Damar: Love Is On The Way

Damar: Love Is On The Way
Dukun



Bening POV


Langit mulai berubah warna, beberapa menit yang lalu matahari tampak cerah meski awan putih menjadi bayang-bayang yang siap mengambil posisi. Langit sudah menjadi kelabu dengan gumpalan awan hitam tak merata, mengandung hujan yang siap tumpah tanpa aba-aba.


Pemandangan di luar kaca mobil tampak sibuk. Berbagai jenis kendaraan bermotor silih berganti. Sementara itu perjalanan menuju kantor terasa lambat dan menegangkan. Aku duduk di samping kursi kemudi dalam diam. Lelaki tampan yang memberiku tumpangan gratis menuju kantor tak membuka mulutnya sejak masuk mobil beberapa menit yang lalu.


'Sudahlah, jangan terlalu keras bepikir!' Sebuah suara mengingatkan. Aku melirik Damar yang sedang mengemudi tanpa kata. Manik hitamnya mengawasi aspal hitam yang dipenuhi berbagai jenis kendaraan bermotor.


Hidungnya tinggi menjulang, bibir delima tipisnya membentuk garis lurus. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya, apakah ia marah? Tidak mungkin! Mungkin aku terlalu berharap. Terlalu berhalusinasi bahwa mungkin lelaki yang duduk di belakang kemudi memiliki rasa tertarik padaku walau secuil. Secuil harapan yang membuat dadaku mengembang. Aku rasa, aku mulai gila memikirkan segala macam kemungkinan yang mungkin terjadi. Siapa juga yang bisa menolak pesona yang sengaja ditebar untuk menjerat hati perempuan lemah sepertiku. Aku mungkin salah paham dengan perhatiannya.


Berada di dalam mobil yang sama seperti ini membuatku gundah untuk alasan yang tidak pasti. Aku tidak boleh memiliki perasaan spesial untuknya. Tidak boleh!


"Di depan, belok kanan," kataku memberitahu posisi kantorku yang terletak di Ruko Satelit.


Damar tak mengatakan apapun setelahnya. Mobil merah yang dikemudi akhirnya memasuki area parkir ruko. Aku keluar dari mobil setelah mengucapkan terima kasih. Mengambil langkah terpanjang yang mampu aku lakukan dan berdoa lelaki yang membuat jantungku gusar ini segera menghilang atau berubah menjadi sopir taksi online tetapiblangkahku terhenti oleh ucapannya.


"Pulangnya, aku jemput!" ucap Damar yang sudah keluar dari mobil. Aku memutar kepalaku. Ia menatapku dengan tatapan yang sulit diterjemahkan.


Aku menarik nafas pelan lalu menghembuskannya. Aku ingin menolaknya tapi bagaimana caranya. Teralu sering kami beradu mulut. Ia keras kepala. Kami berdua sama-sama keras kepala.


Aku menggeleng pelan tanpa senyuman. Kalau boleh jujur aku senang ada seseorang yang bersedia menjemputku tetapi tidak seperti ini juga. Terlalu cepat.


"Tidak usah, aku bisa naik ojek online," tolakku. Aku bisa pulang sendiri dan sudah terlatih.


"Kau yakin?"


"Hmm." Aku mengangguk pelan dan memutar badan. "Damar?" Aku menoleh memastikan ia sudah pergi. Namun sayang, ia masih berdiri di samping mobilnya, kedua matanya menatapku lurus.


"Sebaiknya, kita tidak bertemu lagi," kataku menatap tanah paving di bawah kakiku dengan suara lirih ssolah-olah bicara pada diri sendiri. Aku tidak yakin ia mendengar ucapanku. Aku ingin memutuskan hubuganku dengannya meski pada kenyataannya tidak ada hubungan spesial diantara kami. Aku juga tidak mengerti dengan perasaan apa yang aku miliki untuknya.


"Kenapa? Bukankah kita berteman?" tanyanya. Ia menatap punggungku, aku bisa merasakan tatapan tajamnya menembus kepalaku. Aku menghembusakan napas yang aku tahan sejak beberapa saat lalu.


Aku ingin mengatakan pertemanannya hanya sandiwara tetapi tidak ada kata yang keluar. Aku harus membayar ganti rugi karena telah menendang bumper mobilnya saat emosi. Lalu untuk mendapatkan KTP dan SIMku yang juga disita Damar sebagai jaminan sebelum melunasi biaya reparasi.


"Aku tidak bisa?" kataku setelah membisu beberapa detik. Aku tidak punya alasan untuk menemuinya. Aku tidak mau sakit hati karena memberikan hatiku padanya dengan sukarela. Aku memutar badanku dan menatap wajahnya. Wajah angkuhnya menantangku.


"Kenapa? Apa kau takut jatuh cinta padaku?" katanya angkuh, kedua mata hitamnya menatapku lurus tanpa berkedip.


Darah mengalir deras menuju wajahku. Pipiku memanas karenanya. Dia ...


Aku membecinya, tetapi sampai kapan aku harus menahan perasaan asing yang membuat jantungku berdebar-debar saat bersamanya. Usahaku untuk mengontrolnya sia-sia jika aku memilih berharap suatu hari Damar akan melirikku.


"Kenapa? Kau tidak punya jawaban?" katanya dengan nada yang sama. Aku terlalu sibuk dengan pikiranku hingga tak menyadari Damar sudah berada di depanku dengan jarak tak lebih dari setengah meter.


"Kau benar! Aku takut, aku akan jatuh cinta padamu dan kau tidak." Aku mengatakannya. Aku baru saja mengatakan aku menyukainya secara tidak langsung. Aku berharap bisa menghilang detik ini juga atau tanah di bawahku membelah dan membawaku pergi jauh darinya. Entah apa yang sudah merasukiku. Atau mungkin lebih baik seperti ini. Aku merasa pipiku semakin berasap karena malu. "Apa aku salah? Kau terlalu egois karena memikirkan kepentinganmu sendiri," imbuhku melampiaskan semua isi hatiku. Aku sudah tidak punya malu berani menyatakan cinta lebih dulu. Tidak ini bukan cinta, aku baru saja menyuruhnya pergi dari hidupku dengan caraku sendiri. Lalu kenapa jantungku masih bedebar-debar.


"What? Don't kid me?" katanya menahan tawa. Aku menyipitkan mataku dan membulatkan bibir. Ia menertawakanku dan itu membuatku marah. Aku marah pada diriku sendiri yang sudah bodoh ini. Kenapa aku tidak diam saja? Kenapa? Mau ditaruh dimana mukaku sskarang? "Sorry ..., aku terkejut dengan caramu menyatakan cinta ...," godanya masih menyimpan senyuman.


"Kau bisa pergi sekarang!" Usirku halus. "Hutangku sudah lunas dan aku tidak punya urusan apapun denganmu," kataku sebelum melenggang meninggalkannya.


"Bening, tungu!" Tangan kokohnya berhasil mengcengkram lenganku dan membuatku menghentikan langkah dan menatapnya.


"Apa masih belum jelas? Aku sudah selesai denganmu." Aku mengibaskan tanganku dengan gemas. Namun sia-sia, tangannya seperti elang yang mengcengkeram kuat mangsanya.


"Kau baru saja menyatakan cintamu, lalu sekarang, kau akan melarikan diri?" Kedua matanya mengawasi wajahku dengan seksama. Pipiku mulai memanas karena aliran darah yang tiba-tiba.


"Kalau menurutmu begitu, iya."


"Bening, kau kah itu?" Suara berat Leon membuatku menoleh, mencari sumber suara. Leon berdiri tak jauh disana. Kemeja putih dan celana denim biru muda membuatnya tampilannya lebih muda dan fresh.


"Dia pacarmu?" Damar mengencangkan gengaman tangannya. Aliran darah yang terhenti membuat kulitku sedikit nyeri.


"Menurutmu?"


"Shit!" Aku mendengar Damar mengumpat pelan. Aku menggunakan kesempatan ini untuk melepas cengkraman tangannya.


"Tidak, tidak, dia sudah akan pergi!" Aku memasang senyum terbaikku.  "Iya, kan, Damar?" Aku menatap Damar yang berdiri tak jauh dariku dan memberi tatapan 'sebaiknya kau pergi sekarang'. Ia menangkap sinyal yang aku berikan. Baguslah.


"Aku akan menjemputmu!" Ia meletakkan tangan kanannya di atas kepalaku dan menepuknya ringan seolah-olah aku ini anak kucing miliknya.


"Iya, iya, sekarang pergilah!" usirku halus. Aku bisa kehilangan akal sehatku jika Damar memperlakukannku seperti itu. Sial! Sebagian dariku menyukai perhatian itu.


"Siapa? Pacar?" Leon beralih menatapku penuh selidik. Aku menatap punggung Damar yang perlahan menjauh sebelum masuk ke dalam mobil mewahnya dan menghilang.


"Dia? Tidak mungkin!" elakku. Aku melirik Leon yang sedang menatapku.


"Kulihat, kalian bertengkar layaknya pasangan!" Leon berkomentar. Komentar Leon membuatku harus memutar bola mata untuk kesekian kalinya. Andai itu benar.


"Kau pasti salah lihat, sudahlah ayo masuk!" Aku memutar badanku dan meninggalkan Leon yang masih mematung. Ia mengikuti langkahku dan segera menjajari langkahku dengan kaki panjangnya.


"Kau yakin, dia bukan pacarmu," selidiknya.


"Iya, aku tidak punya pacar." Aku sedikit berteriak untuk meyakinkannya.


"Lalu, kemana saja kau tiga hari ini?"


"Kenapa kau bertingkah seperti Damar?" Aku harus berterimakasih pada Leon karena membuatku ingat pada Damar. Aku berharap bisa menyumpal mulutnya dengan rendang buatan ibuku yang tersimpan rapi di dalam kotak makan. Aku menepuk dahiku mengingat koporku masih berada di mobil Damar. Laki-laki itu pasti sengaja melakukannya.


"Jadi, dia marah karena kau mengabaikannya selama tiga hari?" ucapan Leon membuatku semakin kesal. Aku tidak mau membahas Damar lagi. Aku ingin terbebas darinya.


"Kenapa bau menyan, ya? Benar, aku mencium bau menyan, apa kau sekarang berganti profesi menjadi ssorang dukun?"


"Dasar anak nakal." Leon menarik tubuhku dan melingkarkan lengan kokohnya di pundakku kemudian mengacak-acak rambutku yang sudah kusisir rapi. "Berapa lama kau mengenalnya?" tanyanya masih merangkul pundakku.


"Leon!" Aku baru akan memukulnya ketika dia menangkap tanganku. Ia menghadiahiku dengan tatapan yang familiar bagiku, tatapan menggoda yang berhasil membuat rona merah bersemu di pipiku.


"Jadi, aku tertinggal satu langkah darinya?" Aku mengabaikan komentar Leon. Aku tidak mau terbawa perasaanku yang tidak jelas. Lagipula tidak mungkin Leon menyukaiku, ada banyak gadis cantik disekitarnya yang siap menghangatkan tubuhnya. Aku tidak bisa menjadi salah satu dari mereka.


"Proyek di Bandung bagaimana?" kataku mengalihkan perhatian. Ia melepaskan lengannya dari pundakku.


"Aku kehilangan karyawan terbaikku, apa kau tidak bisa disini bersamaku selamanya?" ungkap Leon dengan tatapan sedih. Tidak! Mungkin aku salah mengartikan tatapan itu. Aku pasti salah lihat. "Kau harus sering mengunjungi lelaki malang ini!" imbuh Leon dengan nada dibuat-buat.


"Apa aku tidak salah dengar? Kalau lelaki tampan sepertimu malang, bagaimana dengan mereka yang hidup dijalanan?"


"Jadi, aku tampan?"


"Bukan itu masalahnya!"


"Tapi, benar, kan, aku tampan?"


"Iya, sangat tampan jika dilihat dari Monas!"


.


.


.


.


.


Halo semua, maaf ya, episodenya pendek. Hahahaha, meski begitu, aku berharap kalian tetap suka. Jangan lupa komen dan like juga ya. Kalau mau vote, aku bakal lebih bahagia lagi. 😍😘😂


Salam bahagia


Nina K.