
Bening POV
Aku bingung. Aku semakin bingung setelah Damar mengatakan perasaannya. Kenyataan bahwa dua laki-laki mengatakan perasaanya dalam waktu berdekatan malah membuat kepalaku cenat-cenut seperti jantungku yang ikut cenat-cenut. Efek yang aku rasakan saat berdiri di samping Damar atau sekedar melihat wajahnya di kejauhan.
Apakah alasan itu cukup? Aku tidak tahu. Aku malah semakin bingung harus berdiri di sisi mana?
Leon mengatakan perasaannya tanpa mengatakan apapun. Tidak ada embel-embel yang disematkan seperti halnya Damar. Damar ingin aku berdiri disampingnya, iya, 'kan? Atau aku saja yang terlalu percaya diri menanggapi godaannya. Ya, Damar sering menggodaku akhir-akhir ini. Ya, meski itu tidak bisa disebut menggoda. Akan tetapi, perhatiannya kepadaku jelas memberikan sedikit efek kepadaku, seperti besar kepala. Ya, aku selalu merasa berada di atas awan dengan perhatian kecilnya.
Aku ingat betul, malam itu ketika laki-laki berparas kebule-bulean itu tiba-tiba marah. Aku benar-benar takut. Ia laki-laki berotot yang bisa melakukan apapun yang ia mau waktu itu tetapi di luar dugaan. Saat aku mengusirnya karena ketakutan ia malah melalukan seseatu yang tak terduga.
Ia menyatukan keningnya dengan keningku. Aku tidak ingat berapa lama tetapi aku ingat perlahan rasa takutku lenyap setelah ia berbisik sesuatu. Aku tidak mengingingatnya dengan jelas karena aku terlalu fokus dengan jantungku yang berdendang riang. Aku tidak lagi takut padanya. Ia juga menepuk-nepuk puncak kepalaku dengan salah satu tangannya sebelum menghilang lewat pintu yang terbuka lebar.
Lalu Leon, bagaimana dengan Leon? Aku semakin bingung. Ia baik, sangat baik. Aku sudah mengenalnya sejak kuliah. Aku juga menyukainya tetapi berbeda dengan yang aku rasakan pada Damar.
Mereka berdua membuatku semakin bingung.
Argh ... Sekarang bagaimana?
"Kamu kenapa?" suara Nola berhasil menarik perhatianku. Aku mengangkat kepala dan menemukan Nola menatapku curiga.
"Tidak kenapa-kenapa," sahutku terlalu cepat. Ia menatapku dalam diam. Jelas sekali ia ingin aku mengatakan sesuatu yang lain, mungkin bercerita bahwa Leon mengatakan isi hatinya padaku akan membuatnya bahagia. Berita yang sangat ingin ia dengar sejak lama.
"Lalu, kenapa makananmu hanya kau lihat tanpa minat," imbuhnya melirik makananku yang tak tersentuh. Aku bahkan sudah tidak lapar lagi. Apakah ini karena aku terlalu bahagia atau terlalu bingung memikirkan dua laki-laki itu.
"Aku sudah kenyang," akuku jujur. Kedua alis Nola bertautan.
Aku benar-benar bingung. Apakah aku harus beecerita pada Nola. Ya, aku tahu ia temanku tetapi apakah ia bisa menjaga ucapannya kali ini. Aku tidak ingin menjadi bahan gosip di kantor apalagi dengan Leon. Aku takut ini akan mempengaruhi kinerjaku.
Aku juga belum memikirkan jawaban yang pas untuk Leon. Ini semua gara-gara Damar. Ia mengacaukan isi kepalaku.
"Kalau tidak mau cerita, ya, tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksa."
"Lain kali aku ceritakan padamu," kataku berusaha menghibur. Hati kecilku tak menyukai kalimatku. Ya, aku terpaksa berbohong karena mungkin aku tak akan pernah cerita padanya.
"Baiklah, jadi bagaimana teman Leon yang akan menyewa stand itu," selidiknya. "Dia menghubungimu?"
"Tidak! Kenapa?"
"Tidak juga! Aku hanya bertanya," katanya santai. "Aku dengar mereka dulu teman kuliah sewaktu di Surabaya," terang Nola. Tak ada informasi yang luput dari telinga tajamnya. Aku heran kenapa ia tidak melamar kerja menjadi seorang jurnalis saja. Kemampuannya mengorek informasi jelas menjadi keuntungan.
Teman kuliah? Dari Surabya? Siapa?
"Mungkin kamu kenal," tebak Nola. Matanya menatapku tanpa berkedip. Apa ia benar-benar percaya aku mengenal teman Leon. Teman Leon tentu banyak dan aku tidak mengenalnya kecuali satu orang. Jika ingatanku tidak salah, setelah yudisium ia terbang ke london keesokan harinya. Ia bahkan tidak mengikuti upacara wisuda yang di selenggarakan satu bulan setelah yudisium. Aku tak mendengar kabar tentangnya setelah itu.
Lagi pula siapa aku yang harus tahu kabarnya.
"Siapa yang tahu," katanya mengangkat kedua bahunya. "Aku dengar Leon cukup populer di kampusnya, benar begitu?" Manik hitam milik Nola melebar.
"Mana kutahu," kataku asal. Ya, karena sejujurnya Leon sangat terkenal waktu itu. Bagaimana tidak, ia adalah ketua BEM di kampus. Selain itu, Leon juga jago karate. Idola banyak mahasiswi tentunya, apalagi dengan paras eloknya itu.
"Kamu ini menyebalkan," katanya pura-pura marah. "Cerita kek, apa aja tentang Leon .... "
Aku tertawa ringan.
"Jangan bilang, selama ini kamu naksir Leon," godaku. Rona merah jambu bersemu di pipinya.
"Ngawur aja kamu, Rio mau di buang kemana?"
"Laut."
"Serius ini, kalau tidak salah dengar, katanya temannya ini baru pulang dari luar negeri. London gitu katanya."
London? Apakah aku salah dengar.
"London, katamu?" tanyaku memastikan ucapan Nola sebelumnya.
"Bukan, bukan aku yang mengatakannya, tapi Leon."
"Sama saja!"
.
.
.
.
.
.
hai hai hai, apa kabar semua? maaf ya kali ini episodenya agak pendek, hahaha.
Btw corona di luar sana masih merebak, tetap jaga kesehatan ya, jangan lupa pakai masker dan selalu cuci tangan, trus jaga jarak aman. Mari berkarya dari rumah.
Salam
Nina K.