
Bening POV
"Bening, aku antar pulang, ya," ucap Leon sore itu ketika aku mencapai ujung pintu. Aku menghentikan langkahku lalu memutar kepalaku dan menemukan Leon berdiri tak jauh dari pintu kantornya. Tas punggungnya mengantung di salah satu bahunya. Aku pikir ia akan menghindariku setelah kejadian memalukan itu. Sebenarnya tidak terlalu memalukan, sih, aku hanya berpikir positif tentang hubungan sehat antara laki-laki dan wanita dewasa. Kalimat itu bukan aku tujukan untuk Leon. Nola saja yang suka ember dan menelan mentah-mentah setiap kalimatku.
"Ada yang ingin aku bicarakan," imbuhnya dengan suara halus hampir tak terdengar. Hanya saja, aku mendengarnya sangat jelas. Ia mengaruk bagian belakang lehernya. Bibirnya naik sedikit membentuk garis lengkung.
"Oke." Aku menarik gagang pintu yang sempat tertunda dan menyelinap keluar. Kantor sudah sepi karena rekan kerjaku sudah pulang lebih dulu kecuali resepsionis yang setia di mejanya. Ia adalah karyawan yang pulang terakhir dan pertama kalinya untuk membuka dan mengunci kantor.
Baguslah, setidaknya aku punya alasan untuk menolak tawaran Damar. Apakah aku harus mengirimkan pesan kepadanya untuk tidak mengirimkan sopir? Mungkin tidak perlu, belum tentu juga ia ingat dengan janjinya pagi tadi tetapi bagaimana jika sopir yang dijanjikannya muncul?
"Mobilku, di sana," aku Leon yang sudah berdiri di sampingku. Aku mengangkat wajahku sedikit untuk menatap wajahnya.
Ia melangkah pelan dangan kaki panjangnya dan aku mengekorinya. Aku menemukan mobil Nissan Juke berwarna merah milik Leon terparkir di pojokan. Sebuah sedan hitam metalik juga terparkir agak jauh, dekat pintu keluar. Seorang laki-laki berseragam hitam bersandar pada mobil itu. Ia melihat kehadiranku dan tersenyum santun seolah-olah mengenalku atau menungguku. Apakah mungkin itu sopir yang di kirim Damar? Aku harus memastikannya.
"Leon, tunggu sebentar, aku harus memastikan sesuatu," kataku. Aku melirik mobil sedan hitam yang terparkir di dekat pintu keluar ruko. Leon mengikuti arah pandangku. Aku melangkah meninggalkan Leon tanpa menunggu jawaban.
"Maaf, pak, ada yang bisa saya bantu," tanyaku sopan ketika sudah dekat kepada laki-laki seumuran ayahku itu. Ia menarik punnggungnya menjauh dari mobil hitam itu dan menegakkan badannya yang mulai membungkuk termakan usia.
"Iya, saya menunggu, mbak Bening," sahutnya dengan kesantunan seorang pegawai setia.
"Damar yang mengirim, Bapak?" tanyaku menebak. Laki-laki yang memiliki rambut paron uban itu mengangguk pelan. Jadi, Damar benar-benar mengirimkan sopir untuk menjemputku. Ia ingat janjinya? Dada menghangat untuk alasan yang tidak jelas.
"Iya, Mbak?" katanya mengangguk pelan. "Pulang sekarang, Mbak?" tawarnya sebelum menggeser langkahnya. Tangan kokohnya yang mulai keriput menyentuh gagang pintu mobil. Menariknya pelan hingga terbuka.
"Maaf, Pak, saya pulang bareng teman," kataku melirik Leon yang berdiri disamping mobilnya. "Bapak pulang saja, biar saya kabari Damar!" jelaaku. Laki-laki tua itu tersenyum kikuk.
"Tapi, Mbak," katanya keberatan. "Pak, Damar bisa memarahi saya," akunya dengan wajah mendung.
"Bapak tenang saja, Damar tidak akan marah, saya juga masih ada kegiatan di luar, kasian bapak kalau nunggu lama," kataku memcoba membujuknya. Tidak mungkin aku membiarkannya menungguku berjam-jam, kasian.
"Tidak apa-apa, Mbak, itu tugas saya," katanya kekeh.
"Ya, sudah, bapak tunggu sebentar, ya! Saya mau kasih kabar Damar dulu."
Aku menarik ponsel pintar di dalam tas selempangku dan menghubungi Damar. Aku berjalan agak jauh supaya ia tak mendengar percakapanku dengan Damar.
"Halo, ini aku," kataku begitu tersambung. "Damar, sopirmu ada di depan rukoku, tapi aku harus keluar dengan Leon jadi aku tidak bisa pulang bersama sopirmu." Tidak ada jawaban. Aku menunggu beberapa detik namun masih tidak ada suhutan. Apa ia tak mengindahkan kalimatku. Aku mendengus kesal sebelum kembali bersuara. "Damar? hei kau masih disana? ya, sudah, aku tutup, tapi ingat jangan memarahi sopirmu, mengerti!" Aku menatap layarnya sekilas sebelum menekan tombol merah. Telingaku mengeluarkan asap tak kasat mata.
Aku menyimpan kembali ponsel hitam milikku ke dalam tas lalu menghampiri sopir yang dikirim oleh laki-laki yang membuatku bersungut-sungut itu.
"Pak, saya sudah menelpon Damar, bapak boleh pulang sekarang," usirku halus.
"Tapi, Mbak ...," protesnya.
"Maaf, pak, tapi, saya harus pergi," kataku kemudian memutar tubuhku dan meninggalkannya.
"Siapa?" tanya Leon. Matanya melewati kepalaku yang tak cukup tinggi untuk menghalagi pandangannya. Ia menatap laki-laki tua yang baru saja masuk ke dalam mobil sedan hitam metalik itu.
"Oh, itu, orang tanya alamat," kataku. Aku tidak tahu kenapa aku berbohong pada Leon. Aku hanya tidak ingin Leon berspekulasi tentangku. Lagi pula ... ah, sudahlah, aku tidak mau pusing memikirkan Damar yang berhasil membuatku kesal. Ini pertama kalinya aku menelponnya dan lihat hasilnya, aku kesal sendiri.
"Kita, mampir makan dulu, ya?" ungkap Leon. Ia membuka kunci otomatis mobilnya sampai terdengar bunyi khas. "Kau tidak keberatan, 'kan?" imbuhnya menatap mataku. Ini pertama kalinya aku melihat manik matanya untuk waktu yang cukup lama. Aku mengangguk pelan sebelum mengikuti langkahnya membuka pintu mobil dan menyelinap masuk.
Setelah menyalakan mesin mobil Leon memundurkan mobilnya pelan lalu memutarnya meninggalkan lapangan parkir kantor. Mobil sedan hitam metalik yang dikemudikan Damar sudah menghilang dari pandangan.
Jalanan sore dipadati oleh banyak kendaraan bermotor. Aku melirik Damar, sial kenapa isi kepalaku diisi oleh namanya. Aku mendesah pelan melirik Leon yang berkonsentrasi pada kemudinya. Caranya mengemudi berbeda dengan Damar. Duh, kenapa Damar lagi? Mungkin karena aku ingin memakinya tetapi aku tak tahu ia dimana? Bahkan ia tak menjawab telpon dariku. Menjawab sih, hanya saja ia membiarkanku mengoceh tanpa memberi sahutan dan itu membuatku kesal.
Tanpa aku sadari mobil yang aku tumpangi berbelok menuju sebuah restoran. Leon mematikan mesin mobil ketika mobil Juke merahnya berhasil terparkir rapi lalu mendorong pelan pintu mobil. Ia menurunkan kakinya lalu menyelinap keluar. Aku mengikuti langkahnya keluar dari mobil.
"Ayo," ajak Leon memasuki restoran. Langkah kakinya yang panjang membuatku harus berjalan cepat.
Leon memilih duduk di tengah ruangan. Satu-satunya meja kosong yang tersisa.
"Kau pesan apa?" tanyanya.
"Aku tidak familiar dengan masakan jepang, jadi terserah kau saja," akuku kepada Leon.
"Teriyaki chicken salad dan ume sashimi mori, dua porsi, ya, mbak," katanya pada pelayan yang memakai apron merah. Pelayan laki-laki itu mencatat pesanan Leon pada buku kecil. "Di tambah ocha," imbuh Leon. Ia mengangguk pelan sebelum menghilang.
"Apa yang ingin kau bicarakan," tanyaku membuka topik. "Mengenai proyek di istora senayan?"
"Bukan," jawabnya kikuk. Ia menggeser tubuhnya untuk memperbaiki posisi duduknya. "Sebenarnya masalah lain," akunya. Aku menagkap satu tangannya menyentuh bagian belakang lehernya. Raut wajahnya juga berubah.
Kedua alisku bertautan. Aku menatapnya tanpa berkedip dan menunggu kalimat selanjutnya.
"Bening, aku menyukaimu," katanya dengan suara lirih. "Aku mungkin, mencintaimu," katanya lagi dengan nada yang sama.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yeay ....
Akhirnya, Leon ngaku juga kalau ia punya perasaan spesial untuk Bening? Lalu bagaimana tanggapan Bening?
Masih ingat, 'kan? Di chapter sebelum-sebelumnya Bening pernah mengungkapkan perasaannya tentang sosok Leon. Masih sama kah perasaan Bening kepada Leon? Lalu bagaimana dengan Damar?
Oke, jangan lupa yah, komen, like dan vote juga. 😍😍😍😍😍
Terima kasih buat pembaca setia yang mendukung karyaku ini. Tetap komen, like dan Vote juga ya😘😘😘.
Thank you full
Nina K.