Damar: Love Is On The Way

Damar: Love Is On The Way
Kembang Api



Hai, reader tersayang, author mau bilang makasih buat kalian yang setia membaca karyaku ini. Love u full.


Oke, jangan lupa komen, like dan vote ya 😍😍😍


Selamat membaca😘


🌸🌸🌸


Bening POV


"Apa kau selalu pulang selarut ini," sebuah suara membuat kesadaranku kembali seratus persen. Aku melirik jam tangan perak yang melingkari lengan kananku sebelum memutar kepala mencari sumber suara. Aku harus menunda rencanaku untuk mencari kunci dan membuka pintu apartemen.


Laki-laki yang berhasil membuat jantungku berdenyut tak karuan berdiri agak jauh. Ia mengenakan kemeja putih tanpa dasi dipadukan dengan celana kain abu-abu. Tangan kirinya menenteng sesuatu. Ia berdiri menjulang di tengah lorong apartemen dan menjadi satu-satunya pemandangan indah yang ada di bawah cahaya putih lampu neon yang berjajar rapi. Rambutnya masih tertata rapi. Ada letupan kembang api di dalam dadaku melihatnya berdiri di sana entah sejak kapan.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku mengabaikan jantungku yang bernyanyi dan tatapan mata elangnya. Aku harus menenangkan hatiku untuk berhenti bernyanyi.


"Mengantar pesanan!" katanya mengangkat tas karton berwarna hitam elegan. Ada banyak bunga bermekaran bersamaan dengan garis lengkung terukir di bibirnya.


Ia melangkahkan kakinya dengan mantap dan mempersempit jarak. Aku berdiri mematung, terbius oleh sosok laki-laki jangkung yang memiliki senyum menawan ini. Ada kupu-kupu puluhan kupu yang menari di dalam dalam dadaku.


"Kau tidak mau membuka pintunya?" katanya melirik pintu bercat hitam yang tertutup rapat. Aku ikut melirik pintu bercat hitam yang menjadi saksi bisu kehadiran laki-laki ini.


Aku mengatur napas.


Aku kembali merogoh tas selempang berwarna hijau pucat yang mengantung di bahu kiriku. Aku menemukan kunci pintu berbentuk persegi panjang yang mirip KTP itu dan menempelkannya pada panel otomatis. Pintu terbuka setelah terdengar bunyi klik.


Aku membalik badan dan menemukan Damar berdiri tepat di belakangku. Aku tidak tahu sejak kapan ia berdiri sedekat ini. Aku bahkan bisa memcium aroma sedap tubuhnya dan membiarkan hidungku terhipnotis oleh harumnya tanpa seijinku.


Aku mengangkat wajahku sedikit dan memberanikan diri menatap netra hitam itu. Aku menantangnya beradu pandang.


"Apa kau menyukaiku?" sebuah pertanyaan yang tak seharusnya, meluncur begitu saja. Aku melihat keterkejutan di wajahnya sekilas sebelum lenyap tak berbekas. Aku mungkin terlalu lelah untuk bisa membaca setiap garis diwajahnya. Entah angin apa yang sudah merasukiku. Mungkin aku ingin membandingkan laki-laki yang berdiri menjulang di depanku ini dengan Leon. Aku ingin tahu perasaannya padaku. Aku ingin membuat keputusan tetapi kenapa aku melibatkannya dalam hal ini. Lelaki yang memiliki bulu mata lentik ini tidak memiliki hubungan dengan keputusanku. Ini masalah pribadiku. Pipiku menghangat karena aliran darah dari jantung yang tiba-tiba naik ke pipi. Aku ingin menutupi wajahku.


Mata elangnya mengawasi wajahku lebih teliti seolah-olah meneliti setiap sudut di wajahku.


"Apa kau menyukaiku?" sahutnya balas bertanya. Aku menghembuskan napas yang tak sengaja aku tahan sejak beberapa saat lalu. Aku seharusnya sudah bisa menebak jawaban itu. Dadaku berongga saat ia tak menjawab pertanyaanku. Aku sudah kehilangan kewarasanku ketika bertanya tentang perasaannya, ya, sepertinya memang begitu. Tidak waras! Konyol sekali. Apakah aku berharap laki-laki berparas elok ini memiliki benih cinta di hatinya untukku? Aku pasti sedang memasuki gerbang pulau impian.


Aku menantang mata hitam itu untuk beradu pandang sekali lagi sebelum menyerah, kalah. Aku tidak bisa menatapnya terlalu lama. Aku tidak bisa membaca arti tatapan matanya. Aku tidak pernah belajar ilmu perdukunan atau ilmu apapun tentang membaca perasaan.


Aku memutar tubuhku dan memunggunginya sebelum menyelinap masuk dan menutup pintu di depan wajahnya dengan hentakan agak keras. Aku menghembuskan napas yang sempat tertahan. Entah berapa banyak napas yang aku tahan sejak beberapa menit lalu.


Bodohnya. Mau ditaruh dimana wajahku ini. Aku menyentuh pipiku yang memanas. Aku harap hal ini akan mendinginkan pipiku dengan cepat.


Aku menekan saklar lampu hingga berbunyi klik. Ruangan yang sebelumnya gelap kini terang benderang oleh cahaya kekuningan lampu yang tergantung di atas ruang duduk sekaligus ruang tamu. Juga ruang bersantai untuk menonton.


Tenanglah hati, tenang!


Aku meletakkan tangan di dada. Jantung seperti pelari marathon yang baru saja mencapai garis finis. Kejadian ini terlalu tiba-tiba. Aku ingin mengulang kembali dan menyumpal mulutku sendiri agar tak banyak bicara. Salahkan Damar. Aku menjadi salah tingkah sejak kemunculannya.


Bunyi bel membuat jantungku kembali meloncat, mungkin karena suara bel itu sendiri terlalu keras atau kenyataan lain bahwa Damar masih berdiri di balik pintu, mungkin. Aku berharap, orang lain yang berdiri di balik pintu tetapi siapa yang senekat Damar bertamu di jam seperti ini?


"Kau melupakan ini," katanya mengangkat tas karton hitam yang sama. Ia mengabaikan tatapan bengis yang aku hadiahkan untuknya. Aku kesal dan senang di saat yang bersamaan. Aku tidak percaya laki-laki berhidung tinggi ini punya efek seperti ini padaku.


Hatiku tersenyum riang tetapi wajahku tidak. Aku ingin menolaknya tetapi sayang ... Jarang-jarang aku mendapatkan benda secara cuma-cuma seperti malam ini. Ahhh ... Aku bingung.


"Kau tidak ingin menyambutku dengan pelukan hangat?" godanya. Mata elangnya mengawasiku lekat-lekat. Aku baru saja pulang kantor, parfum bayi yang biasa aku pakai sudah digantikan oleh debu jalanan dan Damar masih sempat menggodaku. Sulit dipercaya mengingat kunciran rambutku juga berantakan.


"Memang kau ayahku?" kataku ketus. Aku merebut tas karton hitam itu dari tangannya. "Aku sudah menerima paketnya, sekarang pulanglah," usirku.


Aku mundur sedikit dan hendak menutup rapat pintu dan embuatnya menghilang dari wajahku, setidaknya menghalau wajah tampanya menggunakan pintu. Aku sudah cukup memindai wajah aritrokatnya dan menyimpannya di dalam benak. Namun sia-sia. Dengan satu tangan kokohnya, ia menghalangi niatku. Ia mendorong paksa pintu dan membuatnya terbuka lebar. Aku menggeser tubuhku dan berdiri di tengah pintu menghalangi tubuh besarnya agar tak menerobos masuk.


Akan tetapi strategi yang aku pakai tidak berpengaruh.


Ia menyetakkan tubuhku hingga menabrak tubuh kokohnya. Rupanya, ia punya ide lain. Ia melingkarkan tangan kokohnya dan menutup jarak diantara kami. Aku mendorong pelan tubuhnya hanya untuk di tarik lebih dekat.


"Aku menyukaimu," ungkapnya dengan suara lirih. Aku bisa merasakan hembusan napas hangatnya di telingaku. "Itu yang ingin kau dengar?" Tangan kokohnya menguat seolah-olah masih ingin menutupi jarak. Aku ingin protes tetapi aku juga ingin merasakan dipeluk oleh tubuh kokohnya. Merasakan hangat yang diciptakan oleh panas tubuhnya yang perlahan menjalar hingga ke pipiku. Sementara degup jantungku memekakkan telinga, mungkin Damar juga mendengarnya karena jarak kami hanya dipisahkan oleh lembaran-lembaran kain.


Kini dagunya bertahta di puncak kepalaku sementara aku membeku dan hanya bisa menikmati keintiman yang telah diciptakan. Apa aku harus balas memeluknya. Ya, aku ingin sekali memeluknya sejak lama. Menyembunyikan wajahku yang kian memanas di dada bidangnya. Oh Tuhan ...


Aku menikmati kehangatan itu hingga tubuhku di tarik menjauh dari tubuhnya. Aku merasakan kedinginan karena hangat tubuhnya menguap lewat jarak baru yang diciptakan.


"Apa alasan itu cukup untuk membuatmu berdiri disisiku?"


.


.


.


.


.


.


Yeay, Damar juga mengatakan isi hatinya? kira-kira Bening gimana ya? Leon atau Damar? Damar atau Leon? Hemmm ... kalau penasaran ikuti terus dan stay tune disini ya. Muach


Jangan lupa, like, komen dan Vote ya 😘😘😘.


Author bawel nih, ngingetin terus .... hahahaha, ya, emang harus gitu!


Btw, thank u all.


love u full


Nina K.