
Dara mengompres luka lebam di wajahku secara perlahan, dan aku berbaring di atas sofa. Saat itu aku sedikit tenang karena Dara tak bertanya siapa yang memukuliku. Karena aku tak ingin memfitnah preman jalanan lagi yang bahkan aku tak pernah bertemu mereka.
Aku melihat jam sudah pukul 11 malam.
"Setelah ini aku akan langsung pulang." Seru Dara.
"Tidak. Ini sudah larut, bahaya jika kamu keluar, lagi pula besok hari sabtu sekolah libur." gumamku dengan mata yang tertutup.
"Apa maksudmu Dallas?"
"Maksudku... " Belum selesai aku berbicara, aku membuka mataku dan menarik Dara agar ia berbaring di atas sofa berdua denganku.
"Masudku pulang besok saja. Hari ini kamu menginap di rumahku."
Aku berbaring diatas sofa sembari memeluk erat Dara yang ada di sampingku. Dan tak terasa semalaman aku dan Dara tertidur di sofa berdua.
"Omooo!"
Suara teriakan itu membangunkanku dan Dara yang tengah tertidur pulas diatas sofa. Ketika kami terbangun dan membuka mata, ternyata pagi sudah tiba dan orang yang berteriak itu adalah Yasmin.
"A-apa yang kalian lakukan?" Tanya Yasmin tergagap-gagap.
"Y-yasmin k-kami tidak melakukan apapun, Semalam kami tertidur disini." Jawabku gugup
"I-iya Yas kami tak melakukan apapun." Sambung Dara yang sama gugup.
"Heii. Sudahlah aku percaya pada kalian, tapi aku ga tau kenapa Dallas semesum itu sampai-sampai dia memelukmu begitu erat Dara."
"Apa kamu bilang? Aku mesum, sini kamu akan ku hajar ya!" aku berlari mengejar Yasmin yang berlari keluar dari rumahku.
Setelah berkejar-kejaran dengan Yasmin aku kembali ke dalam rumah. Karena hari itu adalah hari minggu Bi Munah tak datang ke rumah, aku sudah memutuskan padanya bahwa hari Minggu Bi Munah tak perlu kerumah.
"Dallas, aku harus pulang, pasti ibuku mencariku." Kata Dara sembari mengenakan tasnya, dalam suasana yang masih canggung.
"Baiklah Dara, terima kasih untuk semalam."
****
Entah kenapa hari senin adalah hari yang membuatku malas untuk berangkat sekolah. Ketika aku akan terbangun di pagi hari di hari senin, rasanya kasurku yang nyaman ini tak mengizinkanku untuk bangun.
Namun berbeda ketika handphoneku bergetar
dan mendapatkan panggilan dari seorang gadis yang ku cintai, tak peduli hari apa itu aku tetap terbangun di pagi hari demi menjawab panggilannya.
"Halo Dara." Jawabku dengan suara yang masih sedikit mengantuk.
"Dallas, apa kamu baru bangun? Cepat pergi mandi,kamu harus berangkat sekolah, hari ini adalah hari senin jadi kamu harus berangkat ke sekolah lebih awal." Oceh Dara di telepon dengan suara khas yang ia miliki, lembut dan bernada rendah.
Seketika pagiku benar-benar cerah dan semangat untuk berangkat sekolah.
Setibanya aku di sekolah aku melihat para murid berkumpul di depan Mading.
"Ada apa ini?" lalu aku melihat Dara juga ada di depan Mading, ketika aku berjalan satu langkah kedepan untuk mendekatinya.
Tiba-tiba Dara berbalik badan lebih dulu dan melihatku dengan tatapan yang tampak terkejut.
Aku tersenyum padanya, dan berjalan mendekatinya namun Dara malah pergi dan membuang muka padaku.
"Dallas! Lo keren banget Las!"
"Iya gue jadi terpesona liat dia, primadona sekolah dan petarung MMA pula."
Ucap murid-murid yang ada di sekitarku. Ketika aku mendengar nama MMA barulah aku tersadar kenapa Dara marah padaku.
Aku berlari ke arah mading untuk melihat apa ada sesuatu yang berkaitan denganku disana. Ketika aku melihatnya terpampang dengan jelas beberapa fotoku yang tengah bertarung di atas ring ilegal itu tanpa t-shirt.
"Siapa yang melakukan ini?" Tanya batinku.
Saat itu aku benar-benar marah aku mengambil satu dari foto yang terpampang di Mading itu, dan langsung berlari ke ruang kepala sekolah untuk menemui Pak Harris.
Sesampainya aku di ruang pak Harris, aku langsung marah padanya. Dan menunjukan fotoku itu di depan matanya.
"Pak! Lihat! Siapa yang melakukan ini? Bapak bilang. Pertarungan ilegal saat itu privat dan tak ada kamera! Tapi apa ini?! Jika bukan bapak, siapa yang akan melakukan ini dan menempelkannya di mading sekolah!" Ucapku marah dengan mata yang terbelalak.
"Apa ini?! Kenapa kamu menuduh saya. Saya tidak akan melakukan ini Dallas. Karena saya juga terlibat dalam pertandingan MMA ilegal itu. Bagaimana saya melakukan itu?"
Ya, saat itu aku langsung yakin dengan ucapan pak Harris. Mana mungkin Pak Harris melakukan hal itu karena pak Harris juga terlibat dalam pertandingan MMA ilegalnya. Rasa curigaku pada pak Harris seketika memudar.
Ketika aku keluar dari ruang Pak Harris, aku bertemu dengan Yasmin dan Nayyala.
"Dallas, kami melihat Dara naik ke atap sekolah. Bahkan ketika aku menyapanya dia sama sekali tak menjawab dan tatapan Dara benar-benar kosong. Ada apa dengannya?" Tanya Yasmin.
Lalu aku berlari menuju atap sekolah untuk menemui Dara, ketika aku membuka pintu atap, Benar Dara ada disana namun aku mendengar Dara mendapatkan panggilan masuk entah dari siapa itu.
Aku mendengarkannya dari belakang, namun Dara tak berkata apapun. Dara hanya mendengarkan suara orang yang berbicara di teleponnya. Ketika Dara mematikan teleponya barulah aku mendekatinya.
Dara...
Dara membalikan badannya dengan tatapan yang kosong padaku.
"Dara aku minta maaf. Aku bisa menjelaskan semuanya padamu. Tapi nanti setelah aku siap, beri aku waktu." ucapku dihadapannya.
Namun Dara terus memberikan tatapan kosong padaku.
"Dallas. Apa kamu juga bertarung dengan Jonathan demi mendapatkanku? Kalian berdua taruhan dan bertarung di atas ring dan aku menjadi bahan taruhannya. Semurahan itukah diriku, aku pikir kamu tulus mencintaiku tapi ternyata aku hanyalah sebuah hadiah untukmu, karena kamu telah mengalahkan Jonathan di atas ring. Ya, aku hanya hadiah dari pertarungan kalian."
Aku benar-benar terkejut mendengar ucapan Dara. Siapa yang memberi tahu akan hal itu padanya, jika memang Jonathan yang memberitahu ini semua pada Dara, maka Jonathan telah melanggar janjinya. Lagi pula saat itu, kenapa aku harus berjanji pada Jonathan agar dia tak memberitahu masalah ini pada Dara.
"Dallas lo bego! Ngapain lo pake bikin perjanjian segala sama Jonathan!" Oceh batinku marah.
"Dara biarakan aku menjelaskannya satu persatu oke." Kataku lagi sembari mendekatinya. Namun Dara malah mundur satu langkah ke belakang dariku.
"Dallas. Itu semua tak masalah bagiku, aku senang karena terlepas dari Jonathan dan aku juga sudah tahu jika Jonathanlah yang membuat taruhan itu. Aku hanya tidak suka caramu mendapatkanku. Kamu tahu, itu sangat menyakitkan."
"Apa kamu marah padaku?"
"Aku tak marah, tapi aku ingin kita akhiri hubungan ini."
"Tunggu. Kenapa Dara?"
"Aku tak marah padamu. Tapi aku tak suka Dallas yang seorang petinju, kamu tahu aku sangat membenci pertarungan di atas ring. Itu membuatku takut, aku takut kehilangan. Oh ya pasti semua luka lebam di wajahmu itu, bukan karena preman kan. Tapi karena pertarungan diatas ring? baru saja aku mulai mempercayaimu tapi kamu menghancurkan kepercayaanku. Lebih baik kita akhiri saja."