
"Aku tak ingin membahas ini. Aku akan menerima semua kemarahanmu dan juga kebencianmu padaku, karena aku mengakhiri hubungan ini. Tapi aku mohon untuk kali ini saja ikultah ke dalam mobilku sekarang!" ajak Dara dengan tatapan serius.
Saat itu aku tak bisa menolaknya. Dara kembali menggenggam tanganku dan menarikku masuk kedalam mobilnya di kursi belakang. Dan saat itu keadaan amat sangat sepi tak ada orang yang berlalu lalang di jalan.
Ketika aku dan Dara sudah berada di dalam mobil dan duduk di kursi belakang mobil Dara. Tiba tiba Dara memelukku perlahan, kedua tangannya menepuk-nepuk punggungku seakan-akan aku ini seorang anak kecil yang tengah bersedih. Dan Dara bagaikan seorang ibu yang mencoba menenangkan perasaanku yang sedih dan terluka ini, aku hanya terdiam sembari memejamkan mataku dan mencoba menahan air mataku.
"Menangislah, dan lepaskan semua yang membuat hatimu terluka. Tak perlu malu, hanya ada aku disini..." bisik Dara.
Saat itu aku langsung memeluk balik Dara dengan sangat erat, kepalaku tepat berada dibawah leher Dara, aku menangis dalam pelukannya dan aku merasa nyaman ketika dekat dengannya, pelukan hangat Dara membuatku merasa tenang. Entah berapa lama aku memeluk Dara, karena saat itu aku tertidur dalam pelukaannya.
"Dallas... kamu sudah bangun?" suara Dara terdengar sangat dekat ditelingaku. Ketika aku membuka mata aku masih berada didalam mobil Dara.
"Dara apa aku tertidur, berapa lama aku tertidur?" tanyaku dengan mata yang masih sedikit mengantuk.
"Satu jam kamu tertidur, tadinya aku ingin membangunkanmu tapi aku tahu kamu pasti sangat lelah." Jawab Dara yang duduk di depan kursi kemudi.
"Dara kita ada dimana?"
"Kita berada ditaman dekat rumahmu, aku sengaja membawamu kesini agar setelah kamu bangun kamu bisa langsung pulang kerumah."
"Rumah, rumahku?"
"Ya."
"Dara... terima kasih sudah mengantarku pulang, aku pergi dulu." Ucapku dengan sedikit senyuman di wajahku.
"Ya... sama-sama Dallas."
Hari itu aku bisa sedikit tersenyum lagi ketika Dara ada di sampingku, aku pulang ke rumah begitu pula Dara. Ketika aku tiba dirumah hari yang gelap itu datang kembali padaku, bahkan semua kenangan buruk yang menimpaku sejak kecil tiba-tiba kembali lagi.
Rasa takut, kesendirian, kemarahan mulai menggerogotiku perlahan-lahan. Sepi sangat sepi, hari itu dirumah hanya ada aku dan Bi Munah yang sibuk membersihkan rumah seperti biasanya.
"Tidak,tidak mungkin ayah dan ibuku sudah meninggal, mereka ada di Kanada aku hanya bermimpi." kataku dengan perasaan yang campur aduk.
Tiba-tiba saja telepon rumah berdering mengejutkanku, Bi Munah pun mengangkatnya.
"Hallo... Dallas? Ya benar dia anak dari pak Brian dan ibu Elga, tunggu sebentar saya panggilkan." Bi Munah menutup ujung telepon dengan tanganya dan memanggilku.
"Dallas, ada seseorang dari kantor pak Brian yang ingin berbicara dengan Dallas!"
"Denganku?" tanyaku bingung sembari berjalan mendekatinya.
"Hallo..."
"Apa benar kamu anak dari pak Brian dan Ibu Elga Alm?"
"Ya benar."
Aku langsung menutup teleponnya setelah berbicara lebih dari 2 menit bersama orang dari kantor ayahku yang ad di Kanada itu.
Orang itu mengatakan bahwa semua kekayaan yang dimiliki oleh ayahku diserahkan semua kepadaku. Tapi sayangnya ibu dan ayahku memiliki hutang kepada beberapa perusahaan lain, karena saat itu ketika ayahku hampir bangkrut, ayahku meminjam uang yang cukup besar kepada beberapa perusahaan. Jadi semua kekayaan yang ayahku berikan untukku, habis untuk membayar semua hutangnya.
Dan mungkin ketika aku sudah kelas 12 nanti aku harus mulai mencari pekerjaan paruh waktu. Mulai hari itu, aku kehilangan segalanya tapi aku bersyukur aku masih memiki rumah ini yang sedari kecil aku tempati.
Bahkan aku terpaksa harus memulangkan Bi Munah karena aku takut nanti tak bisa menggajinya.
"Apa? Tak masalah den Dallas memberikan Bi Munah gaji yang kecil, Bi Munah khawatir bagaimana nanti den Dallas makan dan membersihkan rumah ini? jika Bi Munah tak kerja disini?" Kata Bi Munah yang terkejut setelah aku berbicara padanya agar ia berhenti saja bekerja di rumahku, karena aku takut tak bisa membayarnya.
"Aku bisa mengerjakan semuanya sendiri. Nah ini, ini gaji Bi Munah untuk bulan ini dan lebihnya Bi Munah bisa simpan, atau Bi Munah buka warung saja di kampung nanti." kataku sembari memberikan gaji nya dan beberapa uang agar Bi Munah bisa membuka warung atau usah kecil-kecilan nanti di kampungnya.
Sangat berat melepaskan Bi Munah, tapi aku juga kasihan padanya dia sudah mulai menua bahkan keriput di wajahnya mulai terlihat.
Aku tak tega jika dia terus bekerja merapihkan rumahku setiap hari seorang diri. Rumahku cukup besar dan pasti sangat lelah naik turun tangga untuk membersihkannya.
Bi Munah memelukku bak anaknya sendiri, Bi Munah senang setelah aku menyuruh dirinya membuka usaha saja dari pada harus bekerja dirumahku sebagai pembantu.
"Semoga saja kebaikan den Dallas dibalas oleh Tuhan."
"Ya Bi Aamiin. Ingat jangan terlalu lelah di usia Bi Munah yang seperti ini, Bibi harus banyak beristirahat, dan jangan sakit."
Bi Munah pergi hari itu juga dan kini aku harus menerima resiko, aku harus terbiasa membersihkan rumahku sendiri.
Ini adalah hari kedua aku diskor dari sekolah, hari kedua setelah kepergian ayah dan ibuku dan juga hari kedua setelah aku putus dari Dara. Ketika aku terbangun aku langsung berlari kelantai bawah untuk sarapan.
"Bi sarapan apa hari ini?" teriakku sembari menuruni anak tangga perlahan. Namun ketika aku melihat kearah dapur tak ada Bi Munah disana bahkan diatas meja makan tak ada satupun makanan.
"Ah aku lupa, Bi Munah kan sudah tak bekerja lagi..."
Dan tiba-tiba saja aku mendapatkan panggilan dari pak Harris.
"Halo."
"Dallas, malam ini kamu harus kembali berlatih, akan ada pertarungan besok malam di tempat biasa. Dan ingat kamu harus menang hadiah kali ini lebih besar dari kemarin."
Seketika pikiranku tiba-tiba berubah setelah mendengar apa yang dikatakan pak Harris soal hadiah yang besar.
"Ya aku akan berlatih malam ini." jawabku dan langsung menutup teleponnya.
Hari itu aku berfikir, apa harus aku serius untuk selalu mengikuti pertarungan MMA ilegal demi mendapatkan uang?
****
"Apa! kamu serius? jadi saya tak perlu memaksamu untuk bertarung MMA lagi?" tanya pak Harris dengan matanya yang terbelalak.
"Saya serius." jawabku dingin.
Ya. Malam itu aku berkata pada Pak Harris dan juga coach Bimo jika aku ingin mengikuti MMA ilegal itu. Tapi dengan syarat aku juga harus mendapatkan uang dari hadiahnya jika aku menang nanti.
"Tentu. kamu akan mendapatkan uangnya."
Kini aku masuk kedalam kegelapaan aku berjalan kearah yang salah. Lagi pula aku suka bertarung diatas ring, jadi aku tak akan peduli lagi apakah pertarungannya ilegal atau legal. Saat itu aku juga teringat soal kontrak tanda tangan perjanjian ku diatas materai dengan pak Harris.