
Halo pembaca semuanya, apa kabar? Semoga kalian selalu happy seperti aku yang selalu happy saat menulis cerita ini. Jangan lupa komen dan like ya. 😉
Aku pasti senang membaca komen kalian semua. Oke lanjut ya....
Bening POV
Aku tak suka saat pulang kerja di jam-jam sibuk seperti saat ini. Tapi sejak kapan Jakarta tidak sibuk? Pagi mulai pukul tujuh hingga pukul sepuluh saat kebanyakan penduduk jakarta bermigrasi dari tempat tinggalnya menuju kantor. Kemudian pada siang hari pukul dua belas hingga pukul dua saat makan siang dan sore saat para pekerja pulang, pukul empat hingga delapan malam. Belum lagi yang ingin menikmati kehidupan malam. Aku rasa jalan tidak pernah sepi.
Jakarta selalu ramai. Mungkin akan sepi saat libur lebaran hari raya idul fitri. Karena penduduk jakarta kebanyakan warga rantauan. Seperti aku yang jauh merantau dari desa di kabupaten Lumajang. Sebenarnya kalau boleh milih aku akan memilih tinggal di desa. Kenapa, tentu saja karena udaranya yang bersih dan sejuk. Sayuran bergizi dan suasana yang jauh dari bisingnya kendaraan bermotor.
Hanya saja, aku tidak tahan. Di desaku tidak ada saluran telpon, tidak ada PDAM. Bahkan setelah aku tinggal merantau selama sepuluh tahun. Masih sama seperti aku tinggal dulu. Masyarakatnya juga masih kolot. Dan yang jelas aku tidak bisa mendapatkan uang disana. Aku tidak menemukan pekerjaan yang cocok denganku. Jelas aku tidak bisa berkarir disana. Kecuali bertani. Giliran mau bertani sayur dan palawija, ladang sawah aku tak punya. Sawah sepetak milik Imak hanya ditanami padi sepanjang musim, kadang ubi. Tapi kebanyakan padi. Kata Ibu biar enak, tidak perlu beli beras.
Aku setuju saja, mengingat menanam padi jauh lebih mudah ketimbang merawat sayuran. Dan modal biayanya jauh lebih besar. Belum lagi ketika harga sayur jatuh. Bisa-bisa gak laku. Gagal dapat uang.
Dan akhinya disinilah aku. Mengembara di ibu kota untuk mengejar cita-cita. Mungkin dengan begini, suatu hari aku bisa membahagiakan emak.
Aku menarik rem tangan dan berbelok kiri menuju kafe. Sebuah kafe di sekitaran daerah Kemang. Sebenarnya arahnya berlawanan dengan arah tempat tinggalku. Tapi aku tak enak hati menolak Jihan setelah membatalkan janji makan siang secara sepihak tadi siang. Aku terlalu sibuk untuk keluar makan siang.
Aku memarkir motorku dan berjalan menuju kafe. Aku meneliti setiap sudut kafe mencari sosok Jihan. Tak lama, aku menemukan Jihan melambaikan tangannya dari kejauhan. Rupanya dia suka duduk di ujung ruangan. Kebiasaannya tak berubah.
"Hai, sudah lama?" Kataku saat tiba di meja.
"Sedikit" katanya. "Mau pesan apa?" Katanya mengangkat tangannya lagi.
Aku duduk di sebelahnya. "Sama denganmu" kataku datar.
"Kamu masih sama seperti dulu" katanya. "Bahkan cara berpakaian mu juga tak berubah" tambahnya berkomentar.
"Boots things maksudmu?" Tanyaku. Dia mengangguk lalu tersenyum. Aku ikut tersenyum. "Apa kau jauh-jauh datang kesini hanya untuk itu?"
"Sabarlah" katanya dengan halus. "Bagaimana dengan pekerjaanmu?"
"Masih freelancer... Aku bergabung dengan eo sekarang, lumayan fee nya. Kalau dapat proyek besar aku juga dapat honor besar. Tapi ya itu, tidak semua proyek besar. Jadi seperti itulah..."
"Tidak mau ganti pekerjaan?"
"Aku mau saja, tapi apa? Dimana? Kamu tahu sendiri kan ada banyak orang pintar yang mencari pekerjaan. Dan dari semua orang pintar itu, orang beruntunglah yang dapat mengalahkannya" kataku lemah. Selama ini, aku belum cukup beruntung mendapatkan pekerjaan yang bagus. Baik dari segi karir maupun gaji. Aku beruntung dari segi waktu. Aku punya banyak waktu pergi kesana-kemari karena pekerjaanku memang seperti itu. Tidak terikat tempat dan waktu. Ada kalanya jam kerja dimulai pukul dua belas siang hingga pukul sembilan malam. Ada kalanya pagi. Tidak tentu.
"Tepat sekali" katanya bersemangat. "Ada lowongan RnD di perusahaan minyak wangi. Aku bisa merekomendasikanmu".
"Kau yakin aku langsung di terima tanpa interview?" godaku. Aku tidak yakin bisa melewati interview lagi. Kenapa? Aku sudah muak dengan interview. Andai saja interview bisa di skip.
"Gampang" katanya enteng seolah menghilangkan interview seperti menghapus kata itu sendiri. "Bagaimana, kamu berminat?"
"Kelihatannya 'too good to be true' gitu, apalagi untuk ku..."
"Jangan begitu, aku tahu kamu sangat ingin bekerja di RnD dengan banyak ide gila di kepalamu itu"
"Gila, ya, aku memang gila" kataku lalu kami tertawa bersama.
"Jadi bagaimana? Kamu tertarik?"
"Biar aku pikirkan dulu," kataku akhirnya.
"Baiklah, aku beri waktu sampai besok pagi!"
"Hah ...! besok pagi? Kejam sekali pada teman sendiri," protesku. Aku tahu kesempatan baik seperti ini tidak datang dua kali. "Penempatan kerja, dimana?"
"Kalau tidak salah, lokasinya di Priok. Jakarta Utara"
"Baiklah, tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku,"
"Oh iya, uang sewa apartemenku mana?" Katanya tiba-tiba. Aku hanya bisa nyengir.
"Aku belum gajian, mungkin minggu depan," kataku memberi informasi mengenai masalah keuanganku. Secara finansial aku ini sebenarnya broke. Kalau bukan karena kebaikan Jihan yang menyewakan apartemennya padaku sudah pasti aku jadi gelandangan. Ya gelandangan kemungkinan terburuknya.
"Makanya cari pacar!" Komentarnya. Aku menatapnya dengan tatapan takjub. Apa kaitan pacar dan uang sewa apartement? Aku tidak menemukan hubungan sederhana diantara keduanya.
"Apa hubungannya?" tanyaku polos.
"Banyak, kalau kamu punya pacar dia akan membantu keuanganmu!" tandasnya dengan tegas. Aku tertawa pelan.
"Pacar? Atau sapi perah?" komentarku. Kalau hanya untuk mencari mesin ATM berjalan, aku jelas tidak mau melakukannya mengingat tak ada yang gratis di dunia ini. 'Jer basuki mawa beya'. Jika ingin hidup enak harus mengeluarkan biaya dalam artian yang luas. Tidak melulu harus berupa materi.
"Pasangan untuk saling melengkapi lebih tepatnya" koreksinya. Dia memasang senyum terbaiknya.
"Lupakan topik itu," bantahku. Aku tidak mau membahasnya.
"Kalau kamu belum punya calon, aku punya calon untukmu!"
"Sudahlah, lupakan saja aku tidak tertari".
"Tapi aku yakin, kalian pasti cocok. Dia, kriteria yang kamu idamkan, ada pada dia semua" jelas Jihan meyakinkan. Aku menggeleng pelan. Jihan begitu bersemangat membicarakan sepupunya yang fantastis menurutnya.
"Mr. Perfect, hah?" Kataku lalu tertawa. Kemudian kami tertawa bersama. "Tidak ada Mr. Perfect Jihan! Lagi pula pandanganku tentang pernikahan berbeda dengan versiku dulu".
"Benarkah? Apa yang beda?" Desak Jihan. Ia menatapku dengan pandangan seorang anak yang meminta penjelasan lebih. Aku sendiri tidak tahu harus menjawab apa.
"Entahlah ..., Aku hanya takut kecewa."
"Hei, jangan berkata seperti itu, kamu tidak akan pernah tahu jawabannya kalau kamu tidak berani melangkah."
"Kamu benar, kurasa aku terlalu takut,"
"Tidak apa-apa itu wajar, itu karena kamu belum bertemu dengan seseorang yang membuatmu ingin selalu bersamanya."
"Seperti kutu dan rambut" candaku. Jihan terbahak.
"Kurasa, kamu terlalu banyak nonton drakor" kritikku dan tentu saja Jihan tak menggubrisnya.
"Lebih baik daripada animemu itu, apa namanya? Naruto? eh, benar, ya, Naruto?"
"Bukan, tapi Boruto anaknya Naruto?"
"Serius? ada sequelnya gitu?" tanyanya dengan wajah serius. Aku tertawa.
"Aku pernah nonton, tapi, aku tidak terlalu suka. Jadi Naruto nikah dengan Sakura?" Aku kira dulu waktu masih sekolah menengah pertama, Naruto akan menikah dengan Sakura tetapi salah. Ketulusan cinta Hinata akhirnya membuatnya bersatu dengan Naruto. Hinata sangat setia mencintai Naruto.
"Bukan, tapi dengan Hinata?" Kataku bersemangat. Hinata sangat sangat setia mencintai Naruto dari episode pertama hingga akhir. Maksudku dia sudah memutuskan sejak awal akan berdiri di samping siapa. Sementara aku? Siapa? Aku bahkan tak punya referensi. Menyedihkan.
Sekarang aku malah melamun tentang siapa pasanganku kelak. Terima kasih kepada Jihan yang sudah mengingatkan tentang topik sakral ini. Aku harus mentraktirnya sebagai ucapan terima kasih.
"Hinata? Hinata itu, yang mana?" Katanya tak menyadari pikiranku yang berkecamuk.
"Bagaimana kalau menonton bersama lain kali?" tawarku. Aku harap Jihan mau menemaniku suatu hari nanti. Mungkin bersama anaknya kalau sudah lahir.
"Ah tidak! Episodenya terlalu panjang." Kemudian kami tertawa bersama.
Betul tidak akan ada yang tahan menontonnya kecuali aku dan penggila Naruto. Aku akan sangat senang melakukannya meski tidak ada yang membayarku.
"Lalu ...,"katanya mengantung seolah mencari kata-kata yang tepat. "Apa kamu tidak ..., maksudku, apakah kamu akan seperti ini terus?"
"Sampai aku menemukan cinta sejatiku ...," Potongku. Jihan tertawa pelan. "Apa?" Protesku dengan tatapan yang dihadiahkan kepadaku.
"Maksudku kerudung," katanya lirih. "Maaf, aku tidak bermaksud mengkritikmu, aku hanya mengingatkan sebagai saudara sesama muslimah," Katanya tulus. Aku tahu Jihan tulus dengan ucapannya dan tak ada maksud menghakimi.
"Aku belum siap!" dalihku. Aku menggunakan alasan yang sama. Saat ini aku merasa aku belum pantas memakainya, hatiku berkata aku belum siap. Aku masih takut aku tidak bisa berkomitmen mengingat dulu pernah memakainya sewaktu sekolah menengah atas. Setidaknya, aturan di sekolah yang mewajibkan murid perempuan mengenakan kerudung.
Jihan tersenyum.
"Dengar, mamakai kerudung bukan menunggu siap atau menunggu menjadi baik, tapi melangkah menjadi lebih baik. Lagi pula berapa usiamu? Kerudung dipakai saat baligh bukan sebaliknya, saat merasa menjadi baik,"Baiklah aku sering mendengar ucapan Jihan yang satu ini.
Dan selama ini aku hanya menjadikannya alasan belaka. Aku sudah tahu tentang semua itu. Aku mungkin hanya butuh waktu. Iya waktu, entah kapan.
Aku berusaha meyakinkan diri sendiri.
Sejujurnya aku malu. Malu pada diriku sendiri. Malu pada Jihan. Hanya saja keras kepalaku ini jauh lebih besar dari rasa maluku saat ini. Dan karena itulah aku belum memakai kerudung. Mungkin nanti, jika aku sudah ikhlas.
"Jangan melamun, aku tidak bermaksud mengguruimu..." Katanya lagi. Aku tersenyum sekadarnya.
"Iya, aku tahu" kataku. "Aku ...," Ucapanku terpotong oleh dering nada ponsel milikku sendiri. Aku merogohnya dan melihat nomer tak di kenal di layar. Aku mengabaikannya dan menaruhnya di atas meja hingga tak berdering.
"Siapa?" Jihan mencondongkan Tubuhnya untuk mengintip ponselnya yang sudah mati.
"Nomer tak dikenal," jawabku sinis. Aku mengaduk minumanku dan meminumnya melalui sedotan hingga habis separuhnya.
"Jangan-jangan, jodoh!" seru Jihan. Wajahnya berkilauan karena cahaya bahagia. Sial. Kenapa dia malah bahagia saat ada nomer asing menelponku, bisa saja itu penipu sepergi yang sudah-sudah. Aku muak. Aku memutar bola mataku menanggapi komentarnya.
"Jodoh dari London!" kataku dengan suara agak keras. Jihan tertawa. Aku tidak suka dengan topik yang disuguhkan Jihan. Jodoh sudah diatur kapan datang dan siapa.
"Hongkong!" Koreksinya. "Mungkin saja, iya," lagi-lagi Jihan bersemangat. "Oh iya, tiga minggu lagi, aku ada acara tujuh bulanan, kamu wajib datang dengan pasangan," Jihan mengelus-gelus perutnya yang membuncit.
"Hah ...! Pasangan!" Aku memutar bola mataku. Aku menekuk wajahku sebelum menjawab. "Tenang saja, aku punya banyak teman!" Aku tidak akan terperangkap oleh ucapan Jihan. Dan sekali lagi ponselku berdering. Nomer yang sama. Dan sekali lagi aku mengabaikannya.
"Siapa?" Aku hanya mengangkat bahu menjawab pertanyaanku. "Wah...aku mencium bau jodoh," goda Jihan. Ia tersenyum misterius.
"Sejak kapan kamu bisa meramal?" tanyaku mengabaikan pertanyaan sebelumnya. Kalau boleh jujur aku tidak punya pasangan untuk diajak kondangan. Bahkan aku tidak punya gambaran pasangan seperti apa yang aku inginkan. Menemukan orang baik dan perhatian kepadaku serta orang tuaku sudah cukup sebagai standar. Lalu, tentang wajah, tentu saja, wanita mana yang tidak bahagia punya pasangan tampan dan rupawan tetapi aku mungkin memilih yang menyejukkan pandangan. Apakah keinginanku terlalu berlebihan? Aku hanya ingin bahagia dan menua bersama.
"Sejak hari ini!" kemudian Jihan tertawa nyaring. Aku menghentikan lamunan singkatku dan ikut tertawa bersamanya.
Untuk kesekian kalinya ponselku berdering. Nomer yang sama dan aku tak mengenalnya. Aku mendesah pelan. Apa yang dia inginkan? Maksudku apa mungkin dia ingin menagih utang atau apa? Seingatku aku tak punya utang kecuali pada Jihan yang duduk tepat di depanku, menatapku dengan tatapan curiga. Aku mendesah pelan sebelum mematikan ponselku kemudian menyimpannya di dalam tas.
"Jadi, laki-laki atau perempuan?" tanyaku tentang janin yang dikandungnya. Jihan menatapku dengan wajah bingung. Aku memberi isyarat dengan membulatkan bibirku dan melirik perutnya.
"Oh ..., aku tidak tahu," jawabnya sembari mengelus perutnya dengan lembut. "Bayi laki-laki atau perempuan, ia tetap anugrah dari Tuhan," katanya bijak. "tapi kau harus datang, nanti aku kenalkan dengan sepupuku yang tampan dan baik" imbuhnya. Aku menyunggingkan senyum terbaikku untuknya dan berdoa agar sepupunya berhalangan hadir. Jadi, kami tidak harus bertemu.
"Jangan khawatir, aku pasti datang ke acara spesialmu." kataku meyakinkan.
"Harus! Kamu pasti tidak akan menyesal, apalagi ...,"
"Jihan, sebaiknya, kita pulang! Di luar sudah semakin gelap. Suamimu pasti khawatir." kataku cepat memotong kalimatnya. Aku tidak ingin kembali membahas topik jodoh. Lagi pula jodoh sudah diatur, mungkin jodohku di luar sana masih nyasar atau belum dapat sinyal.
"Iya, Aku lupa memberi tahu Fadlan," katanya lalu merogoh sesuatu di dalam tas merah marun miliknya. "Tunggu! Aku akan menelponnya,"
.
.
.
.
.
Oke jadi gimana? Masih kurang detail sih aku nulisnya. Mohon maaf ya gaes, mungkin karena aku nulisnya cepat-cepat.
Bab selanjutnya masih Bening POV ya gaes.
Semangat. Jangan lupa kasih komen dan vote ya.
Salam hangat
Tsubaki