
"Lea lukisan itu sangat indah, dari mana kamu mendapatkannya?" tanyaku sembari memandang lukisan bunga yang menempel di dinding sudut ruangan.
"Oh itu, aku membelinya dialu-alun kota London, kamu bisa kesana jika mau membelinya, aku bisa mengantarmu." jawab Lea.
"Tapi bunga apa itu?" tanyaku lagi. Yang tampak tak asing ketika melihat bunga itu.
"Itu bunga lavender aku sangat menyukai bunga itu. Jadi aku sengaja membelinya."
"Ya ampun sepertinya kalian berdua cocok. Gimana setelah pertandingan, kamu bawa Dallas untuk berkeliling kota London Lea." Timpal Coach Bimo sehingga membuatku dan Lea canggung.
Keeseokan harinya.
Di malam pertandingan MMA tingkat internasional pun dimulai. Aku masuk berjalan menuju ring dengan menggunakan jubah berwarna merah dan putih, dengan tangan yang di lilit handwrap.
Sorak sorai terdengar begitu keras dikanan kiriku, kamera berjajar dibeberapa sudut ring. Aku naik ke atas ring, sebelum lonceng dibunyikan aku bersalaman dengan lawanku bernama William. Pertandingan pun disiarkan langsung dibeberapa negara secara live.
Lonceng pun berbunyi lalu pertandingan dimulai, dan dengan cepat aku langsung memojokan lawanku ke dekat tali dan mencoba memukul dibagian badannya dan membuatnya KO.
Setelah beberapa ronde aku berhasil membuat Lawanku KO diatas ring setelah beberapa ronde. Semua pendukungku bersorak ketika aku memenangkan pertandingan. Ketika aku melihat ke arah penonton aku melihat wajah yang tak asing bagiku.
"Dara... " gumamku.
"Ah apa yang aku pikirkan mana mungkin itu Dara dia kan tidak suka MMA." gumamaku lagi. Tetapi aku malah melihat ke arahnya lagi dan berusaha melihatnya dengan serius apakah itu benar Dara atau hanya halusinasiku saja.
Ketika aku melihatnya ternyata itu memang Dara. Ia duduk dikursi paling ujung sembari menatap ke arahku. Aku terdiam membeku namun tiba-tiba Lea dari bawah ring naik keatas ring dan memelukku bersama dengan Coach Bimo juga, karena aku memenangkan pertandingan.
Aku mencoba melihat ke arah dimana Dara duduk tetapi dia menghilang entah kemana. Aku melirik kekanan dan kekiri tapi aku tak berhasil menemukannya. Dia menghilang lagi, padahal aku baru saja menemukannya.
"Ah kenapa aku harus kembali padanya. Lagi pula kita memiliki pendapat yang berbeda, dia tak menyukai hobiku mana mungkin dia mau denganku. Dia hanya akan mau padaku jika aku berhenti dari hobiku yang berbahaya ini." ucap batinku.
Ketika pertandingan telah usai, aku akan langsung pulang ke hotel. Aku menunggu Coach Bimo dan Lea yang masih di dalam. Aku menunggu di area parkir dan duduk disebuah kursi.
"Aku rasa itu cuman halusinasiku... " gumamku sembari memegang kepalaku dengan kedua tanganku.
Lalu tiba-tiba seseorang menghampiriku dan berdiri di depanku. Ketika aku melihat sepatunya, itu terlihat seperti seorang perempuan. Aku mengangkat kepalaku untuk melihat siapa yang berdiri didepanku.
"Dara... " ucapku terkejut ketika melihat Dara benar-benar berdiri di depanku aku sangat senang saat itu, dan rasanya aku ingin memeluknya karena merindukannya. Walaupun Dara meninggalkanku selama beberapa tahun. Tetapi rasanya sangat sulit untuk marah padanya.
Tapi entah kenapa perasaanku campur aduk aku tiba-tiba begitu dingin padanya. Tiba-tiba aku penuh dengan amarah.
"Dallas, ini untukkmu!" ucap Dara sembari memberikan sebuah hadiah padakku.
Lalu aku mengambilnya perlahan. Dara tersenyum dan itu membuatku teringat ketika kami masih menjalin hubungan saat SMA.
"Dallas! Cepat kembali ke Hotel!" tiba-tiba Lea berteriak dari kejauhan memanggil namaku.
Lalu aku berlari kearah mobil untuk kembali ke hotel bersama coach Bimo dan Lea. Ketika didalam mobil, aku terus melihat kearah Dara dari kaca spion mobil.
"Ya ampun Bahkan kami tampak seperti orang asing. Tak saling menyapa satu sama lain." ucap batinku.
"Apa Dara akan sakit hati karena aku meninggalkannya begitu saja? Ah lagi pula aku lebih sakit ketika dia pergi meninggalkanku tanpa memberitahuku. Bahkan tanpa sedikitpun kabar." ucap batinku lagi.
Sesampainya di hotel aku beristirahat sembari membuka hadiah dari beberapa penggemarku dan juga hadiah yang diberikan Dara. Ketika aku membuka hadiah yang Dara berikan ternyata hadiah itu adalah sebuah lukisan wajahku. Entah kenapa aku tersenyum kecil saat melihatnya. Karena aku tahu pasti Dara-lah yang membuatnya, karena Dara sangat pandai melukis.
Namun ketika aku membalik lukisan itu, aku melihat sebuah kertas yang dilipat rapih yang ditempelkan dibelakang lukisannya. Ketika aku membukanya itu adalah sebuah pesan yang manis. Lalu aku melihat sebuah nama yang tertulis dibarisan terakhir surat itu.
"Thomas..." ucapku sembari membaca nama yang tertulis dibarisan surat terakhir itu.
"Tapi aku yakin sekali, ini buatan Dara bukan orang lain, siapa Thomas?"
"Padahal aku sudah bertemu dengannya setelah sekian lama, tapi kenapa saat Dara ada didepan mata aku malah pergi meninggalkannya. Apa kemarahanku mulai kembali?" gumamku dengan tatapan kearah jendela yang menampilkan pemandangan malam kota London.
Keeseokan harinya tepat pukul 4 sore aku sudah bersiap-siap untuk merayaakan kemenanganku disebuah tempat dikota London. Namun perayaan kemenanganku itu tak begitu lama mungkin hanya 1 jam-an.
"Dallas, perayaan ini sudah selesai. Bagaimana jika kita pergi berkeliling kota London saja sore ini?" tanya Lea yang juga ikut hadir diacara perayaan kemenanganku.
Karena aku bosan dan terus memikirkan Dara. Jadi aku mengiyakan ajakan Lea.
Kami berdua pergi berkeliling kota London dengan berjalan kaki dan mencicipi banyak makanan yang ada dipinggiran jalan kota London. Bahkan aku terlalu senang saat itu dan hampir lupa dengan pikiranku yang terus membuatku pusing.
Ketika kami tengah berjalan santai ditower london bridge. Aku bertanya pada Lea soal dimana tempat lukisan bunga lavender yang ia pajang di dinding toko rotinya.
"Lea, dimana kamu membeli lukisan bunga Lavender itu?" tanyaku sembari menatapnya yang berjalan disampingku.
"Oh. Kamu ingin membeli lukisan? jika iya aku bisa mengantarmu, ayo biar kutunjukan padamu!" jawab Lea dengan wajah cerianya.
Kami sampai ditempat dimana Lea membeli lukisan bunga Lavender. Tempat itu berada ditepi jalan alun-alun kota London, ketika aku melihat lukisan itu, aku langsung terpesona dengan lukisan bunga Smeraldo yang indah, berwarna biru dan putih. Aku tahu bunga itu karena aku pernah membelikan Liontin bunga Smeraldo untuk Dara.
"Dallas kenalin dia Fin." Lea mengenalkanku pada sang pelukis jalanan itu. Dia bernama Fin seorang laki-laki yang mungkin berdarah campuran, karena wajahnya terlihat seperti orang Indonesia dan Inggris.
"Hai, Dallas." ucapku sembari menjulurkan tangan pada seorang pelukis bernama Fin itu.
"Fin."
"Dallas disini aku membeli lukisan bunga Lavender itu. Sekarang kamu tinggal pilih kamu ingin beli yang mana!" seru Lea.
"Aku tertarik dengan lukisan bunga Smeraldo ini " kataku sembari menunjuk lukisan bunga Smeraldo itu.