Damar: Love Is On The Way

Damar: Love Is On The Way
Calon Mantu



Damar POV


Aku tak mengerti kenapa semua orang terutama mama mendesakku untuk segera menikah. Bukankah dia sudah memiliki cucu dari menantu pertamanya. Bukan aku tidak mau menikah tetapi sekarang bukan saat yang tepat. Mungkin nanti jika aku sudah menemukan seseorang yang tepat. Yang klik dengan hatiku. Seseorang yang berhasil membuatku ingin selalu menatapnya dipagi hari saat bangun tidur. Wanita yang tangguh dan siap berdiri di sampingku memalui hari di sisa usiaku. Siap menua bersama.


Aku mendorong pelan pintu depan yang tak dikunci. Beberapa lampu meja dinyalakan sementara lampu gantung yang memiliki hiasan kristal mati. Tidak ada tanda-tanda penghuninya.


Ruang tamu sepi saat aku pulang tetapi tidak dengan ruang makan. Suara dentingan sendok yang menari diatas piring terdengar merdu. Rupanya makan malam sudah dimulai. Aku sengaja bekerja lembur untuk menghindari acara keluarga semacam ini. Aku malas jika harus mendengar dan menjawab pertanyaan yang sama. Apalagi kakak iparku yang tak kalah cerewetnya dengan mama. Atau mungkin, itu adalah sifat alamiah perempuan yang selalu mengoceh. Ada saja topik yang selalu hangat untuk dibicarakan. Terlebih kehidupan cintaku.


"Lembur lagi?" kata Lani istri Indra, kakakku, begitu melihatku di ruang makan. Aku menghentikan langkahku dan menoleh ke arah sumber suara. Meja makan yang berbentuk persegi panjang itu terisi penuh, hanya tinggal satu kursi di samping mama. Seluruh anggota keluarga berkumpul, Papa dan mama serta Indra beserta keluarga kecilnya. Hanya bayi kecil mereka yang tidak ikut.


"Begitulah ...," jawabku datar. Aku hendak melangkah dan memutar badanku ketika mama bersuara.


"Duduklah, ayo makan!" katanya lembut. Ia menarik kursi kosong di sampingnya. Kursi yang selalu menjadi tempat dudukku saat makan bersama. Sebuah isyarat agar aku duduk dan bergabung dengan mereka untuk makan malam.


"Aku akan mandi dulu dan berganti pakaian," tolakku halus. Aku memutar badanku kemudian melangkah meninggalkan ruang makan menuju ke kamarku yang berada di lantai dua tanpa menunggu respon dari mama. Setelah menghabiskan waktu hampir dua puluh menit, aku meninggalkan kamarku, berjalan pelan menuruni tangga menuju ruang makan. Ruang makan sudah sepi, hanya tinggal si Mbok yang membereskan sisa makanan ketika aku menghentikan langkahku dan mengintip meja makan. Suara hangat mama yang sedang bercengkrama dengan cucunya Rafa, terdengar memenuhi ruangan. Aku berjalan pelan dan menemukan mama dan anggota keluarga lainnya berkumpul di sana. Televisi datar yang terletak di meja panjang yang menempel dengan tembok menyala tetapi tidak ada yang benar-benar menikmati acara yang disajikan. Indra dan istrinya, Lani, lengkap dengan dua anaknya, Rafa dan Ghani, yang masih bayi. Rafa duduk diantara mama dan papa. Mereka mengobrol.


Lani sibuk menimang-nimang bayinya dan Indra duduk disampingnya. Mencoba mengambil perhatian anak bayinya yang sibuk menatap rakus ibunya. Sesekali bibir Indra membentuk garis melengkung layaknya bulan sabit. Kedua matanya memancarkan sorot cinta seorang ayah. Ia tampak sangat bahagia dan menikmati perannya sebagai ayah.


Disisi lain, Mama sibuk bermain dengan Rafa. Membolak-balik buku cerita bergambar yang penuh dengan warna ceria. Rafa tampak bersemangat meneliti setiap sudut buku.


"kau sudah makan?" Mama mengalihkan pandangannya padaku. Aku mengangguk pelan.


"kau sudah punya pacar belum?" Lani, istri Indra bertanya tanpa menoleh. Indra mengangkat wajahnya dan menatapku sekilas. Sorot matanya seolah-olah mengatakan segeralah mencari calon mantu untuk mama.


"iya, betul! Kapan kamu membawakan mama calon?" Mama ikut berkomentar.


"Ma ... "


"Damar, berapa sekarang usiamu? Kapan kau akan menikah? Kalau kau tidak punya calon, mama punya calon untukmu." Kata mama melirikku sekali lagi yang masih berdiri mematung. Aku bahkan belum duduk dan mama sudah bertanya kapan aku menikah? Menikah? Dimana aku bisa mendapatkan pengantin perempuan dalam sekejap.


Bukankah menikah bukan tentang cepat atau lambat? Karena pernikahan bukanlah perlombaan. Menikah butuh komitmen yang kuat untuk menjalani kehidupan setelah peenikahan dan sanggup berjuang dan bertahan melawan badai yang menghampiri. Aku tidak yakin apakah aku sudah siap atau tidak. Masalah utamanya aku belum menemukan wanita yang membuatku ingin berjuang bersamanya.


Menikah bukan hanya dilakukan untuk sehari tetapi seumur hidup. Harus memilih pasangan yang memiliki tujuan yang sama jika tidak bisa bubar ditengah jalan. Aku tidak menginginkan pernikahan yang seperti itu. Hanya untuk bersenang-senang, sebagai bahan pamer apalagi perlombaan karena patokan usia.


Aku menepis segala macam pemikiran yang mulai mengganggu pikiranku itu dan berjalan mendekati mama.


Sebenarnya, asal aku menerima tawaran mama tentang proposalnya mengenai menantu pilihannya. Aku pasti bisa menikah dalam waktu singkat, mungkin besok pagi, kalau memang memungkinkan.


"Ma ...," kataku datar lalu duduk di sofa berbeda di samping mama.


"Aku juga punya kandidat yang tepat untuk Damar ma" Lani, kakak iparku menambahi dengan semangat. Matanya berkilauan. Dia bahkan lebih bersemangat daripada mamaku sendiri.


"Benarkah...baguslah". Mama tampak menyambut dengan tangan lebar bantuan Lani. Aku penasaran seperti apa perempuan pilihan Lani. Sudahlah, bukan urusanku juga. Aku tak ingin tahu seperti apa mereka karena pada akhirnya aku akan menolak mereka.


"Tidak perlu repot Damar sudah punya pilihan sendiri". Aku berbohong supaya mereka berhenti menjodohkanku. Aku masih cukup mampu memilih calon sendiri. Hanya saja, aku belum menemukan yang pas, klik dihati. Dan aku masih mencarinya.


"Benarkah?" Tanya mama serius. Semua mata tertuju padaku seperti halnya mama yang menatapku lurus. Papa yang baru bergabung dengan kami juga menatapku. Aku tidak bisa mengartikan tatapan matanya. Mungkin dia tahu aku berbohong. Aku menelan ludah dengan paksa.


"Kalau begitu bawa dia kerumah. Mama ingin mengenalnya?" Lanjut mama sumringah. Wajahnya terlihat lebih cerah daripada saat makan malam. Papa juga menatapku, insyarat matanya seolah berkata jangan sampai kau membohongi mamamu. Aku menelan ludah paksa.


Mama menatap papa meminta persetujuan. Aku rasa hanya mereka berdua yang mengerti apa arti tatapan mata itu. Tanpa suara papa duduk di sebelah kanan mama. Papa menyandarkan bahunya di punggung sofa dan tangan kirinya memeluk punggung mama yang bersandar di sofa.


"Mama yakin? Terakhir kali mama berkata seperti itu...." Tanpa aku sadari kalimat itu keluar begitu saja. Aku menyesal mengatakannya setelah melihat wajah muram mama. Aku melirik papa yang duduk disamping mama, menggeleng pelan. Sorot matanya jelas menunjukkan kekecewaan.


"Damar!" Kali ini ayahku yang berbicara sebelum aku menyelesaikan kalimatku. Aku mendesah pelan mengetahui kesalahan dalam memilih kalimat.


Aku tidak bermaksud menyakiti mama. Aku hanya tak ingin mama ikut campur dalam kehidupan pribadiku, terutama urusan perempuan. Alih-alih kisah cintaku.


"Baiklah" aku mengangkat kedua tanganku. Aku rasa aku masih kesal karena kejadian itu. Aku bahkan tak ingin mengingatnya. Terlalu menyakitkan.


Aku berdiri dari sofa dan meninggalkan mereka semua. Papa memberi dukungan kepada mama dengan menariknya bahu mama erat ke dalam pelukannya. Aku tak percaya, bahkan setelah bertahun-tahun menikah mereka masih terlihat saling jatuh cinta. Aku bisa melihatnya, tatapan penuh cinta dari papa.


Apakah aku bisa seperti mereka?


Aku merasa aku tak seberuntung mereka berdua. Tapi tetap saja, aku menolak dijodohkan.


Aku bahkan tidak tahu kenapa aku berbohong. Dan sekarang aku harus menyiapkan kebohongan lagi untuk menutupi kebohonganku karena kebodohanku. Aku harus mencari cara untuk meyakinkan mama. Aku sudah punya pilihan sendiri meski aku belum menemukannya. Setidaknya aku harus mengatakan bahwa aku punya teman dekat terutama perempuan. Teman dekat yang akan membantuku menghindari apapun rencana mama tentang kehidupan cintaku.


Aku rasa aku butuh bantuan dia.


Aku mendarat dengan kasar di kasur. Aku menatap langit-langit kamarku tanpa minat. Aku bangkit dan duduk lalu melirik ponselku yang tergeletak di atas meja kecil di sebelah dipan.


Setelah membuka kunci layar, aku menggeser layar untuk mencari kontak gadis itu. Satu-satunya orang yang bisa membantuku adalah dia. Dan dia harus membantuku.


Setelah menemukan kontaknya, aku menekan tombol panggil. Butuh beberapa saat sebelum saluran tersambung. Aku menunggu beberapa detik sebelum tersambung, namun tak ada jawaban.


Aku mencobanya sekali lagi, sama, tidak ada jawaban. Aku mencoba untuk yang ketiga kali, masih tidak ada jawaban. Mungkin dia sedang sibuk atau... Aku mencoba berpikir positif. Ada banyak kemungkinan kenapa gadis itu tak menjawab telponnya. Aku mencoba menelponnya lagi dan lagi. Masih tak ada jawaban.


Aku menyerah.


Aku menghela nafas panjang. Mungkin aku harus mencari orang lain. Lagi pula dia terlihat sangat belia. Apa yang akan dipikirkan orang tuanya jika dia membawanya pulang dan msngenalkannya sebagai teman dekat. Mama jelas tak akan setuju.  Papa....aku tak tahu apa yang mungkin papa pikirkan jika tahu aku msndekati anak sekolah, maksudku dia terlihat seperti mahasiswi semester 4 atau 6.


Aku yakin usianya tak lebih dari 21 tahun. Tapi, jika aku bisa meyakinkan mama dan papa bahwa cinta tak ada hubungannya dengan usia, mungkin mereka akan mengerti.


Tunggu....apa aku baru saja mengatakan kata cinta. Hal yang paling mustahil atau setidaknya kemungkinannya kecil sekali aku menemukan cinta.


Aku bahkan tak tau seperti apa. Yang aku tahu hanya saling membutuhkan satu sama lain. Apakah itu disebut cinta?


Aku kembali berbaring. Menatap langit-langit kamar untuk kesekian kalinya. Kemudian aku mengangkat tangan kiriku yang sedang memegang ponsel.


Baiklah. Setidaknya aku harus mencobanya terlebih dahulu. Tak ada pilihan lain saat ini.


Aku mencoba menelponnya lagi setelah menunggu beberapa saat, lebih lama dari sebelumnya, Dengan sisa-sisa harapanku. Namun tak ada jawaban, lebih tepatnya tidak tetsambung karena ponselnya tidak aktif. Apa dia itu penipu? Batinku. Aku mulai kesal setelah mencoba menelponnya untuk waktu yang lama. Awas saja. Akhirnya akuu memutuskan untuk mengirim pesan singkat.


Kau lupa sudah menabrak mobilku. Dan sekarang mengabaikan telpon dariku.


Aku mengirimya dan menunggu balasan. Satu menit. Dua menit, tiga menit, lima menit lalu sepuluh menit. Masih belum ada jawaban. Apa mungkin dia hendak melarikan diri. Tapi aku memiliki ktpnya. Tidak berguna. Aku pasti akan menemukannya


Aku mencari dompetku dan menarik KTP miliknya yang aku selipkan di dalamnya.


Bening Cahaya Mentari


Aku tidak percaya.


Aku kembali mengawasi tempat dan tanggal lahirnya. Aku melotot menemukan tahun lahirnya. Jadi dia bukan remaja ingusan seperti dugaanku. Tapi penampilannya....


Aku kembali menatap namanya.


Bening....


Bening Cahaya Mentari


Aku menggumankan namanya beberapa kali. Aku mendapati diriku menyukai nama itu.


Orang tuanya sungguh menamainya bening. Baiklah Nama tidak penting. Aku butuh alamatnya.


Tidak mungkin. Dia bukan orang jakarta asli. Jadi aku akan kesulitan mencarinya. Dia adalah orang jawa. Jawa Timur yang aku tak tahu dimana tempat atau alamat rumahnya berada.


Tidak masalah aku memiliki nomer telponnya. Setidaknya aku masih bisa menelponnya besok pagi. Aku tidak boleh kehilangan harapan. Dia satu-satunya perempuan yang bisa membantuku. No hard feeling. Dan aku hanya butuh bantuannya sekali. Setelah itu mama tak akan menggangguku. Dan aku juga tak akan mengganggu dia lagi.


.


.


.


.


. hai teman2. Damar Pov sampai disini dulu ya....


Menurut kalian bagaimana? Kalian penasaran kah apa yang akan dilakukan Damar? Kira2 Dia berhasill gak nya membujuk bening? Oke tunggu updatenya ya.


Salam sayang


Tsubaki