Damar: Love Is On The Way

Damar: Love Is On The Way
Petak Umpet



Bening POV


Suara gerimis yang jatuh di dedaunan terdengar berirama layaknya lagu.  Hujan sudah turun sejak Bening menginjakkan kaki di kampung halamannya. Kota kelahiran sekaligus tempat tumbuh dan besar. Kota hijau nan asri di lereng gunung Semeru, Lumajang. Kota penghasil pasir besi terbaik di Indonesia. Kota penghasil buah pisang paling terkenal se-Indonesia, pisang mas kirana. Lokasinya yang berada di dekat gunung api aktif menjadikan daerah itu subur. Mayoritas penduduk desa adalah petani.


Ponsel yang aku genggam berdering untuk yang ketiga kalinya. Nomor dan nama yang sama, Damar. Ia sudah berkali-kali mencoba menghubungiku sejak siang tadi.


Aku menghela napas pelan dan menghembuskannya dengan kasar, memutuskan untuk mengangkat telpon karena tidak mungkin menghindari Damar selamanya. Permainan petak umpet  yang aku lakukan secara sepihak ini juga tak akan membatu menyelesaikan permasalah dengan Damar. Sebenarnya tidak ada masalah sama sekali. Urusan mobil dan KTPku yang disita oleh lekaki tanpam yang kini semakin menyebalkan itu juga sudah beres tetapi masih saja menerorku.


"Aku di depan pintu," katanya dengan nada tak sabar begitu sambungan terhubung. Aku memutar bola mataku tetapi tidak menyahut. "Cepat buka pintunya!" perintahnya masih dengan nada yang sama. Untung saja, aku mengambil inisiatif pulang kampung. Jika tidak lelaki jangkung yang berhasil membuatku emosi setiap kali bertemu pasti akan mengedor-gedor pintu apartement.


"Pulanglah!" saranku. Aku malas mengatakan dimana keberadaanku. Lagipula, ia tak seharusnya tahu agenda harianku.


"Aku akan menunggu," katanya lagi, bersemangat. "Jam berapa kau pulang?" imbuhnya mengabaikan ucapanku. Aku mengambil napas pelan dan mengatur emosiku. Mengatur nada bicaraku agar tidak terpancing emosi yang tiba-tiba menghantamku. Lelaki keras kepala ini tidak mengerti bahasa manusia. Sudah kuusir dengan halus masih saja keras kepala.


"Dengar, hari ini aku tidak akan pulang," kataku mengusir dengan halus. Aku yakin Damar mengerti maksudku. Ia hanya membuang-buang waktu. Aku tidak akan menemuinya. Setidaknya hingga hari senin tiba.


"Baiklah, besok aku akan menjemputmu." Aku bisa mendengar suara hembusan napasnya. Tidak ada lagi kata yang keluar dari mulutnya.


Aku mengerti arti ucapannya. Besok, hari sabtu sore adalah acara aqiqoh keponakannya dan aku di undang, bukan oleh ibu keponakannya tetapi oleh ibu Damar. Mau bagaimana lagi, aku terlanjur mengajukan cuti mendadak kepada Leon, sahabat sekaligus bos di tempat bekerja.


"Aku tidak bisa," kataku setelah jeda beberapa saat. Aku tidak bisa membiarkan Damar kembali ke apartement dan menungguku lagi. Aku harus mengusirnya dari kehidupanku. Segera!


"Tapi, kau sudah berjanji!" katanya memburu. Nada suaranya lebih keras.


"Aku tidak pernah berjanji, aku hanya mengatakan akan mempertimbangkannya," belaku atas tuduhan Damar. Aku tidak pernah berjanji akan menemaninya. Aku hanya mengatakan akan mempertimbangkannya kembali, itu pun kepada ibunya. Aku tidak pernah setuju pergi bersamanya. Aku sudah memutuskan untuk tidak terlibat dalam sandiwara yang dikarang sendiri. Aku tidak ingin Damar berharap padaku. Tidak! Sebaliknya, akulah yang tidak ingin berharap lebih dari sandiwaranya. Karena sedikit sekali kemungkinannya untuk tidak jatuh hati padanya, dan keluarga baiknya.


"Benarkah?"


"Kumohon, jangan libatkan aku dalam drama keluargamu lagi, Damar!" Aku memelas. Setidaknya aku harus mengatakannya sebelum semuanya runyam dan tak terkendali. Aku tidak ingin hidupku berubah menjadi sinetron tivi yang banyak digemari penonton. Aku menikmati hidupku saat ini meski tanpa drama cinta. Bab baru yang memuat kisah cintaku masih jauh di depan, mungkin. Masa depan tidak ada yang pasti. Angin bisa berubah haluan setiap saat. Satu yang pasti, semua yang hidup pasti akan mati.


Hidupku di Jakarta saja sudah cukup untuk menjadi sebuah cerita novel. Jika harus ditambah dengan Damar, aku belum siap. Masih banyak yang harus aku siapkan dan damar belum masuk hitungan.


"Kita sudah sepakat, kau akan membantuku." Damar masih ngotot bahwa kesepakatan masih berlaku setelah acara makan malam. Atau mungkin, itu memang karakter di dalam darahnya yang suka memaksakan kehendak.


"Hanya sekali!" tegasku.  Aku tidak bisa terus-menerus berbobong. Aku merasa tak nyaman harus berbohong setiap saat. Berbobong adalah pekerjaan yang sulit bagiku. Aku menolak berbohong.


Aku kembali mengingatkan perjajian itu. Aku akan mendapatkan kembali KTP dan SIMku dengan menemani Damar makan malam bersama orang tuanya dan selesai.


"Tapi, ibuku menyukaimu." Aku memutar bola mataku atas ucapan Damar. Demi Tuhan, aku juga menyukai wanita ayu itu tetapi apakah itu cukup untuk bertahan disisi Damar sebagai teman wanitanya dan tidak lebih dari sandiwara semata. Aku tidak menyukai sandiwara apapun dalam kehidupan nyata. Terlalu banyak air mata dan kesedihan ketimbang canda tawa. Memikirkannya saja membuat tubuh nyeri. Aku menginginkan kehidupan bahagia disertai canda tawa dari dalam hati bukan hanya di bibir.


"Persetan dengan ibumu," hardikku kasar. Tak ada suara apapun, Damar tak berkomentar dan aku harus menarik ponselku dan memastikan sambungan masih terhubung. "Maaf, aku ...," kataku setelah menyadari kesalahanku. Lidahku tercekat, aku tidak bisa mengatakan sesuatu yang benar kecuali umpatan. Aku mulai kehilangan kesabaranku saat berbicara dengan Damar. "Damar ... "  Hening untuk beberapa saat. Aku menarik ponselku lagi dan menatap layarnya yang menyala, sambungan masih terhubung. Hitungan detiknya masih berjalan.


"Aku tidak yakin ...," kataku mengambang. Aku tidak ingin berbagi informasi kepulanganku ke desa maupun kembalinya ke Jakarta. Aku tidak ingin memiliki perasaan aneh yang tiba-tiba hinggap setelah beberapa kali bergaul dengannya.


Lelaki tampan sepertinya milik banyak orang. Banyak wanita yang akan mengantri untuk menjadi kekasihnya.


"Jadi, kapan kau kembali?" ulangnya. Aku bisa membayangkan ia menahan amarahnya dengan mengeratkan gigi-giginya.


Aku mendesah pelan. Suara gerimis masih menjadi lagu syahdu sore itu.


"Entahlah, mungkin senin siang ...," kataku sedikit bersalah. Mungkin Damar berniat baik dengan mengkhawatirkan keberadaanku. Atau mungkin aku terlalu banyak berpikir kemungkinan yang mungkin terjadi antara aku dan Damar. Atau hanya angan-anganku saja. "Damar, aku ... "


Sambungan terputus. Aku menatapnya tanpa suara. Apakah ia marah? Bagaimana kalau memang marah? Aku bahkan belum sempat meminta maaf atas umpatan yang tak seharusnya itu. Sial! Kenapa mulutku lebih cepat bertidak. Aku tidak berniat kasar tetapi laki-laki ini ...


Aku berdiri di tempatku, menatap ponsel pintar yang sudah mati layarnya. Hebat, sekarang rasa bersalah mulai menggelayuti. Setidaknya aku merasa bersalah tidak memberinya kabar terlebih dahulu. Aku menghilang karena tak ingin menghadiri acara keluarganya tanpa berkonsultasi dengannya terlebih dahulu. Aku terlalu takut bertemu keluarga besarnya. Aku takut perasaan ini akan tumbuh menjadi bunga-bunga cinta.


Aku menampiknya semua hipotesis itu dan bergegas masuk kamar. Menjatuhkan diri di kasur keras karena sudah dimakan usia dan udara dingin.


Aku menatap langit-langit kamar tanpa benar-benar menikmatinya.


'Apa dia marah padaku? Pasti dia marah dan tak ingin bertemu denganku.'


Arg ... Aku ingin berteriak. Jika Damar benar-benar marah dan tidak mau menemuiku lagi karena sok jual mahal. Seharusnya aku senang, tapi kenapa aku merasa sedikit tidak rela dan berharap ia akan mengejarku. Duh ... Ada apa denganku?


.


.


.


.


.


Halo semua, maaf ya, episode agak pendek. Btw, jangan lupa like dan komen ya, vote juga boleh.


Salam Sayang


Nina K.