Damar: Love Is On The Way

Damar: Love Is On The Way
Pelukan hangat



"Halo, ini aku," suara nyaring Bening menggema lewat ponsel yang baru saja aku tempelkan di telinga kiri setelah berdering cukup lama. Gadis tengil ini tidak sedikitpun memcoba berkata halus. Aku tidak pernah mendengar suara yang sengaja dibuat-buat untuk menarik perhatian lawan jenis seperti kebanyakan gadis lain, tidak wanita lain. "Damar, sopirmu ada di depan rukoku, tapi aku harus keluar dengan Leon jadi aku tidak bisa pulang bersama sopirmu," lanjutnya dengan nada yang sama. Ada sedikit kekesalan disana. Aku mengeratkan kedua rahang saat mendengar kata 'Leon'. Gadis ingusan ini akan pergi mungkin berkencan dengan laki-laki bernama Leon. Aku tidak menyukai skenarion itu. "Damar? hei kau masih disana? ya, sudah, aku tutup, tapi ingat jangan memarahi sopirmu, mengerti!"


Sambungan terputus, lebih tepatnya Bening mematikan sambungan telponnya. Aku mengumpat pelan.


Cukup keras mungkin karena beberapa pasang mata menoleh ke arahku. Aku melupakan keberadaan mereka sesaat.


Sial! Aku harap perjalanan ini segera berakhir.


Presentasi kembali berlanjut tetapi aku tak benar-benar menikmatinya. Aku kehilangan rasa tertarikku semenit setelah sambungan dari Bening diputus.


Aku tak pernah merasa sefrustasi ini sebelumnya. Aku menyesal tidak membawa Randy bersamaku, ia bisa menjadi ban serep jika aku butuh. Akan tetapi, aku juga membutuhkan keberadaannya untuk menghandle pekerjaanku di Jakarta.


Meeting berakhir dua puluh menit kemudian. Aku putuskan untuk kembali ke hotel dimana aku menginap. Salah satu hotel bintang lima di kawasan Sanur berdasarkan saran dari teman yang memiliki pemandangan sunrise paling bagus. Yah, meskipun aku bukan penggemar sunrise ataupun sunset, setidaknya aku harus memastikan bahwa ucapannya benar.


Aku menghabiskan sisa malam di hotel. Niatku untuk menemui Made aku urungkan.  Aku hanya menikmati malam yang terkesan menjenuhkan di kamar hotel, mengintip dari balik jendela kaca berukuran hampir sepertiga ruangan pemandangan di luar.


Aku mencoba menghubungi gadis berambut coklat itu tetapi gagal. Ia tidak menjawab panggilan telponku.


Aku meremas benda ajaib yang bisa menghubungkan dua orang atau lebih dari seluruh penjuru dunia di tanganku.


Aku mengumpat pelan. Tak akan ada yang mendengarnya meski aku berkata kasar. Aku meninggalkan jendela yang tertutup kelambu putih polos tanpa berminat menyalakan lampu kamar.


Aku menjatuhkan tubuhku di atas matras  ranjang hotel. Kasur hotel cukup empuk hingga tubuh ini terpental. Aku menatap langit-langit kamar kamar yang sama sekali tidak menarik itu. Jendela yang tertutup tirai putih itu adalah satu-satunya sumber cahaya.


Ruangan yang sengaja aku biarkan gelap berhasil menyeretku ke dalam pulau impian tanpa aku sadari.


Aku tidak ingat berapa lama aku terlelap hingga aku mendengar bunyi alarm yang aku pasang di ponsel pintarku. Aku membiarkannya menyala dan berniat tidur kembali.


Aku terpaksa membuka mata setelah alarm berbunyi lagi. Aku menarik ponsel hitamku yang tergeletak di meja kecil di samping ranjang. Jam digital di ponsel menunjukkan pukul lima lewat lima belas. Aku sengaja memasang alarm pagi untuk melihat fajar yang diceritakan salah seorang temanku.


Aku melempar selimut putih yang membungkus tubuhku. Aku bahkan tak ingat kapan menariknya. Aku berjalan mendekati jendela yang kebetulan menghadap timur. Aku tahu jendela itu menghadap timur karena sinar keemasan sang mentari menerobos masuk melalu jendela yang kelambunya tersingkap.


Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat cahaya keemasan matahari pagi terpantul pada air laut di bawahnya. Benda langit yang berbentuk bulat penuh itu baru akan naik dari kolong langit. Cahayanya benar-benar menakjubkan. Harus aku akui, meski bukan pengagum sunrise atau sunset, lukisan langit di depan sana adalah sesuatu yang luar biasa. Sesuatu yang hanya bisa di ciptakan oleh Sang Pemilik jiwa dan raga.


Sepanjang mata memandang, cahaya keemasan bertabur jingga dan semburat warna putih menghiasi langit pagi. Langit berangsur-angsur menjadi lebih terang bersamaan dengan cahaya keemasan memudar. Tidak salah jika Sanur mendapat julukan pulau matahari terbit.


Di bawah sana, aku melihat banyak turis domestik dan mancanegara yang sedang duduk bersantai menikmati pagi. Duduk menepi di bibir pantai beralaskan pasir putih dibawah kulinya atau berselonjor pada kursi kayu panjang yang telah di sediakan oleh pengelola hotel dan restoran. Beberapa orang terlihat tertawa lebar menaiki sepeda melintasi jalan berpaving yang sengaja di buat untuk mereka.


Tergelitik oleh kesyahduan mereka menyambut pagi. Aku putuskan untuk bergabung dengan mereka dan menyapa laut. Tanpa mencuci muka dan menganti pakaian aku putuskan untuk segera turun.


Angin pagi menyapaku dengan lembut. Ombak kecil tampak berayun-ayun disapu oleh angin. Pantai disini jelas tidak memiliki ombak seperti pantai Kuta yang banyak digunakan untuk berselancar.


Aku menangkap sepasang merpati yang duduk menepi mendekati air laut. Saling menyandarkan tubuh. Aku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar sebelum memulai hari.


***


Sial! Aku bisa ketinggalan pesawat terakhir jika saja meeting tidak dimajukan. Aku bahkan belum sempat membeli oleh-oleh yang aku janjikan untuk Bening. Rencanku mengunjungi Krisna, salah satu tempat yang direkomendasikan Putu untuk mencari buah tangan gagal.


Pilihan terakhir, membelinya dibandara.


Aku tiba di bandara pukul tujuh malam waktu setempat. Di Jakarta masih pukul enam malam. Aku putuskan membeli oleh-oleh sepatu merek lokal yang cukup terkenal karena di desain khusus oleh penduduk Bali yang memiliki kecintaan terhadap sepatu. Mengenai ukuran, aku meminta saran kepada pegawai toko dengan menjelaskan ciri fisik Bening, tinggi badan dan perawakannya. Setelah berhasil membungkus sepatu yang menurutku cocok dengan karakter Bening yang sedikit urakan itu, bukan urakan tetapi sedikit kasar untuk kaum hawa. Aku melirik outlet yang menyediakan kue kering khas pulau dewata. Aku membeli pie susu yang terkenal enak sebagai oleh-oleh untuk Bening dan mama. Aku hampir melupakam wanita cerewet itu.  Untuk adik perempuanku yang super manja aku membelikannya kalung perak dan baju. Semoga ia tak mengamuk karena aku hanya membelikan kalung perak.


Kau tahu ... menunggu adalah pekerjaan yang sangat menyebalkan. Sama seperti yang aku alami sekarang, aku harus menunggu setelah boarding, setelah itu aku harus menunggu lagi sampai pesawat yang aku tumpangi mendarat dengan selamat di Jakarta. Satu jam tiga puluh perjalanan menuju Jakarta bagiku sangat lama. Sangat membosankan. Aku hanya bisa melirik arloji perak yang aku pakai setiap beberapa menit, bahkan terlalu sering untuk kebiasaanku sendiri.


Pesawat akhirnya mendarat sempurna pukul delapan lebih. Perbedaan waktu yang membuatnya demikian jika kau bertanya kenapa aku masih berdiri di waktu yang sama. Itu karena perbedaan waktu indonesia tengah dan barat.


Setelah menemukan mobil yang aku parkir rapi. Aku melajukan mobil dengan kecepatan maksimum menuju holywood Apartemen.


"Apa kau selalu pulang selarut ini?" tanyaku ketika melihat Bening merogoh sesuatu dengan tangannya. Mungkin mencari kunci. Tubuhnya sedikit terssntak.


Arloji perak di tanganku menunjukkan pukul sepuluh kurang ketika aku memasuki gedung apartemen. Tanpa aku sadari aku menekan angka lima dimana apartemen Bening berada.


Ia menarik keluar tangan kirinya dari tas dan melirik arloji yang selalu ia kenakan di tangan kanan sebelum membalik tubuhnya.


"Apa yang kau lakukan di sini?" katanya ketus.


"Mengantarkan pesanan," kataku mengacungkan tas hitam dimana aku membeli oleh-oleh untuknya. Aku melangkah pelan mendekatinya. "Kau tidak mau membuka pintunya?" Godaku. Aku tidak berharap gadis ini akan mengundangku masuk mengingat hari semakin gelap dan aku tahu, ia tak akan melakukannya kecuali aku memaksa. Ya, aku memaksa dengan menerobos masuk dan mengabaikan tatapan bengisnya.


Ia kembali merogoh tas yang digantung di bahu kirinya. Ia menemukan apa yang dicarinya kemudian menempelkan kartu ajaib yang mampu membuka pintu bercat hitam itu. Aku melangkah sedikit mendekatinya. Aku harus mengontrol desakan-desakan aneh yang menyeruak perlahan.


Gadis yang rambutnya di kuncir asal ini memutar tubuhnya. Wajahnya mulai merona sementara dadanya naik turun. Tatapan matanya kesal. Apa aku membuatnya kesal? Aku bahkan tak melakukan apapun yang ingin aku lakukan padanya.


Lihat saja dandanannya, rambutnya yang dikuncir kuda itu menyisakan banyak rambut nakal yang terjuntai bebas. Tanganku gatal ingin menyelipkan jari dan membantunya merapikan rambut coklat itu. Tank top putih yang dikenakan lebih parah, bajunya sedikit terbuka untuk seleraku. Meski tank top itu dipadukan dengan jaket rajut panjang untuk menutupi lengannya. Aku tetap tidak menyukai kenyataan bahwa bagian atas dadanya terlihat jelas. Kulit mulus itu memiliki satu bintik hitam yang aku tebak itu adalah tahi lalat. Mataku terlalu fokus hingga aku menemukan titik hitam berukuran seperti kacang kedelai itu sangat menarik. Meski dada gadis ini tergolong datar, tetap saja aku tak suka melihatnya menggunakan pakaian terbuka.


Celana jeans berwarna biru pudar itu cukup longgar dan bagian bawahnya di lipat. Kakinya di bungkus sepatu flat berwarna coklat, senada dengan jaket rajut yang dikenakan.


Aku kembali menatapnya. Ia balas menatapku nyalang. Gadis ini benar-benar berani.


"Apa kau menyukaiku?" katanya. Aku tersentak dengan pertanyaan yang tiba-tiba itu. Gadis ini ...


Aku harus menata air mukaku.


Rona wajahnya bersemu merah ketika aku mengawasi wajahnya lebih lekat.


"Apa kau menyukaiku?" kataku balas bertanya. Wajahnya memerah seperti udang rebus. Akan tetapi tatapan matanya berubah. Ia menghembuskan napas pelan sebelum membalik badannya dan menutup pintu di depanku.


Ia membanting kasar pintu bercat hitam dan bersembunyi di balik sana. Ada apa dengan gadis ingusan itu?


Aku mengetuk pintu bercat hitam itu beberapa kali. Ia melupakan oleh-oleh yang aku bawakan. Pintu terbuka setelah beberapa saat.


"Kau melupakan ini." Ia merebut paksa tas karton hitam tak bersalah itu. "Kau tidak mau memberiku pelukan hangat," godaku.


"Memangnya kau ayahku," katanya ketus. "Aku sudah menerima paketnya. Sekarang pulanglah," usirnya. Ia mundur sedikit hendak menutup pintunya. Aku maju selangkah dan mendorong pintu di depanku dengan gerakan cepat. Aku belum cukup puas melihat wajahnya.


"Aku menyukaimu," kataku. Dengan gerakan singkat aku menarik tubuh kurusnya hingga jarak kami tertutup. Aku menunduk sedikit dan berbisik lirih di telinganya. "Itu yang ingin kau dengar."


Ia protes dengan mendorong tubuhku pelan. Aku mengeratkan dekapanku dan memenjarakan tubuh kurusnya yang pas di dalam dadaku. Aku hanya ingin melakukannya walapun sebentar. Aku meletakkan dagu di atas kepalanya. Ia membeku di dalam pelukanku tetapi tidak lagi protes. Kami berada diposisi itu untuk beberapa saat.


Aku mendorong pelan tubuhnya dan menatapnya. Ia hanya membeku.


"Apa itu cukup untuk membuatmu berada di sisiku?"