Damar: Love Is On The Way

Damar: Love Is On The Way
Makan Malam



Halo semua? Jadi gimana pendapat kalian tentang pertemuan kedua Damar dan Bening? Kalian suka? Apa yang akan kalian lakukan kalau berada di posisi Bening? Kasih komen ya biar aku tahu perasaan kalian saat membacanya.


Selamat membaca.


Bening POV


Layaknya pria penyayang dan perhatian di luar sana. Damar menepati janjinya sendiri, menjemputku layaknya pasangan. Meski sempat melakukan debat kusir dengannya, akhirnya, aku menyerah.


Aku memakai tunik putih dengan lengan digulung karena terlalu panjang, dipadukan dengan celana jeans biru pudar dan sepatu flat berwana coklat. Aku rasa pakaian ini cukup sopan. Mengingat Damar mengatakan, aku harus menemaninya makan malam bersama orang tuanya. Aku tidak yakin apa tujuannya? Menurut infomasi yang Damar suguhkan padaku, ia butuh bantuanku agar orang tuanya berhenti mencarikan calon pengantin untuknya. Human shielding. Aku menatap bayanganku di cermin untuk kesekian kalinya. Tidak buruk.


Aku tidak habis pikir kenapa orang tuanya harus mencarikan calon pengantin. Dengan paras eloknya, tidak sulit mendapatkan pasangan. Akan ada banyak gadis yang rela mengantri untuknya. Siapa yang tidak tertarik pada lelaki tampan? Kalau boleh jujur, ia juga menginginkan lekaki tampan yang siap melamarnya tetapi ia tahu dengan pasti modal tampang saja tidak akan cukup untuk membangun sebuah keluarga impian.


Sekarang, aku malah memujinya. Sudahlah, ini terakhir kalinya aku bertemu dengannya. Lagipula,  aku sudah beranji akan membantunya setelah mendapatkan kembali KTP dan SIMku. Aku hanya menepati janjiku sendiri dan menolong diriku sendiri. Damar juga sudah mengembalikan KTP dan SIMku. Setidaknya, ia jujur tentang ucapannya dan setelah malam ini, aku tidak perlu melihatnya lagi. Aku akan menghapus dan memblokir nomornya jika perlu.


Suara dering ponsel membuatku harus menyudahi perdebatan batinku. Aku menemukan ponselku tergeletak di atas meja rias. Aku menariknya dan melihat nama Damar muncul di layar.


"panjang umur," kataku pada diri sendiri mendapati nama Damar muncul di layar. Aku baru saja memikirkannya dan ia menelponku. "Sempurna. Sepertinya kami memiliki ikatan batin," Sial! Aku mendengus kesal pada ponselku yang masih berdering. Aku menempelkan ponsel di telingan kiriku setelah menyentuh tombol jawab.


"Iya?" jawabku setelah sambungan terhubung. Aku menunggu beberapa detik sebelum aku mendengar suara beratnya.


"Aku tunggu di lobi!" lalu sambungan putus. Aku tidak sempat mengatakan apapun. Aku menatap tajam ponselku yang sudah mati layarnya. Aku mengutuknya ,dimanapun ia berada sekarang hanya Tuhan yang tahu. Sungguh menyebalkan. Apa dia berharap aku akan langsung turun setelah mengetahui ia menungguku di lobi? Mustahil, terlalu murahan. Aku mendengus kesal dan meletakkan kembali ponselku di meja rias. Menatap tanjam bayangan kembaranku di cermin, wajah muram itu kurang sedap dipandang.


Aku menatap sekilas ponselku yang sudah mati sebelum menariknya dan menaruhnya di dalam tas. Aku memastikan sekali lagi dadanan tidak terlalu berlebihan atau sebaliknya dan memasang senyum terbaikku. Tampil dengan air muka masam tentu tidak baik.


Untuk terakhir kalinya aku menatap bayanganku di cermin. Aku menggulung lengan tunik yang aku kenakan beberapa kali hingga arloji perakku terlihat.


Aku menarik tas yang berada di samping meja rias dan berjalan keluar kamar. Aku mengambil segelas air minum di meja dapur lalu meneguknya hingga habis dan meletakkannya kembali di meja. Mengingat Damar, emosiku tiba-tiba meluap untuk alasan yang tidak jelas. Aku marah, kesal dan sekarang gugup. Jantungku menendangkan irama tak jelas yang membuatku tak nyaman dan seolah-olah ingin melompat saja.


Aku mematikan lampu sebelum keluar dan memastikan pintu apartemenku terkunci.


Dengan menggunakan lift, aku tiba di lobi dalam waktu singkat.


Aku menemukan Damar duduk di salah satu kursi dan sedang memainkan ponselnya. Selain Damar, hanya ada satpam yang berjaga.


"Ha ... hai ...," sapaku agak canggung. Ia mengangkat wajahnya, menatapku sekilas sebelum menyimpan ponselnya di saku celananya.


"Oh ... hai ...," sahutnya sembari berdiri. "Sudah siap?" Ia menyapukan pandangannya padaku mulai dari ujung rambut hingga kaki lalu kembali lagi dan berhenti di wajahku.


Aku memutar bola mataku sebagai jawaban. Aku sudah berdiri di lobi, di depan hidungnya dan ia bertanya apakah aku sudah siap?


"Menurutmu ...," jawabku asal. Ia tersenyum membalas ucapanku.


Aku mengerutkan alis melihat ia berjalan menuju lahan parkir di bawah gedung. Apa mungkin ... bukankah seharusnya mobilnya di depan lobi? Astaga! Tidak mungkin ia tinggal disini juga?


"Ayo ...," katanya saat tahu aku masih berdiri mematung di tempatku. Aku tersemyum canggung dan mengekori langkahnya menuju pintu samping. Satu-satunya pintu yang menghubungkan lobi dan area parkir di bawah gedung.


Aku melihat mobil yang aku tabrak, tidak, lebih tepatnya, mobil yang tendang untuk melampiaskan kekesalanku terparkir tak jauh dari pintu samping lobi. Mobil macam apa ini .... Apa dia tidak punya selera mobil yang lebih keren seperti mobil sport pada umumnya? Atau mobil keluarga yang enak dipakai. Ini pertama kalinya aku melihat dan menaiki mobil jenis ini. Dari logo di bagian depan aku melihat ada logo Jeep tetapi bukan tipe Jeep yang aku ketahui namanya seperti Rubicon atau Wrangler. Seleranya aneh.


Rekor terbaikku adalah menaiki BMW X5 milik bu Bosku dulu. Mobil bagus rasanya berbeda. Bukan rasa manis seperti gula atau makanan lainnya tapi rasa enak saat mengendarainya. Tidak suara bising mesin atau suara bising kenadaraan lain yang bisa masuk ke dalam mobil.


"Ayo!" sekali lagi Damar memanggilku. Aku banyak melamun sejak bertemu Damar. Aku membuka pintu mobil tanpa menyahut.


Diluar bayanganku, ternyata mobil ini jauh terasa nyaman dari yang aku harapkan. Pantas saja Damar marah saat mobilnya tergores. Tampilan Dashboard-nya elegan dan sporty dengan warna hitam yang mendominasi.


"Pakai sabuknya!" saran Damar saat aku sibuk mengagumi interior mobil. Mungkin jika aku punya uang banyak, aku juga akan membeli mobil seperti ini. Mobil dengan desain interior yang elegan. Aku harus bekerja keras untuk mewujudkannya.


Aku memasang sabuk pengaman tanpa suara. Damar menyalakan mesin mobil dan melajukannya pelan meninggalkan parkiran bawah gedung.


Dari balik jendela, aku bisa melihat langit masih terang dengan warna jingga mulai menghiasi langit sore. Tentu saja, pemandangan indah di luar sana tak mampu mengelabuhi bahwa kota ini tetap saja panas meskipun langit sudah beristirahat dari tugasnya. Menerangi bumi.


Beda sekali dengan desaku. Aku bahkan pernah dan sering mandi dua hari sekali karena dingin. Bukan hanya airnya yang dingin seperti es, bahkan lantai rumah kami juga ikut dingin. Aku selalu mamakai sandal untuk mengusir dinginnya.


Dan sekarang aku merindukan rumahku, ibuku. Ini semua karena Damar. Aku meliriknya sekilas. Pandangannya fokus mengemudikan mobilnya tanpa memedulikanku. Ia bahkan tidak mengajakku berbasa-basi atau apa saja. Tentu saja sikapnya itu berhasil membuat jantungku memanas karena kesal.


Aku harus menelpon ibu setelah ini.


Kalau saja kemarin, aku menerima tawaran Damar. Mobil ini sudah pasti menjadi milikku. Sekarang, aku menyesal mengabaikan tawarannya dan hanya memilih KTP dan SIM tidak berharga ini. Setidaknya harganya tidak sefantastis mobil Damar.


Namun, jika aku menerima tawarannya, percuma saja, aku belum bisa menyetir. Lagi pula, aku .... Jika ibuku tahu aku punya mobil seperti ini, ibuku pasti akan bertanya dari mana dan berapa harganya. Lalu, kalau aku cerita mobil ini dari Damar .... Aku tidak yakin bagaimana reaksi ibuku. Ibuku bisa salah paham. Ibu bisa tertawa bahagia atau bahkan bertanya hal-hal aneh.


Seperti kebanyakan ibu lain di dunia ini, ibuku ingin aku bahagia. Menikah dengan orang kaya adalah salah satu doanya.


Iya nak, ibu doakan kamu dapat suami kaya.


Aku ingat sekali satu kalimatnya itu. Aku rasa, aku mengerti kekhawatiran ibu padaku. Ibu hanya ingin aku tidak berakhir sepertinya. Menikah dengan seniornya waktu kuliah yang sudah menduda dengan satu orang anak dan tinggal di desa.


Kenapa aku malah memikirkan hal tidak penting?


Lagi pula siapa yang ingin menikah dengan laki-laki seperti Damar tetapi aku yakin ada banyak, tampan dan sukses, kecuali sikap dinginnya itu.


Saat aku bertemu dengannya pertama kali, ia seolah-olah ingin memakanku. Aku masih bertanya-tanya kenapa dia tidak melaporkanku ke polisi waktu itu daripada berdebat kusir denganku.


"Sudah sampai," ucapan Damar berhasil menariku kembali dari lamunan liarku. Aku mengamati sekelilingku. Aku mendesah lega setelah melihat mobil Damar berada di halaman rumah seseorang, tapi mungkin .... Aku menggeleng pelan berusaha mngusir bayangan-bayangan menyeramkan di benakku. "Ayo turun" lanjut Damar turun dari mobil. Aku terlalu banyak berhalusinasi.


Aku memberanikan diri sekuat tenaga. Tidak mungkin Damar menipuku. Setidaknya, wajahnya tidak seperti penipu.


Kalaupun menipu apa kamu tahu?


Ada suara lain di kepalaku.


Damar mengetuk kaca mobil dan tersenyum manis saat aku masih belum turun dari mobil. Mungkin aku salah lihat apalagi langit berangsur-angsur menjadi gelap.


Baiklah, tidak mungkin penipu.


Sekali lagi aku menguatkan diri sendiri sebelum turun dari mobil.


Damar tersenyum lembut membuat jantungku menari-nari. Tidak mungkin. Mungkin karena aku gugup. Ya, setiap kali aku gugup, pasti jantungku akan berdetak tak karuan seperti ini.


"Ayo," kali ini Damar mengulurkan tangannya.


"Iya," kataku berjalan mendahului. Aku takut, ia akan memegang tanganku. Mungkin aku terlalu percaya diri. Aku datang ke rumah ini untuk menjadi teman dekatnya, bukan pacar pura-puranya.


Aku tersentak dan berhenti melangkah ketika aku merasakan tangan Damar memegang tanganku. Ya, tangan besarnya mengenggang tanganku. Aliran panas tubuhnya berpindah padaku perlahan dan beehasil membuat pipiku memanas. Ia bahkan belum mengaitkan jari-jemarinya tetapi sudah berhasil membuat gemuruh di dalam dadaku. Ia mungkin takut aku tersesat dan menuntunku.


Aku menatapnya lalu beralih menatap tangannya yang memegang tanganku.


"Aku rasa ini perlu, agar ibuku ...," jelasnya seolah-olah ia dapat membaca pikiranku.


"Kau tahu, orang yang benar-benar saling jatuh cinta tidak ...," Kataku memprotes. Memang benar dua orang yang saling mencintai akan kelihatan auranya meski tanpa berpegangan tangan. Dan aku hanya mengatakan kebenarannya bahwa aku bukanlah orang yang dicintai Damar. Aku datang ke rumah ini hanya untuk menemaninya makan malam bersama orang tuanya. Sebagai teman. Tidak lebih.


Aku mendesah pelan. Kenapa aku merasa sedikit kecewa dengan kenyataan yang baru saja aku ungkapkan sendiri. Ini seperti bomerang.


Damar menatapku sekilas lalu melepas tanganku.


"Baiklah ...," katanya mengangkat kedua tangannya. Aku memutar bola mataku, kesal. "Ayo ...," imbuhnya sebelum berjalan mendahului.


Aku mengekori langkah kakinya. Menepis perasaan apapun yang tiba-tiba muncul. Aku harus melewati malam ini tanpa ada perasaan yang tertinggal. Karena setelah malam ini tidak akan ada lagi Damar. Titik.


Setelah mengucapkan salam Damar membuka pintu rumahnya. Apa dia tidak mengunci rumahnya? Aku bahkan tidak ingat bagaimana kami bisa melewati pagar tinggi itu karena terlalu sibuk melamun.


Aku terpana melihat desain interior rumahnya. Aku belum pernah melihatnya langsung dengan mataku sendiri kecuali di dalam foto. Lampu gantungnya terlihat mewah dan mahal, lalu sofa berwarna biru dan abu-abu terlihat cocok dengan desain interiornya. Aku terlalu sibuk mengawasi interior rumahnya hingga tanpa sengaja aku menabrak punggung Damar.


"Maaf ...," kataku lirih sembari menundukkan kepala malu karena kebodohanku sendiri.


"Ma, perkenalkan ini Bening," ucap Damar sembari menarik lenganku hingga aku berdiri di sampingnya. Aku mengangkat wajahku dan melihat perempuan paruh baya yang tampak anggun mengenakan tunik berwarna putih dipadukan dengan celana kain berwarna hitam.


"Halo, tante, Bening," ucapku sembari mengulurkan tangan.


"Halo, sayang," sambut mama Damar. Aku terkejut saat mama Damar menarikku kedalam pelukannya. Aku terlalu terkejut untuk membalas pelukan hangatnya. "Tante senang, akhirnya bisa bertemu dengamu," lanjutnya menarik jauh tubuhku dari pelukannya.


"Makasih tante ...." Aku memasang senyum terbaik. Aku tak tahu harus berkata apa selain ucapan terima kasih. Aku melirik Damar meminta bantuan.


"Ma ... jangan membuat Bening takut," kata Damar sekenanya. Aku melihat raut wajah ibunya berubah kecewa dan terluka sebelum akhirnya memaksakan sebuah senyum kecil.


"Maaf, ya, sayang, tante terlalu senang," katanya menyesal. Aku tidak tega melihatnya. Bagaimanapun ucapan Damar terlalu kasar kepada ibunya.


"Iya, tante, Bening juga senang bertemu dengan tante." Aku bersungguh sungguh dengan ucapanku. Aku senang bertemu ibu Damar. Untuk alasan yang tidak aku ketahui, aku menyukai wanita ini.


"Ayo yang lain sudah menunggu, tante masak spesial malam ini, masakan kesukaan Damar," ibunya Damar kembali bersuara. "Ayo ...," Ajaknya meninggalkan ruang tamu.


Aku melirik Damar yang berdiri tanpa suara di sampingku. Ia balas menatapku kemudian berkata lirih.


"Ibuku ... kadang terlalu emosional." Aku menunggu Damar menyelesaikan kalimatnya. Namun tidak ada. Setelah ia mengatakan itu. Ia berjalan menuju ruang makan dan meninggalkanku.


Aku segera menyusulnya. Aku tidak ingin ibunya juga salah paham. Entah apa yang Damar katakan pada orang tuanya tentang aku.


Meja makan sudah penuh, saat aku tiba beberapa detuk setelah Damar duduk di kursinya. Ada dua orang laki-laki. Aku rasa itu ayah dan kakak Damar, jika aku tak salah menebak. Setidaknya laki-laki yang duduk di samping wanita muda itu terlalu tua jika menjadi adiknya. Ia menatapku rakus.


Aku tersenyum canggung.


"Duduklah," kata laki-laki tua itu. Kalau dilihat dari parasnya, tidak salah lagi, ia pasti ayah Damar.


Aku mengawasi sekilas, wajahnya tetap terlihat tampan. Sudah jelas bahwa Damar mewarisi gen ayahnya.


"Terima kasih," kataku mengambil posisi duduk di samping Damar.


"Ma, pa, Mas indra, mbak Lani, perkenalkan ini Bening," ucap Damar kepada keluargnya.


"Sebaiknya kita makan dulu, nanti kita ngobrol lagi," potong ayah Damar.


Aku berharap malam ini segera berlalu dengan cepat. Aku tidak ingin di interogasi oleh keluarga Damar.