Damar: Love Is On The Way

Damar: Love Is On The Way
Pacar Baru



Bening POV


Langit pagi tampak lebih indah dari hari-hari kemarin. Apakah pendapatku sudah mulai bias karena melihat langit dari dalam mobil mewah dan nyaman ini?


Mobil merah yang aku tumpangi berbelok ke kanan ke arah Ruko Satelit. Perjalanan yang memekakkan telinga karena kesunyian yang tercipta akhirnya berakhir.


Aku tidak tahu bagaimana cara mengambarkan perasaanku saat ini. Ada rasa senang, bingung dan berbagai macam perasaan lain yang tumpah ruah menjadi satu. Perjalanan menuju kantor pun terasa lebih cepat dari yang aku harapkan. Apakah aku berharap laki-laki tampan yang duduk di belakang kemudi ini berlama-lama denganku? Aku tidak tahu dengan pasti bagaimana perasaanku padanya saat ini. Aku kesal karena ia memaksaku duduk di mobilnya tetapi juga menikmati kebaikan dan perhatian yang ditawarkan cuma-cuma itu. Ah ... mungkin bukan perhatian seperti yang aku harapkan dari seorang laki-laki dewasa kepada kekasihnya tetapi lebih kepada seorang sahabat atau teman dan rekan kerja. Aku tidak boleh salah mengartikan perhatian itu.


"Terima kasih, sudah memberiku tumpangan," kataku pelan ketika mobil yang aku tumpangi memasuki pelataran Ruko. Aku melepas sabuk pengaman kemudian memegang gagang pintu mobil, menariknya penguncinya hingga terdengar bunyi klik.


"The pleasure is mine," sahutnya dengan nada manis. Apa manis? Mungkin pendengaranku bermasalah dan aku harus mengunjungi dokter THT sepulang kantor. "Sopirku akan menjemputmu nanti," imbuhnya mengawasiku. Aku mengurungkan niatku untuk turun dari mobil dan memutar badanku sedikit. Kami berhadap-hadapan. "Kau pulang jam berapa?" katanya lagi mengabaikan protes yang terlukis jelas di wajahku. Apa ia selalu baik kepada setiap teman wanitanya hingga mau menyediakan fasilitas mobil antar jemput lengkap dengan sopirnya. Enak sekali hidupnya! Lebih enak lagi menjadi teman wanitanya.


"Tidak perlu! Aku bisa naik taksi online atau nebeng teman," elakku beralasan yang sama. "Kau tidak perlu memperlakukanku spesial," kataku jujur. Entah kenapa aku mengatakannya tetapi apa yang ia lakukan beberapa hari terakhir ini membuatku bingung. Apakah aku harus menolaknya mentah-mentah seperti malam itu atau pagi tadi? Keduanya sama sekali tidak membantu. Tolong seseorang, katakanlah sesuatu yang bisa membuat hatiku tercerahkan.


"Sama sekali tidak," katanya masih dengan nada yang sama.


"Baiklah, terima kasih, aku turun sekarang," kataku kemudian mendorong pelan pintu mobil dan menurunkan kaki kiri terlebih dalulu. Mendorong perlahan pintu mobil karena takut tergores atau bahkan patah jika aku membantingnya dengan kasar


"Bening ..., " panggil Damar dengan suara lirih. Aku memutar badanku dan membungkuk sedikit untuk melihatnya. Ia menatapku lurus.


"Iya?" Aku menunggunya mengucapkan sesuatu. Ia tampak memikirkan sesuatu.


"Lupakan!" perintahnya. "Aku akan menghubungimu, nanti," janjinya sebelum memutar mobilnya dan melaju pelan menuju jalan raya. Bekas ban mobilnya menghilang dalam sekejap. Ia berhasil membuatku kembali bingung.


'Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan'. Suara hati kecilku menasehati.


Laki-laki sukses yang rupawan seperti Damar memang mempesona. Damar menyadari pesona itu dan memanfaatkanya. Lihat saja pancaran aura percaya diri yang berlebihan itu.


Lupakan! Lupakan! Lupakan!


"Hei ... pacar baru ya?" tebak Nola yang berdiri tak jauh dariku. Suara nyaring miliknya membuat jantungku hampir copot. Aku tidak menyukai siapapun yang membuatku terkejut.


"Kamu ini, mengagetkan jantungku yang lagi tidur aja," protesku merengut ke arahnya.


"Iya, maaf-maaf!" ucapnya dengan nada riang. Aku tak yakin ia tulus meminta maaf. "Kukira, jantungmu melamun pacar baru bukan tidur?" komentarnya menatap jalanan yang padat kendaraan bermotor. Sejak kapan ia tertarik menatap kendaraan bermotor yang merayapi jalan raya?


"Jantung itu tugasnya memompa darah, bukan melamun, ngaco kamu ini," kataku agak ketus. Aku masih kesal karena ia membuat jantungku mendadak terbangun dari istirahat santainya.


"Pagi-pagi, kok, sewot, habis berantem sama pacar, ya?" katanya lagi. Ada tawa tertahan di dalam suaranya.


"Pacar?"


"Iya, itu pacar barumu, 'kan?" katanya menatap jalanan yang dipadati kendaraan bermotor.


"Pacar baru? Kayak aku punya pacar lama aja?" kataku melangkah pelan menuju gedung Ruko. Jika meladeni Nola yang nyinyir itu, tidak ada habisnya. Bukan nyinyir sih tetapi sibuk ngurusi hidup orang lain dan ingin tahunya itu loh ....


"Loh, Leon? Bukankah kalian dekat?" tanya Nola yang sudah menjajari langkahku. Aku dan Leon? Apa yang Nola lihat dari hubungan kami?


"Ngaco kamu ini!" tandasku. Aku dan Leon memang dekat tetapi kami tidak memiliki hubungan spesial. Sekedar teman dan bos. Tidak lebih.


"Tapi, Leon bagaimana? Dia itu super baik sama kamu, semua orang juga tahu, dia punya perasaan spesial sama kamu," katanya menjelaskan. Ia mendadak berubah profesi jadi pengamat cintaku.


"Spesial pake telor," candaku. Pintu kaca di depanku terbuka otomatis. Aku melangkah masuk dan berjalan menaiki tangga yang terletak di sebelah kanan ruangan. Lantai satu di isi dengan meja resepsionis, ruang duduk bagi tamu dan ruang meeting.


"Martabak kali!" sahutnya. Ia berjalan tepat di belakangku. "Apa kamu tidak bisa melihatnya? Perlakuannya padamu berbeda sekali." Nola bersikeras tentang pendapatnya.


"Dia tidak pernah mengatakan apapun soal perasaannya padaku," kataku mengingat-ingat setiap kali kami bersama.


"Duh, Bening ... Lelaki sejati tidak pernah berkata-kata manis, tapi tindakan manisnya yang berbicara," terangnya sok tahu.


"Tapi, setidaknya berbicara, walau sedikit apalagi mengenai perasaan. Aku bukan peramal yang bisa membaca isi kepala seseorang. Aku juga tidak mau menebak-nebak apalagi berharap." Aku berhenti di ujung anak tangga dan memutar kepalaku. Nola ikut berhenti. "Jadi, jangan sok tahu tentang perasaan seseorang jika orang tersebut tidak pernah mengatakannya padamu." Aku kembali melangkah kemudian mendorong pintu kaca di depanku dan berjalan mantap menuju mejaku. Nola masih mengekori langkahku.


"Apa kau akan percaya setelah dia ngomong langsung?" buru Nola. Rupanya ia tak akan berhenti memburuku dengan pertanyaan konyolnya. Aku mengangkat kedua bahuku sebagai respon. "Tuh, kan, mau ngomong atau enggak, kamu memang gitu," katanya lalu duduk di mejanya yang terletak di depanku. Ya, Nola adalah teman kerjaku yang super cerewet sekaligus sahabat baikku. Aku bertemu dengannya dua tahun yang lalu saat bergabung bersama Leon di kantor EO-nya


"Aku kenapa?"


"Ya, gitu, itu, setiap ada cowok yang mendekati, kamu kacangi." Bukan salahku! Aku hanya menginginkan laki-laki tangguh yang bisa melindungiku. Bukan tangguh perkasa berotot tetapi bermental tangguh layaknya pejuang sejati.


"Aku tidak butuh pacar!"


"Tapi butuh suami?" komentar Nola. Aku tersenyum padanya dan mengacungkan dua jempolku. "Bagaimana kamu dapat suami kalau tidak punya pacar?" desah Nola tetang status single yang melekat padaku.


"Serius? Di jaman secanggih ini?"


"Sudahlah, jangan membahas kehidupan cintaku, bagaimana dengan Rio? Kapan dia melamar?" kataku mengalihkan pembicaraan.


"Nggak tahu, sudah aku pancing-pancing tapi tidak nyambung!" keluhnya. Aku tersenyum tipis. Nola dan Rio sudah berpacaran lebih dari dua tahun menurut pengakuan Nola.


"Tuh, kamu aja yang punga pacar gitu-gitu aja, nggak jelas," ledekku.


"Yah, masih mending dari pada kamu?"


"Aku nunggu dilamar."


"Leon, Bening nunggu dilamar!" katanya dengan suara nyaringnya. Untung karyawan lain belum datang begitu juga dengan Leon. Yah, kami adalah karyawan pertama yang tiba di kantor.


Aku mendengar suara seseorang berdehem. Aku dan Nola bertukar pandang sebelum menoleh ke arah pintu dan menemukan Leon berdiri disana. Aku merasakan pipiku memanas. Aku bahkan tidak mendengar ada langkah kaki menaiki anak tangga.


"Leon, Bening nunggu dilamar, katanya," ulang Nola dengan nada yang lebih halus. Leon menatap Nola kemudian menatapku. Aku tidak bisa mengartikan ekspresi wajahnya. Ia berdiri disana tanpa kata.


"Nola ... " kataku menatapnya tajam. Sial. Anak ini memang ember.


"Kamu sendiri yang bilang, nunggu dilamar," katanya mengabaikan Leon yang berdiri mematung disana.


Alirah darah di jantungku langsung naik ke wajah. Aku merasa pupiku memanas seketika.


"Jangan dengarkan Nola, dia ini ember," kataku menatap Leon. Aku benar-benar malu. Aku ingin msngulang adegan sebelumnya dan tidak mengatakan kalimat itu pada Nola.


Nola!


Apa yang akan dipikirkan Leon? Aku tidak berharap Leon akan melamarku. Aku memang mengatakan yang sesungguhnya. Aku menunggu dilamar oleh siapapun yang berniat baik daripada berlama-lama pacaran tidak jelas dan banyak sakit hatinya lebih baik langsung menikah. Tanggung jawab dan komitmen dengan ucapan maupun tindakan. Apa mungkin aku terlalu serius? Bukankah memang seharusnya demikian, hubungan laki-laki dan wanita dewasa dalam ikatan pernikahan. Ikatan dan hubungan yang jelas dan terarah.


Leon tersenyum santun dan melangkah mantap menuju ruang kerjanya yang dibatasi oleh dinding kaca es di pojok ruang.


"Kita adakan meeting setelah semuanya lengkap," katanya sebelum menghilang di balik pintu kaca es.


Ada sedikit perasaan aneh saat Leon tidak berkomentar apapun tentang yang dikatakan oleh Nola. Apakah mungkin aku kecewa, Leon tidak menyukaiku seperti yang diceritakan oleh Nola? Tidak mungkin! Aku tidak mengharapkan Leon punya perasaan spesial tetapi kenapa aku merasa sedikit aneh dengan ekspresi wajahnya tadi.


Aku menarik laci di mejaku, mengeluarkan buku catatan berwarna biru dan membuka laptop di depanku kemudian menyalakannya.


"Bagaimana dengan pacar barumu?" selidik Nola kembali mengawasiku dengan mata bulatnya. Apakah ia tidak bisa membaca situasinya? Aku melihat ada awan hitam di sekitar tubuh Leon. Mungkin karena aku sering menonton anime, imajinasiku menjadi luar biasa fantastis.


"Damar bukan pacar baruku," kataku singkat. Aku memutar bola mataku.


"Oh, jadi namanya Damar! Apa dia tampan?" korek Nola. Senyum misterus terukir di bibir merahnya. Siapa yang tidak mengakui ketampanan Damar? Dua orang perempuan di dalam lift di apartemen pagi tadi berdecak kagum. Bahkan mereka tak sungkan bergosip di saat Damar berada di sana.


"Lebih dari yang kamu duga!"


"Benarkah? Kamu harus mengenalkannya padaku."


"Tidak akan!"


.


.


.


.


.


.


Halo teman-teman, maaf ya baru update hahahaha lagi rempong banget di rumah.


Semoga kalian suka ya. Komen, like dan Vote juga ya ....


Salam sayang


Nina K.