Damar: Love Is On The Way

Damar: Love Is On The Way
Makan Bersama



Bening POV


Aku putuskan untuk pulang lebih awal. Persiapan Bisnis Expo tinggal sedikit lagi, setidaknya lima persen atau lebih sedikit.


Ponselku berdering.


"Kau sudah pulang? Aku akan menjemputmu?" tukas Damar begitu aku menempelkan ponsel di telinga kiri. Apa menurutnya aku tidak bisa pulang sendiri? Laki-laki menyebalkan itu lupa jika aku membawa motor matik ke kantor. Apa ia akan memasukkan motor matikku ke dalam kantong celananya setelah di kecilkan dengan senter pengecil milik Doraemon? Apa ia adalah Nobita yang sedang menyamar. Seenaknya sendiri saja.


"Aku dalam perjalanan pulang," kataku berbohong menahan sedikit kekesalan yang terselip di dada. Kalau boleh jujur, aku ingin menyembur langsung muka dengan senyum patennya yang sudah melekat di benakku. Ia tidak akan tahu aku berbohong, 'kan?


"Benarkah? Lalu kenapa kamu menerima telpon dariku," katanya. Ia cukup cerdas rupanya. Ya, tetapi aku tidak akan mengatakan jika saat ini aku sedang berdiri di depan meja kerjaku, merapikan beberapa lembar buku dan menyimpan laptop di laci meja.


"Ya, aku berhenti dulu."


"Baiklah, sampai ketemu di apartemen."


Sambungan terputus sebelum aku sempat protes. Sampai ketemu di apartemen? Apartemen siapa? Oh, aku lupa jika Damar juga penghuni Holywood Residence. Aku baru menyadari keberadaan laki-laki beraroma tubuh enak itu setelah menabrak mobilnya, tidak, ia yang menabrak motorku. Kemudian sebuah tanduk transparan tumbuh di kepalaku saat ia memojokkanku. Hasilnya, aku menendang bumper mobil mahalnya itu sebagai pelampiasan adrenalin yang terlanjur tinggi. Tidak sampai penyok. Akan tetapi berhasil membuat Damar berang seperti beruang lapar.


Mengingat kejadian itu aku menjadi kesal sendiri.


Laki-laki itu benar-benar membuat ubun-ubunku panas. Apa ia pikir aku akan menerimanya di apartemenku begitu saja karena ia mengatakan perasaannya padaku. Enak sekali. Aku tidak akan membiarkannya mengacaukan kepala dan hatiku lagi. Titik.


Aku menarik tas punggung berwarna merah kemudian menyelipkan ponselku ke dalam ransel itu. Mematikan lampu melalui saklar yang terpasang di dinding. Seperti biasa, aku pulang lebih lambat dari teman-temanku.


Tina, resepsionis yang setia berjaga di meja depan tersenyum manis saat melihatku.


"Pulang terakhir lagi, Mbak?" tanyanya begitu jarak kami dekat. Aku mendekati mejanya dan mengintip pekerjaannya.


"Kamu sendiri, nggak pulang?"


"Nunggu, mas Leon, katanya mau balik ke kantor lagi."


"Oh, ya sudah, saya pulang duluan, ya," pamitku kemudian meninggalkan Tina.


Langit berubah warna menjadi oranye ketika aku menyelinap keluar dari pintu kaca menuju halaman parkir. Hanya ada beberapa kendaraan yang masih terparkir di sana. Beberapa kantor di ruko itu juga sudah terkuci rapat.


Aku menghirup dalam-dalam udara hingga dadaku mengembang kemudian menghembuskannya perlahan. Setelah ini aku masih harus bertemu Damar atau aku pura-pura lupa saja. Ya, begitu mungkin lebih mudah. Aku belum siap bertemu dengannya lagi setelah kejadian tadi malam. Memikirkannya saja membuat dadaku bergetar. Aku sekarang seperti orang berhutang yang takut di tagih untuk membayar.


Mengabaikan semua pikiran liar yang perlahan menyusup, aku putuskan langsung pulang dan berdoa semoga Damar lupa atau setidaknya aku bisa menghindarinya malam ini.


Sepertinya doaku belum dikabulkan karena ketika aku tiba di apartemen empat puluh lima menit kemudian. Aku melihat laki-laki yang ingin aku hindari. Ya, akal sehatku mengatakan demikian tetapi hati kecilku tidak sepakat. Bunga-bunga seolah-olah bermekaran melihatnya berdiri di depan apartemenku, punggungnya bersandar pada dinding tembok yang bercat putih tulang. Kedua matanya terpejam sementara kedua tangannya dilipat di dada. Apa ia sedang tidur sambil berdiri?


Syukurlah, hanya kekhawartiranku yang tak cukup berarti.


Ia memutar kepalanya ketika mendengar langkah kakiku semakin dekat, kemudian menarik punggungnya, melemaskan lehernya dengan gerakan singkat ke kanan dan kiri. Ia melirik arloji peraknya dan menatapku. Namun tidak berkomentar apapun.


Aku harus mengatur napasku yang tidak beraturan. Sial! Laki-laki ini benar-benar membuatku salah tingkah. Bahkan jantungku ikut salah tingkah.


Tanpa mengatakan apapun, aku berjalan mendekat, mengabaikan suara jantungku. Aku mencari kartu ajaib yang bisa membuka pintu apartemen dan menempelkannya pada panel otomatis. Terdengar bunyi klik.


Aku membalik badan, menatap Damar yang sudah bersiap-siap ingin masuk.


"Lalu, makan malam kita," protesnya seolah-olah aku membatalkan janji makan malam secara sepihak. Aku tidak ingat membuat janji semacam itu. Jelas hanya karangannya saja.


"Aku tidak ingat membuat janji makan malam denganmu," kataku sedikit ketus. Aku tak bermaksud mengusirnya tetapi aku tak bisa menahan diri. Setiap kali melihatnya tersenyum seperti itu, aku semakin sebal. Aku ingin sekali menghapus senyum indah di bibirnya.


"Aku sudah memesan makanan, sebentar lagi akan tiba," sahutnya mengabaikan ucapanku. Ia mendorong tubuhku kesamping dan memutar gagang pintu. Ia menerobos masuk pintu apartemen yang kini terbuka cukup lebar tanpa seijinku. Mulutku setengah terbuka. Aku memutar badan dan menatap punggungnya yang bergerak menjauh sebelum menemukan sofa biru di ruang tamu.


Ia menjatuhkan tubuhnya dengan lembut lalu menyandarkan punggungnya. Ia terlalu nyaman berada di dalam apartemen yang bukan miliknya.


Aku harus bisa berdamai dengan emosiku malam ini.


Aku melangkah masuk dan menutup pintu di belakangku. Kalau Ayah tahu, aku memasukkan seorang laki-laki dewasa ke dalam apartemenku. Tamatlah riwayatku. Aku harus mencari cara agar Damar berhenti bertandang ke apartemenku. Namun rasanya terlalu sulit. Setidaknya, ia tidak boleh terlalu sering mengunjungiku. Apa kata dunia jika ada laki-laki yang bukan saudara maupun suami sering keluar masuk apartemen perempuan lajang sepertiku. Mereka bisa salah mengartikan hubungan kami.


Aku harus bagaimana? Tidak mungkin aku pergi membersihkan diri sementara ada laki-laki di ruang tamu.


Aku kehabisan ide. Sementara badanku lengket karena debu jalanan.


Aku menghirup rakus udara seolah-olah besok pagi aku tidak kebagian jatah lalu menghembuskannya perlahan.


Suara bel di pintu menyelamatkanku. Setidaknya, aku tidak akan berfokus pada emosi yang tidak karuan ini.


"Saya mengantar pesanan," ungkap laki-laki berusia dua puluh tahunan ketika aku berhasil membuka pintu. Aku melirik sebuah karton coklat yang ditentengnya kemudian mengintip Damar yang memejamkan matanya.


"Sudah dibayar," tanyaku memastikan. Ia mengangguk dan tersenyum ramah.


Aku menerima bingkisan itu dan menutup pintu.


Sekarang aku harus menata makan malam ini di meja. Mungkin sebaiknya aku mengganti baju dan mencuci muka.


Setelah berdebat dengan diri sendiri. Aku putuskan untuk mencuci muka dan mengganti pakaian setelah selesai menata makanan. Sementara Damar, ia pasti akan menunggu. Ya, lihat saja ia masih keenakan menyandarkan punggungnya dan menutup rapat kelopak matanya. Kedua tangannya ia lipat di dada.


Sepuluh menit kemudian, ketika aku kembali ke ruang tamu. Aku menemukan Damar meluruskan kakinya di sofa. Ia terlelap seperti bayi. Apa ia benar-benar tertidur?


Aku berjalan mendekat dan memastikannya sendiri.


Bagaimana dengan makanannya?


Aku menunduk untuk melihat wajahnya lebih dekat. Ada lingkaran gelap di bawah matanya. Apa ia sibuk bekerja hingga matanya berkantung begitu. Akan tetapi laki-laki ini tetap terlihat tampan dengan lingkaran gelap dibawah matanya. Aku harus mengendalikan emosi yang mulai tak karuan hanya dengan mengawasi wajahnya.


Aku menghembuskan angin lewat hidung.


Jantungku meloncat cepat ketika Damar tiba-tiba membuka matanya. Ia menatapku lurus. Aku meluruskan punggungku dan berusaha mengatur irama jantungku. Sial! Aku hampir limbung dengan gerakan tiba-tiba itu.


Aku menaikkan garis bibirku dengan paksa.


"Apa yang kau lakukan?" kataku ketika Damar menarik lenganku dengan gerakan cepat. Tubuhku melayang cepat dan jatuh di atas dada bidangnya. Satu tangannya kini melingkari pingangku. "Damar!" Aku berusaha melawan tetapi tangan kokohnya semakin kuat.


Aku harus mengabaikan jantungku yang berpacu cepat. Aku bisa merasakan hembusan napas hangatnya di wajahku. Iris matanya jauh lebih indah dari yang aku duga. Mata itu ... Aku bisa berlama-lama menatapnya. Bahkan bulu matanya juga terlihat sangat indah.


"Aku lapar."