
Halo semua apa kabar? Semoga sehat dan selalu bahagia, ya. Corona masih ramai di luar sana dan aku hanya bisa berdoa semoga Corona segera menghilang. Semangat!
Bening POV
Pengalaman tadi malam adalah pengalaman pertama bagiku. Aku tidak pernah datang berkunjung ke rumah teman laki-laki kecuali untuk belajar bersama. Itupun sewaktu masih sekolah menegah atas. Setelah kuliah, kerja kelompok dikerjakan di perpustakaan kampus atau cafe sembari nongkrong. Mengobrol kesana kemari yang tak jarang jauh dari materi kelompok ditemani es krim, dan kentang goreng serta aneka junk food lainnya.
Datang ke rumah lelaki yang ia tabrak mobilnya lalu bertemu orang tuanya seolah-olah dekat adalah pengalaman yang pertama. Meski Damar tidak mengatakan aku ini pacarnya kepada kedua orang tuanya, tetap saja aku merasa grogi.
Aku tidak akan melupakan pengalaman luar biasa ini. Yang lebih penting lagi, aku mendapatkan kembali KTP dan SIMku lagi. Aku sangat bahagia.
Akhirnya hidupku kembali normal. Aku kembali tersenyum.
Aku meletakkan kembali KTP dan SIM di dalam dompet. Kejadian malam itu terasa seperti mimpi. Aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya, sulit dipercaya.
Menampik semua perasaan aneh saat memikirkan laki-laki tampan itu. Aku berdiri dari meja kerja dan beranjak menuju ruangan bos.
Aku baru ingat ucapan Jihan waktu itu. Jika tidak mengatakan masalah resign hari ini, berarti harus menunggu hingga hari senin. Terlalu lama. Aku mungkin akan kehilangan keberanian.
Setelah mengetuk beberapa kali dan mendengar suara masuk, aku mendorong pelan pintu kaca di yang membatasi ruangan.
"Hai, duduklah," ucap Leon begitu melihatku diruang kerjanya. Aku mengenal lelaki jangkung berkulit kuning kecoklatan ini sejak kuliah. Meski berbeda, jurusan tetapi kami sering bertemu saat kegiatan non akademik. Lelaki berambut ikal ini adalah pelatih taekwondo sewaktu masih kuliah. Sekarang, aku sudah berhenti, sementara Leon tetap melatih juniornya. Aku iri pada passion yang dimiliki.
"Kau sibuk?" tanyaku mengamati meja kerja Leon dipenuhi dengan kertas. Sebuah pena hitam metalik menhiasi jari.
Leon tersenyum ringan dan mengangkat wajahnya hingga mata hitam itu menatapku. "Untukmu, aku tidak pernah sibuk," godanya. Pipiku memanas. Andai Leon tidak menggoda seperti ini setiap hari, aku pasti sudah memilihnya untuk menjadi lelakiku. Hanya saja, dia tidak pernah serius dengan ucapannya, hampir semua karyawan perempuan digoda. Nampaknya itu bisa membuat Leon bahagia. Lelaki berlesung pipi itu terlalu baik kepada setiap wanita. Sulit membedakan mana yang hanya bercada atau serius.
Aku tidak akan tahan jika memiliki kekasih yang baik kepada semua wanita. Baiklah mungkin aku sedikit posesif tapi siapa yang tidak akan cemburu jika kekasihnya juga baik dan perhatian kepada wanita lain? Dan tentu saja setiap wanita ingin punya kekasih yang baik dan perhatian hanya untuknya.
"Ada apa?" Katanya lagi membuatku harus menghentikan lamunan konyol yang mulai menggelayuti. Wajahku kembali memanas ketika Leon mengawasi dengan tatapan yang biasa aku dapatkan. Seolah-olah tatapan itu hanya untukku. Andai saja itu benar.
"Aku .... Sebenarnya aku ingin resign," kataku tanpa mengalihkan pandang. Aku melihat keterkejutan di wajah Leon kemudian swbelum menata kembali air mukanya.
"Berhenti?" Aku mengangguk pelan menjawab pertanyaan Leon. "Kenapa? Apa kamu ada masalah? Kamu tidak menyukai pekerjaannya? Atau masalah fee nya?" Leon memborbardirku dengan pertanyaan. Aku hanya menatapnya tanpa suara.
Aku kehilangan kata-kata yang sudah aku susun rapi sebelum menemui Leon.
"Kalau ini soal fee ...," ungkap Leon hati-hati. Manik hitamnya tak melepaskanku.
"Tidak, bukan itu," kataku cepat, memotong ucapan Leon. Leon mengawasiku lekat-lekat. Aku tahu, aku harus memberi penjelasan atas keputusanku ini. "Aku hanya ingin mengembangkan diri," kataku ambigu.
"Baiklah," katanya menyerah. Ia memaksakan sebuah senyum kecil di sudut bibirnya. "Kalau itu memang impianmu, aku hanya bisa mendukung dan memberimu semangat," Imbuhnya tulus.
"Makasih Leon, i love you," kataku spontan. Aku menutup mulutku seketika setelah menyadari apa yang baru saja terucapkan. Aku melihat Leon tersenyum dalam dan pipiku kembali memanas.
"I love you more," balas Leon sembari tersenyum riang. Rasanya aku ingin menghilang. "Bagaimana jika pergi menonton film setelah pulang kantor?" tawar Leon.
"Emmm ... "
"Anggap saja ini salam perpisahan, kamu harus mentraktirku karena mendapat pekerjaan impianmu."
Aku tidak langsung menyetujui tetapi menolaknya juga tidak mungkin.
"Baiklah, sepulang kantor," kataku menyetujui ajakan Leon.
"Satu lagi," kata Leon saat aku hendak beranjak dari tempat dudukku. "Proyek Jakarta bisnis expo di senayan 3 minggu lagi kamu tetap harus menghandelnya". Leon kembali mengingatkan proyek yang aku tangani. Aku baru ingin membuka mulut ketika leon kembali bersuara. "Aku tidak mau orang lain yang menghandelnya," imbuhnya dengan tegas.
"Baiklah, serahkan padaku,"
"Bantu aku mencari seseorang yang bisa membantu pekerjaanku disini," katanya. Jari-jari panjangnya mulai merapikan berkas yang tengah diteliti. "Jika kamu tidak betah, aku selalu siap menerimamu," katanya lagi. Apa Leon berharap aku tidak betah.
"Doakan saja, aku betah." Aku menyunggingkan senyum terbaikku. Aku harap pekerjaan baru itu menyenangkan.
"Tentu, dan kalau kamu ingin kembali padaku jangan sungkan"
"Kurasa, aku harus kembali bekerja," kataku menyudahi obrolan. Kalau di teruskan Leon bisa bercerita panjang lebar lagi. Dan tentu saja tak luput mengodaku.
Kembali padanya? Apa maksudnya? Dia benar-benar tahu caranya membuatku jengkel dan malu secara bersamaan. Sikapnya membuatku bingung. Aku tidak akan kembali ke kantor ini ataupun kepada Leon. Janjiku.
Seperti kesepakan siang itu, aku dan Leon pergi bersama untuk menonton film di bioskop di salah satu mall terbesar di Jakarta. Setelah berdebat antara menonton film animasi dan action, akhirnya Leon sepakat untuk menonton film animasi. Bersyukur, film animasi pilihanku itu menyajikan cerita yang menarik. Jika tidak, aku pasti malu karena sudah menyarankan kepada Leon.
Usai makan menonton, kami pergi makan di salah satu restoran jepang yang ada. Restoran Jepang membuat pikiranku melayang kepada pemilik mobil Jeep yang sengaja aku tendang. Argh ... kenapa wajah menyebalkannya terbayang di benak. Mungkin karena aku terlalu kesepian dan mulai berhalusinasi tentang banyak kemungkinan yang mungkin terjadi dimasa depan.
'menjadi pacarnya, begitu?'
Sebuah pertanyaan muncul di benak. Membayangkan saja tidak peenah.