
Bening POV
Aku, mungkin mencintaimu.
Kalimat sakral yang keluar dari mulut Leon menggema di benakku seperti playlist lagu di dalam mp3. Berulang-ulang. Kalimat itu berputar-putar di kepalaku sejak pertama kali berhasil terbang dari bibir tipis Leon dan mendarat tepat di kepalaku. Otakku mendidih memikirkannya.
Aku ingin tertawa. Akan tetapi aku tak menemukan alasan yang bagus untuk tertawa. Kalimat Leon yang sakral itu terasa mengganjal di hati. Ya, ada sesuatu di sana dan aku tak bisa menemukan kata yang tepat untuk mengungkapkannya.
Mungkin, katanya. Apakah ia tidak yakin dengan ucapannya sendiri? Perasaan macam apa itu? Ada banyak ketidakpastian di sana. Aku menarik napas dan mengeluarkan angin dari dalam paru-paruku dengan satu hentakan. Aku ingin mengeluarkan semua yang mengganjal di hati ini tetapi tidak tahu caranya. Aku harus mulai dari mana?
Ponselku berdering.
'Ca, aku kangen! Nanti kita makan siang bersama ya, di tempat biasa.'
Aku membaca pesan singkat melalui aplikasi hijau dari Jihan. Kebetulan sekali. Aku ingin mendengar suaranya. Curhat lebih tepatnya.
"Kamu kenapa?" Nola mengusikku lagi. Ia menaikkan dagunya sedikit, mengintip lewat mata mikroskopnya pesan yang aku baca sebelum padangannya terpaku pada wajahku.
"Tidak, aku sedang membaca pesan," kataku jujur.
"Masak? Wajahmu seperti melihat hantu saja," lanjut Nola. Apakah wajahku tidak bisa berbohong walau sedikit saja? Kalimat sakral Leon masih mengusikku dan aku harus bagaimana? Andai saja ia punya kemampuan indra membaca pikiran, aku akan menjadi orang pertama yang lari. Aku tidak mau dibaca. Benakku meletup-letup karena kalimat Leon.
Aku mengabaikannya dan mengetik balasan pesan untuk Jihan.
"Kalian mau makan apa?" Karin yang awalnya menatap komputer lipat di depannya angkat bicara. Jam digital yang tertera di pojok kanan bawah laptop menunjukkan pukul dua belas kurang sepuluh menit. Jam makan siang hampir tiba.
"Aku tidak ikut, maaf, aku ada janji," kataku lalu membereskan meja kerjaku dan menyimpan ponselku di dalam tas. Mereka mengawasiku.
"Mau kencan dengan Damar? Atau Leon?" goda Nola. Ia memainkan alisnya dan bertukar pandang dengan Karin.
Damar? Aku bahkan tidak tahu keberadaannya. Terakhir bertemu, kemarin pagi lalu malam harinya ia tidak lagi datang ke apartement untuk menggangguku. Seharusnya aku senang tetapi aku merasakan hal yang aneh. Apalagi jika mengingat percakapanku dengannya. Percakapan sepihak karena laki-laki berkulit indah itu diam membisu. Aku merasakan hatiku tak lagi berdendang.
Leon? Entahlah, perasaan apa yang aku miliki untuknya. Aku pikir aku menyukainya tetapi setelah ia mengatakan isi hatinya, aku malah terbebani. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku tak merasakan getaran yang sama yang membuat jantungku menari bebas seperti saat bersama Damar.
"Damar atau Leon?" desak Nola membuyarkan pergulatan batinku.
"Bukan keduanya."
"Yahhh ... " senyum cerah di wajahnya lenyap seketika.
"Oke, aku pergi dulu, ya, mungkin aku akan kembali sekitar pukul dua siang," kataku mengumumkan.
"Kemana?"
"Senayan."
Aku beringsut dari kursi lalu menarik tas selempang hijau pucat dan menggantungkannya di bahu kiri. Aku berjalan cepat menuju pintu agar mereka tak lagi merangkai pertanyaan yang aku tak punya jawabannya.
Aku melajukan sepedaku dengan kecepatan maksimum dan tiba di senayan city dua puluh menit kemudian.
Setelah memarkir sepeda motor aku dengan mudah menemukan tempat favorite kami. Sebuah kedai makan yang nyaman dan memiliki suasana hangat itu.
"Hai, kamu sudah lama," sapaku begitu dekat dengan bangku yang di tempati Jihan.
"Baru saja," sahutnya sembari mengangkat wajahnya.
"Sudah pesan?" kataku lalu duduk. Aku mengawasi perut datarnya yang terus membuncit seperti buah semangka.
"Yep, seperti biasa."
"Aku ingin tambah es krim," kataku. Es krim adalah moodbooster bagiku selain coklat, tentu saja.
"Kamu ada masalah," selidik Jihan. Ia tahu, aku sering memakan es krim saat sedang kehilangan semangat tetapi tidak semuanya benar. Aku memang penggila es krim.
Aku mendesah pelan untuk kesekian kalinya hari ini. Jihan menatapku dengan mata bulatnya, bibirnya membentuk garis lurus. Ia menungguku mengatakan sesuatu.
"Sebenarnya, Leon ... Dia bilang, 'dia menyukaiku, mungkin mencintaiku' katanya," akuku pada Jihan. Aku ingin tahu pendapatnya. Aku sudah pernah menceritakan Leon pada Jihan. Jihan juga mengenalnya, setidaknya tahu jika Leon pernah menyumbangkan medali emas untuk kampus sebagai atlet taekwondo.
"Lalu ...,"
"Lalu, aku mengatakan apa yang baru saja kamu katakan," akuku jujur. Entah ia mengerti ucapanku atau tidak.
"Maksudmu bagaimana?"
"Jadi, setelah Leon berkata 'Bening, aku menyukaimu, aku mungkin, mencintaimu' aku hanya melongo kemudian berkata 'lalu'."
"Terus-terus," katanya lebih bersemangat. Aku ingin menceritakan detailnya tetapi yang aku ingat hanya kalimatnya yang membuatku terbebani. Lalu perasaan macam apa yang selama ini aku miliki untuk Leon?
"Nabrak!"
"Bukan, maksudku reaksi Leon?"
"Hanya itu?" Aku mengangguk. "Lalu, kamu gimana? Apa responmu." Ia menjadi sangat bersemangat, matanya berkilatan memancarkan cahaya.
"Tidak ada, dia hanya bilang suka padaku dan tidak menayakan perasaanku padanya." Ia menghembuskan napas kecewa.
"Tapi, kamu menyukai si Leon ini, 'kan?"
"Aku tidak tahu ... Aku pikir aku akan senang ketika Leon mengatakan menyukaiku tapi aku malah merasa terbebani. Aku tidak ingin menyakitinya dengan menolaknya sementara dia tidak pernah meminta jawaban. Aku juga tidak bisa menerimanya. Aku tidak bisa mengingkari hati kecilku yang mengatakan bukan ini yang sebenarnya aku inginkan. Aku sendiri tidak tahu perasaan macam apa yang aku miliki untuknya."
"Apa kamu dekat dengan laki-laki lain?"
"Tidak juga," kataku berbohong. Kenyataannya, aku bingung dengan kedekatanku dengan Damar. Kami sama sekali tidak dekat. Hubungan kami sama tidak jelasnya dengan kalimat Leon.
"Mau aku kenalkan sepupuku," godanya. Jihan masih tidak menyerah dengan usahanya. Ia ingin aku menikah dengan sepupunya yang menurutnya tampan itu.
"Aku akan memikirkannya jika dia berniat menikah," kataku asal.
"Aku ragu, kamu benar-benar serius dengan ucapanmu," sepertinya ia menangkap bualan dalam jawabanku.
"Kamu benar, aku tidak mau lari dari Leon, setidaknya sampai aku menemukan jawaban yang membuatku mantap."
"Betul, jangan di php, kasian dia. Bagaimanapun, kamu harus memberikan jawaban meski tidak diminta. Nggak mau ,kan, di cap tukang php." Apakah aku harus memberi jawaban atas kumandang cintanya padaku yang masih berstatus 'mungkin' itu? Jawaban seperti apa yang harus aku berikan sementara aku tidak memiliki jawaban. Aku juga tidak mengerti apa keinginanku sendiri. Aku ingin sesuatu yang pasti tetapi pernyataan cinta Leon mengandung banyak ketidakpastian.
"Jadi, menurutmu aku harus bagaimana?"
"Yang tahu jawabannya hanya kamu! Dengarkan hatimu dan berhentilah mengunakan kepalamu. Ini masalah perasaan."
"Tapi aku harus realistis."
"Realistis logis yang akan membuatmu bahagia."
"Bahagia bukan karena realistis atau selalu logis, tapi karena memang hati bahagia. Tidak ada yang bisa membuat hati bahagia kecuali hati itu sendiri."
"Baiklah, baiklah, apapun keputusanmu, aku akan selalu mendukungmu. Satu yang harus kamu ingat, kalau kamu mencari yang sempurna, kamu akan kehilangan yang terbaik," Jihan kembali mengingatkan. Aku sudah mendengar kalimat itu puluhan bahkan ratusan kali. Apakah Leon yang terbaik?
"Kenapa kalimatmu ini seolah-olah berkata Leon lah yang terbaik untukku. Apa kamu bisa meramal masa depan? Apa kamu melihat Leon adalah jodohku."
"Siapa yang bilang begitu," elaknya. Bibirnya membentuk garis lengkung lalu ia mengelus perutnya yang membesar.
"Tadi itu apa?"
"Aku hanya bilang padamu untuk membuka hati," koreksinya.
"Aku sudah membuka hati," belaku. Aku selalu membuka hati. Aku hanya tidak ingin membuang-buang waktu dengan menjalin hubungan tak jelas hanya untuk menunggu laki-laki mengatakan 'maukah kau menikah denganku, menikahlah denganku, atau jadilah ibu dari anak-anakku'. Aku tidak mau menunggu. Aku bukan halte atau terminal tempat menunggu.
"Iya, membuka saja, tapi tak mengijinkan seorang pun masuk dan mengisinya." Aku harus memutar bola mataku untuk menanggapi ucapan Jihan. Mengisi yang seperti apa? Memangnya galon? Jihan mungkin tidak mengerti maksudku.
"Kenapa kamu terdengar seperti ibuku," candaku.
"Kalau, kamu masih ragu, lebih baik ikuti saranku," lanjutnya dengan suara lirih namun cukup jelas untuk didengar.
"Saranmu yang mana?"
"Bertemu dengan saudara sepupuku dan menjadi istrinya." Sudah kuduga. Pada akhirnya Jihan masih ingin menjodohkanku dengan saudara sepupunya. Gadis keturunan jawa-sunda ini memiliki wajah khas perempuan sunda. Kulit putih bersih, mata indah dan bibir tipis.
"Lagi ...? "
"Iya, aku akan senang menjadi saudaramu," serunya dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. Menampakan deretan gigi yang putih terawat.
"Jadi selama ini aku bukan saudaramu," kataku pura-pura kesal.
"Itu beda, beda di mata hukum," dalihnya. Jihan adalah sahabat terbaik yang aku miliki sejak kuliah. Satu-satunya tempat aku mencurahkan segala macam cerita tanpa takut di jugde. "Makanya, kamu wajib datang ke acara baby showerku minggu depan, maksudku, minggu ini, minggu depannya lagi," katanya memperjelas maksud kalimatnya.
Aku menepuk dahiku sendiri.
.
.
.
Oke, pembaca yang budiman, author mo ngingetin lagi. jangan lupa like, komen dan vote ya😍😍😍😍
thak you all
peluk cium
Nina K.