
Halo semua apa kabar? Maaf ya. cerita yang kemarin agak pendek. Masih memikirkan karakter laki-lakinya. πππ Ide mentok, saat memikirkan nama pria tampan sesuai imajinasiku. Oke akhirnya aku memilih kata 'Damar' (dari bahasa jawa yang artinya lampu/cahaya/penerangan) ππ. Menurut kalian gimana? Menurutku, cocok, sih.πππ
Oke, selamat membaca, ya.
Bening POV
Matahari sudah naik beberapa tingkat dari kolong langit. Tidak begitu tinggi. Namun, matahari tampak sangat cerah, lebih cerah dari hari sebelumnya. Aku melirik arloji keemasan di tangan kananku. Jarum kecil berwarna keemasan itu baru menunjukkan angka delapan lebih sedikit.
Aku bergegas keluar dari parkiran. Karena masih sepi, aku putuskan untuk menarik gasnya dengan kecepatan tinggi. Kapan lagi bisa ngebut di parkiran? Aku harus cepat. Meskipun, kantor baru di mulai jam sembilan waktu indonesia bagian barat. Sekarang, masih tersisa sekitar lima puluh menit untuk sampai. Meski jaraknya tidak terlalu jauh, aku memutuskan untuk membawa kendaraan agar lebih cepat dan murah serta menghindari macet.
Buk!!! Aku mendelik. Aku tidak melihat ada mobil yang berjalan di depanku beberapa detik yang lalu tetapi kenapa sekarang malah menabraknya? Dari mana datangnya? Sial, motor kesayanganku! Susah payah aku mendapatkannya. Sekarang malah lecet.
Kalau boleh jujur sebenarnya ini motor bekas. Aku belum sanggup membelinya dari dealer secara langsung. Harganya masih terlalu tinggi. Sebenarnya, aku bisa saja membelinya dengan mengangsur atau kredit atau ngutang. Sayang, aku tidak mau bersusah payah, tidak enak makan dan tidur memikiran membayar utang saat jatuh tempo. Aku hanya ingin bahagia. Memiliki motor ini, meski bekas sudah cukup membuatku bahagia.
Aku rasa, Jihan patut mendapatkan ucapan terima kasih. Berkat ia, aku punya kesempatan memiliki motor impian sejak kuliah. Yah, meskipun bukan yang terbaru tetapi yang penting punya. Itu saja, sudah cukup.
Aku hampit lupa. Sekarang ,aku harus berhadapan dengan pemilik mobil yang tertabrak. Bukan salahku sebenarnya. Ia juga bersalah tiba-tiba berbelok tanpa menoleh. Aku lewat jalan lurus. Sepertinya, aku harus membuat laporan kepada pengelola apartemen mengenai lampu penerangan di lahan parkir gedung. Terlalu gelap, tetapi sebelum itu, aku harus menghadapi laki-laki pemilik mobil ini.
"Kau punya mata tidak? Apa kau tidak bisa menyetir?" katanya setelah membanting kasar pintu mobilnya. Ia berjalan memutari bagian depan mobilnya. Laki-laki itu mengenakan kemeja hitam, bagian ujungnya digulung hingga ke siku. Dipadukan dengan celana jeans hitam serta sepatu sport hitam yang dipakai menambah aura maskulin. Ia membungkukan badannya untuk memastikan bumper depan mobilnya tidak rusak.
Mobil jeep tanpa penutup. Kalau di desaku mobil seperti ini banyak di gunakan untuk offroad. Hanya saja sedikit berbeda. Mobil ini terlalu mengkilap jika dipakai untuk 'offroad'.
"Jelas-jelas, aku yang lewat duluan," kataku tak mau kalah. Aku turun dari motor vespaku dan melihat posisi motor dan mobilnya. Aku tidak akan membiarkan ia mengintimidasiku hanya karena penampilannya yang sama menyilaukannya seperti mobil jeep miliknya.
"Lihat mobilku lecet, kau harus menggantinya!" katanya mengamati bekas tabrakan. Ia menunduk sekali lagi untuk memastikan bahwa bumper depan mobilnya tidak rusak. Hanya ada goresan kecil. Itu yang aku lihat.
"Maaf, tapi itu hanya goresan kecil, tidak sampai penyok, lihat motorku juga penyok karena tertabrak mobilmu," kataku melirik motor. Ia menegakkan punggungnya dan berdiri, tinggi menjulang seperti tiang listrik. Aku baru sadar bahwa ia sangat tinggi. Mati aku!
"Baiklah, tapi kau harus ganti rugi, bagaimanapun mobilku jauh lebih mahal dari pada motor jelekmu ini!" katanya dengan sombong. Baiklah orang ini memang harus diberi pelajaran. Aku harus melakukan sesuatu! Ayo berpikir! Aku menghela nafas kesal. Ingin sekali kutonjok wajah tampan itu. Kenyataannya, ia memang tampan dan menyebalkan. Aku sangat kesal. Aku merasa semakin kecil setelah mandapat tatapan kejamnya.
"Duh, maaf pak ..., tapi bapak lihat sediri, kan, motor saya juga lecet. Bapak ini salah, saya juga salah!" kataku dengan sisa-sisa kesabaranku. Kalau ia masih ingin berdebat dan minta ganti rugi, aku tidak tahu lagi. Ia juga bersalah, semoga otaknya masih bisa bekerja dengan baik dan menerima logika yang baru saja aku sampaikan.
Sekarang ia menatapku dari ujung rambut sampai kepala. "Kamu punya SIM?" tanyanya curiga. Sekarang ia malah berlagak sok mengintrogasi layaknya polisi. "Ahhh ..., kamu nyogok ya biar dapat SIM?" tuduhnya sembari memincingkan bibir tanda mengejek. Tatapan kejamnya berubah menjadi tatapan aneh yang sulit diterjemahkan. Namun, aku tahu, ia sedang mengejek.
"Memangnya, bapak aja yang bisa nyogok" kataku geram. Matanya membulat sepersekian detik, mungkin tak percaya dengan apa yang baru saja aku katakan.
Aku tidak bermaksud nyogok atau apapun. Akan tetapi kalau harus mengurus SIM sendiri dan itu artinya harus pulang ke Desa. Belum lagi waktu, aku butuh waktu lebih dari sehari untuk melakukannya. Desaku yang terletak di Propinsi lain hanya bisa di tempuh dengan pesawat satu jam tiga puluh menit ditambah empat jam naik bis. Belum lagi, mengurus SIM hanya bisa dilakukan di hari kerja, senin sampai jum'at. Orang ini sungguh tahu cara membuatku marah. "Lalu, aku nggak boleh nyogok juga, gitu?" lanjutku kesal. Hilang sudah kesabaranku menghadapi tua bangka ini. Sialnya, Ia bukan tua bangka, tetapi sifatnya menyebalkannya itu melebihi tua bangka.
"Dasar bocah ingusan, tidak tahu sopan santun," katanya dengan suara datar. Suara datarnya membuatku sangat kesal.
"Kalau iya, memangnya kenapa?" kataku menantangnya. Aku berjalan mendekati mobilnya dan menendang bagian depannya dengan keras. Sial. kakiku sakit. Aku kehilangan kekalemanku dalam sekejap gara-gara orang ini.
Dia menarik lenganku dengan kuat. Aku bahkan tak melihat kapan dia melangkah mendekat dan sekarang dia menarik lenganku dengan kekuatan seorang laki-laki. Sial! Aku dalam masalah besar!
"Lepaskan!" protesku mengoyak tanganku dari genggamannya. "Lepaskan, tanganku!" cengkraman tangannya semakin kuat, protesku sia-sia. "Lepaskan tanganku atau aku teriak!" acamku.
Sebelum aku kembali membuka mulutku ia sudah berhasil membukam mulutku dengan tangan lainnya. Ia mendorongku dan memenjarakanku diatara tubuhnya yang besar dan badan mobil.
"Kalau kamu nggak mau bayar, tidak perlu menendang mobilku juga, Nak". Katanya mengeratkan giginya. Wajahnya begitu dekat denagan wajahku. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. "Tempramenmu itu sangat berbahaya!" katanya dengan suara lirih namun begitu dingin menusuk jantung. Suara rendahnya justru membuatku merinding ngeri. Aku bisa mendengar letupan bunyi di dalam dada. Jangan-jangan dia ....
Sebelum aku sempat berpikir aneh-aneh ia melepaskan cengkramannya. Laki-laki ini berbahaya. Aku tak berkutik bersandar pada mobilnya. "Mana KTP dan SIM?" katanya sambil mengulurkan tangannya. Ia berdiri angkuh dengan jarak yang lebih aman dari beberapa menit lalu.
"Un-untuk apa?" kataku terbata. Aku berusaha menenangkan jantungku yang masih ribut. Aku menatapnya kesal. Ini juga salahku. Kalau saja aku tetap kalem seperti yang diajarkan teman-temanku.
'Tidak akan ada yang berani mendekatimu kalau kamu begitu'.
Aku ingat jelas kalimat yang diucapkan Teguh waktu itu. Sepertinya, ucapan Teguh benar. Sial! Sekarang aku malah percaya ucapan Teguh.
"Mana!" ucapan laki-laki itu membuatku tersentak sementara jantungku kembali meletup-letup. "Cepat! KTP, SIM dan ponselmu!" lanjutnya gemas.
Aku merogoh tasku dengan kesal. Mengambil KTP dan SIM dari dompetku dan menyerahkannya pada laki-laki itu dengan kesal.
"Aku akan menahan KTP dan SIM milikmu, sampai kamu mau membayar!" katanya memasukkan KTP dan SIMku tanpa melihatnya.
"Ehh ..., tidak bisa, kembalikan!" kataku berusaha meraih dompet coklatnya namun ia menghalangiku dan memasukkannya kembali ke kantong saku celananya. "Oh ayolah, aku akan menggantinya, tapi KTP dan SIM ku kembalikan, ya, ya?" kataku bernegosiasi. "Kalau tidak mau, aku bisa melaporkamu ke polisi."
"Oh silahkan, tapi ingat, kamu baru saja berusaha merusak mobilku!"
"Merusak? Apa itu tidak terlalu berlebihan? Dengar, bagaimanapun bapak tidak bisa menahan KTP dan SIMku, bagaimana kalau hilang? lalu ...,"
"KTP aman!"
"Bukan urusanku!"
"Baiklah, aku punya uang seratus ribu, apa ini cukup?" kataku sambil menarik satu-satunya lembaran di dalam dompet dan mengulurkannya. Laki-laki jangkung itu tak menggubris. "Oh ayolah, aku bisa terlambat kerja!" Aku memaksa. Aku mengulurkannya dan berharap dia menerimanya, memgembalikan KTP dan SIMku. Terdengar sulit tetapi mungkin saja, jika keajaiban itu terjadi. Tidak masalah meski aku tidak makan siang hari ini. Akan lebih baik jika tidak makan siang tetapi KTP dan SIM kembali ke pelukanku.
"Ponsel! Berikan ponselmu!" Akhirnya aku tahu. Angan-anganku terlalu sulit untuk jadi kenyataan.
"Tidak mau, aku tidak bisa kerja tanpa ponsel". Protesku berusaha melindungi sisa benda berharga yang aku miliki. Tidak mungkin aku menyerahkannya juga. Meski bukan ponsel bermerk, ponsel tetaplah ponsel. Alat komunikasi.
"Aku tidak butuh ponselmu! Aku butuh nomer ponselmu!" katanya dengan bibir berkedut. Seolah-olah ia bisa membaca pikiranku.
"Apa ini caramu mendapatkan nomer perempuan incaranmu?". Ejekku. Mungkin jika aku meledeknya dia akan mengurungkan niatnya. Siapa tahu itu memang benar. Dia hanya membuat alasan. Dan tabrakan kecil ini juga hasil akal bulusnya saja. "Aku tidak akan memberikan nomer ponselku padamu."
"Perempuan incaran? Jangan bercanda! Gadis ingusan sepertimu bukanlah seleraku. Sekarang mana ponselmu?" katanya sembari melirikku dari atas sampai bawah lalu kembali ke atas lagi. Sementara dia masih mengulurkan tangannya. "Aku akan menghubungimu jika mobilku selesai direparasi."
"Goresannya bahkan tidak lebih besar dari rambut, tidak perlu masuk bengkel," kataku berusaha menyembunyikan pipiku yang memerah karena malu.
"Kamu tidak mengerti, bahkan goresan kecil bisa menyebabkan korosi."
"Kalau sama-sama korosi kenapa harus beli mobil mahal!" kataku pada diri sendiri.
"Apa?"
"Ahh ..., tidak, tidak apa-apa."
"Ponsel!" katanya tegas. Ia masih ingat dengan ponselku.
Aku merogoh ponselku di dalam tas dan memberikannya pada laki-laki itu.
Dia menerimanya lalu menekan beberapa nomer kemudian ponsel miliknya sendiri berbunyi.
"Baiklah, siapa namamu?" Katanya sambil mengembalikan ponselku. Dia benar-benar tak melihat KTP maupun SIM ku. Kalau aku tahu sejak awal pasti aku beri kartu ATM ku yang sudah mati dan kartu anggota perpustakaan baca yang sudah tidak aku pakai.
"Bening," kataku kesal.
"Bening?" Ulangnya sambil mengerutkan alis. Ia menatapku seolah aku baru saja muncul lewat pintu ajaibnya doraemon.
"Iya, namaku, Bening!" Ia membulatkan matanya, menatapku lekat-lekat dari ujung rambut sampai kaki. Apa dia tidak percaya bahwa itu memang namaku?
Ia berdehem dan menyimpan kembali ponselnya. "Baiklah, Bening, sampai berjumpa lagi."
"Dasar pelit!" Kataku setelah dia masuk kedalam mobilnya. Semoga dia tak mendengar. Tapi ada bagusnya kalau dia mendengar. Mampu membeli mobil mengkilap seperti itu tapi tak mampu membayar biaya bengkel untuk goresan kecil. Hah ..., ternyata ada juga orang pelit yang tak mau rugi sepertinya.
Setelah membunyikan klaksonnya dia menghilang menuju jalanan.
Aku melongo. Masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Aku menghela nafas panjang. Aku memutar badanku dan kembali menaiki motor vespaku dengan kesal. Aku ingin mengumpat di depan wajahnya untuk melampiaskan kekesalanku.
Beberapa menit kemudian aku tiba di kantor. Terlambat. Tentu saja aku terlambat. Dan semua gara-gara laki-laki itu. Dia bahkan memanggilku dengan sebutan 'nak' dan 'gadis ingusan'. Aku heran kenapa dia tahu aku suka ingusan. Maksudku, aku alergi debu dan pasti hidungku langsung meleleh. Seperti yang dia katakan 'ingusan'. Benar ingus. Tapi aku bisa mengatasinya dengan membawa tisu dan masker kemana-mana tetapi 'Nak' demi Tuhan, aku bukanlah remaja belia seperti yang aku inginkan. Aku memutar bola mataku.
Sakit rasanya saat dia mengatakannya langsung di depan mataku. Bukannya aku ingin ingusan. Ahhh ..., sudahlah lagi pula bukan itu maksudnya. Lupakan saja, tapi tetap saja aku kesal.
.
.
.
.
.
Hai hai semua. Gimana pertemuan pertama Bening dengan Damar. Oops....aku tak menyebutkan namanya, tapi kalian pasti bisa menebaknya kan. Hahahaha....aku berharap bisa menulis lebih detail dan rinci lagi tentang pertemuan tak sengaja mereka.
Baiklah jangan lupa komen dan vote ya. Share juga boleh.πππ
Salam sayangπΈ
Tsubaki