
Tapi aku juga berfikir peran ibuku sebagai ibu untukku juga sangat penting. Tapi aku merelakan dia pergi agar bisa mengurus ayahku di Kanada. Aku rela tak selalu mendapatkan pelukan, sentuhan dari ibuku setiap hari, sejak aku kecil hingga remaja seperti ini, dan itu membuatku sudah terbiasa meskipun jauh darinya.
Aku tidak tahu apakah aku ini anak broken home, atau bukan. Karena terkadang aku selalu menangis seorang diri dalam kamarku yang gelap. Entah apa yang aku tangisi saat itu, karena rasanya hatiku begitu sakit.
"Ya ampun kita tidak bisa tinggal selama 2 hari disini." seru ayahku sembari mematikan panggilan yang ia terima tadi.
"Kenapa, apa yang terjadi?" tanya ibuku sembari memotong daging dengan pisaunya.
"Besok malam ada meeting di kantor."
"Bisakah kamu mengundurkan jadwalnya?"
"Tidak, Tidak bisa. malam ini kita harus kembali ke Kanada. Dallas tak apa kan, kamu kami tinggal secepat ini?" tanya ayahku.
"Tak apa, itu tak masalah lebih baik kalian kembali ke Kanada malam ini. Lagi pula jika aku merindukan kalian aku bisa video call." Jawabku dengan senyuman.
Setelah makan malam, aku mengantar Ayah dan ibuku sampai bandara.
"Dallas. Maafkan ibu, lain kali ibu akan kembali dan tinggal bersamamu lebih lama lagi disini." Seru ibuku sembari memeluk erat diriku.
"Dallas, apapun yang kamu mau tinggal telepon saja ayah, ayah akan memberikannya untukkmu!" ucap ayahku tegas agar aku bisa berbicara padanya apa yang aku inginkan.
Karena selama ini aku tak pernah minta banyak permintaan padanya.
"Baiklah, aku hanya minta kalian bisa tinggal disini selamanya bersamaku. Aku akan menuggu kalian. Jika kalian akan kembali nanti aku akan menjemput kalian di tempat ini lagi." ucapku serius.
Ya dan mereka berdua memelukku degan begitu erat setelah mendengar apa yang aku katakan.
Sepi. Malam itu sangat sepi, tak ada satu orang pun yang ada di sampingku lagi. Ketika aku pulang ke rumah hanya ruangan kosong yang terus bergema, namun ketkika aku melihat sofa, aku teringat Dara. Sofa yang pernah menjadi saksi bahwa Dara dan aku pernah tertidur berdua di atasnya.
Tiba-tiba Yasmin masuk kedalam rumahku sembari memanggil namaku.
"Dallas~" panggil Yasmin pelan.
"Yasmin, ada apa?"
"Dallas aku tahu semua masalahmu di sekolah. Dan soal Abiyan..."
"Apa kamu juga akan marah padaku seperti Abi?" Timpalku.
"T-tidak, aku tak marah. Kamu tahu, sangat sulit bagiku untuk marah padamu. Oh ya Dallas, di sekolah tak banyak yang tahu jika kamu bertarung MMA ilegal bahkan foto-fotomu yang tertempel di mading sudah tidak ada, entah siapa yang mengambilnya."
Yasmin tak marah padaku meskipun aku telah berbohong padanya. Dan aku berfikir haruskah aku menceritakan rahasia ini padanya. Tapi jika aku menceritakan pada Yasmin pasti Yasmin dalam bahaya.
"Tunggu. Bagaimana kamu tahu itu pertarungan MMA ilegal Yas." tanyaku yang sempat terkejut mengapa Yasmin tahu jika itu pertarungan ilegal karena tak tertulis sama sekali di Mading jika itu pertarungan MMA ilegal.
"Abiyan. Dia yang memberitahuku, Dallas kenapa kamu mau bertarung MMA ilegal? Kamu sudah hidup enak bahkan uang selalu mengalir dari ayah dan ibumu. Tapi kenapa kamu mengikuti pertarungan MMA ilegal itu?"
"Tak apa, aku hanya ingin saja Yas." jawabku.
"Apa kamu putus dengan Dara?" tanya Yasmin sembari duduk di sampingku.
"Ya. Hari ini setelah dia tahu bahwa aku seorang petarung MMA , itulah mengapa aku menyuruhmu dan Abiyan untuk tidak memberitahunya saat itu." jelasku.
"Tapi kenapa dia tak suka?"
"Sesuatu yang buruk menimpa dirinya dimasa lalu yang membuat Dara membenci itu."
"Tunggu jika kamu sudah tahu itu, kenapa kamu harus berpacaran dengan Dara?"
"Karena aku mencintainya."
"Ya. Aku tahu alasan itu, tapi maksudku jika kamu tahu Dara tak menyukainya, kamu seharusnya berhenti menyukai MMA."
Seketika aku terdiam setelah mendengar perkataan yang keluar dari mulut Yasmin.
"Siapa ini?" tanyaku sembari melihat nomer yang tertera itu.
"Hallo..."
"Apa anda adalah anak dari Penumpang pesawat yang bernama Elga dan Brian. Penerbangan Indonesia-Kanada?"
"Ya saya sendiri."
"Terjadi kecelakaan pesawaat 30 menit yang lalu, saya harap anda bisa mengambil jenazah kedua orang tua anda."
Seketika Handphone yang kupegang terjatuh. Mataku tak bisa membendung lagi air mata, aku menangis.
"Dallas, ada apa?"
"A-ayah dan Ibuku, mereka sudah tiada Yas. Pesawat yang mereka tumpangi terjatuh..."
Setelah mengatakan itu, aku langsung memeluk erat Yasmin dan menangis dalam pelukannya.
Ya. Hari itu adalah hari senin yang sangat menghancurkanku, semua orang yang kusayang pergi dariku satu persatu.
Ada yang mengatakan ketika kamu telah mencapai umur 18 tahun maka satu persatu akan hilang darimu, temanmu atau bahkan orang yang kau sayang. Dan itu benar aku merasakannya di usia 18tahun ini.
Setelah aku menjemput dan membawa pulang Jenazah ayah dan ibuku menuju rumah. Keeseokan harinya aku dan juga beberapa keluargaku yang lain mengantar Ayah dan ibuku ke peristirahatan terakhirnya.
Gelap sangat gelap, walaupun matahari bersinar cerah tapi bagiku rasanya hari itu sangatlah gelap. Yasmin selalu ada di sampingku, menemaniku tak peduli aku tengah bersedih ataupun bahagia, dia sahabatku yang selalu ada untukku.
Ketika semua orang telah mengantar ayah dan ibuku ke peristirahatan terakhirnya. Aku tak ingin pulang pagi itu, aku terus berada di dekat nisan Ayah dan Ibuku.
"Dallas, mari kita pulang. Besok kita kembali lagi kesini." Ajak Yasmin.
"Yas pulanglah duluan, aku akan menyusul."
Suruhku kepada Yasmin agar Yasmin segera pulang tanpa harus menungguku.
"Baiklah..."
Aku terus meneteskan air mata, mengeluarkan semua kesedihanku disamping batu nisan ayah dan ibuku. Aku terus menangis tanpa suara dan itu benar-benar menyakitkan.
"Kenapa kalian meninggalkanku? Aku bahkan belum membuat kalian bangga padaku."Gumamku. Lalu tiba-tiba seseorang berdiri di belakangku.
"Mereka sudah bangga padamu Dallas, kamu anak yang baik mana mungkin mereka tak bangga padamu." ucapnya.
Ketika aku membalikan badan ternyata ia Dara, gadis yang berbicara itu Dara.
"Dallas aku turut berduka cita, maaf aku terlambat."
Entah kenapa Dara bisa tahu bahwa aku tengah berduka, padahal aku tak memberitahunya. Tiba-tiba Dara mendekatiku lalu memegang tangan kananku dengan kedua tangannya.
Dara tak berkata apa-apa dia hanya terus menggenggam erat tanganku. Ketika aku melihat mata Dara. Tatapan-nya begitu tulus padaku entah kenapa aku bisa merasakannya.
Namun aku melepaskan genggaman tangan Dara dan pergi meninggalkannya.
"Dallas!" Dara terus mengejarku dari belakang dengan langkahnya yang cepat sembari memanggil-manggil namaku. Seketika Dara berhasil menggenggam tanganku dan menarikku ke arah mobilnya.
"Lepaskan!" Seruku sembari melepaskan genggaman tangan Dara.
"Apa ini? kamu berkata padaku bahwa kamu membenciku karena aku seorang petinju. Bahkan kamu mengakhiri hubungan ini kan. Sekarang apa? Apa kamu akan mencoba memperbaikinya?" tanyaku serius.
"Aku tak ingin membahas ini. Aku akan menerima semua kemarahanmu dan juga kebencianmu padaku karena aku mengakhiri hubungan ini. Tapi aku mohon untuk kali ini saja ikultah denganku ke dalam mobilku sekarang!" ajak
Dara kepada Dallas dengan tatapan serius.