Damar: Love Is On The Way

Damar: Love Is On The Way
Koper Merah



Bening POV


Aku baru akan mengirim pesan Whatapps ketika bel apartement berbunyi. Damar dengan senyum patennya berdiri di ambang pintu. Sesuai janjinya, tidak, sesuai ucapannya, Damar muncul di depan pintu apartement pagi itu. Ia menarik koper merah mini milikku yang tertinggal di mobilnya. Syukurlah, aku tidak perlu repot-repot mengambilnya.


Ia menyerahkan koper merah itu tanpa suara. Rambut hitam legam nan indah itu disisir rapi dengan sedikit gel yang membuatnya tampak mengkilat. Kemeja putih yang dikenakan membuatnya tampil maksimal dipadukan dengan celana kain abu-abu dan sepatu kulit berwarna coklat tanpa dasi.


"Terima kasih," kataku tulus saat menerima koper merah itu. Satu-satunya koper yang aku miliki. Ia mengedarkan pandang ke dalam apartemenku. Tubuhku tidak cukup tinggi untuk menghalagi mata hitamnya yang penasaran itu.


"Hanya itu, tidak ada teh, kopi atau sarapan mungkin?" katanya masih berdiri menjulang di depan pintu. Manik hitam itu kini beralih menatapku. Aku memutar bola mataku sebagai respon dan berbisik pada diri sendiri 'pamrih'.


"Masuklah, aku sedang sarapan." Aku mengundangnya masuk dan sarapan jika ia tertarik.  Terus menerus mengusirnya juga tidak menyelesaikan masalah batinku tetapi aku juga tidak bisa menerimanya begitu saja. Lelaki ini seribu kali memiliki banyak kelebihan ketimbang diri ini. Aku pun berharap niat lelaki ini benar-benar baik. Apapun niatan itu.


Aku mendesah pelan mengingat kejadian kemarin malam. Jika saja aku tidak terlalu sensitif menanggapi ucapannya dan juga tidak perlu berbohong tentang rencana menikah dengan siapapun yang tidak aku ketahui keberadaannya. Demi Allah, Allah sudah menggariskan siapa jodohku kelak. Jika saja aku tahu masa depanku seperti apa dan aku akan menikah dengan siapa? Hatiku tentu tidak akan bergetar karena keberadaan laki-laki beraroma enak ini. Cih, sekarang aku malah menikmati aroma parfum mahal yang dikenakan itu, membuatku ketagihan.


Kejadian kemarin malam membuatku serba salah. Bagaimana menghadapinya? Aku ingin menjaga jarak tanpa melukai egonya sebagai seorang lelaki.


Jantungku kembali berdebar-debar mengingat kejadian kemarin malam. Ia tiba-tiba mendorongku kemudian menit berikutnya kening lelaki tampan itu sudah menyentuh keningku. Aku bisa merasakan hembusan napas panasnya di wajahku. Aroma tubuhnya yang maskulin itu seperti racun yang menerobos masuk ke dalam hidungku. Meninggalkan rasa candu untuk menghirupnya lagi. Argh ... sepertinya aku kembali berkhayal tentang keintiman kami. Lelaki ini berbahaya. Aku harus menjaga hatiku. Aku tidak boleh menitipkan hatiku padanya apalagi meminta lelaki berhidung bangir ini menjaganya. Terlalu berisiko.


Aku membuka pintu lebih lebar dan menggeser tubuhku, memberi jalan untuk masuk. Damar melangkahkan kaki tanpa suara. Aku menutup pintu hitam di belakangku hingga terdengar bunyi klik.


"Kau memasak sesuatu?" katanya memutar kepalanya menghadapku.


Aku berjalan mantap menuju patry mini yang terletak di ujung ruangan berbatasan langsung dengan kamar tidur tanpa menyahut.


"Emm ... hanya telur ceplok dan roti tawar," kataku milirik piring keramik putih berisi roti dan telur ceplok yang aku tata rapi. Menu sarapan pagi yang paling praktis dan sederhana menurutku. Hanya butuh waktu untuk menyiapkan telur ceplok. "Duduklah!" kataku setelah tiba di meja kecil yang menyatu dengan pantry, meja yang sama, yang aku gunakan untuk makan. Aku membuka lemari kecil tempat aku menyimpan telur. Memasang teflon dan menyalakan kompor dan memberinya sedikit margarin. "Setengah matang atau matang sempurna?"


Aku memutar kepalaku dan menatapnya. Ia balas menatapku. Sebuah senyum simpul terpasang di bibir merah itu.


"Matang sempurna."


"Baiklah, tunggu sebentar,"


Setelah berhasil menggoreng telur, aku menyiapakan roti tawar dan piring di atas meja. Mengambil keju lembaran siap jadi dan membuka bungkus plastiknya.


"Mau tomat? Keju?"


"Keju tanpa tomat."


Aku menata roti tawar di atas piring dan menarik lembaran keju yang aku beli di supermaket beberapa hari yang lalu. Kemudian mengintip telur yang aku tutup dengan tutup panci dan memeriksa tingkat kematangannya. Putih telur sudah memadat sempurna dan kuning telur sudah berubah warna menjadi kuning keemasan. Aku mematikan kompor dan menaruh telur ceplok yang masih panas di atas keju lalu menutupnya dengan. Selembar roti tawar. Awas saja kalau ia berani menyisakan makananku.


"Sudah siap, silahkan," kataku meletakkan piring berisi sarapan versiku. Dan menyodorkan saus botolan yang banyak dijual di supermaket dengan berbagai merk. Mulai tidak ada rasanya hingga pedas.


"Baunya enak," unkap Damar mengendus aroma telur ceplok yang baru saja diangkat dari teflon. Tentu saja enak! Siapa yang tidak menyukai telur ceplok yang digoreng dengan margarin. Bukan saja aromanya tetapi rasanya juga nikmat.


"Tentu saja, telur yang di goreng menggunakan margarin jauh lebih gurih dan enak rasanya."


"Benarkah?"


"Buktikan sendiri!" kataku lalu menarik roti tawar ke dalam mulutku. Aku menggigitnya dengan gigitan besar dan mengunyahnya. Damar pun mengikuti gerakanku.


"Emm ... ini enak!" serunya dengan mulut penuh.


"Air mineralnya ada di sebelah kulkas," kataku menunjuk galon air yang terpasang di atas mesin dispenser.


"Aku ada perjalanan bisnis beberapa hari kedepan," katanya mengumumkan seolah-olah itu berita besar.  Berita dimana aku harus mengetahuinya.


"Lalu ...," kataku enteng.


"Aku tidak bisa mengunjungimu selama beberapa hari," serunya dengan nada gemas. Tidak, mungkin aku salah dengar. Tidak mungkin seorang Damar gemas kepadaku karena itu terlalu mustahil.


"Bagus dong!" seruku sumringah. Aku benar-benar senang jika Damar berhenti mengunjungiku. Aku hanya tidak menginginkan gosip miring karena seorang lelaki sering bertamu. Lelaki yang tidak memiliki ikatan apapun denganku. Ayah bisa mengantungku hidup-hidup jika tahu.


"Bagus?" Damar membeo. Biji matanya membulat. Mungkin telinganya bermasalah hingga membuatnya mengulang ucapanku.


"Iya, bagus dong!" kataku tak bisa menyembunyikan rasa bahagia. Itu artinya aku tidak harus berdebat atau menanggapi setiap kalimatnya. Aku bisa bernapas lega.


"Kau senang, aku pergi?"


"Tentu saja, semoga perjalananmu menyenangkan."


"Terima kasih," katanya tak melepas pandang. "Kau mau oleh-oleh apa?" imbuhnya menawarkan. Mata elang itu menatapku. Ia mungkin sungguh sungguh dengan ucapannya atau aku salah mengartikan tatapan itu.


Aku tahu betapa susahnya mencari terlebih membawa oleh-oleh sepulang melakukan perjalanan. Entah itu berlibur atau perjalan bisnis.


"Tidak usah, jangan merepotkan dirimu," elakku halus. Aku tidak ingin membebani siapapun apalagi Damar. Meskipun, ibu punya prinsip lain. Oleh-oleh tidak akan menganggu karena diangkut oleh kendaraan bukan dipikul langsung. Memang benar tetapi aku tidak setuju. Apapun bentuknya membawa oleh-oleh tetap saja merepotkan. Karena itulah setiap pulang ke desa dan kembali ke Jakarta, aku jarang membawa oleh-oleh yang disiapkan ibu. Kecuali bekal makan.


"Yakin? Tidak menyesal ...," selidiknya.


Tentu saja aku ingin hadiah tetapi meminta pada lelaki yang baru aku kenal dan sok akrab bukanlah gayaku. Aku mungkin mengiyakan tawaran Leon yang sudah kukenal bertahun-tahun yang lalu tetapi ia tak menawariku.


"Hmm ...," sahutku tak berminat. "Kalau sudah selesai, kau boleh pergi," usirku halus. "Jangan marah, aku masuk pagi hari ini," imbuhku membesarkan hatinya. Mungkin aku tidak perlu mengatakan kalimat terakhir yang sama sekali tak berpengaruh terhadap raut wajahnya. Lagi-lagi aku terlalu banyak bicara.


"Apa kau kerja shift?"


"Tidak juga, jam kerjanya fleksibel."


"Fleksibel?"


"Iya,"


"Kau bekerja dimana?"


"Di Ruko Satelit."


"Baiklah, aku juga harus pergi, terima kasih sarapannya," ungkap Damar lalu bangkit dari kursinya.


Aku tersenyum ringan membalas ucapannya. Ia berjalan pelan menuju pintu kemudian memutar kepalanya.


"Jangan nakal, oke?" pesannya sebelum memutar gagang pintu dan menyelinap keluar. Aku memutar bola mataku tetapi lelaki yang memiliki gigi rapi itu tidak dapat melihatnya. Apa menurutnya aku ini anak nakal yang sering membuat khawatir orang tuanya?


"Pergilah yang lama dan jangan kembali lagi," kataku kepada pintu yang tertutup rapat.