
"Oh itu, lukisan itu aku tidak bisa menjualnya, karena itu bukan milikku." tiba-tiba Fin sang pelukis itu melarangnya. "Loh kenapa Fin? jika bukan milikmu, lalu milik siapa? tanya Lea bingung.
"Kamu sudah lama tak datang kesini untuk membeli lukisanku Lea, jadi kamu tidak tahu bahwa sudah 2 minggu lamanya ada pelukis baru disini." jelas Fin.
"Pelukis baru? jadi lapakmu ini bersebelahan dengan pelukis baru itu?" tanya Lea lagi.
"Iya, jika kamu ingin membeli itu, tunggu sebentar dia sedang membeli cat, karena dia kehabisaan cat." kata Fin sembari fokus melukis.
Lalu aku dan Lea menunggu sang pemilik lukisan itu, mungkin 10 menit lamanya kami menunggu. Ketika aku tengah sibuk melihat-lihat lukisan itu, tak lama sang pemilik lukisan pun datang.
"Lea, itu dia orangnya, nama dia Dara!" sahut Fin pada Lea. Seketika aku terdiam setelah mendengar nama Dara. Aku membalikan badanku, untuk melihat apakah itu benar Dara atau hanya namanya saja yang sama. Namun ternyata itu memang Dara. Aku melihat Dara tengah berjalan menghampiri kami yang tengah menunggunya.
"Dara ada orang yang ingin membeli lukisanmu!" seru Fin.
Suasana saat itu sangat canggung aku membeku. Ketika Dara sudah mulai mendekat. Bahkan kami saling bertatapan.
"Dallas..." ucap Dara pelan.
"Hah! Apa kalian saling mengenal?" timpal Lea.
Namun tak ada satupun jawaban keluar dari mulutku ataupun Dara.
Setiap aku jauh dari Dara aku merindukannya, tetapi ketika Dara sudah ada dihadapanku entah kenapa rasa marah selalu muncul lagi dalam diriku.
"Lea, ayo pergi ada pertemuan malam ini dihotel." ajakku pada Lea dengan santainya.
"Tapi kamu akan membeli lukisan ini kan
Dallas, beli-lah saja dulu." jawab Lea sembari menatap mataku.
"Tidak, aku tak jadi membelinya!" ucapku lagi sembari memegang tangan Lea dan menariknya untuk pergi dari tempat itu.
Ketika aku berjalan sembari menarik tangan Lea, Dara memanggil namaku dan berlari mendekatiku sembari membawa lukisan yang ingin aku beli tadi. Namun aku terus melangkah kedepan menarik tangan Lea. Tetapi tetap saja Dara tak menyerah ia terus memanggil namaku dan mencoba mendekatiku.
Aku berhenti melangkah dan melepaskan perlahanngenggaman tanganku yang menggenggam erat tangan Lea.
"Dallas... Tunggu, i-ini ambil saja lukisan ini, aku memberikannya untukmu. Dan aku senang bisa bertemu kembali denganmu." seru Dara sembari memberikan lukisan miliknya padaku.
Aku terus menatap tajam matanya, ketika aku terus menatap tajam matanya. Aku tak ingin melewatkan kesempatanku untuk bicara padanya mengapa ia pergi tanpa memberitahuku bertahun-tahun.
"Aku akan mengambil lukisan ini, tapi aku tak suka berhutang pada siapapun, jadi kamu harus datang malam ini di tower london bridge, Setelah itu aku akan membayarnya." ucapku pada Dara.
Dara tak menjawab pertanyaanku, ia hanya terdiam membeku. Mungkin sedikit terkejut dengan ajakanku.
"Dallas, jika kamu tak membawa uang, aku bisa membayarnya sekarang menggunakaan uangku!" kata Lea menawarkan bantuan padaku.
Tapi aku tak menjawabnya karena ini bukan soal uang tapi ini adalah rencanaku agar aku bisa berbicara dengan Dara dan menanyakan banyak pertanyaan yang selama ini aku simpan dibenakku.
Malam itu tiba, aku menunggu Dara di tower London bridge, sembari menunggunya aku memandang kearah sungai yang diatasnya banyak perahu wisatawan yang tengah menikmati pemandangan malam kota London dari atas perahu.
Tak lama Dara pun tiba sebelumnya aku berfikir Dara tak akan datang. Tapi ternyata dia datang. Kami berdua berdiri saling berhadapan.
"Apa kamu serius?" tanya Dara.
"Aku serius, aku tak berbohong aku akan membayarnya, berapa harga lukisan itu?" jawabku dingin.
"Dallas, aku tahu kamu tak pernah bercanda. Aku yakin kamu ingin mengatakan sesuatu padaku." kata Dara sembari memberikan tatapan serius padaku.
"Ya benar, aku memang ingin berbicara denganmu. Kenapa kamu meninggalkanku tanpa memberitahuku? Bahkan kamu tak pernah membalas pesanku. Kenapa Dara? Jika kamu memang tak menyukaiku pergilah dengan cara baik-baik agar aku tak perlu memikirkanmu lagi." kataku penuh dengan kemarahan.
"Apa karena aku seorang petinju, seorang atlet MMA jadi kamu membencinya?!" kataku lagi.
"Kenapa aku harus mengabarimu? Siapa aku dihatimu? Apa kamu lupa kita sudah putus Dallas?" jawab Dara dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kamu harus ingat, aku tak menyukai profesimu sebagai seorang petarung MMA Bahkan sekarang kamu adalah seorang petarung terkenal dan itu membuatku semakin tidak menyukainya."
Perkataan Dara membuatku bimbang dan sedikit menyakitkan, karena Dara tak menyukai profesiku.
"Lalu kenapa matamu berkaca-kaca? aku yakin kamu masih menyukaikukan. Kamu ingin kembali padaku, kamu senang ketika bersamaku."
"Aku sudah melupakanmu, bahkan aku sudah mempunyai seorang pria dan mungkin aku akan tinggal disini selamanya bersama pria itu."
Perkataan Dara membuatku terkejut, ternyata Dara sudah memiliki pria lain. Dulu aku selalu berfikir Dara tak kan pernah bisa melupakanku tapi ternyata dia sudah berpaling dariku.
"Bohong itu semua bohongkan? Jika perkataanmu itu benar, maka kamu tak akan mengeluarkan air mata dihadapanku." kataku dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sudahlah Dallas, ini sudah larut aku harus segera ke toko untuk membeli cat, dan lukisan itu tak perlu kau bayar. Aku memberikannya untukmu."
lalu ia berjalan melaluiku dan pergi meninggalkanku.
Namun aku menghentikan langkahnya dan memanggil namanya.
"Dara tunggu..." sahutku.
Dara pun menghentikan langkahnya dan aku mendekatinya.
"Jika kamu membenci pertandingan MMA, kenapa kamu menontonya malam itu saat aku bertanding?" tanyaku.
"Karena aku harus memberikan lukisan dari seorang pelangganku kepadamu. Dia tak bisa menonton pertandingamu karena sakit, jadi aku terpaksa memberikannya padamu malam itu. Aku harap kamu menjaga lukisan itu, karena dia seorang penggemar kecilmu."
Dara pun pergi meninggalkanku. Saat itu aku merasa hancur dan rasanya hatiku berantakan
Ternyata semudah itu Dara melupakanku, padahal selama ini aku selalu menjaga hatiku untuknya, bahkan aku rela menunggunya selama ini.
Malam itu aku berfikir dan merenungkan semuanya. Aku senang bisa melakukan apa yang aku suka, aku senang karena aku adalah seorang petarung MMA dan mendapatkan banyak penggemar. Tapi ketika aku sendiri aku kesepian dan aku selalu merasa tak ada orang yang mau mendengar keluh kesahku.
Haruskah aku berhenti? agar Dara kembali padaku?
Aku terus berfikir haruskah aku meninggalkan profesiku dan mencari profesi lain atau aku tetap bertahan diprofesiku ini? Lalu setelah malam panjang yang membuatku terus berfikir akan dua keputusan itu. Ke eseokan harinya aku sudah memutuskan, keputusan mana yang akan kupilih.