
"Pak Harris, karena sekarang pak Harris adalah bos saya bukan hanya kepala sekolah saja. Saya ingin bapa tidak membawa-bawa nama orang-orang yang ada disekitar saya." Ucapku serius
"Dan soal perjanjian itu hapuskan saja, tak perlu ada perjanjian lagi. Sekarang saya ada dalam kendali bapa."
Setelah aku mengatakan itu, pak Harris mau melakukannya. Surat perjanjian itu dirobek dan Pak Harris juga tidak akan memantau Dara lagi dan juga tidak akan membahayakan orang-orang terdekatku lagi.
"Baik sekarang kamu ada dalam kendaliku." Seru pak Harris serius, lalu ia pergi keluar dengan mobilnya.
"Dallas, apa kamu serius?" tiba-tiba Coach Bimo bertanya dengan tatapan tajam.
"Ya aku serius, kini hidupku tak sama dengan yang kemarin jadi aku butuh uang demi melanjutkan hidupku."
"Oh ya, dan kenapa Coach baru khawatir padaku sekarang, saat itu ketika aku akan bertarung diatas ring Coach tak membuka mulut sama sekali."
"K-karena pak Harris... Dia, mengancam akan membahayakan anak Coach. Jika Coach tak menuruti kemauannya."
"Apa. Pak Harris mengancam Coach juga?"
Aku benar-benar terkejut setelah tahu bahwa Coach Bimo juga mendapatkan ancaman dari pak Harris jika tak mau melakukan perintahnya.
Lalu Coach Bimo menceritakan segalanya padaku soal pak Harris yang tiba-tiba mengenalku dan menipuku soal pertarungan MMA Legal tempo hari. Padahal yang sebenarnya pertarungan MMA ilegal.
"Pak Harris bukanlah temanku, sebenarnya dia adalah pemilik tempat ini. Coach hanyalah bawahannya, Coach bekerja dan mengurus tempat ini setelah sekian lama, dulu pak Harris tak pernah datang kesini tapi akhir-akhir ini dia tiba-tiba datang dan bertanya padaku."
"Bertanya, bertanya soal apa?"
"Dia bertanya siapa yang paling hebat saat bertarung diatas ring, lalu Coach menjawab Dallas, ketika coach menyebut nama itu pak Harris langsung mengenalnya, dia bilang di sekolahnya ada murid yang bernama Dallas, dan hanya ada satu nama Dallas di sekolahnya."
"Jadi, itulah kenapa sekarang aku menjadi primadona sekolah dan di pilih langsung oleh pak Harris..." kataku dengan tatapan kosong.
"Coach minta maaf Dallas, Coach juga tak bisa melawan pak Harris, jika Coach melawannya dia akan membuat anak Coach dalam bahaya." Kata Coach Bimo sembari memohon maaf dengan kedua tangannya.
"Tak apa, sekarang aku tak marah pada coach setelah aku tahu alasannya, aku menerima MMA ilegal itu terpaksa Coach, karena perusahaan ayahku bangkrut jadi aku tak mendapatkan warisan apapun. Karena semua uangnya di gunakan untuk membayar hutang."
"Coach turut berduka cita atas kepergiaan ayah dan ibumu Dallas..."
Keesokan harinya, Satu hari terakhir sebelum discord sekolahku habis, aku pergi ketempat dimana Abiyan selalu memperbaiki motor sportnya dengan mobilku.
Ketika aku tiba disana, seorang pemuda bernama Grey tengah memperbaiki motornya sendiri yang berwarna merah.
Aku dan Grey sudah kenal lama sejak aku berteman dengan Abiyan, Grey 2 tahun lebih tua dariku dan Abiyan. Aku selalu datang ke tempat Grey untuk mengantar Abiyan memperbaiki motor sportnya.
"Hai Grey!" sahutku sembari berjalan mendekatinya.
"Dallas, tumben kamu kemari, disini bengkel khusus motor bukan untuk mobil!" sahutnya dengan candaan, lalu kami berdua saling tertawa.
"Ya. Aku tahu itu Grey."
"Tunggu, kenapa kamu tak sekolah?"
"Aku discord dari sekolah, gara-gara bertengkar."
"Pasti karena cewe kan?"
"Apalgi jika bukan karena cewe."
"Ada apa, apa yang membuatmu datang kemari?" tanya Grey sembari menyimpan alat bengkelnya dari tangannya yang hitam karena oli
"Aku ingin membeli motor sport, apakah ada yang murah?" tanyaku sembari melihat ke arah motor-motor sport koleksinya, yang ada di dalam bengkel besar milik Grey.
Aku sengaja ingin membeli motor sport, karena aku berniat menjual mobilku. Jika aku menjual mobil itu aku bisa membayar uang sekolah dan separuhnya untuk membeli motor sport. Agar aku juga bisa lebih mudah bepergian.
"Tunggu, kamu serius? memangnya kamu bisa bawa motor?" tanya Grey dengan kening yang di kerutkan.
Lalu Grey menawarakan motor sport bekas miliknya dengan harga yang lumayan murah padaku, dan aku langsung tertatrik dengan motor sport yang berwarna hitam milik Grey.
"Thanks ya Grey, setelah mobil ini gue jual. Gue bakalan ambil motor ini." kataku sembari berjabat tangan dengan Grey.
"Iya tenang aja, kalo lo udah punya motor sport kaya gue dan Abi, kita bisa Touring nanti bawa motor." ajak Grey dengan senyum sumringah di wajahnya.
"Pasti. gue pergi dulu ya Grey."
"Ya hati-hati."
Setelah bertemu dengan Grey aku mencoba mencari tempat untuk menjual mobil, dari pagi hingga petang tak ada seorang pun yang mau membelinya. Aku hampir menyerah hari itu, namun aku bertemu seorang pria dengan jas hitam yang tengah berada di pinggir jalan.
Aku melihat mobilnya mogok, lalu aku menepikan mobilku untuk membantunya.
"Permisi pak, apa bapa butuh bantuan?" Tanyaku pada pria berjas hitam itu.
"Oh iya saya butuh bantuan, mobil saya sepertinya rusak dan ini sudah ke 3 kalinya mobil ini seperti ini." Ucapnya sembari mencoba membenarkan mesin mobilnya yang rusak.
Lalu aku berniat untuk menawarkan mobilku padanya.
"Apa boleh saya melihat mesinnya dulu?"
"Silahkan kamu bisa mengeceknya." jawab pria berjas hitam itu kepadaku, agar aku bisa mengecek mesin mobilnya
Ketika aku mengeceknya, mesin mobil itu memang benar-benar rusak dan itu berbahya.
"Pak setahuku, mesin mobil ini sudah harus segera diganti, ini sudah benar-benar berbahaya jika bapa memakainya lagi."
"Ah begitu ya, yasudah saya akan naik taksi saja, biarkan mobil ini disini. Biar nanti saya menyuruh orang untuk memperbaikinya, dan mengambilnya, terima kasih ya."
Ketika Pria berjas hitam itu akan pergi aku mencoba menawarkan mobil milikku.
"Pak maaf, s-saya ingin menjual mobil ini pada bapa, saya baru memakainya satu tahun setengah." ucapku gugup.
pria berjas hitam itu pun melihat terlebih dulu mobil milikku, yang bermerk Ferr*ri. Ketika aku melihat wajahnya dia kelihatan tertarik bahkan dia tersenyum ketika melihatnya.
"Berapa kamu menjual mobil ini?"
Lalu aku mengatakan harga mobil milikku itu padanya. Setelah aku memberitahunya dia meminta nomer rekeningku.
Dan tak lama Pria itu menstransfer uang seharga mobil yang aku jual padanya dengan begitu mudahnya. Dan akhirnya mobilku terjual.
Sore itu setelah aku menjual mobil, aku kembali ketempat Grey untuk membeli motor sport bekas miliknya. Lalu pada malamnya aku pergi ke tempat pertandingan MMA ilegal divtempat yang sama seperti tempo hari.
Setibanya aku disana, aku langsung bertemu dengan coach Bimo dan Pak Harris.
"Bagus, kamu datang tepat waktu Dallas!" Cetus pak Harris.
Sedangkan aku membuka hoodieku dan Coach Bimo membantu melilit tanganku dengan handwrap.
"Dallas dengar, lawanmu kali ini adalah Jonathan." seketika aku terkejut tak percaya setelah mendengar pak Harris menyebut nama Jonathan.
"Apa! Jonathan?" kataku dengan kening yang dikerutkan.
"Maksud bapa, Jonathan Colin. Yang kemarin bertengkar denganku disekolah?" tanyaku lagi bingung.
"Ya, benar. Sudah cepat pertandingan akan segera dimulai!"
"Tunggu. Tapi bagaimana ini bisa terjadi dan bagaimana nanti jika Jonathan tahu bahwa bapa ada disudutku."
"Sudahlah Dallas, itu masalah gampang." Jawab Pak Harris dengan santainya.