
"Dara~" gumamku.
Aku melihat Dara keluar dari ruangan kepala sekolah dengan raut wajah yang penuh dengan kesedihan. Aku berlari pelan menghampirinya.
"Dara, apa yang terjadi?" tanyaku.
"Dara...katakan apa yang terjadi?"tanyaku lagi.
Namun Dara terus terdiam tak mau berbicara.
"Aku di keluarkan dari sekolah..." jawabnya dengan wajah yang penuh kekecewaan.
"Apa?! Apa kamu berkata pada mereka, jika itu bukan milikmu?"
"Ya aku sudah mengatakannya.Bahkan tadi aku tes urin dan hasilnya negatif. Mereka percaya aku tak menggunakan sabu-sabu itu. Tapi mereka membutuhkan bukti jika memang benar nark*ba itu bukan milikku. Mereka mengira aku adalah pengedar dan baru membelinya untuk digunakan nanti."
"Dara, aku akan membantumu mencari siapa orang yang telah melakukan ini padamu!"
"T-tapi sebelum aku dikeluarkan dari sekolah, aku diberi waktu hanya 3 hari untuk memberikan bukti pada mereka, bahwa benda itu bukan milikku."
"Baiklah. Aku akan membantumu oke!"
"Tapi kenapa kamu peduli padaku Las, padahal aku telah menyakitimu, bahkan mematahkan hatimu, kenapa kamu masih peduli padaku?"
Tiba-tiba Dara bertanya dan mengatakan soal perasaan, aku jadi teringat bagaimana Dara memutuskanku gara-gara aku seorang petarung MMA. Aku tak menjawab pertanyaan Dara itu, lalu aku pergi meninggalkannya menuju area parkir.
"Aneh, kenapa aku merasa kejadian ini sangatlah janggal?" tanya batinku. Sembari membawa motor sport hitamku menuju rumah.
Sesampainya dirumah aku mengganti pakaianku lalu pergi ke rumah sakit untuk menemui Abiyan, bersama dengan Grey. Sesampainya dirumah sakit aku dan Grey langsung menuju kamar Abiyan.
"Apa?! Serius?" ucap Abiyan terkejut setelah mendengar ucapanku. Aku memberitahu Abiyan dan Grey soal nark*ba yang ada di dalam tas milik Dara.
"Kalo Jonathan dan Bintang tak masuk sekolah, aku rasa salah satu dari osis itu yang memasukan nark*ba itu ke dalam tas Dara, ketika me rajia?" ucap Abiyan.
"Iya juga, apa kamu tadi tak berfikir. Jika Jonathan dan Bintang tak masuk sekolah, mana mungkin mereka bisa memasukan nark*ba itu ke dalam tas Dara. Kenapa kamu berfikir itu ulah Jonathan?" tanya Grey sembari mengerutkan keningnya.
"Entah kenapa, aku merasa Jonathanlah yang melakukannya. Karena malam itu dia menggunakan nark*ba di Bar dan marah kepada Abiyan gara-gara kamu merekamnya Bi. Dan satu lagi Jonathan mempunyai dendam pada Dara. Jadi aku berfikir Jonathanlah yang melakukannya. Tapi ternyata Jonathan tak masuk hari itu."
"Jadi... Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Grey.
"Tentu saja, aku akan membantu Dara dan mencari cara apapun itu." jawabku.
Aku pikir aku sudah tak peduli dengannya karena setiap hari di sekolah aku selalu bersikap dingin padanya. Bahkan setelah Dara mengembalikan Liontin yang kuberikan padanya hari itu, membuatku sangat marah padanya. Tapi entah kenapa hatiku, pikiranku tak bisa lepas darinya.
Hari sudah malam, tepat pukul 8 malam aku tiba di rumah setelah menjenguk Abiyan.
Buukk! Buukk! Buukk!
Dengan penuh kemarahan aku memukuli samsak yang tergantung disudut ruangan. Aku mengeluarkan semua kemarahan, kesedihan yang ada dalam diriku pada samsak tinju itu. Aku masih tak percaya hidupku akan sesulit ini, semuanya aku lakukan sendiri dari pekerjaan rumah hingga mencari uang.
"Kenapa Dara mengembalikannya? Padahal aku benar-benar tulus memberikan Liontin ini padanya."
Setelah aku selesai mandi, aku berganti pakaian. Baru saja aku akan makan malam, tiba-tiba aku mendengar suara ketukan pintu rumah begitu kencang.
Tok! Tok! Tok!
"Siapa itu?" tanyaku. Lalu aku berlari pelan untuk membuka pintu rumah.
"Sebentar!" sahutku.
Ketika aku membuka pintu ternyata itu Dara. Aku melihat Dara begitu kacau, ia tak menggunakan alas kaki, rambutnya terurai berantakan dan matanya yang tak hentinya mengeluarkan air mata. Bahkan Dara tampak seperti kelelahan, seperti orang yang tengah di kejar-kejar.
"D-Dallas..." serunya pelan sembari menangis tersedu-sedu.
"Dara... ada apa? Apa yang terjadi denganmu, katakan padaku apa yang terjadi, masuklah?" tanyaku sembari memegang kedua tangan Dara dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Tangan Dara terus bergetar karena ketakutan, aku memberinya coklat hangat agar ia tenang. Ketika Dara mulai tenang aku bertanya kembali padanya apa yang terjadi.
"Dara, katakan padaku sekarang apa yang terjadi denganmu?"
Lalu Dara pun menceritakan kejadian yang menimpanya malam itu kepadaku. Dara berkata bahwa dirinya dikejar oleh 4 orang pria asing dengan motor, ketika ia akan pergi menuju sebuah minimarket. Dara meninggalkan mobilnya di tepi jalan bersama dengan 4 pria asing itu, Dara berhasil melarikan diri dari orang-orang asing yang mencoba membahayakan dirinya.
"Aku tidak tahu apa yang mereka inginkan dariku, mereka terus mengetuk-ngetuk kaca mobilku. Aku menancap gas dan ketika mereka tertinggal di belakang aku teringat jalan perumahan ini menuju rumahmu. Lalu aku menepikan mobilku di tepi jalan, dan masuk ke perumahan ini menaiki gerbangnya. Setelah itu aku berlari menuju rumahmu."
Jelas Dara dalam keadaan yang masih ketakutan.
Ketika aku melihat kaki Dara, kakinya terluka bahkan berdarah di bagian jari-jarinya. Pasti ia berlari begitu keras agar sampai menuju rumahku. Aku mengambil kotak P3k untuk mengobati luka di kakinya.
"Dara diamlah disini dan jangan banyak bergerak, aku baru saja mengobati kakimu. Aku akan mengecek sebentar keluar. Ingat jangan keluar dari rumah oke diamlah disini!"
Kataku dengan penuh keseriusan. Dara menganggukan kepalanya, dan menuruti perkataanku
Aku keluar seorang diri dengan membawa motorku, untuk melihat orang-orang yang mengejar Dara. Ketika aku tiba di dekat gerbang perumahan ini, ternyata pak penjaga sudah tertidur di posnya dengan tv yang menyala. Aku tak bisa keluar dengan motorku, karena gerbangnya sudah di tutup. Jadi aku hanya melihat keadaan diluar sana melalui sela-sela gerbang besar itu.
"Tak ada siapapun disini, apa mereka sudah pergi?" tanyaku.
Ketika aku melihat keluar hanya ada mobil Dara yang terparkir di tepi jalan dengan kaca mobil yang pecah, mungkin penjahat itulah yang merusaknya. Setelah itu aku kembali kerumah. Setibanya dirumah aku menyarankan pada Dara untuk tetap tinggal di rumahku terlebih dulu, karena sudah larut dan takut penjahat itu akan mengejarnya lagi.
"Dara aku pikir orang-orang yang sedang mengejarmu itu sudah tidak ada. Dan untuk malam ini tetaplah disini dan kembali esok pagi." ucapku sembari mengunci pintu rumah.
Ketika aku berbalik badan dan melihat ke arah Dara. Dara terus menatap samsak tinjuku. Lalu aku berjalan mendekatinya.
"Dara... Apa kamu mendengarku?"
"I-iya aku mendengarmu, tapi aku takut jika aku tak kembali malam ini, aku takut hal buruk terjadi pada ibuku, jadi lebih baik aku kembali malam ini. Terima kasih sudah mau menolongku."
"Baiklah kalo kamu khawatir dengan ibumu, Akan ku antar."