DALLAS

DALLAS
CHAPTER 19



Ketika akan pulang sekolah aku bertatapan dengan Abiyan bahkan Abiyan yang menyapaku lebih dulu.


"Grey bilang lo beli motor koleksinya, apa itu benar?" tanya Abiyan.


"Ya itu benar, aku membelinya." jawabku dingin sembari menggunakan Helmku.


"Las, gue mau minta maaf sama lo." tiba-tiba saja Abi meminta maaf padaku.


Aku berbalik badan dan melepaskan helmku.


"Gue maafin lo Bi, dan gue janji ga bakalan bikin lo kecewa lagi. Gue ga bakalan bohong lagi sama lo." Jawabku dengan senyuman.


"Thanks ya Dallas, lo mau maafin gue. Oh ya, bagaimana jika malam nanti kita pergi keluar bawa motor bersama Grey. Gimana lo mau?" Ajak Abiyan sembari memegang pundakku.


"Ya. Tentu malam ini, lagi pula besok hari


minggu."


"Oke, gue kabarin lo lagi nanti."


Ketika malam sudah tiba aku, Abiyan dan juga Grey pergi bersama kesebuah cafe menggunkan motor sport kita masing-masing. Motorku berwarna hitam, motor Abiyan berwarna merah dan motor Grey berwarna abu-abu seperti namanya.


Setibanya kami di cafe, kami memilih tempat duduk dilantai dua, lalu kami mengobrol membicarakan sesuatu yang kita suka.


"Apa Pak Harris!?" ucap Abiyan terkejut.


"Kenapa bisa? Kenapa pak Harris melakukan itu?" ucap Abiyan lagi. Setelah aku memberitahu bahwa pak Harris adalah orang yang membuatku masuk kedalam pertarungan MMA ilegal.


"Entahlah, Coach Bimo bilang pak Harris adalah pemilik Gym itu, tempat dimana aku selalu berlatih boxing."


"Apa kamu akan berhenti?" tanya Grey.


"Tadinya aku akan berhenti bagaimanapun caranya. Tapi sekarang aku benar-benar membutuhkan uang, sekarang aku hidup sebatang kara dan aku harus berjuang sendiri." Jawabku penuh rasa kekecewaan.


"Dallas, kalo lo butuh apapun. Bilang sama gue, gue pasti akan berusaha buat bantu lo!" Seru Abiyan sembari memegang pundakku


Ketika aku mengobrol tiba-tiba Hanphoneku berdering. Aku mendapatkan panggilan dari pak Harris.


"Hallo, pak Harris." panggilku pelan.


"Hallo Dallas, saya sudah mengirimkan uang hasil pertandingan kemarin, separuh untukmu dan separuh lagi untuk Coach Bimo. Dan ingat akan ada pertandingan lagi kamu harus terus berlatih."


"Baik pak Harris." jawabku lalu aku menutup telepon dari pak Harris.


"Ada apa Dallas?" tanya Grey sembari memegang cangkir kopi dengan kedua tangannya.


"Akan ada pertandingan lagi" jawabku.


"Dallas soal foto itu, foto saat kamu bertanding, jangan-jangan Pak Harris yang membocorkannya, soalnya hanya pak Harris yang tahu kamu bertanding disana!"


Tanya Abiyan dengan wajah yang penuh keseriusan.


"Bukan, bukan Pak Harris tapi Jonathan, dia yang melakukannya, bahkan kemarin malam aku bertanding dengannya."


"Ah benar-benar ya Jonathan, gara-gara dia lo putus sama Dara..."


"Ya... Bahkan Dara mengembalikan Liontin yang kuberikan padanya."


Setelah mengobrol dalam waktu yang cukup lama, kami bertiga pergi untuk kembali pulang namun ketika diperjalanan Grey mengajakku dan juga Abiyan menuju bar tempat temannya bekerja.


"Abiyan! Dallas! Sebelum pulang anter gue dulu ketempat temen gue kerja, ada hal penting yang harus gue lakuin disana!" Teriak Grey dengan suara yang sedikit kurang jelas, karena ia tengah menggunakan helm. Dan mesin motor yang menyala.


Aku dan Abiyan mau mengantarnya malam itu. Setelah beberapa menit di perjalanan, kami tiba di sebuah Bar tempat dimana teman Grey bekerja.


Aku dan Abiyan ikut masuk kedalam. Ketika sudah berada di dalam Bar ada sesuatu yang mengejutkanku dan juga Abiyan. Kami melihat ada Jonathan disana bersama dengan Bintang dan beberapa temannya yang lain.


"Las, itukan Jonathan." bisik Abiyan padaku yang tengah melihat ke rah lain.


"Jonathan? Dimana?" tanyaku sembari melihat ke arah kanan dan kiri.


"Itu! Lihat, apa yang dia lakukan? Tunggu. Aku tahu alat apa itu yang ada dimejanya." kata Abiyan sembari memegang dagunya.


"Kamu juga tau kan itu apa Las?"


"Aish... Itu alat hisap Las!"


"Alat hisap? Maksudnya nark*ba?"


"Iya. Dia pake nark*ba, liat dia hisapnya lewat hidung, itu memang mirip dengan sedotan tapi bubuk yang ada di dalamnya itu nark*ba!"


Setelah Abiyan mengatakan itu, Abiyan mengambil Handphoneku dan mulai merekamnya.


"Bi lo ngapain hah?!" tandasku.


Namun Abiyan tak memperdulikan perkataanku ia langsung merekam Jonathan yang tengah menghisap nark*ba melalui hidungnya.


Dan tiba-tiba saja Grey memanggil namaku dan juga Abiyan dengan panggilan yang cukup keras.


"DALLAS! ABIYAN! kemari aku ingin berbicara." panggilnya.


Seketika Jonathan dan Bintang melihat ke arah kami berdua yang tengah merekam mereka. Namun dengan sergap Abiyan berpura-pura tengah selfi bersamaku.


"1...2...3... Selca! ah ini sudah bagus ayo kita kesana, Grey memanggil." Seru Abiyan dengan suara yang di kencangkan berpura-pura tengah mengambil selfi.


"Dallas buruan kita kesana, ah si Grey kenapa harus manggil segala si." gumam Abiyan sembari berjalan bersamaku menuju Grey.


"Grey, ada apa si, lo tahu kita hampir aja ketahuan!" Cetus Abiyan dengan mata yang terbelalak di hadapan Grey.


"Ketahuan, ketahuan apa?"


"Udah kita jelasin itu nanti, meningan kita pulang sekarang buruan!" Cetus Abiyan lagi dengan tegas.


Namun ketika kita akan pergi dari Bar itu, Jonathan dan Bintang mendekati kami bertiga.


"Dallas, Abiyan tumben lo berdua datang ke Bar, Mau nyari cewe?" tanya Jonathan dengan wajah songongnya.


Namun tak ada satupun dari kami yang menjawab pertanyaannya, kami hanya terdiam.


"Lo berdua kenal dia?" tanya Grey sembari melihat ke arahku dan juga Abiyan.


"I-iya kita kenal mereka, dia Jonathan" jawab Abiyan gugup.


"Oh jadi ini yang namanya Jonathan, yang suka berantem sama Dallas?"


"Grey, Dallas buruan kita balik, kalo gue balik telat bisa-bisa pintu rumah di kunci sama nyokap gue buruan!"


Abiyan terus menerus mengajak kami berdua pulang dengan buru-buru, seperti orang yang ketakutan.


"Tunggu... Boleh gue pinjem Handphone lu?" Tanya Jonathan sembari menadahkan tangannya di hadapan Abiyan.


"S-siapa i-ini bukan Handphone gue, Ini Handphone Dallas, nih Las hanphone lu." Jawab Abiyan tergagap-gagap sembari memberikan Hanphone milikku padaku.


Namun Handphone itu direbut dengan cepat oleh Jonathan.


"Apa ini?! Beraninya lo ngerekam gua, ini bukan urusan lo, ngapain lo ikut campur?" Cetusnya sembari menghapus video rekaman dirinya yang tengah menghisap nark*ba.


Dan tiba-tiba Jonathan menonjok wajah Abiyan, sehingga Abiyan tersungkur kemeja Bar yang berisi banyak minuman berupa alkohol, dan pada akhirnya botol-botol itu pecah mengenai wajah Abiyan.


"ABIYAN!" Teriakku dan juga Grey.


Grey membantu membangunkan Abiyan sedangkan aku menonjok balik wajah Jonathan.


"BRENGSEK LO!"


BUUKKK! BUUKKK!


Pukulan dengan tangan kosong terus mendarat diwajah Jonathan. Hingga hidung Jonathan mengeluarkan darah, Jonathan tak bisa melawan balik karena dia mulai teler karena nark*ba yang ia hisap itu.


Setelah aku tahu Jonathan mulai teler aku berhenti memukulinya. Ketika aku berbalik badan dan mencoba membantu Abiyan aku melihat orang-orang yang ada di Bar sana merekamnya. Namun aku tak memperdulikannya malam itu.


"Abiyan....Grey lebih baik kita bawa dia kerumah sakit." Ujarku.


Grey pun membawa Abiyan dengan motornya menuju rumah sakit, karena kepala Abiyan terluka oleh botol-botol alkohol. Sedangkan aku masih ada di Bar untuk mengganti rugi. Jonathan dan Bintang sama-sama teler di Bar itu, namun aku tak memperdulikanya lagi dan langsung pergi dari Bar setelah mengganti rugi.