DALLAS

DALLAS
CHAPTER 8



"Dallas... sepertinya aku akan mundur dari jabatanku sebagai primadona sekolah ini."


"Kenapa Dara?"


Namun Dara tak menjawabnya, ia pergi dengan raut wajah yang terlihat sedih.


"Aku pergi dulu."


Aku melihat hari-hari Dara semakin memburuk, dia di pojokan semua murid, perkataan Jonathan mempengaruhi semua orang. Hingga suatu hari Dara mengundurkan diri sebagai primadona sekolah.


Dan suatu malam saat di perjalanan, aku bertemu dengan Jonathan yang tengah duduk bersama teman-temannya. Aku mendekatinya dan langsung memukul wajahnya.


BLAM!!!


Pukulanku sangat keras sehingga membuat Jonathan tersungkur ketanah.


"Udah puas lo sakitin Dara!" Aku berteriak dengan keras di depan wajah Jonathan.


"Sebenernya gue belum puas. Tapi apa yang gue bilang itu bener dia adik dari pembunuh." Ucap Jonathan dengan santainya.


"Tunggu. Lo siapanya Dara Hah, gue rasa lo bukan siapa-siapanya dia. Lo bukan pacar Dara, jadi jangan sok-sok'an bela Dara. Dallas!"


Ya. Dan saat itu aku benar-benar tersadar jika aku memang bukan siapa-siapanya Dara.


Keesokan harinya aku berangkat ke sekolah dengan perasaan yang masih sama dengan perasaan semalam, Tiba- tiba suara pengeras suara terdengar begitu keras disetiap sudut sekolah. Untuk memberitahu kepada semua murid agar segera berkumpul di aula sekolah. Aku pergi menuju Aula sekolah bersama dengan Abiyan.


"Ada apa ini? Kenapa kepala sekolah menyuruh kami berkumpul di Aula?" tanyaku pada Abi sembari berjalan menuju Aula.


"Katanya si mereka akan mengumumkan primadona sekolah kita yang baru. Ah padahal Dara orang baik. Tak kusangka dia adik dari pembunuh."


ucapan Abi itu membuatku marah


"Apa yang kamu katakan?!"


"O-oh engga gue cuman bercanda Las sorry. Ah gue lupa kalo lo suka sama Dara."


Seorang perempuan bernama Bianca Crystal menggantikan posisi Dara sebagai primadona sekolah.


"Crystal? Kenapa dia yang terpilih? Apa bakat dia?" Ucap seorang siswi yang ada di belakangku.


Namun hanya beberapa orang yang tak menyukai Crystal, dan lebih banyak murid yang menyukai Crystal karena dia sangat cantik dan ia juga leader dari anggota Cheerleaders sekolah.


Saat itu terjadi, aku melihat Dara di asingkan dan tak ada yang mau berteman dengannya, dia terus sendirian. Namun senyum di wajahnya tak pernah hilang. Aku mencoba mendekati Dara yang tengah berdiri sendirian di tengah kumpulan murid-murid.Tapi tiba-tiba kepala sekolah memanggil namaku. Seketika aku pun terkejut.


"Dallas Elga O'Brian." Ucap kepala sekolah dengan Mic nya.


Aku bingung saat itu kenapa tiba-tiba kepala sekolah memanggilku. Karena dari tadi aku sama sekali tidak memperhatikan orang-orang yang berbicara di depan.


"Bi ini ada apa ya?" tanyaku pada Abi.


"Lo si Las gak perhatiin orang yang lagi ngomong di depan. Buruan ke depan, kepala sekolah mau lo gantiin Jonathan sebagai primadona sekolah, buruan!"


"APA?! Memangnya kemana Jonathan?"


"Udah sana maju!" kata Abiyan sembari mendorong badanku.


Aku berdiri di depan di hadapan para murid, hari itu aku benar-benar merasa tak enak pada Dara. Aku ingin menolak ini tapi rasanya mulutku benar-benar sulit untuk mengatakan tidak, Karena aku terlalu gugup. Dan tiba-tiba tanganku yang dingin karena gugup, di genggam oleh Crystal.


"Tenanglah Dallas... " Bisik Crystal.


Entah kenapa saat itu aku tak melepaskan genggaman tangan Crystal. Karena aku merasa ketika seseorang memegang tanganku, rasa gugup dalam diriku sedikit menghilang.


Aku mendekati kepala sekolah dan bertanya padanya kenapa aku yang terpilih.


"Maaf pak, tapi kenapa bapak memilih saya?" tanyaku.


"Karena bapa tahu kamu seorang petinju kamu pantas mendapatkannya." Jawab Pak kepala sekolah yang bernama Harris itu. Aku pun terkejut kenapa kepala sekolah bisa tahu aku suka MMA.


"Bagaimana bapa bisa tahu?"


"Bimo, dia memberitahu saya tentang dirimu, saya juga sempat tak sadar jika kamu adalah murid dari sekolah ini."


"Bapa mengenal coach Bimo?"


"Ya. dia teman saya."


"Tapi pak, Jonathan juga sama sepertiku, kenapa harus aku?"


Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Sekarang aku dan Crystal menjadi primadona sekolah ini.


Setelah kejadian itu hariku benar-benar banyak berubah. Sekarang aku adalah Dallas yang di kenal banyak orang di sekolah.Banyak dari mereka semua yang ingin berteman denganku. Karena hal itu Jonathan semakin membenci diriku.


Malam itu aku pergi ketempat latihan MMA untuk berlatih. Ketika tiba disana, aku benar-benar terkejut karena ada kepala sekolah di tempat latihan.


"Pak Harris, bapak ada disini?" tanyaku.


"Dallas akhirnya kamu datang, saya menunggumu sudah sangat lama disini." Jawab pak harris.


Dan tak lama coach Bimo datang.


"Dallas, baguslah kamu sudah datang, pak Harris menunggumu sejak tadi."


"Memangnya ada apa coach?"


Coach Bimo memberitahuku alasan mengapa Pak Harris datang ke tempat pelatihan ini. Coach Bimo mengatakan bahwa pak Harris tertarik mengontrak-ku sebagai petinju yang berada dalam naungannya.


"Dallas ini kesempatan bagus, kamu bisa ikut pertarungan MMA di mana-mana. Kamu bisa mengembangkan bakatmu sebagai seorang petarung MMA. Lagi pula bayarannya juga sangat mahal, dan kamu tak perlu takut. Aku mengenalnya dia temanku bahkan kamu adalah murid di sekolahnya. Jadi bagaimana apa kamu mau?"


Aku sangat senang mendengar itu semua. Tanpa pikir panjang aku menerima tawaran itu. Aku menandatangani kontraknya diatas materai.


"Tapi dimana nanti aku akan berlatih?" Tanyaku kepada pak Harris.


"Kamu akan tetap berlatih di sini. Dan nanti jika ada pertandingan MMA aku akan menghubungimu dan juga Coach Bimo." Jawab Pak Harris. Lalu aku pun menuruti apa perkataan mereka, dan aku melanjutkan latihanku bersama Coach Bimo.


Ketika di perjalanan pulang setelah lelahnya berlatih. Aku bertemu dengan Dara, aku melihat Dara keluar dari sebuah Bar. Tiba-tiba aku teringat sesuatu, sebelumnya aku melihat ada pecahan botol alkohol di rumahnya Dara saat itu, lalu aku menghampirinya dan bertanya padanya.


"Dara!" sahutku.


"D-Dallas."


Dara terlihat begitu gugup ketika aku memanggilnya bahkan Dara juga menyembunyikan plastik yang berisi alkohol itu di balik badannya.


"Dallas kenapa kamu ada disini?"


"Aku tak sengaja melihatmu disini jadi aku berhenti sebentar. Apa yang kamu lakukan Dara, aku melihat kamu keluar dari Bar ini. Apa kamu minum alkohol?"


"T-tidak Dallas, aku sama sekali tak minum alkohol. Aku pergi dulu Dallas, ini sudah sangat larut, oh ya dan ini bukan alkohol ini hanya Bir."


Belum selesai aku berbicara dengannya, Dara malah pergi begitu saja. Sejak saat itu aku mulai curiga pada Dara. Bahkan aku masuk ke Bar itu untuk bertanya minuman jenis apa yang di beli Dara.