
Bening POV
Mendadak air ludahku terasa asam dan banyak. Perutku berbunyi dan ada desakan yang ingin keluar paksa dari dalam lambungku. Rasanya tidak enak dan berhasil membuatku ingin muntah.
"Kamu ini kenapa sih?" komentar Nola yang menatapku heran.
"Nggak tahu, mungkin, salah makan!" kataku mengabaikan rasa asam di dalam mulut. Perutku masih mengeluarkan bunyi aneh.
"Memangnya, kamu sarapan apa pagi tadi?" Nola masih menatapku dengan tatapan yang sama.
"Hanya telur ceplok dan Roti tawar plus keju." Aku yakin ini efek karena terlalu banyak makan makanan berminyak saat pulang ke desa. Ibu punya kebiasaan menggunakan minyak goreng secara berlebihan. Rendang dan ayam goreng buatan ibu jelas berenang di wajan penuh minyak. Sisa minyak goreng yang dipakai menggoreng ayam masih dipakai untuk menggoreng sayuran.
"Makananmu selalu sehat, kenapa malah mual?"
"Iya, mirip orang hamil saja!" celetuk Karin yang berjalan menuju meja di samping Nola. Nola membulatkan matanya menatapku dan Karin secara bergantian. Rahang rampingnya turun sedikit sehingga bibir tipis yang dilapisi gincu merah itu membentuk huruf O.
"Hasil kerja pacar barumu itu?" buru Nola. Karin menatapku dengan ketertarikan baru. Untung aku sudah sarapan, jika tidak tentu Nola yang akan menjadi sarapanku.
"Ngaco! nih, anak kalau ngomong!" protesku membela diri. Aku tidak punya pacar untuk dijadikan kambing hitam. Ibu juga akan menggorokku jika aku memberikan kue kepada laki-laki dengan cuma-cuma. Ibu menyebut kehormatan wanita sebagai kue dan mewanti-wantiku jika berpacaran jangan sampai tidur bersama laki-laki dengan alasan apapun. "Aku salah makan dan lambungku lemah, itu saja," imbuhku. Jika aku mengatakan aku tidak mungkin hamil karena tidak punya pacar, mereka tidak akan percaya. Gadis single adalah makhluk langka di era modern seperti ini. Apalagi Nola melihatku diantar Damar ke kantor.
"Damar, sejak kapan kalian bersama?" cerocos Nola. Aku harus menyumpal mulut sok tahunya itu. Karin memasang telinganya tajam-tajam. Berita bohong yang dilontarkan Nola cukup menarik minatnya.
"Dia bukan pacar, aku juga baru mengenalnya."
"Bukan pacar! Lalu kenapa dia mengantarmu kerja pagi tadi, juga siang itu. Aku melihat sendiri laki-laki itu memperlakukanmu layaknya pasangan," omel Nola menyampaikan fakta yang ia temukan. Mungkin ia mendapati adegan super menyebalkan sepulang dari makan siang di depan ruko. Jika saja ia tahu apa yang sebenarnya terjadi ....
"Kamu harus mentraktir kami makan, pajak jadian." Karin menyimpulkan. Ia menggerakkan kepalanya ke kiri dan melengkungkan senyum ke arah Nola kemudian mengangguk bersamaan.
"Kalian boleh makan sepuasnya di pesta pernikahanku nanti," kataku pada akhirnya. Aku tidak mau mentraktir mereka untuk sesuatu yang tidak benar, lagi pula gajian masih lama.
"Siapa yang akan menikah?" tanya sebuah suara. . Aku memutar kepalaku dan menemukan DaniΒ berdiri di ambang pintu. Satu tangannya menahan pintu agar tetap terbuka. Ia menatap kami bergantian.
"Bening!" seru Karin mewakili.
"Akhirnya kalian menikah, selamat, ya," sambut Dani dengan nada antusias. Ia menyelinap masuk dan membiarkan pintu dibelakannya tertutup sendiri.
"Memang kamu mengenal pacar, Bening?" tanya Karin. Pertanyaan tidak penting itu membuat kami saling tatap.
"Bening akan menikah dengan Leon, 'kan?" ungkap Dani. Ia berdiri di sampingku dan menarik kursi kerjanya, meletakkan tas hitam miliknya di bawah meja dan mentap kami bergantian.
Ada apa dengan orang-orang di kantor ini? Apakah mereka benar-benar mengira aku memiliki hubungan khusus dengan Leon. Dari mananya?
Leon memang baik padaku tetapi ia juga baik kepada karyawan lainnya.
"Bukan, tapi orang lain dan jauh lebih keren dari Leon," sahut Nola memberi informasi tambahan mengenai Damar menurut kesimpulannya sendiri. Ya, memang benar, laki-laki yang tinggal di apartement yang sama denganku itu keren seperti ucapan Nola. Aku hanya tak ingin mengakuinya di depan mereka, toh, tidak ada sangkut pautnya denganku.
"Benarkah?"
"Tentu saja," sahut Nola sekali lagi. Aku seperti memiliki juru bicara. Sepertinya Nola lebih paham tentang kehidupan cintaku.
"Oh, iya, Leon meminta kita untuk rapat, apakah yang lain belum datang?" Aku mengalihkan topik pembicaraan. Ada tiga karyawan yang belum datang, Ronald, Jessica, Gading dan Teuku.
"Jangan mengalihkan topik," desis Nola. "Jadi kapan tanggal pernikahannya?"
Sial! Nola benar-benar membeli ucapanku sebelumnya.
"Doakan saja secepatnya," kataku diplomatis. Aku anggap saja itu doa dari mereka. Aku tidak berbohong jika mereka memang boleh makan sepuasnya di pesta pernikahanku. Hanya saja aku tidak tahu kapan pesta itu terlaksana. Biarkan waktu yang menjawabnya. Sekali lagi cairan asam dilambungku memaksa naik dan berhasil membuatku mual. Aku harus menutup mulutku agar tak mengeluarkan bunyi aneh. Minyak goreng sialan itu.
"Apa aku terlihat seperti orang hamil?" Mereka mengangguk bersamaan. "Dan aku ingin makan buah yang rasanya sedikit asam," imbuhku. Aku akan sembuh setelah makan buah segar yang memiliki banyak vitamin C.
Mereka bertukar pandang. Aku tertawa kecil melihat ekspresi wajah mereka.
"Bening .... " suara rendah Nola membuatku merinding.
"Salahmu sendiri, pagi-pagi sudah ghibah," kataku. "Kalian ini seperti tidak pernah melihatku mual di pagi hari saja," imbuhku. Ini bukan pertama kalinya aku mual, jadi kenapa mereka serius sekali?
"Aku tidak ghibah! Ghibah itu ngomong di belakang, lah, ini, kamu ada," protes Nola membela diri.
"Apa aku ketinggalan berita bagus pagi ini?" kata Ronald yang baru saja tiba di lantai dua. Di belakangnya berdiri Jessica dan Teuku.
"Kita akan meeting sebentar lagi," kataku mengumumkan.
"Pasti ulah Leon," keluh Ronald.
"Oke, Dani, bantu aku membuat PPT," kataku menatap Dani. Wajahnya mendadak lonjong. "Please, sepuluh slide cukup, yang penting ada materi, Nola, dokumentasi dan perlengkapan untuk hari H bagaimana? Masih ada yang kurang?" imbuhku menatap Nola.
"Untuk publikasi di media sosial lancar, iklan di tivi juga sudah di tayangkan," sambung Karin. Aku mengangguk pelan.
"Jes, untuk panggung hiburannya bagaimana? Kamu sudah mengontak manager artisnya?" Aku beralih menatap Jessica yang sudah duduk manis di meja kerjanya.
"Sudah, tapi Sierra Sutedjo tidak ada jadwal kosong hari itu,"
"Baiklah, kita pikirkan ide lain,"
.
.
.
.
.
.
.
Hai teman-teman up date kali ini sedikit ya. Bening dan rekan kerjanya sedang sibuk mempersiapkan acara bisnis expo loh, yang akan di selenggarakan dua minggu lagi. Sudah satu minggu sejak Bening mengatakan mau pindah kerja kepada Leon.
Kira-kira Leon bakal rela nggak ya, ngelepas Bening gitu aja?
Penasaran??? Yuk ikuti terus up date-nya.
Maaf ini, aku nggak bisa up date saban hari. Aku usahakan konsisten setiap 2-3 hari sekali ya, hehehe.
Mohon dukungan dan likenya juga ya, πππ
Silahkan komen juga ya, inshaAllah aku bales dan pastinya aku baca.
Salam hangat
Nina K.