
Damar POV
"Aku sudah memesan tempat untuk kalian berdua," kata Randy begitu masuk ke ruang kerjaku. Pintu kaca es di belakangnya dibiarkan tertutup sendiri. Suara langkah kaki semakin mendekat sebelum berhenti tepat di depan meja. Ia diam beberapa detik, mungkin menunggu respon dariku.
"Kalian siapa?" Aku mengangkat wajah sedikit hingga mata kami bertemu di udara. Aku memberinya kesempatan untuk membuka mulut dan menceritakan isi kepalanya. Randy menarik kursi hitam di depan meja dan duduk tanpa diminta. Kedua alisnya berkerut tetapi mulutnya masih terkunci rapat. Aku menunggu ia membuka mulutnya lagi. Ia menggeleng pelan. Apakah aku melewatkan sesuatu yang sangat penting? Well, aku akan tahu setelah Randy buka suara.
"Aku sudah mengirim pesan semalam. Apa kau lupa?" Ia menghembuskan napas pelan. Ada kejengkelan dalam nada bicaranya. Kali ini, aku yang mengerutkan alis. Lembaran-lembaran kertas yang menjadi pusat perhatianku beberapa menit yang lalu menjadi tidak menarik lagi. Aku meletakkan bolpoin yang kupegang di atas meja. Membwrikan peehatian penuh kepada Randy. Aku tak ingat ada pesan semacam itu. Aku ingat, aku mengabaikan tiga pesan terakhir Randy. Bening, lebih banyak menyita tempat dikepalaku daripada yanv aku pikirkan. Aku harus segera mengatasi masalah ini. Gadis itu ....
"Aku tidak membacanya!" Aku menyandarkan punggung pada punggung kursi tinggi, mengamati Randy yang tampak menahan amarah. Aku benar-benar tidak membacanya dan Randy harus tahu.
Randy mengumpat pelan lalu memperbaiki posisi duduknya. Kami berhadap-hadapan. Ekspresi di wajahnya berubah lebih serius. Lubang hidungnya membesar sebelum membuka mulutnya.
"Hari ini, kau akan makan siang bersama Almira. Aku sudah memesan tempat di restoran Itali kesukaanmu." Suaranya ringan tetapi sangat jelas. Kerutan di dahi semakin dalam saat ia dengan enteng mengatakan berita mengejutkan itu. Aku menaikkan satu alis.
Almira siapa? Aku tidak ingat punya teman wanita bernama Almira. Randy menyandarkan punggungnya pada kursi. Mengabaikan tatapan tajam yang kuhadiahkan.
"Apa ini kencan buta?" tebakku. Aku ingin memastikannya. Jika benar ini kenca buta, sudah jelas siapa dalang dibaliknya. Mama sudah memproduseri acara makan siang ini. Ya Tuhan, kapan mama akan berhenti menganggu kehidupan pribadiku, cinta sejati yang coba aku temukan. Sial, apakah aku baru saja mengatakan cinta sejati? Sepertinya kepalaku memang perlu di MRI.
"Anggap saja begitu." Ia mengangkat kedua bahunya dengan santai. Mama berani melibatkan Randy dalam hal ini. Mama pasti merencanakan ini semua dengan matang.
"Kalau aku tidak mau?" tanyaku. Napas yang tidak sengaja tertahan berhasil lolos.
"Bersiaplah mencari pengantiku," katanya dengan nada lirih tetapi begitu tegas. Pandangan matanya tak goyah. Mama pasti melakukan sesuatu yang lain kepada Randy.
"Apa ini ancaman?"
"Tanyakan itu kepada ibumu!" Randy terdengar lebih kesal. Ya, pasti mama mengancam Randy atau semacamnya.
"Baiklah, tidak perlu cemberut seperti wanita yang sedang datang bulan." Aku melihat Randy melengos kesal. Ia menjadi lebih sensitif dari biasanya. Apa ia sedang bertengkar dengan kekasihnya?
"Aku tidak cemberut!"
"Kau baru saja melakukannya!" godaku. Ia tak menanggapinya. Perhatiannya terpaku pada map hitam di atas meja. Map yang dibawa oleh Randy beberapa saat lalu.
"Ada yang lain?"
"Pesaing kita juga baru saja meluncurkan produk baru dan produk mereka hampir mirip terutama kemasan. Kalau tidak teliti mereka akan mengira itu produk kita."
"Selidiki apakah ada yang mencurigakan, termasuk produk baru mereka."
"Kurasa sudah waktunya."
"Waktu apa?"
"Makan siang."
Randy melesat keluar setelah mengatakan kalimat terakhirnya. Andai saja aku bisa memecatnya dengan mudah tanpa meninggalkan masalah. Sayangnya, Randy adalah yang terbaik dan sahabatku.
Aku melirik arloji perak yang menghiasi tangan kiri, jam dua belas lewat lima menit. Aku beralih melirik lembaran-lembaran kertas yang memenuhi meja kayu bercat cokelat. Pekerjaan ini tidak ada habisnya. Setelah berhasil merapikan beberapa berkas, aku meninggalkan ruangan. Sial. Randy seharusnya memberitahuku lebih awal.
Perjalanan menuju restoran yang dipesan Randy terasa lebih cepat dari yang aku harapkan. Halaman parkir restoran sesak oleh mobil pelanggan yang berjajar rapi. Satu-satunya tempat yang tersisa berada di bagian paling ujung. Cukup jauh dari pintu masuk restoran. Tampak sekali, pelanggan enggan memarkir mobilnya di tempat ini.
Aku mendorong pintu mobil dan menyelinap keluar. Ponselku bergetar, pesan baru masuk.
[Aku memesan meja favoritmu]
Tulis Randy dalam pesan singkatnya. Tanpa niat untuk membalas, aku menyimpan kembali ponsel hitam metalik di saku celana dan berjalan meninggalkan tempat parkir.
Seorang pramusaji yang berdandan rapi menyambutku dengan ramah.
"Selamat datang, mari saya antar ke meja anda!" tawarnya berjalan lebih dulu. Aku memindai cepat ruangan berdekorasi sederhana tetapi terlihat berkelas. Beberapa meja sudah penuh. "Silahkan!" lanjutnya begitu sampai di meja yang sudah dipesan oleh Randy.
"Mau langsung pesan, Pak?" tanyanya sembari mengulurkan daftar menu ke arahku.
"Saya menunggu seseorang," elakku halus. Aku melirik arloji perak di tangan kananku. Perempuan bernama Almira ini terlambat sepuluh menit. Apa aku harus bersikap sebagai gentleman yang menunggu teman kecannya yang sengaja terlambat? Apa semua perwmpuan memang suka terlambat?