DALLAS

DALLAS
CHAPTER 20



Setelah kejadian malam itu, esoknya aku pergi kesekolah karena sebentar lagi akan ada ujian kenaikan kelas. Jadi aku tidak boleh ketinggalan mata pelajaran.


Abiyan tak masuk sekolah dia dirawat dirumah sakit karena kepalanya terluka terkena pecahan botol-botol alkohol itu. Bahkan lukanya cukup parah sehingga Abiyan harus mendapatkan jahitan dibagian kepalanya.


"Dallas, kemana Abiyan?" tanya Yasmin ketika aku tiba dikelas.


"Abiyan...dia dirawat dirumah sakit."


"Apa! apa yang terjadi dengan Abiyan?"


Lalu aku menceritaka apa yang terjadi pada Abiyan semalam pada Yasmin. Ketika aku telah usai menceritakan kejadian itu tiba-tiba ada beberap Osis masuk ke kelas untuk merazia tas para murid.


"Yasmin! Ada razia!" teriak Nayyala sembari menarik tangan Yasmin menuju tempat duduknya.


"Ya ampun, aku lupa kalo hari senin itu selalu ada razia. Aku malah bawa photocard!" teriak Yasmin ketakutan sembari menyembunyiakan koleksi photocard mahalnya di bawah meja.


Para osis itu menggeledah semua tas milik para murid. Setelah razia barulah semua orang masuk kelapangan untuk upacara bendera. Ketika aku berbaris di lapangan, aku dekat dengan barisan siswi kelas Dara. Ketika aku mencuri-curi pandangan kearah barisan mereka, aku tak melihat Dara. Padahal tadi di area parkir aku melihat mobilnya.


Tetapi tiba-tiba seorang siswi dari kelasnya berbisik membicarakan Dara.


"Ga nyangka ya Dara kaya gitu. Padahal dia itu pendiem dan menurut gue dia itu anggun, ramah pula. Tapi ternyata dia pengguna."


"Iya, mana dia bawa ke sekolah pula, buat apa coba dia bawa kaya gituan ke sekolah?"


"Mungkin buat dia jual."


Bisik dua orang siswi dari kelas Dara yang ada di sampingku. Seketika aku terkejut setelah menguping pembicaraan mereka berdua. Aku mundur dan mendekati Barbara yang ada di barisan kelasku, di barisan yang paling belakang karena dia dekat dengan Dara.


"Bar... Dimana Dara?" bisikku pada Barbara.


"Dara? Bukannya kalian udah putus ngapain lo masih cari dia?" jawab Barbara jutek.


"Lagi pula, Gue lagi ga mood ngomingin dia. Gue benci sama dia. Lo tahu Las? Dara bawa nark*ba kesekolah. Tadi saat razia ada osis yang nemuin itu ditasnya." jelas Barbara.


Tapi aku merasa tak percaya dengan ucapan Barbara.


"Ga mungkin, Dara ga kaya gitu." Gumamku.


"Apa! Ah mendingan lo cek aja sendiri, sekarang Dara ada di ruang BK. Mungkin dia lagi di introgasi sama guru BK. Lagi pula, Dara dari keluarga kaya, mungkin lah kalo dia bisa beli." Jelasnya lagi.


"Oh Bay the way. Apa kamu melihat Bintang?"


Ketika Barbara bertanya aku tak menjawabnya, aku langsung pergi menuju ruang BK. Sesampainya aku disana dengan nafas yang belum terkontrol karena kelelahan terus berlari. Aku melihat Dara memang ada di ruang BK, Ketika aku melihatnya dari luar, Dara tengah duduk seorang diri sembari menundukan kepalanya.


Aku mencoba masuk namun pintunya terkunci. Walaupun pintunya terkunci tapi kuncinya tergantung diluar, mungkin guru BK lupa membawanya karena dia terburu-buru mengikuti upacara bendera. Aku membuka pintu yang terkunci itu dan masuk kedalam ruang BK.


Dara tengah menangis di dalamnya, tanpa berkata-kata aku duduk d idepannya.


"Dara..." Panggilku pelan.


Dara pun terkejut ketika yang masuk adalah aku, bukan guru BK.


"Dallas..."


"Dara, apa yang terjadi?"


"Tentu saja aku mempercayaimu, aku tahu semuanya, Barabara menceritakan semuanya padaku, apa yang tengah terjadi padamu? Dan aku mempercayaimu, sungguh!"


Mata Dara merah dan terus berlinang air matanya. Lalu aku menghapus air mata Dara perlahan dengan tanganku.


"Katakan padaku apa yang terjadi?" tanyaku dengan tatapan penuh keseriusan.


"Dallas, aku tidak tahu kenapa tiba-tiba benda  itu ada dalam tasku. Aku tak tahu siapa yang memasukannya ke dalam tasku." Ucapnya dengan air mata yang terus berlinang dan tangannya yang terus bergetar karena ketakutan.Aku menggenggam kedua tangnya dengan kedua tanganku agar Dara sedikit lebih tenang.


"Saat aku tiba di sekolah aku menyimpan tasku dikelas, lalu aku pergi ke kantin bersama Barbara untuk sarapan ketika aku masuk kelas, para Osis sudah ada didalam tengah merazia tas milikku, dan mereka menemukan benda itu didalam tasku."


Ini adalah kejadian yang sangat janggal bagiku. Semalam aku melihat Jonathan dan Bintang tengah menhisap nark*ba di Bar. Bahkan mereka berdua teler disana.


Dan sekarang nark*ba itu tiba-tiba ada ditas Dara.


"Dara, apa Jonathan masuk kelas hari ini?"


"Sepertinya tidak, aku tak melihatnya sejak pagi tadi. Memangnya kenapa? Apa ini semua ada hubungannya dengan dia?" seketika Dara terkejut.


"Iya, pasti ini semua ulah Jonathan, Dallas kamu tahu kan. Jonathan itu mempunyai dendam padaku, karena kakaknya meninggal karna kakaku, aku harus cari dia." kata Dara marah sembari berjalan keluar ruang BK. Namun aku menghentikannya.


"Dara tunggu! Biar aku yang mencarinya!" seruku sembari memegang tangan Dara yang mencoba keluar untuk mencari Jonathan.


"Jelaskan disini pada guru BK. Bahwa itu bukan milikmu. Dan kamu jangan menyentuhnya karena sidik jarimu bisa tertinggal disana. Oke... tenanglah aku akan membantumu." ucapku.


Dara menganggukan kepalanya dengan mata yang masih berlinang air mata. Lalu aku pun kembali kebarisan untuk upacara, ketika aku melihat ke kanan kiriku, aku sama sekali tak melihat Jonathan. Aku berbaris di belakang diam-diam dekat Barbara.


"Gimana. Benarkan apa yang gue bilang." bisik Barabara.


"Bar. Dimana Bintang?" tanyaku sembari berbisik namun pandanganku tetap kedepan.


"Hah... Gue tadi tanya itu sama lo, dimana Bintang, tapi lo ga jawab."


"Jadi lo ga tau dimana Bintang?"


"Ga tau lah. kalo gue tau, gue ga akan tanya sama lo Las!"


Hari itu Jonathan dan Bintang tak ada di sekolah dan itu membuatku curiga. Tapi jika Jonathan dan Bintang tak masuk sekolah mana mungkin mereka bisa menyimpan nark*ba itu di dalam tas Dara.


Yang aku curigakan hanyalah Jonathan dan Bintang. Dara masih ada di ruang BK aku tak bisa membantunya karena belum ada bukti. Dara bahkan tak masuk kelas seharian ini. Karena dia terus memberikam keterangan diruang BK.


"Las, apa benar Dara membawa nark*ba kesekolah?" tanya Yasmin padaku sembari meminum, minuman yang ia pesan di kantin.


"Ya itu benar, tapi aku ragu. Aku rasa itu bukan miliknya." jawabku dengan tatapan kosong.


"Tapi, tadi aku mendengar seseorang mengatakan ia pernah bertemu Dara saat itu, saat malam hari disebuah Bar. Dara membeli banyak minuman alkohol. Jadi bisa saja jika sabu-sabu itu benar milik Dara."


Entah kenapa perkataan yang diucapkan Yasmin membuatku marah.


"Yas. Apa kamu curiga dengan Dara? Dan kamu berfikir Dara adalah seorang pengguna nark*ba?" kataku dengan wajah marah.


"B-bukan begitu Dallas... M-maksudku." Yasmin berbicara tergagap-gagap seakan ia takut aku marah. Aku langsung pergi meninggalkannya dengan kemarahan.