Damar: Love Is On The Way

Damar: Love Is On The Way
Jodoh dari Mama



Halo sahabat semuanya .... Sebelum lanjut nulis cerita Damar dan Bening, aku mo ngingetin lagi buat para pembaca setiaku, jangan lupa like, komen dan vote ya 😍😍😍 like dan komen dari kalian semua bagai energi nih, energi buat nulis cerita Damar😁😁😁. Oke, sejauh ini gimana? Kalian suka? Penasaran nggak kira-kira dengan sikap Leon? Atau bagaimana dengan Damar yang mulai perhatian kepada Bening? Pada gemes nggak, sih?


Oke, tetep dukung aku dengan komen, like dan Vote yah 😍😘😘😘.


Thank You All


🌸🌸🌸🌸


Damar POV


"Persiapan peluncuran produk baru bagaimana?" Randy asisten pribadiku berjalan di sampingku. Lorong menuju kantor pribadiku lengang.


"Tinggal menunggu review kemasan dan hasil survey kepuasan pelanggan," sahut Randy. "Ini berkas sampling produk baru kita, nanti siang, mereka memintamu untuk melihat sendiri kemasan produk dan mencobanya," lanjut Randy. Randy adalah sahabat karibku sejak kuliah. Ia memilih mendampingiku membangun kerajaan bisnis ini.


Aku mendorong pelan pintu kaca es di depanku dan menyelinap masuk diekori oleh Randy. Aku menarik kursi hitam berleher panjang dan menyelinap duduk. Tanpa aku minta, Randy duduk di depan mejaku. Aku memeriksa dokumen yang disuguhkan Randy beberapa detik lalu.


Derit pintu membuatku mengalihkan perhatianku. Siapa yang berani menggeser pintu itu tanpa mengetuk lebih dahulu. Pintu terbuka dan menampilkan siapa pelaku yang membuatku terganggu. Wanita paruh baya yang berdandan rapi dengan setelan baju berwarna abu-abu. Tangan kirinya mengendong tas hitam bermerk seharga puluhan juta.


"Mama ... kenapa tiba-tiba ke sini?" kataku pada wanita yang kini duduk di kursi sofa berwarna biru gelap di sisi lain ruangan. Ia meletakkan tas mahalnya di atas meja. Menatapku dengan tatapan khas miliknya.


"Apa aku harus ijin terlebih dahulu untuk menemui anakku sendiri?" katanya dengan nada halus. Wanita ini! Ia tahu kapan membuatku jengkel.


"Halo, tante, lama tak bertemu?" sapa Randy mengangguk sopan.


Aku mendorong kursi hitamku sedikit dan menyelinap keluar. Memutari meja dan bergabung dengan wanita yang menjadi pujaan hatiku sejak kecil.


"Kenapa tidak menelpon dulu," kataku. "Aku bisa meminta Randy menjemput mama," imbuhku. Rany menaikkan alis kirinya. Aku hanya perlu membuat alasan.


"Mama sudah menelponmu sejak pagi, bahkan sektetarismu bilang, kau belum tiba di kantor," omelnya kesal. "Kalau ponsel pintarmu itu mendadak bodoh, buang saja! Apa nada deringnya tidak membuatmu tuli!" imbuhnya masih dengan nada kesal. Aku ingin tertawa tetapi melihat rona wajah, niatku lenyap seketika.


Randy tertawa ringan mendengar omelan mama. Aku meliriknya tajam dan memaksanya bungkam.


"Aku tidak mendengar ada bunyi telpon," dalihku. Aku menatap Randy dan memintanya keluar dari ruang kerjaku. Ia keluar tanpa suara mengerti arti tatapan mataku.


"Ada apa lagi sekarang?" kataku menanyakan maksud kedatangan Mama. Aku terlalu hafal karakter wanita yang melahirkanku ini. Ia menginginkan sesuatu.


"Baiklah, Mama langsung saja, mama harap kamu menuruti keinginan mama kali ini, setidaknya cobalah dulu," katanya menatapku lekat. Aku mencium aroma masalah disini. Aku yakin sekali. Permintaan mama bukan hal yang sepele.


"Baiklah," kataku mencoba berdiskusi dengannya. "Damar ingin dengar permintaan mama, kali ini," imbuhku sebelum menyandarkan punggungku pada sofa.


"Mama ingin kamu bertemu dengan anak teman mama, siapa tahu kalian cocok," katanya dengan nada halus. Ia mengutarakan langsung niatnya tanpa berkedip.


"Aku pikir mama menyukai, Bening?" tanyaku mencari kepastian. Aku yakin sekali mama meyukai gadis ingusan yang sedikit kasar itu. Ada nafas tertahan di kerongkonganku layaknya udara telah berubah menjadi balok-balok tak kasat mata yang membuatku tak nyaman.


"Memang," akunya sambil mengangguk pelan. Ia tampak memikirkan sesuatu.


"Lalu ..., " desakku. Aku tidak mengerti jalan pikirannya. Apakah kehadiran Bening masih kurang cukup berarti?


"Bagaimana dengan Bening? Apa dia menyukaimu? Kalian saling cinta?" lanjutnya. Pertanyaannya membuatku sedikit tersentak. Apakah aku menyukai Bening? Apakah Bening menyukaiku? Aku tidak tahu.


"Dengarkan mama, sekali ini saja," katanya sebelum aku menemukan kata-kataku. "Mama, ingin melihatmu bahagia, kamu sudah cukup umur untuk menikah, mama ingin melihatmu berkeluarga," lanjutnya.


Apa menurut mama aku tidak memiliki keluarga?


"Ma ... aku dan Bening tidak ingin buru-buru," dalihku menambah satu kebohongan. Mama menggelengkan kepalanya.


"Sampai kapan kau akan seperti ini? Menikah adalah ibadah, harus disegerakan," nasihatnya.


Gampang mama mengatakannya.


"Iya, aku mengerti, tapi ..., "


"Mama punya tiga calon untukmu, temui mereka dalam sebulan ini. Mama akan atur jadwalnya," titahnya dengan suara tegas. "Kamu temui mereka dulu, lalu putuskan," lanjutnya.


"Bagaimana dengan Bening?" tanyaku.


"Berhenti bermain-main seolah-olah kalian sedang berhubungan. Aku sudah menjadi ibumu selama tiga puluh tahun, kau tidak bisa membohongi mama," katanya dengan nada kecewa.


"Setidaknya beri aku waktu ...," kataku sekenanya. Aku hanya perlu menunda waktu sebisa mungkin. Waktu perjodohan sialan itu.


"Aku tidak tahu ...," kataku jujur. Mama menatapku dengan tatapan iba.


"Bagus, itu artinya kau harus menurut dengan keputusan mama," tegasnya tak mau di bantah.


"Tapi, Ma ..., "


"Tidak ada tapi-tapi, ini demi kebaikanmu,"


"Tante, ini minumnya," Randy kembali dengan membawa secangkir teh hijau di atas nampan. Dari mana ia mendapatkan teh itu?


"Terima kasih," katanya tulus. "Randy, aku minta kosongkan tiga jadwal untuk Damar berkencan dalam tiga minggu ke depan. Setidaknya satu minggu sekali aku ingin Damar pergi menemui gadis pilihan tante," titahnya pada Randy. Randy membulatkan matanya sembari menatapku.


"Baik, tante," sahut Randy patuh.


"Pastikan, anak ini datang atau kamu aku pecat," ancamnya. Rona wajah Randy berubah pucat pasi.


"Siap tante,"


"Damar, kau tidak bisa menemukan cinta yang kau inginkan jika kau sendiri tidak mau membuka hatimu. Cinta sejati tidak ditemukan tapi dibentuk oleh dua orang yang saling mengisi kekurangan dan kelebihan pasangannya," nasihatnya sebelum bangkit.


Tanpa meminum teh hijau yang dibawakan Randy, Mama beringsut dari duduknya. Ia menarik tas tenteng di atas meja dan melenggang pergi.


"Ibumu, menakutkan," katanya lalu duduk di sofa yang di tempati mama dan menyesap teh buatannya sendiri. "Tapi, dia sangat bijaksana," pujinya. Aku menghembuskan napas dengan kasar. Napas yang sejak beberapa menit lalu menyesakkan dada.


"Ibumu masih ingin menjodohkanmu?" katanya sebelum bersandar. "Aku pikir kau sudah punya teman kencan," lanjutnya. Ia mengabaikan pertempuran di dalam benakku.


"Mama tahu aku berbohong."


"Bohong? Bohong bagaimana?" sahutnya lebih bersemangat. Matanya berkilatan menunggu kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mulutku.


"Aku berbohong jika aku punya teman wanita, teman kencan," kataku dalam satu napas.


"Kenapa aku tidak tahu ..., " komentarnya sebelum bersandar pada punggung sofa. Aku menarik bantal berbentuk persegi lalu melemparkannya ke arah Randy. Lantas, apa rencanamu?" imbuhnya.


"Menurutmu?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jadi bagaimana perasaan kalian? Deg degkan nggak sih? Aku sih deg degkan ... Hahahahaha


Uwaaaahhhh, Damar ketahuan bo'ong😁😁😁


Oke, simak terus ya, kelanjutan cerita Bening dan Damar.


Jangan lupa like, komen dan vote juga 😍😍😍


Thank you All


Nina Kasbak