Damar: Love Is On The Way

Damar: Love Is On The Way
Sopir Baru



Aku melirik jam dinding yang tergantung pasrah di tembok tepat di atas pintu masuk. Jarum panjangnya menunjuk angka tujuh sementara jarum pendeknya menunjuk angka sepuluh. Aku masih punya waktu sepuluh menit untuk berhias. Meski pada kenyataannya, aku tidak terlalu suka berhias. Aku merapikan rambut nakal yang terjuntai keluar dari ikatan rambut kuncir kudaku.


Aku menarik pelembab bibir yang terletak di samping parfum bayi favoritku dan mengoleskannya ke bibir kemudian meletakkan kembali di posisi semula. Tak lupa aku semprotkan parfum bayi yang beraroma lembut di nadi tangan kemudian mengusapnya ke bagian leher.


Aku menatap bayanganku di cermin. Setelah puas dan memastikan cukup rapi, aku bangkit dari kursi dan menyambar tas yang berada di atas ranjang. Arloji perak yang aku kenakan menunjukkan pukul delapan tepat.


Aku bergegas keluar kamar, berjalan ke meja pantry dan mengambil air minum. Aku meneguk segelas air mineral hingga habis dan meletakkan gelas itu di bak cuci piring kemudian berjalan menuju rak sepatu yang terletak di dekat pintu. Bel kembali berbunyi.


"Ada apa lagi?" kataku membuka pintu dan menemukan ia berdiri di sana. Tampak gagah dan rapi. Dasi abu-abu yang senada dengan celana kainnya sudah terpasang rapi. Aku tak perlu menawarkan bantuan untuk merapikan dasi yang mengantung sempurna di lehernya.


Ia menatapku dengan rakus. Sudut bibirnya naik ke atas membentuk lengkungan halus.


"Aku akan memberi tumpangan hingga ke kantor," katanya dengan bangga.


"Tidak perlu, aku naik motor, lebih cepat," kataku beralasan. Aku heran kenapa lelaki jangkung ini muncul lagi di depan pintu apartement. Apa mungkin ia menguntit.


"Sebagai ucapan terima kasih karena kau memberiku sarapan," dalihnya. Ia menggunakan alasan sarapan untuk mengantarku berangkat ke kantor. Aku memberinya sarapan karena ia sendiri yang meminta sebagai ucapan terima kasih karena sudah mengantarkan koper merah milikku yang tertinggal di mobilnya. Ada berapa banyak alasan di kepalanya? Jika ia terus mengatakan hal-hal semacam itu, usahaku untuk menjaga jarak dengannya akan sulit bahkan berakhir sia-sia.


"Emm ... tidak perlu, aku mengajakmu sarapan karena kau sudah membawakan koperku," tolakku berlogika. "Sebagai ucapan terima kasih," imbuhku.


"Tentu," katanya masih dengan senyum yang sama. "Sekarang, giliranku yang mengucapkan terima kasih. Makanya aku akan memberimu tumpangan ke kantor," bujuknya. Aku mendesah pelan. Ia adalah lelaki yang sulit diajak bernegosiasi. Kepala batunya itu menyebalkan.


"Tidak, tidak, nanti pulangnya aku akan kerepotan," kataku mencoba beralasan. Setidaknya yang aku katakan benar. Jika aku membiarkan Damar mengantarku, itu artinya aku tidak bisa membawa sepeda dan aku tidak bisa pulang dengan sepeda. Harus menyewa taksi atau ojek online dan tentu saja memakan biaya. Aku tidak mau mengeluarkan biaya yang seharusnya tidak ada. Aku mungkin tidak perlu membayar Damar, tapi ojek online beda cerita.


"Jangan khawatir, selama aku tidak bisa mengantar dan menjemputmu, sopir baruku yang akan melakukan tugasku," katanya ringan seolah-olah itu adalah hal wajar yang biasa ia lakukan. Apa? Sopir baru untuk mengantar dan menjemputku? Apa ia salah minum obat? Mungkin telor ceplok buatanku menghambat kerja otaknya.


Aku memutar bola mataku dan memunggunginya. Aku menarik gagang pintu kemudian menguncinya.


"Apa kau tidak punya pekerjaan?" komentarku mengenai rencananya. Rencana gila yang melibatkanku. Aku masih cukup mampu berangkat kerja dengan kerja dengan menggunakan motor vespa merah milikku. Aku memutar badan dan sedikit mengangkat wajahku untuk menatap mata elangnya. Ia mungkin tidak mengerti makna tersembunyi dibalik pertanyaanku karena ia menatapku dengan alis terpincing. "Aku tidak butuh sopir bodohmu itu," imbuhku agak kasar. Suaraku yang lebih kerat berhasil membuat garis halus di dahi Damar semakin ketara. Sial! Aku malah memaki orang tak berdosa. Oh God, ampunilah dosaku dan dosa orang baru saja aku maki. "Maafkan aku ...," imbuhku lirih.


Damar tak berkomentar. Ia hanya menatapku dalam diam. Tatapan yang berhasil membuat jantungku berdebar-debar. Aku mendengar irama kuatnya di telingaku. Entah sejak kapan jantungku meloncat-loncat kegirangan.


'Tenanglah sedikit, lelaki gombal sepertinya banyak bertebaran dan kau sekarang melihatnya dengan mata kepalamu sendiri.' Sebuah suara di dalam kepalaku mengingatkan. Ya, lelaki sok baik sepertinya tersebar hampir sama rata di seluruh belahan bumi. Lelaki sok akrab yang menginginkan sesuatu.


"Jangan khawatir, aku bisa mengaturnya," katanya mengabaikan protesku. Ia mungkin terlalu tuli untuk mendengar makian yang baru saja meluncur dari mulutku.


"Dengar, aku tidak butuh sopir. Aku bisa berangkat sendiri. Sogokkanmu tidak mempan?"


"Sogokkan?" Ada nada humor dalam suaranya. "Kau terlalu keras berpikir, Ning," imbuhnya. Ada penekanan saat ia mengucapkan kata 'Ning'. Kata yang memiliki arti kakak perempuan dalam bahasa jawa itu membuatku jengkel. Aku tidak suka jika ada seseorang yang memanggilku dengan sebutan itu. Kenapa mereka tidak memanggil namaku lengkap 'Bening'? Apakah itu terlalu sulit?


"Jangan panggil aku, 'Ning', aku bukan Ning-mu," kataku sedikit sewot.


"Namamu 'Bening', 'kan?"


"Iya, Bening, bukan, Ning," kataku memberi penekanan pada kata 'Bening' dan 'Ning'. "Ning itu panggilan untuk kakak perempuan jawa," jelasku.


"Baiklah, Bening Cahaya Mentari, kau mau aku panggil apa?" katanya dengan senyum tersimpan. Aku memelototinya. Ia tidak harus menyebut nama lengkapku layaknya seorang dosen yang mengabsen mahasiswinya sebelum jam pelajaran dimulai.


"Oke, Bening, kalau kau masih mau berdebat, kau bisa melanjutkannya nanti. Sekarang," katanya sembari melirik arloji perak yang terpasang di lengan kirinya. Arloji metalik yang super mewah. "Kita harus berangkat, kau tidak mau terlambat, 'kan?"


Aku memutar bola mataku. Terlambat! Tentu saja ini salahnya. Jika saja ia tidak muncul lagi di depan pintu apartemenku, tentu aku sudah berangkat sejak beberapa menit yang lalu. Sekarang malah mengeluhkan terlambat. Tidak bisa dipercaya.


Perdebatan kami tidak membawaku kemana-mana selain kesal. Kesal karena lelaki gagah ini bersikap baik seolah-olah aku butuh sikap baiknya. Sok perhatian layaknya kami memiliki ikatan khusus. Apa mungkin ia masih punya rencana licik yang tersimpan rapi di bawah ketiaknya. Jika demikian, aku harus menolaknya dengan tegas. Aku tidak mau jadi tamengnya lagi. Aku tidak mau terlibat drama percintaan hasil imajinasinya itu. Aku punya imajinasi sendiri tentang kehidupan cintaku.


Aku melangkah lebih dulu tanpa menjawab pertanyaannya. Pertanyaan tidak penting yang tidak butuh jawaban.


Damar mengekori langkahku, berkat langkah panjangnya ia berhasil menjajari langkahku. Ia melangkah mantap di sampingku menuju lift yang terletak di ujung lorong lantai tujuh.


Lift terbuka setelah bunyi ding. Beberapa penghuni apartement yang tidak aku kenal ada di dalam lift. Aku melangkah masuk diikuti oleh Damar. Setelah menekan tombol lantai dasar pintu lift tertutup. Dua orang perempuan muda yang berdiri di belakangku berbisik lirih. Mengagumi ketampanan lelaki yang berdiri tegak di sampingku.


"Tidak mungkin mereka sepasang kekasih." Bisik salah seorang dari mereka. Aku juga ingin balas berteriak kepada mereka bahwa aku memang bukan kekasih Damar seperti harapan mereka. Akan tetapi aku memilih diam dan membiarkan mereka berimajinasi liar. Aku melirik Damar yang sama sekali tidak terpengaruh oleh bisik-bisik tetangga semacam itu.


Ding!


Lift terbuka setelahnya. Jantungku kembali berdebar-debar ketika Damar menggenggam pergelangan tanganku dan menarikku keluar lift. Aku terlalu terkejut untuk protes dan membiarkan lelaki yang memakai kemeja putih ini menuntunku menuju basement, tempat parkir kendaraan bermotor milik penghuni apartement.


"Masuklah," perintah Damar membuka pintu mobilnya. Gengaman tangannya sudah lepas. Aku melongo menatap lelaki berparas elok itu menyungingkan senyum karismatiknya. Sebuah senyum yang berhasil membuatku ikut tersenyum karena ada banyak medan magnet di dalam senyum itu.


"Tapi .... "


"Tidak ada tapi, aku akan meminta sopir untuk menjemputmu nanti," tegasnya sebelum berlari kecil memutari mobilnya.


Tampaknya aku tidak bisa menolak keinginan Damar kali ini. Sekali ini saja, aku ingin menikmati bagaimana rasanya memiliki seorang sopir pribadi yang siap setiap saat. Jangan salah, aku hanya menikmati apa yang ditawarkan Damar selama itu tidak berdosa dan merugikan orang lain.


.


.


.


.


.


Halo semua, maaf ya telat up date-nya. Semoga kalian semua suka ya dengan episode terbaru yang baru saja aku tulis.


Jangan lupa, komen dan like ya, vote juga biar aku tambah semangat up date.


Salam bahagia


Nina K.