Damar: Love Is On The Way

Damar: Love Is On The Way
Bargain



Halo semua, apa kabar? Semoga kalian sehat dan selalu bahagia.


Oke di bagian ini aku kasih Damar POV lagi. Hemmm kira-kira kalian penasaran gak ya dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Lalu bagaimana perjuangan damar meyakinkan orang tuanya, terutama mamanya.


Damar POV


Langit di luar sangat cerah dengan sedikit guratan awan putih bak lukisan. Aku mengawasinya dengan seksama dari balik jendela restoran Jepang. Matahari siang tampak garang memancarkan panasnya. Cahayanya menyilaukan mata siapa saja yang berumur diatas seperempat abad.


Aku sudah menunggu lebih dari sepuluh menit. Sepuluh menit yang menyiksa karena aku membenci kata telat. Aku melirik arloji perak ditangan kiriku. Jarumnya masih menunjuk angka yang sama, tidak bergerak, mungkin rusak atau mungkin karena aku terlalu sering menatapnya.


Aku mendesah pelan mengetahui jarum jam masih berada di angka dua belas lewat tiga menit. Entah berapa banyak aku melirik arlojiku, karena setiap kali aku melirikya, jarumnya seolah-olah tak begerak. Aku menunggu dengan gusar di kursiku. Beberapa meja kosong di dekat mejaku sudah mulai terisi pengunjung yang baru datang.


Aku melirik kearah pintu masuk, namun sosok yang aku tunggu belum juga datang. Tidak ada tanda-tanda bahwa dia akan datang dengan segera. Awas saja, kalau gadis tengik itu berani mengingkari janjinya dan melarikan diri. Aku pastikan ia tidak akan lolos dariku, ke lubang semut pun, akan kukejar.


Menampik segala macam pikiran jahat yang tiba-tiba menyelinap, aku mengintip langit biru di balik jendela kaca besar itu sekali lagi. Nampak sekali, di luar sana matahari bersinar sangat terik.


Aku memutar kepalaku dan kembali mengawasi sekeliling.


Restoran mulai ramai dengan pengunjung yang datang berjejal. Aku melihat sosok seseorang yang menarik. Bukan hanya aku seorang diri, beberapa pasang mata juga mengawasinya sejak pertama kali ia memasuki pintu restoran. Kedatangannya seolah-olah menjadi magnet di dalam ruangan. Mungkin karena penampilannya yang tidak biasa. Dengan menggunakan gaun berwarna ivory selutut dengan belahan kecil di samping kanan kirinya, dipadukan dengan jaket kulit hitam dengan resleting berwarna perak. Ia menggunakan sepatu boot berwarna hitam yang menambah kesan sedikit maskulin tetapi tetap menawan serta tas kecil berantai besi yang di selempangkan dipinggangnya. Penampilan yang jelas berbeda dengan sebagian besar pengunjung restoran yang menggunakan seragam kantor. Cara berpakaiannya mirip seseorang yang bekerja di showbiz atau dunia hiburan, semacam artis atau model. Pandangannya menyisir setiap sudut restoran.


Aku bisa melihat dengan jelas gaun itu jatuh lembut membentuk lekuk halus tubuhnya. Tidak terlalu kurus, juga tidak terlalu berisi. Kulitnya berwarna putih langsat dan bersih dengan rambutnya yang di kuncir kuda berayun-ayun ke kiri dan ke kanan. Matanya meneliti setiap badan yang ditangkap oleh matanya.


Aku mengawasinya dari tempatku duduk.


Perempuan itu tampak celingukan mencari seseorang. Mungkin kekasihnya. Lalu berjalan ke arah mejaku. Mata kami bertemu di udara untuk beberapa detik sebelum dia mengalihkan pandangannya. Aku pun menarik buku menu berwarna hitam yang tergeletak kaku di atas meja dan memilih beberapa menu. Aku harus mengalihkan pandanganku dan berhenti mengawasinya atau ia akan curiga.


Sumpah jika perempuan ini adalah pasanganku, aku tak akan menginjinkannya memakai baju yang menarik pandangan terutama laki-laki. Meski lekuk tubuhnya tak tampak begitu jelas, tetap saja.


"Maaf, permisi ...," Aku mendengar suara lirih menyapaku, ragu-ragu. Aku tak menyadari jika perempuan yang menarik ini berjalan ke mejaku. "Apa kau, Damar?" imbuhnya dengan suara halus. Aku mengamatinya dari ujung rumbut hingga ujung kepala sekali lagi. Ya Tuhan. "Halo, apa kau mendengarku?" ulangnya ketika aku tak menyahut. Ia mengibas-ngibaskan tangannya karena aku menatapnya tanpa berkesip. Aku menangkap eskpresi kesal di wajah ayunya. Alisnya membentuk garis lengkung halus dan bukan hasil magic salon kecantikan. Bulu matanya tidak begitu lentik, tapi matanya sangat menarik dan menyejukkan, bahkan saat ia memutar bola matanya karena kesal, ia justru terlihat lebih cantik. Bibirnya merah bukan karena menggunakan gincu merah tetapi merah secara alami bak bibir bayi yang lembab dan menggemaskan. Wajah tanpa make up nya terlihat begitu segar dan mulus. Aku menelan ludah keringku. Aku hanya bisa mengutuk dalam hati.


"Maaf, aku sedang menunggu seseorang," kataku mengusirnya dengan halus. Aku tidak mau ia tahu aku menyisir setiap lekuk tubuhnya dan mencatat secara rinci di dalam kepalaku. Rahang tinggi dan wajah diamond-nya sangat menarik.


"Apa kau Damar?" Katanya terdengar agak kesal. Nada bicaranya ketus.


"Iya, aku, Damar? " kataku mengiyakan. Aku melihat dia memutar bola matanya. Bibir manisnya memincing keatas membentuk garis asimetri. Ia menghembuskan nafas dengan kesal.


"Aku, Bening!" katanya mengulurkan tangannya. Aku melirik jari-jari mungilnya yang bersih dan polos. Tidak ada bekas-bekas cat kuku yang menempel di sana, bahkan kuku-kukunya dipotong pendek dan rapi layaknya petugas kesehatan. Aku sering melihat model kuku dokter dan perawat yang demikian bersihnya.


"Damar." Aku menyambut uluran tangannya. Tangan mungilnya begitu pas saat kugenggam. Ia segera menarik tangannya seolah-olah tangannya terbakar saat kulit kami berssntuhan. "Duduklah ...," kataku mempersilahkan. Dia menarik kursinya sedikit lalu duduk. Ia menegakkan punggungnya dan menatapku nyalang. Apa ini gadis ingusan yang menabrak mobilku? Aku mengamati setiap sudut wajahnya. Mata nyalang itu, ya, aku ingat. Mata itu berapi-api saat marah. Aku tidak ingat jika gadis ingusan ini semenarik gadis yang duduk di depanku. Dalam ingatanku, ia tak lebih dari gadis tempramental yang menyebalkan.


"Jadi, berapa biaya reparasi mobilmu?" katanya tanpa basa-basi. Aku menyandarkan punggungku pada kursi dan membalas tatapannya lalu berkata,


"Aku tidak mau uang darimu."


"Lalu apa?" Ia berusaha menguasai emosinya, wajahnya menahan kekesalan yang entah dari mana datangnya. Apa aku baru saja membuatnya kesal? Aku mengabaikan tatapan kecutnya dan berkata,


"Aku mau kamu membantuku." Ia membulatkan matanya, mulutnya sedikit terbuka karena terkejut.


"Membantumu?" ulangnya dengan nada mengejek. "membantu yang seperti apa?" Ada kekesalan di dalam suaranya.


"Aku butuh teman wanita untuk acara makan malam." jelasku menunjukkan niatanku. Aku hanya butuh Bening menemaniku makan malam. Aku akan mengenalkannya pada mama.


"Serius? Hanya itu?" selidiknya tak percaya.


"Iya, kalau kamu mau membantuku, aku akan mengembalikan KTP dan SIM milikmu"


"Kalau aku tidak mau?"


"Ya, terserah padamu, aku tidak akan mengembalikan KTP milikmu"


"Tidak bisa begitu, kau tidak boleh berbuat seenakmu," suaranya mulai meninggi. Aku melihat wajahnya bersemu merah menahan emosi.


"Kalau kamu sangat ingin KTPmu, kamu harus membantuku sekali ini saja, lalu, aku akan mengembalikan KTP dan tidak mengganggumu lagi"


"Apa jaminannya?"


"Aku!"


"Jangan bercanda?"


"Apa menurutmu aku sedang bercanda? Aku akan mengembalikan KTP dan SIM milikmu setelah makan malam."


"Hanya makan malam?" selidiknya. Matanya menatapku dengan curiga.


"Iya."


"Tidak ada yang lain?"


"Bagaimana?"


"Aku tidak mau!"


"Pardon me?"


"Kau takut?"


"Kenapa aku harus takut? kamu makan nasi aku juga makan nasi."


"Lalu ...," Aku menatapnya tanpa berkedip.


"Aku bilang tidak, ya, tidak! Paham tidak!" katanya dengan suara keras. Beberapa pasang mata mengawasi. Dia duduk di tempatnya dengan gusar.


"Aku akan membayarmu ...," Kataku tanpa berpikir panjang. "Lagipula, gadis sepertimu bukan seleraku, kau tidak perlu khawatir!" Jelasku.


Aku melihatnya tersenyum kecut. Sial! Aku mungkin salah langkah.


"Berapa banyak?" Katanya tanpa minat. Sial! Dia meremehkanku. Aku bisa memberikan apapun yang ia inginkan kecuali bulan dan bintang, apalagi matahari.


"Berapapun yang kamu inginkan!" kataku. Aku harus mendapatkannya maksudku bantuannya.


"Yakin? Berapapun?" Katanya mencari penjelasan. Aku mengangguk tanpa melepas pandangan. "Tapi sayang, aku tidak mau uang darimu, aku tidak tertarik dengan uangmu," lanjutnya sebelum bersandar.


"Mobil? Perhiasan? Rumah? Apapun yang kau inginkan ..., aku akan memberikannya!" Aku merayunya dengan iming-iming barang-barang yang mampu meluluhkan hati seorang wanita.


"Kamu tidak bisa menerima kata tidak, ya?" katanya dengan nada datar tapi sorot matanya berkata lain.


"Kau, akhirnya mengerti."


"Aku tidak percaya, aku bertemu dengan orang sepertimu ...," katanya dengan suara lirih dan hampir tak terdengar. Tapi tentu saja aku mendengarnya dengan sangat jelas. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada. Ia sedang memikirkan sesuatu dan aku hanya bisa berdoa ia mau membantuku, apapun akan aku lakukan untuk memenangkan hatinya, maksudku membuatnya membantumu.


"Bagaimana?"


"Kenapa makan malam? Dan kenapa kamu membutuhkan bantuanku?"


"Bukankah sudah aku katakan, aku butuh teman wanita agar ibuku berhenti menjodohkanku dengan gadis pilihannya."


"Apa kamu tidak punya pacar? Atau mungkin teman dekat?"


"Kalau aku punya, aku tidak akan meminta bantuanmu!" Aku tidak sepenuhnya mempercayai ucapannya. Bisa saja ia mengelabuhiku dan mengatakan hal itu agar aku percaya.


"Kau yakin?"


"Well,  seratus satu persen," kataku mantap. Aku harus membuatnya yakin dan mempercayaiku.


Dia mendengus kesal sebelum akhirnya berkata. "Baiklah aku akan membantumu, tapi dengan satu syarat," dia menegakkan tubuhnya dan menatapku lurus.


"Katakan ...,"


"Aku mau KTP dan SIM ku kembali sekarang juga!"


"Deal! ada lagi?"


"Dan, aku tidak mau berpura-pura jadi pacarmu ...," Katanya mengantung seolah sedang memikirkan kalimat yang tepat.


Aku mendengarkannya dengan seksama setiap kalimatnya dan menunggu kalimat berikutnya.


"Akan lebih baik jika ..., mungkin kamu bisa mengatakan aku sebagai teman dekatmu, teman wanita yang saat ini sedang dekat, emmm tapi kalau kamu tidak mau, ya  sudah, kamu bisa mencari orang lain," katanya dengan santai.


"Deal!" kataku dengan mantap. Apapun syaratnya aku pasti menerimanya. Kalaupun dia memintaku memberinya hadiah intan permata pun aku tak akan keberatan.


Bagaimanapun dia adalah kandidat yang sempurna. Maksudku, dia adalah gadis yang secara umum idaman para calon mertua. Manis. Sial! Apakah aku baru saja memuji gadis ini manis? Seingatku dia sangat menyebalkan pada pertemuan pertama kami. Dia bahkan dengan santainya menendang bumper mobil bagian depan hanya untuk melampiaskan amarahnya. Tempramentalnya itu bisa membawanya pada masalah jika ia tak bisa mengontrolnya. Dan tentu saja sedikit kekanakan, waktu itu aku mengira dia anak baru gede alias abg yang emosinya meluap-luap.


Siapa yang tak akan salah paham? Dengan mengenakan dress bunga-bunga selutut dipadukan dengan jaket denim kebesaran, stocking hitam panjang agar kaki telanjangnya tidak menjadi tontonan banyak mata serta sepatu boot hitamnya yang tampak seperti anak band rock and roll. Sial! Bahkan wajah polosnya masih jelas terbayang dibenakku. Kalau saja tebakanku saat itu tidak bias karena penampilannya, sudah pasti aku akan menyeretnya ke kantor polisi.


Dia sangat menyebalkan saat keras kepala tetapi hal itulah yang menarik. Perempuan yang keras kepala umumnya punya pendirian yang teguh dan tidak mudah menyerah. Aku tertarik padanya, bukan tentang hal romantis atau percintaan tetapi sepertinya dia punya karakter yang menarik. Orang akan mudah jatuh hati dengan karakternya yang unik.


"Kau mau pesan sesuatu? Aku yang traktir" kataku setelah aku menyelesaikan lamunan tidak pentingku. "Maaf, aku terlalu sibuk mengajakmu berbicara dan lupa memesan sesuatu ...,"


Aku menyodorkan daftar menu kepadanya.


"Sebenarnya aku tidak terlalu familiar dengan masakan Jepang" katanya dengan suara lirih. Ada rona merah jambu di kedua pipinya. Ia terlihat malu-malu setelah mengatakannya. Aku melihat sosok lain Bening hari ini.


Apa dia sedang tersipu malu karena tidak familiar dengan menu yang ada? Aku membentuk seyum sabit dan menikmati mengobrol dengannya tanpa menyadarinya.


"Sushi dan sasimi disini terkenal enak, ada takoyaki juga dan ...,"


"Udon? Maksudku ramen atau udon ...,"


"Ah, iya, mereka juga punya udon ebi yang lezat!"


"Baiklah aku pesan udon saja"


"Ada lagi?" Ia hanya menggeleng pelan.