
"Jadi gini Las, setelah dia nunggu lo disini tapi lo ga sadar-sadar. Dia pulang karena dia juga cemas sama ibunya, Lagi pula Dara juga ga pulang-pulang beberapa hari ini, karena kalian berdua kan disekap oleh Jonathan. Lalu setelah itu dia kembali sebentar kesini untuk menjengukmu lagi. Tapi lo masih belum sadar." jelas Abiyan.
"Lalu setelah itu?"
"Setelah itu, Dia bilang dia pindah sekolah, tapi dia ga ngasih tau kita sekolah dimana. Karena dia takut jika dia terus sekolah disini Jonathan akan terus berulah membalas dendam padanya. Dan Dara juga bilang jika dia pergi pasti Lo ga akan terkena nasib sialnya lagi, lo akan fine-fine aja setelah Dara pergi dan ga dapet lagi masalah."
"Lalu soal nark*ba yang ada didalam tasnya itu bagaimana?"
"Oh soal itu sudah selesai. Lo tahu Barbara lah yang memasukannya ke.dalam tas Dara. Barbara dapet perintah dari Bintang dan Bintang dapet perintah dari Jonathan. Dan akhirnya Barabara dikeluarkan dari sekolah juga. Sedangkan Jonathan dan Bintang, entah kemana mereka pergi. Tapi sepertinya mereka berurusan langsung dengan polisi karena menggunakan barang terlarang itu."
Setelah Abiyan menjelaskan aku terdiam membeku sebentar.
"Oh ya Las, dia juga bilang sama gue. Kata Dara maafin dia karena dia lo jadi terluka kaya gini."
"Seharusnya dia mengatakan itu sendiri. Tapi itu bukan kesalahannya. Lagi pula gue yang nerima tantangan Jonathan untuk bertarung diatas ring secara ilegal. Oh ya Bi apa kata coach Bimo dan pak Harris? Apa mereka marah padaku?" tanyaku yang cemas karena takut pak Harris dan coach Bimo mengeluarkanku dari sudut mereka.
"Ah lo tenang aja, gue udah jelasin semuanya sama mereka. Tapi Las, gue agak khawatir sama lo. Apa lebih baik lo cari kerjaan lainnya aja selain MMA ilegal ini!"
"Gue ga bisa kerja ditempat yang bukan passion gue. Itu membuat diri gue lelah, tapi kalo gue kerja ditempat yang bener-bener pake passion gue, selelah apapun itu gue akan tetep seneng lakuinnya. Gue ga bisa keluar dari zona MMA ilegal ini Bi."
Abiyan membuang nafas setelah mendengar perkataanku.
"Andai aja lo berhenti Las, pasti Dara ga bakalan putusin lo." kata Abi merayuku agar aku berhenti dari MMA ilegal ini.
Sektika aku membeku lagi dan tak menjawab pertanyaan Abi.
****
Setelah aku sembuh, aku terus mencari tahu dimana Dara tapi aku tak menemukannya. Nomer handphonenya sudah tak aktif bahkan sosial medianya juga.
"Sepertinya Dara menonaktifkan sosial medianya." gumamku sembari duduk diatas kasur dan lapotop yang terbuka yang menampilkan sosial media Dara.
Selama berhari-hari, berminggu-minggu dan berbulan-bulan aku terus mengirimkan pesan padanya di sosial medianya yang sama. Tapi sosial medianya masih saja tak aktif.
"Hmm... Apa Dara lupa password?" ucapku sembari menghembuskan nafas.
Hingga pada akhirnya aku lelah menunggu. Dan hari-hariku terganggu. Jadi aku memutuskan untuk tak menghubungi sosial medianya lagi yang sudah tidak aktif itu.
Selama masa SMA aku tak berhenti dari MMA ilegal itu, aku terus mengikuti MMA ilegal yang diatur oleh Pak Harris dan Coach Bimo. Rahasia itu masih terkunci rapat. Dan hanya diketahui oleh orang-orang terdekatku saja.
yaitu Yasmin, Abiyan, Grey dan juga Nayyala.
2 tahun kemudian...
Pak Harris meninggal dunia, dan aku tak bisa mendapatkan lagi uang dari pertandingan MMA ilegal itu. Lalu coach Bimo memutuskan agar aku ikut pertarungan MMA legal yang selalu disiarkan ditelevisi.
Aku selalu mengikuti pertarungan MMA ilegal. Hingga aku menjadi seorang atlet MMA yang terkenal. Karena kemampuan tarungku diatas ring yang luar biasa. Berkat coach Bimo yang terus membimbingku dan sahabat-sahabatku yang selalu mendukungku.
Kami berkumpul disana. Grey duduk berdekatan dengan Yasmin, mereka kini menjalin hubungan sejak SMA dan kini mereka masih bersama. Sedangkan Abiyan dia menjadi seorang pembalap motor karena passion dia dalam dunia balap motor sangatlah kuat. Tapi dia masih sendiri sama sepertiku tak dekat dengan wanita manapun karena fokus pada hobinya.
"Temen-temen... Gue mau bilang kalo minggu depan gue bakalan tarung di London Inggris untuk MMA tingkat Internasional."
"Serius lo Las?!" tanya Abiyan.
"Iya serius!" jawabku
Lau Abiyan dan Grey bertingkah seperti anak kecil meloncat dan memukul-mukuliku kegirangan.
Tapi entah mengapa aku merasa sedih tak bahagia akhir-akhir ini. Aku merasa kesepian walapun sahabat-sahabatku ada disampingku. Rasanya ada yang kurang. Ya siapa lagi yang tak kupikirkan. Aku terus memikirkan orang tuaku yang sudah tiada dan juga memikirkan Dara wanita yang membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya. Cinta pertamaku, sangat sulit untuk melupakan cinta pertama.
Bahkan Liontin yang berbandul bunga smeraldo yang pernah ku berikan untuk Dara. Masih kupakai hingga saat ini.
Hari dimana aku harus bertanding di London Inggris pun tiba. Aku berangkat ke London bersama coach Bimo. Mungkin selama 5 hari aku akan berada disana. Setibanya disana aku langsung berisitrahat di hotel. Karena besok malam pertandingan akan segera dilaksanakan. Jadi aku beristirahat full dengan tidur dihotel.
Ketika malam tiba aku terbangun dan langsung mandi untuk pergi Meeting terlebih dulu sebelum pertandingan bersama coach Bimo, disana banyak sekali orang-orang yang menyukai MMA bahkan tubuh mereka besar-besar dan berisi.
Seusai meeting coach Bimo mengajakku kesebuah toko roti dan sesampainya disana, coach Bimo langsung disambut oleh perempuan muda yang mungkin seusia denganku. Lalu aku diperkenalkan dengan perempuan itu oleh coach Bimo.
"Dallas kenalin ini Lea, dia anak perempuan coach yang tinggal di London, dia membuka toko roti disini." ucap Coach Bimo.
"H-hai saya Dallas." ucapku yang sedikit gugup.
"Lea." jawabnya yang terus tersenyum padaku.
"Sebentar aku akan siapkan makanan untuk ayah dan juga Dallas, tunggu sebentar ya."
Lea berlari kedapur tokonya untuk menyiapkan beberapa makanan untukku dan juga Coach Bimo.
"Coach Lea anak Coach? Aku baru tahu." kataku bingung pada Coach Bimo.
"Ah iya itu anak coach, oh ya coach sengaja memperkenalkan nya padamu. Kamu tahu dia belum pernah pacaran. Dia sangat sulit percaya pada laki-laki, mungkin dia sedikit trauma karena pernah mencintai tapi cintanya hanya bertepuk sebelah tangan."
lalu coach Bimo tertawa setelah mengatakan kata-kata yang cukup menggelitik itu.
Lea pun datang dan membawa roti buatannya lalu menyajikannya diatas meja untukku dan juga untuk ayahnya Coach Bimo. Kami mengobrol bertiga sembari makan roti buatan Lea yang sangat enak.
"Wah Lea, ini sangat enak, apa kamu bekerja disini sendiri?" tanyaku sembari memakan sepotong roti.
"Emm, tidak aku tidak sendiri, aku membuat roti bersama dengan salah satu temanku disini, karena sudah larut dia sudah pulang. Aku sengaja masih disini karena ayahku bilang dia akan mampir." jawab Lea.
Ketika aku melihat ke sekeliling sudut ruangan itu, aku melihat ada sebuah lukisan bunga yang sangat indah menempel di dinding. Lalu aku bertanya pada Lea.