Damar: Love Is On The Way

Damar: Love Is On The Way
Lapar



Damar POV


Langit malam berwarna abu-abu itu menyesakkan mata siapa saja yang memandang tanpa cahaya rembulan maupun gemerlap bintang. Langit yang sama, langit yang selalu aku lihat setiap harinya itu sangat tidak menarik. Jauh berbeda dengan gambaran langit yang disajikan oleh kebayakan buku astronomi.


Aku berjalan menyusuri lorong gedung apartement. Lampu-lampu penerangan yang setiap tiga atau empat meter menyala menggantikan sinar matahari. Aku berhenti di depan pintu apartemen nomer tujuh ratus lima belas. Tanpa aku sadari, kaki ini melangkah menuju apartement Bening. Kami tinggal di gedung yang sama tetapi beda lantai. Jika Bening tinggal dilantai tujuh, aku tinggal di lantai sebelas. Aku tak pernah mengetahui keberadaan gadis tengil itu sampai kecelakaan kecil itu terjadi.


Pintu bercat hitam itu tertutup rapat. Aku menekan belnya setelah sepersekian detik melamun. Tidak ada jawaban. Aku mengulanginya lagi, sama tidak ada jawaban. Aku mengulagingya lagi dengan tempo lebih cepat karena gemas. Apa gadis tengil itu belum pulang? Tidak mungkin mengingat arloji perak yang aku kenakan di lengan kiri menunjukkan pukul tujuh lewat. Aku kembali menekan bel pintu dengan gemas. Aku tak ingat berapa banyak aku menekannya. Aku menekannya hingga jemariku terasa pegal.


Pintu terbuka, menampilkan sosok yang aku cari merengut kesal. Ia membuka sedikit pintunya dan menatapku bengis.


"Apa kau tidak bisa membaca situasi? Kalau kau menekan bel berkali-kali lalu tidak ada sahutan, ada dua kemungkinan. Pertama, tidak ada orang di rumah, lalu yang kedua, orang yang kau cari sedang malas bertemu denganmu." Ia mengatakannya tanpa jeda lalu memutar bola matanya dan menatapku dengan kesal. Pipinya memerah karena marah. Sosok yang sama yang menabrak mobilku beberapa waktu lalu berdiri di depanku kini bertanduk. Kedua tangannya dilipat.


"Kurasa tidak demikian," kataku. Ia memutar bola matanya sekali lagi. Ia punya kebiasaan memutar bola mata saat tidak menyukai sesuatu. Gadis liar ini harus belajar mengendalikan emosinya.


Tubuh rampingnya di balut dengan kaus oblong putih yang menutupi hampir separuh badanya dipadukan dengan celana denim pendek berwarna abu-abu. Kakinya telanjang tanpa mengenakan alas kaki. Kaki panjang yang tidak terbungkus kain itu menyita sebagian besar perhatianku.


"Ada apa?" ucapannya berhasil menarik pandanganku dari kulit mulus kaki yang terbuka itu menuju wajahnya. Nadanya ketus. Kedua tangangnya masih dilipat. Ia memblokir pintu masuk yang terbuka separuhnya.


"Sebaiknya, aku masuk?" Aku mengintip apartemennya yang terang benderang oleh cahaya lampu.


"Katakan saja apa yang kau inginkan," katanya memblokir pintu yang terbuka separuhnya. Satu tangannya kini memegang pintu. Aku kembali menatap bola mata coklat itu. Manik kecoklatan yang jarang dimiliki oleh sebagian besar warga Jakarta. Aku pernah melihat mata yang sama milik petani sayur yang tinggal di dataran tinggi. Mata yang indah.


"Tidak baik berbicara di depan pintu,"


Ia memutar bola matanya sekali lagi tetapi tidak berkomentar dan membiarkan aku masuk. Ia menutup pintu di belakannya dan melipat kedua tangannya di dada. Tubuh rampingnya yang tidak lebih dari seratus enampuluh sentimeter itu memberi kesan dominan dengan pose itu. Sayangnya itu sama sekali tidak berpengaruh.


"Apa kau tidak mau mempersilahkan aku, duduk?"


"Tidak!"


"Kopi?"


"Aku tidak minum kopi."


"Makan?" Gadis berkaus putih ini melepas lipatan tangannya. Ia mengeratkan gigi-giginya menahan amarah.


"Damar! Kalau hanya ingin makan, kau bisa kembali ke apartemenmu dan memesan makanan yang kau inginkan. Sekarang, pergilah! Aku sibuk."


"Apa kau akan membiarkan pria tampan sepertiku pingsan karena kelaparan padahal di meja ada makanan sebagai ucapan terima kasih karena sudah menjemputmu," dalihku sembari melirik hidangan makan malam di meja yang terletak di sudut ruangan.


"Itu makan malamku, aku yakin makananku tidak cocok denganmu," katanya dengan nada ketus. "Perhitungan sekali!" imbuhnya dengan suara lebih lirih.


"Bagaimana kau bisa seyakin itu?" Ia mengangkat bahunya. "Setidaknya kau harus membiarkanku mencicipi makananmu," bujukku. Ia memikirkan sesuatu kemudian menghadiahiku tatapan pasrah.


"Terserah kau sajalah ... "


Ia berjalan menuju patry yang terletak di samping ruang tamu tanpa sekat. Aku mengekori langkahnya menuju meja makan yang hanya memiliki dua kursi. Bening membuka lemari kecil dan mengeluarkan piring keramik putih beserta sendoknya.


"Aku tidak perlu menyendokkan nasinya, 'kan?" sindirnya. Ia meletakkan piring dan sedok yang baru saja di ambilnya di depanku kemudian menarik kursi kosong di sampingku.


"Aku tidak keberatan jika kau mau melakukannya," godaku.


Ia memutar bola matanya tetapi tidak beekomentar.


Aku menyendok sendiri nasi yang berada di dalam rice cooker mini miliknya. Ada tumisan kembang kol dicampur dengan jamur kuping serta potongan danging ayam. Aromanya sangat harum, seperti masakan mama. Sambal, lengkap dengan tahu dan tempe serta krupuk yang disimpan di dalam wadah.


"Kau sering masak?" tanyaku mencoba mencaikan suasana. Ia mengalihkan padangan dari piring menuju wajahku. Menarik napas pelan dan menghembuskannya.


"Iya, hemat dan lebih bersih!"


"Aku tidak tahu kau bisa masak?"


"Tidak ada alasan bagimu untuk tahu!" kalimatnya ketus. Gadis tengil ini memang ketus, wajahnya tidak bisa berbohong.


"Ini enak!" pujiku setelah berhasil mencicipi masakannya. "Kau belajar dimana?"


"Jadi, apa nama masakanmu ini?"


"Tidak ada." Ia mengangkat bahunya sementara matanya menghindari tatapanku.


"Apa kau punya rahasia lain?"


"Rahasia?" katanya membeo. Ia mengangkat wajahnya dan memdesis kesal. Ia lebih sensitif dari yang aku duga.


"Iya, apa saja tentang dirimu selain tempramentalmu yang menonjol!"


Ia memutar kepalanya dan mendengus kesal.


"Kau datang kesini untuk mencari gara-gara?" suranya lebih keras dan sedikit beramarah. Aku mengangkat kedua tanganku sebagai respon."Selesaikan makananmu dan pergilah dari sini secepatnya!" imbuhnya dengan nada rendah. Bagus! Aku berhasil membuatnya kesal dalam waktu singkat.


"Bening, aku kesini karena aku ingin kita bisa berteman."


"Maaf, aku tidak bisa!" Ia langsung menolak niat baikku. Ada apa dengan gadis ingusan ini? Tidak, Bening bukan lagi gadis ingusan seperti dugaanku, memasuki usianya yang ke dua puluh empat tahun ini, ia seharusnya sudah bisa mengendalikan emosinya itu. Sial! Aku bahkan ingat hari ulang tahunnya yang jatuh pada bulan april tanggal tiga belas. Dua bulan dari sekarang.


"Kenapa? Apa karena laki-laki itu?" Aku menatapnya dan mengepalkan tinju dan mengeratkan gigi-gigiku.


"Kita tidak bisa menjadi teman, tidak ada laki-laki dan perempuan yang bisa berteman kecuali menginginkan sesuatu," katanya tajam. Matanya menyorotkan kebencian sebelum mata coklatnya berkabut, ada luka disana. Pasti ada alasan kenapa gadis ini menolak pertemanan yang aku tawarkan. Ucapannya memang benar, aku tidak tertarik menjadi temannya tetapi ada hal lain yang membuatku ingin mengenalnya. Mungkin mata coklatnya yang berapi-api itu yang menarik minatku.


"Aku ... "


"Jangan mengangguku lagi, aku akan segera menikah?" imbuhnya kembali mengusirku secara tidak langsung.


"Menikah? Dengannya?" Suaraku lebih keras dari yang seharusnya. Aku tidak percaya! Gadis ini sedang berbohong, ia mengatakannya tetapi tak berani menatap mataku.


"Kalau kau sudah selesai pulanglah,"


"Aku hanya ingin berteman ... "


"Aku tidak butuh teman!" kata-kata kejamnya seoalah-olah tamparan. Aku berdiri detik itu juga hingga kursi yang aku duduki jatuh dan menimbulkan suara gaduh.


Tubuh kurusnya tersentak karena terkejut. Ia menatap piring bisu di depannya. Aku menarik lengannya dengan satu sentakan hingga ia berdiri dan memaksa mata coklat indah itu menatapku.


"Apa kau selalu mengusir tamu yang datang ke rumahmu?" Ia berusaha melepaskan diri dari cengkramanku namun sia-sia. Aku mengeratkan cengkramanku dan membuatnya mengeryitkan dahi menahan rasa sakit.


"Damar, kumuhon pergilah dan jangan ganggu aku lagi," sorot matanya memelas. Ia berusaha menarik lengannya tetapi aku masih mencengkramnya kuat.


Tubuhnya bergetar, dadanya naik turun. Ia seperti anak kucing yang ketakutan. Sial! Aku tak ingin membuatnya takut atau menyakitinya tetapi aku kehilangan kendali terhadap emosiku.


Aku mengendurkan cengkraman tanganku dan ia menghempaskan tanganku dengan kasar sebelum berlari menuju pintu, lalu membukanya. Ia berdiri di sana dengan gusar. Ia menatapku sekilas sebelum membuang muka.


Aku melangkah pelan menghampirinya. Ia terlalu fokus dengan pikirannya sendiri hingga tak menyadari jarak kami yang tertutup.


Aku mendorong tubuhnya pelan hingga punggungnya menatap tembok lalu memenjarakannya dengan kedua tanganku. Bening menundukkan kepalanya sementara dadanya naik turun.


"Bening ... " kataku lirih. Ia mengangkat wajahnya perlahan hingga mata kami bertemu. Kami beradu pandang sepersekian detik sebelum ia membuang muka. "Apa kau takut padaku?"


Ia menggeleng pelan tetapi sorot matanya berkata lain. "Maafkan aku," kataku kemudian menundukkan wajahku hingga kening kami bertemu. Aroma sampo yang dipakai memenuhi hidungku. Aku menghirup rakus aroma yang menyenangkan itu. Aku mengepalkan tanganku untuk menahan amarah. Entah berapa lama kami berada diposisi ini. Perlahan Bening kembali tenang, tubuhnya tidak lagi bergetar dan lebih rileks.


"Aku akan kembali besok!" kataku lebih lirih. Aku meletakkan tangan di atas kepalanya dan mengelus ubun-ubunya untuk menenangkannya. "Bye!"


🌸🌸🌸


Halo semua, eh udah tahun baru aja nih πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰ semoga di tahun yang baru ini kita diberikan iman dan kesabaran yang semakin baik dan kuat ya. Aamiin.


Btw, jangan lupa komen dan like ya, vote juga biar aku tambah semangat nulis ceritanya. 😍😍😍😍


love you all


Nina K.