
Keesokan harinya di sekolah aku membelikan hadiah untuk Dara, aku membawa Dara ke atap sekolah yang sepi dan jarang ada murid yang datang ke atap.
"Dallas ada apa?"
"Ini aku bawakan hadiah untukmu." seruku sembari memberikan sebuah kotak kecil berwarna hitam kepada Dara.
"Apa ini Dallas?"
"Buka saja."
"Ya ampun, liontin. Tunggu apa ini liontin bunga melati?" tanya Dara sembari melihat bandul dari liontin itu.
"Bukan Dara, itu bukan bunga melati tapi bunga Smeraldo."
"Smeraldo? Kenapa kamu bisa tahu bunga itu?"
"Ya aku tahu, karena nama belakangmu Esmeralda jadi aku memberikan liontin bunga Smeraldo, dulu saat aku masih mengagumimu aku selalu mencari tahu arti namamu. Dan namamu hampir sama dengan nama bunga Smeraldo." Jelasku. Sembari memasangkan liontin bunga Smeraldo pada Dara.
"Dallas. Ini sangat indah aku menyukainya, aku akan terus memakainya." Jawab Dara sembari memegang bandul liontin itu.
"Dallas malam nanti bisakah kamu datang kerumahku?"
"Malam nanti?"
"Iya, kamu harus datang, aku akan menyiapkan sesuatu untukmu, jangan sampai terlambat." kata Dara sembari berlari meninggalkanku untuk kembali ke kelasnya. Karena bel sudah berbunyi pertanda masuk kelas untuk pelajaran selanjutnya.
"Malam nanti..." gumamku.
Aku bingung apa yang harus aku lakukan, Karena nanti malam aku harus pergi bertarung di atas ring. Tapi jika aku menolak Dara, aku merasa tak enak padanya.
"Setelah pertandingan nanti aku akan datang kerumah Dara." gumamku lagi. Lalu aku memutuskan akan datang ke rumahnya setelah pertandingan.
****
"Dallas kamu sudah siap?" tanya coach Bimo.
"Ya sudah." jawabku dingin.
Malam itu aku pergi lagi ke gedung yang sudah tak berpenghuni dimana tempat pertarungan MMA ilegal dilakukan. Yang di selengarakan oleh orang-orang berdasi yang bekerja di perusahan-perusahaan besar, entah untuk apa mereka mengadakannya, apakah untuk bisnis mereka atau hanya untuk hiburan mereka saja.
Aku memasuki arena MMA tanpa t-shirt denga tangan yang hanya di lilit handwrap. Bersama coach Bimo dan pak Harris di sampingku.
"Dallas hadiah sekarang cukup besar dari kemarin, kamu harus menang." Bisik pak Harris di telingaku.
Namun aku tak menjawabnya sama sekali. Karena aku tahu aku bahkan tak dapat sepeser pun dari hadiah MMA ilegal itu.
Aku naik ke atas ring tanpa ragu untuk bersiap bertarung namun kali ini ada wasit.
Fight!!! Teriak wasit pertanda pertarungan dimulai.
Aku bertarung diatas ring dengan penuh kemarahan, menghabiskan lawan tanpa ampun dengan tendangan, pukulan diperut dan juga wajah. MMA adalah pertarungan bebas jadi aku bisa menghajar di bagian badan manapun yang aku mau.
Namun ketika bertanding di ronde pertama aku lengah. Aku malah melihat ke arah pria yang menggunakan topi hitam dan masker. karena sebelumnya semua penonton itu dari kalangan para pria berdasi dan berpakaian jas. Anehnya pria yang memakai topi itu tampak tak asing bagiku. Karena aku lengah aku terjatuh, terbanting dan di pukul terus menerus oleh lawanku di bagaian wajah dan perutku.
Pertarungan MMA yang bebas dan diadakan secara ilegal, lalu keduanya di satukan, semuanya jadi tampak semakin kejam bagiku. Badanku tejatuh dengan amat keras diatas ring karena pukulan lawanku yang berbadan besar. Dalam keadaan terjatuh aku hampir mati, tiba-tiba darah yang biasanya keluar sedikit dari mulutku, kini amat banyak.
"DALLAS! APA YANG KAMU LAKUKAN BANGUN! JIKA KAMU KALAH AKU AKAN MENGURUNGMU DISINI!" Teriak pak Harris di samping ring yang melihatku terbaring tak berdaya, karena terlalu banyak darah yang keluar dari mulutku.
Wasit sudah menghitung hingga hitungan ketujuh. Namun aku berusaha bangkit untuk mengabulkan keinginan pria yang bernama Harris itu.
Akh Sialan.... Gumamku yang kesakitan.
Lalu pertarungan pun dimulai kembali, dan pada akhirnya aku berhasil memenangkannya lagi, Hingga titik akhir lawanku KO.
Coach Bimo langsung membersihkan darah di mulutku setelah pertandingan berakhir, namun aku tidak mau. Aku langsung pulang dengan mobilku, karena teringat akan Dara yang memintaku datang kerumahnya.
"Pasti Dara menungguku." Kataku yang berlari menuju area parkir. Dan tak sengaja aku bertemu pria yang memakai topi hitam dan masker tadi. Dia pergi dengan motornya yang berwarna hitam.
"Siapa pria itu?" tanya batinku.
Setelah aku pulang ker umah dan membersihkan diri usai pertandingan MMA. Aku langsung pergi menuju rumah Dara.
"Aku harap Dara tak marah karena aku terlambat." kataku sembari duduk di balik setir mobil, menuju rumah Dara.
"Hai Tante."
"Dallas. Dara menunggumu sejak tadi, tapi kamu tak datang-datang. Dara khawatir padamu, 5 menit yang lalu Dara pergi membawa makanan yang dia buat ke rumahmu."
"D-Dara pergi kerumaku?"
"Iya, 5menit yang lalu."
"Baiklah tante terima kasih, Aku susul Dara dulu."
Aku berpamitan pada Tante Muna untuk menyusul Dara yang ada di rumahku, Sepertinya aku dan Dara berselisih jalan tadi, karena aku tak melihatnya ketika menuju rumahnya.
Setibanya di rumah aku melihat mobil Dara sudah terpakir di halaman rumahku dan dia tengah berdiri di depan pintu dengan sebuah kotak yang mungkin berisi makanan, sembari terus menerus menekan tombol rumahku.
"Dara!" panggilku yang keluar dari dalam mobil lalu menghampirinya.
"Dallas!" jawab Dara dengan tatapan yang terkejut lagi. Ya dia terkejut melihat wajahku yang penuh dengan lebam.
"Dara.... Maaf aku terlambat lagi."
"Dallas. Ada apa lagi dengan wajahmu?" Tanya Dara dengan kening yang di kerutkan.
"W-wajahku? Inikan luka lebam kemarin Ra." Jawabku tergagap-gagap.
"Tidak. Ini luka baru."
Dengan spontan saja Dara menyetuh luka lebam di wajahku.
"Aaa!" aku berteriak rendah kesakitan karena Dara menyetuhnya.
"Lihat kamu kesakitan, ini adalah luka lebam baru, kamu tahu aku sangat mengkhawatirkanmu."
mata Dara berkaca-kaca ketika mengatakan itu.
Lalu aku memeluknya untuk meminta maaf padanya karena selalu membuat dirinya khawatir.
Malam itu aku makan makanan yang dibuat oleh Dara dirumahku, dan Dara menyiapkan kompresan untuk luka lebamku.
"Dallas setelah selesai makan aku akan mengompres luka lebam'mu." Seru Dara yang duduk didepanku sembari melihat diriku yang tengah makan.
"Oh, ya aku akan membuatkan coklat panas untukkmu, dimana kamu menyimpannya?"
"Aku menyimpannya didalam lemari es."
Dara berjalan menghampri lemari es.
"Dallas..."
"Iya Dara ada apa?"
"Apa kamu suka minum alkohol?"
Lalu aku teringat jika aku menyimpan alkohol di dalam lemari es, mimuman alkohol yang sama dengan yang di beli Dara di Bar tempo hari, lalu aku berlari menghampirinya.
"T-tidak Dara. Aku sama sekali tak minun alkohol." jawabku dengan mata yang terbelalak.
"Dallas, kenapa alkohol ini sama dengan yang selalu ku beli saat itu. Apa yang dikatakan pria bar itu adalah dirimu?"
"M-maksdunya apa Dara?"
"Pria Bar yang selalu melayaniku ketika aku membeli Alkohol, dia mengatakan bahwa ada seorang pria yang bertanya soal diriku. Apa benar itu kamu Dallas?"
"Em, Ya itu benar. Maafkan aku."
"Tak apa, lagi pula aku sudah tak membelinya lagi, karena sekarang ibuku sudah mulai membaik. Dia tak kecanduan lagi dengan alkohol dan Bir."
"J-jadi itu untuk ibumu?"
"Ya. Aku tidak pernah meminumnya sama sekali."
Ternyata minuman alkohol yang dibeli Dara adalah untuk ibunya. Bukan untuk Dara.