aspek. Bahkan sejak dilahirkan ke dunia.


"Bagaimana jika kau yang berada diposisiku?" Pertanyaan Damar membuatku kembali sadar bahwa Damar masih berada di apartementku. Duduk di sofa abu-abu sementara mata hitam itu tak pernah meninggalkanku.


"Kalau aku ...," kataku mengantung. Aku memikirkan kata-kata yang tepat. Tidak memojokkan juga tidak terkesan sok. "Mungkin, aku akan mempertimbangkannya, lagipula orang tua kita, tidak mungkin langsung menyuruh kita menikah begitu saja tanpa melihat siapa yang hendak kita nikahi, jika tertarik lanjut, kalau tidak back off, semudah itu."


Damar tertawa pelan.


"Kalau yang dijodohkan itu kamu, aku akan memikirkannya," komentarnya lalu tertawa.


Setelah aku mengatakan semua isi kepalaku, Damar malah menertawakanku. Menyebalkan! Aku ingin mengusir laki-laki yang kembali menyandarkan punggunnya ke sofa.


Aku menatapkan kesal dan memutar badanku. Aku harus menghilang dari hadapannya atau aku harus mengusirnya. Pilihan pertama lebih masuk akal.


Aku menghentikan langkah pertamaku seketika karena Damar menarik pergelangan tanganku. Dia sudah berdiri dari duduknya. Aku menatap tanganku yang berada digenggaman tangan kokohnya. Jantungku meloncat karena terkejut. Ya, karena terkejut bukan yang lain.


"Mau kemana?"


"Menghilang ... "


"Tunggu!" katanya memotong ucapanku ketika ponselnya berdering. Damar menarik ponsel dari saku celananya. Ini kesempatanku untuk kabur karena Damar sudah melepas genggaman tanganku.


Aku melangkah pelan, berusaha sebaik mungkin tak bersuara.


Aku kembali mengumpat saat Damar kembali mencengkeram pergelangan tanganku. Akan sulit bagiku untuk kabur.


"Mama .... " Aku memdengar Damar berbisik. Aku memelototinya dan dia mengabaikannya. Ia meyentakkan tubuhku hingga aku jatuh di sofa dan duduk berdekatan. Tubuh kami berhimpit. Aku mendengar lagi suara gemuruh di dalam dada. Gemuruh yang baru saja lenyap muncul kembali.


"Halo Ma ..." Damar menatap layar ponselnya yang sudah menyala dan menampilkan wajah ayu wanita berusia setengah abad itu. Aku mendengar suara halus milik wanita yang kini tersenyum.


Damar kembali meliriku.


Aku terlalu fokus dengan suara dan wajah ibu damar untuk menyadari posisi dudukku. Tubuh Damar terlalu dekat untuk posisi nyamanku. Aku bahkan bisa merasakan pancaran panas suhu tubuhnya perlahan merambat ke tubuhku sendiri.


"Bening ..." Suara lembut perempuan paruh baya itu menarik perhatianku. Aku menatapnya dan mengabaikan jantungku yang berdetak tak karuan. Mungkin karena aku gugup saat berbicara dengan ibunya. Ya, seperti waktu itu.


"Iya tante?" Aku berusaha sekali lagi duduk nyaman di sofa abu-abu di ruang tamu. Aku melirik tangan Damar yang diletakkan di punggung sofa. Wajahnya santai menatap layar ponselnya yang menyala. Dia bahkan tidak merasa bersalah sudah membuatku tak nyaman di apartemenku sendiri. Dan aku tidak bisa bersandar ke sofa karena lengan Damar menghalaginya. Aku menawarkan senyum tipis kepada perempuan itu.


"Maaf ya sayang, tante nggak bermaksud menggangu kalian," katanya halus, nada suaranya menunjukkan ketulusan.


"Enggak kok, tante," kataku menyela. "Damar bilang, tante ingin bicara denganku?" tanyaku tanpa membuang waktu. Aku ingin Damar segera pergi dari apartemennya.


"Tante mau mengundangmu ke acara aqiqahnya cucu tante yang kedua, minggu depan, gimana kamu mau ya datang?"


"Bening usahakan ya, tante, tapi Bening nggak bisa janji," kataku diplomatis. Aku tidak mau menolaknya tapi juga tak ingin berjanji.


"Baiklah, nggak papa," katanya sedikit kecewa. "Damar, kamu pulang ya, malam ini!"


"Damar mau pergi dengan Bening, Ma ...," katanya. Aku menatapnya tajam. "Iya, kan, sayang?" kali ini Damar melirikku sembari mengulas senyum. Tangan kirinya kini memeluk tubuhku, menarik tubuhku mendekat. Aku melongo tak percaya. Aku terlalu terkejut untuk merangkai kata. Aku hanya tersenyum menatap perempuan dalam layar.


"Ya sudah, mama tidak akan menganggu kecan kalian," ucap mamanya. Wajah wanita ayu itu menghilang saat sambungan terputus.


"Kencan? Siapa yang akan berkencan denganmu?" ucap Bening beringsut dari sofa.


"Mama yang mengatakan 'kencan', aku hanya mengatakan akan pergi," elaknya membela diri sendiri.


Aku kehilangan kata-kataku. Laki-laki ini, jika saja aku tega melukai wajah tampan karya Tuhan itu, sudah pasti kelempar dari jendela apartemen sejak ia melangkah masuk beberapa saat yang lalu.


"Aku haus, mungkin, kau punya minuman," katanya lagi. Ia menyimpan ponsel pintarnya di dalam saku celana joging panjang berbahas kaos miliknya.


"Tidak ada yang gratis di dunia ini," kataku sarkatis. "Jer basuki mawa beya[1]." Imbuhku.


"Apa? Jer .... Jer apa?"


"Sekarang pergilah, kau menganggu minggu pagiku," usirku halus.


"Kau yakin, tidak menyesal mengusirku," katanya dengan nada menggoda.


"Seratus satu persen," kataku mantap. "Pintunya di sebelah sana."


"Aku pergi, tapi jangan menyesal setelah ini," katanya mengangkat kedua tangan lalu bangkit. Ia berjalan menuju pintu, memutar gagang pintu dan menoleh sebelum menyelinap keluar.


.


.


.


.


.


Fyi.



Jika ingin hidup enak harus mengeluarkan biaya atau modal.



Halo semua? Apa kabar? Oh iya, disini hujan loh, ditempat kalian gimana? Jangan lupa like dan vote ya? Please, komen juga. Trims.