
Bening POV
"Apa yang dikatakan Leon?" selidik Nola begitu kami duduk di salah satu kursi di ujung ruangan salah satu restoran fast food yang letaknya tak jauh dari Ruko. Waktu makan siang telah tiba. Cacing-cacing di dalam perutku meronta-ronta ingin makan sesuatu yang segar.
Aku menatap Nola tanpa suara. Apakah ia tidak capek mengurusi urusan orang lain? Seperti reporter majalah dan berita gosip saja.
"Apa akhirnya dia melamarmu?" katanya lagi ketika aku tidak menjawab. Aku menahan diri untuk tidak memutar bola mataku. Hidungku mengembang saat angin keluar dengan kasar.
"Maaf harus membuatmu kecewa," kataku.
"Lalu, apa yang kalian bicarakan?"
"Ada deh, rahasia," godaku.
"Kalian memang dekat, 'kan?" giliran Dani yang bertanya. Aku menahan diri agar tak memutar bola mataku, lagi. Karin yang duduk di samping Nola menganggukan kepalanya sebagai tanda setuju. Begitu juga dengan Nola. Mereka semua menunggu dengan sabar untuk mengatakan sesuatu.
"Iya, tentu saja, aku karyawannya." Wajah mereka berubah, jelas bukan jawaban yang ingin mereka dengar. Aku tidak pernah berharap jika Leon punya perasaan spesial kepadaku. Yah, jawabannya sederhana, karena aku tidak mau capek-capek memikirkannya. Aku tidak punya waktu untuk mengurusi hidupnya dan ingin tahu apa saja yang dilakukannya. Aku tidak ingin membuang-buang waktu hanya untuk memikirkan Leon yang tidak ada sangkut pautnya denganku sedikit pun. Ia bukan saudara atau pasangan resmiku.
"Jangan pura-pura tidak tahu," desak Nola. "Pura-pura hidupnya di laut!"
"Kura-kura," koreksi Dani dan Karin. Mereka mengatakannya secara kompak.
Kami tertawa bersama.
"Apa aku ketinggalan berita lain yang tak kalah heboh?" Nola menatap Dani dan Karin bergantian. Hidungnya seolah mencium bau rahasia. Apakah rahasia memiliki bau khas? Aku menggeleng pelan melihat tindak tanduk Nola.
"Heeeiii ... tidak ada rahasia!" tolak Karin histeris. "Aku dan Dani tidak berkencan," lanjutnya kemudian rona di wajahnya berubah menjadi merah jambu. Bukan karena blush on yang dikenakan tetapi sesuatu yang lain yang memicu warna tersebut.
"Aku tidak mengatakan kencan," bela Nola seolah-olah ia tidak memancing apapun dengan ucapan sebelumnya.
"Iya, tapi pertanyaanmu menjebak?" dengus Karin. Sementara Dani duduk tanpa suara. Raut wajahnya tak berubah.
"Kalau kalian berkencan, aku ikut senang," kata Nola.
"Tidak," mereka menjawab bersamaan. Kami tertawa lalu saling lempar pandang. Karin duduk gusar di kursinya sementara Dani duduk anteng seolah-olah tidak terjadi sesuatu.
"Jadi, kalau Leon tiba-tiba melamar bagaimana?" lagi-lagi Nola bertanya hal yang menurutku tidak penting. Aku harus menahan diri untuk tidak menjambak rambut hitamnya yang sengaja di buat bergelombang. Ia menatapku nyalang menanti jawaban.
"Tidak mungkin!" elakku keras. Aku tahu siapa Leon, tidak mungkin ia tiba-tiba melamar. Aku tidak punya kemapuan untuk membaca pikiran orang lain, tentu saja aku tidak tahu apa isi kepala Leon. Bukan urusanku juga.
"Aku sudah memberinya kode tadi pagi," kata Nola mengingatkan kejadian pagi tadi. Kejadian memalukan saat ia mengatakan pada Leon bahwa aku menunggu dilamar. Aku ingin menyumpal mulut ember Nola dengan plastik kedap suara sehingga suaranya tidak terdengar oleh siapapun. Ucapanku hanyalah doa karena aku kalau boleh jujur akan sangat senang jika dilamar. Wanita mana yang tidak bahagia dilamar?
"Tidak akan!" kataku lebih tegas.
"Seumpama?" Dani ikut bicara. Nola dan Karin mengangguk secara bersamaan. Tidak pernah terlintas di benakku kata 'seumpama'. Aku tidak mau berandai-andai.
"Entahlah, nggak kepikiran kesana, kalian tiba-tiba tanya?"
"Yah, kamu ini nggak seru!"
"Biar seru pesan dulu, aku sudah lapar nih," kataku menggeser topik pembicaraan.
"Iya, aku juga laper," sahut Karin.
"Kalian pesan apa?" Tanya Dani.
"Es krim, chicken snack wrap, spicy chicken bite, dan humberger," kataku. Aku ingin makan yang banyak. "Apa?" kataku pada Nola dan Karin yang menatapku dengan mata bulatnya.
"Kau yakin, mau pesan itu semua?" Nola mewakili bertanya.
Aku mengangguk. Aku ingin melampiaskan kekesalanku pada makanan-makanan itu.
"Aku pesan double cheeze burger dan iced tea,"
"Aku nasi uduk komplit dan sundae,"
"Oke," sahut Dani lalu bangkit. Ia berjalan menuju meja kasir untuk memesan pesanan kami. Aku meliriknya sekilas sebelum kembali fokus kepada Nola juga Karin.
"Kamu, kecil-kecil makannya banyak, perutmu banyak gelandangannya, ya?"
"Tapi, beneran, kamu sama Leon nggak ada sesuatu gitu?" Karin kembali mengusung judul yang sama 'Leon dan Hubungannya denganku'. Kali ini aku berhasil memutar bola mata.
"Kalau kamu suka pada Leon nanti aku bantu," godaku. Wajahnya berubah warna.
"Hush, Dani mau dibuang kemana?" seloroh Nola.
"Kami tidak punya hubungan spesial," elak Karin. Ia mengangkat wajahnya, pandangannya lurus pada sosok yang berdiri di belakangku.
Suara langkah kaki terhenti, Dani berdiri di sampingku dengan sebuah nampan di tangannya. Seorang pelayan wanita berseragam hitam berdiri di belakangnya. Ia membawa nampan yang sama kemudian meletakkannya di atas meja.
"Terima kasih, Mbak," aku mewakili.
Dani meletakkan nampan berwarna hitam itu lalu duduk.
Aku menarik es krim pesananku tanpa diminta dan menyedoknya satu sendokan penuh sebelum memasukkannya ke dalam mulut.
Topik yang kami bicarakan sebelumnya tenggelam. Topik berganti pada proyek di istora senayan dua minggu lagi.
"Aku penasaran siapa teman Leon yang ingin menyewa stand di pameran nanti?" ungkap Nola.
"Kepo!" Dani berkata cukup keras dan membuat beberapa pasang mata menoleh.
"Pebisnis pastinya," sahut Nola. "Apa kamu tahu, Ning," imbuhnya.
Aku menghembuskan napas dari hidung, layaknya banteng. Nola ...
"Mana kutahu!" sahutku sedikit sewot.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf ya gaes, baru bisa update sekarang. Oh iya aku ikut berduka atas kecelakaan pesawat sriwijaya air beberapa waktu lalu. Semuanya sudah ditakdirkan oleh Allah. Semua yang bernyawa akan merasakan mati. Dan tidak akan ada yang bisa menolak maut meskipun kamu bersembunyi di dalam benteng yang kokoh jika maut sudah datang menjemput. Pesanku satu, buat diriku sendiri terutama dan teman-teman semuanya. Tetaplah menjadi baik dan selalu berbuat baik dimana pun dan kapan pun. Karena suatu hari nanti kita akan bertemu orang baik atau di temukan orang baik. Fighting!
Oke, setelah membaca kisah Bening diatas gimana pendapat kalian?
Jangan lupa komen, like dan juga vote ya!
Terima kasih buat kalian yang setia mendukung cerita ini. Looove youuu fulll. 😘😘😘
Salam hangat
Nina K.