
Bening POV
Aku masih bisa merasakan panas di pipi karena kejadian di sofa tadi malam. Aku benar-benar malu. Aku sempat berpikir Damar akan menciumku. Aku pasti sudah gila. Bagaimana mungkin aku sampai berpikir sejauh itu.
"Bening, temani aku makan siang. Aku akan mengenalkanmu dengan klien kita yang dari London." Suara berat Leon manarikku dari lamunan singkatku. Apa aku tidak salah dengar. Leon baru saja mengatakan kata London. Apa yang harus aku lakukan. Jangan bilang gosip yang aku dengar benar.
"Kamu tidak ada janji, 'kan?"
"Ti-tidak, aku tidak punya janji siang ini."
"Baiklah, kemasi barang-barangmu. Kita berangkat sekarang."
Aku harus mengemas barang-barangku sekarang karena Leon masih berdiri disana. Suara deheman Nola menggema. Aku melupakan keberedaan manusia cerewet itu.
"Kalau mau ikut, aku akan bilang pada Da ... Leon!" Aku berbisik lirih pada Nola.
Sial! Aku hampir menyebut nama Damar, untung saja Nola tak menyadarinya. Laki-laki itu sudah hampir menguasai separuh benakku. Memikirkannya saja membuat pupiku memanas tiba-tiba. Perhatian kecil yang diberikan padaku memiliki efek luar biasa.
"Nitip dibungkus aja, makan siangnya maksudku!" aku Nola penuh harap. Ya, nada bicaranya seperti seseorang yang menginginkan makanan. Aku mungkin salah mengartikan nada bicara Nola. Akan tetapi siapa yang bisa menolak rejeki berupa makanan gratis.
"Aku usahakan, tapi nggak janji, ya."
Aku menarik tas selempang berwarna merah dan mengantungkannya di bahu. Aku beringsut dari kursi dan mendekati Leon.
"Ayo!" ajakku. Leon dengan sigap memutar gagang pintu dan menariknya. Pintu terbuka lebar. Leon memberi isyarat agar aku keluar lebih dulu. Apa aku sedang bermimpi? Leon membukakan pintu untukku? Ya, pasti karena aku terlalu sering memikirkan hal yang indah-indah akhir-akhir ini.
Leon mengekori langkahku. Kami menuruni tangga perlahan. Menyapa Tina yang sedang bertugas di meja reseptis. Leon memberi wangsit bahwa ia akan keluar untuk makan siang bersama kliennya dan mengatakan sesuatu tentang tamu yang mungkin mencarinya. Aku hanya membisu dan mendengarkan setiap perkataan yang keluar dari mulut Leon. Tina sesekali mengangguk dengan patuh. Tina adalah perempuan muda yang cantik. Kulit sawo matangnya sangat indah, menurutku. Bila dibandingkan kulitku yang bersinar semakin terang di bawah cahaya matahari.
Setelah menyampaikan semua maksudnya. Leon mendorong pelan pintu kaca hingga terbuka lebar dan aku mengikuti langkahnya, berjalan menuju parkiran. Mobil Nissan X-Trail hitam miliknya terparkir rapi di tempat favoritnya, paling ujung.
Mobil hitam miliknya meninggalkan kantor menuju tempat makan yang sudah ia pesan. Mungkin restoran mewah mengingat tamunya baru pulang dari London. Aku hanya duduk diam tanpa banyak bertanya. Aku tak ingin bertanya kemana ia akan membawaku. Maksudku jelas kami akan pergi ke restoran. Aku bertanya pun tak akan ada gunanya. Aku jarang bahkan hampir tidak pernah makan di restoran. Aku juga tidak tahu alamat restoran yang menyajikan makanan enak. Bagiku semua makanan sama saja, asal bebas penyedap rasa. Sikat!
"Klien kita ..., " kataku membuka pembicaraan. Jalanan di depan padat dan mobil yang kami tumpangi berhenti. Lampu merah. Sebenarnya, aku ingin memastikannya sendiri. "Apa dia teman kuliahmu dulu?"
"Iya," Leon memutar kepalanya. Menatap wajahku sekilas sebelum menjawab, "Kenapa?"
"Tidak," sahutku terlalu cepat. Ah, jangan sampai Leon tahu apa yang aku pikirkan sekarang. Jika itu benar, kenapa harus sekarang? Saat aku sudah melupakan keberadaannya. "apa aku pernah bertemu sebelumnya?" imbuhku.
Lampu lalu lintas kembali hijau. Leon menancap gas mobilnya pelan. Melaju dengan kecepatan konstan menuju tempat yang hanya ia sendiri tahu. Ia bahkan tak berniat memberitahuku. Kalaupun memberi tahu, aku mungkin juga tidak tahu. Sudahlah, bukan masalah yang terlalu penting.
Apa Damar sudah makan siang? Sial! Kenapa aku malah memikirkan laki-laki yang membuat dadaku meletup-letup, sih? Tentu saja ia sudah makan. Selama ini, ia tetap makan siang, 'kan? Jauh sebelum aku mengenalnya ia tentu tak akan melewatkan ritual siang yang wajib dilakukan sebagai makhuk hidup yakni memenuhi kebutuhan makan. Lagi pula, ia laki-laki dewasa yang sanggup mengurus hidupnya sendiri. Jadi aku tidak perlu mengkhawatirkannya. Iya, tentu saja. Jangan membuang waktu dengan memikirkannya.
"Bening!" Suara keras Leon berhasil menyita perhatianku. "Kau mendengarkanku?"
"Iya!" Oke, sebenarnya aku tidak mendengar apapun setelah kalimat 'mungkin sekali'.
"Kau masih ingat dengan Ali?" Pertanyaan itu terlalu tiba-tiba. Aku tidak punya jawaban. Aku jelas ingat Ali. Siapa yang tidak. Pemuda yang baik dan berprestasi. Selain itu, ia juga pandai dibidang sport, misalnya Futsal juga terlahir sebagai pemuda tampan dari kelas atas. Pangeran hampir setiap gadis.
"Aku dengar dia juga di London. Aku sudah lama tidak menerima kabar darinya. Enam bulan yang lalu, sih, katanya mau pulang ke Indo, cuma dia nggak ngasih tahu kapan tepatnya. Aku dengar dia sudah bertunangan."
Bagus! Aku bahkan tidak mendengar kabar bahagia tentang pesta pertunangan.
Aku hanya bisa berkata oh dan membulatkan bibir. Aku seharusnya bahagia, kan, mendengar kabar gembira itu. Akan tetapi aku tidak merasakan emosi apapun. Hambar.
"Kita sudah sampai," Leon mengumumkan dengan nada ceria. Cepat sekali. Aku melongok melalui jendela samping. Mobil yang aku tumpangi bergerak menuju pelataran Restoran Itali dan Leon berusaha menemukan tempat parkir diantara mobil yang berjajar rapi. "Aku harap, kau menyukai masakan Itali," imbuh Leon begitu mesin mobil mati. Ia berhasil menemukan lahan kosong diantara dua mobil mewah.
"Aku menyukai apapun yang gratis," sahutku dengan nada bercanda. Leon tersenyum simpul mendengar ucapanku.
"Ravioli di sini sangat enak."
Aku mengamati sekali lagi restoran yang asing ini. Ya, aku tidak pernah masuk restoran Itali sebelumnya. Satu-satunya restoran yang aku kunjungi adalah restoran Jepang. Terima kasih untuk Damar.
Ah, lagi-lagi, aku teringat Damar. Bahkan secara tidak sengaja Leon lah yang bertanggung jawab atas ini. Ia yang berhasil membuatku ingat pada laki-laki yang memiliki senyum menawan itu.
"Ayo, kurasa dia sudah menunggu," ajak Leon. Aku mengekori langkah panjangnya. Seperti biasa restoran ini penuh dengan pengunjung.
"Makanannya tidak mengandung rum atau wine, 'kan?" tanyaku memastikan dengan suara lirih. Aku tak yakin Leon mendengarnya. Akan tetapi ia berhenti melangkah dan memutar kepalanya. Itu artinya ia mendengar pertanyaanku.
"Tenang saja, masakannya sudah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia," jelas Leon. Aku bisa bernapas dengan lega. "Ayo!" kali ini Leon menarik lenganku dan mengenggamnya.
"Leon ..., " aku berkata lirih dan menatap tangannya. Ia memutar kepalanya kemudian mengikuti arah pandangku.
"Maaf soal itu, refleks," akunya. "Di sebelah sana," imbuh Leon sembari melambaikan tangan kepada seseorang. Aku mengikuti arah pandangnya dan menemukan laki-laki yang mengenakan kemeja putih balas melambai.
Aku mengekori langkah Leon sekali lagi menuju meja di bagian tengah ruangan. Langkah kakiku terhenti ketika aku menemukan bayangan seseorang yang sangat familiar.
"Kenapa dia di sini?"