DALLAS

DALLAS
CHAPTER 7



"Sudahlah jangan menangis, duduklah akan ku ambilkan pakaian yang kering untukmu."


Karena baju Dara basah aku memberikan salah satu hoodieku yang berwarna merah kepadanya. Entah kenapa dia membasahi tubuhnya.


"Dara pakailah ini." Ucapku pada Dara sembari memberikan hoodie milik-ku. Lalu Dara mengganti baju seragamnya yang basah dengan memakai hoodie merah milik-ku.


"Aku akan menunggumu di ruang makan."


Aku membiarkan Dara berganti pakaian di dalam kamarku, lalu aku menunggunya diruang makan. Dan tak lama setelah Dara mengganti bajunya kami makan bersama.


"Dallas masakan Bi Munah sangat enak." Seru Dara padaku dengan wajah yang terlihat sumringah.


Aku senang melihat senyum Dara dengan sangat dekat, aku bahkan tak percaya momen ini.


"Oh iya kemana orang tuamu, setahuku ayahmu pemilik perusahaan minyak di Kanada apakah itu benar?" tanyanya.


"Ya Dara itu benar. kedua orang tuaku tinggal di Kanada aku disini hanya bersama dengan Bi Munah."


"Apa kamu merindukan mereka?"


"Tentu aku selalu merindukan mereka."


"Setelah ini bisakah kamu mengantarku pulang? Aku sangat mencemaskan ibuku."


"Baiklah aku akan mengantarmu pulang nanti Dara."


Setelah itu aku mengantar Dara pulang kerumahnya, setelah beberapa menit di perjalanan aku tiba di perumahan dimana Dara tinggal.


"Yang mana rumahmu?" tanyaku.


"Disana itu rumahku." Jawab Dara sembari menunjuk rumah mewah berwarna putih.


Karena Dara juga berasal dari keluarga yang berada sepertiku.


"Dallas terima kasih untuk semuanya. Aku akan kembalikan hoodie merahmu ini." kata Dara kepadaku yang masih ada di dalam mobil.


Lalu tiba-tiba suara jeritan terdengar begitu keras dan membuat Dara dan aku terkejut.


"Ibu." gumam Dara.


Suara itu berasal dari dalam rumahnya. Dara dengan cepat pergi masuk kedalam rumahnya. Dan aku mengikutinya dari belakang tanpa sepengetahuan Dara.


"Bu! Ibu!" Teriak Dara. Memanggil ibunya. Ketika aku masuk kedalam rumahnya aku melihat sebuah botol minuman alkohol yang pecah di dekat ruang tv.


Dara berlari naik kelantai dua rumahnya, dan aku yang ada di belakangnya terus mengikutinya tanpa sepengetahuannya.


Ternyata yang terus berteriak itu adalah ibunya. Aku bingung apa yang terjadi dengan ibunya tapi aku tak mungkin bertanya dalam keadaan seperti ini.


Dara membaringkan ibunya diatas ranjang yang begitu besar dan terlihat mewah. Lalu aku melihat Dara meminumkan sebuah obat penenang pada ibunya.


"D-dara" gumamku.


"Dallas, kenapa kamu ada disini?" tanya Dara yang tiba-tiba terkejut melihatku.


"Apa yang terjadi dengan ibumu?" tanyaku bingung.


Namun Dara tak menjawab pertanyaanku. Dara menarik tanganku dan membawaku keluar dari kamar ibunya.


"D-dallas... Aku mohon jangan beritahu siapapun soal ini. Kemarilah ikut denganku."


Dara membawaku menuju balkon rumahnya. yang di bawahnya terlihat sebuah taman bunga mawar yang begitu indah. lalu Dara menceritakan apa yang terjadi dengan ibunya kepadaku saat itu.


"Dallas jika perkataan Jo itu benar, apa kamu masih mau berteman denganku?" tanya Dara.


"Ya, tentu aku percaya padamu, kamu bukan orang jahat dan perkataan Jonathan hanyalah sebuah lelucon." Jawabku.


"Lalu?"


"Mereka berdua berteman dekat, namun mereka mencintai satu wanita yang sama. Diantara mereka tak ada yang mau mengalah jadi mereka bertarung diatas Ring. kakaku Luis terlalu jatuh cinta dengan wanita itu dan dia tak mau kalah dari kakaknya Jo yang mana dia itu sahabatnya sendiri, kakaku memukul habis-habisan kakak Jo hingga mengalami pendarahan di bagian kepalanya."


"Setelah itu Andrew kakaknya Jo meninggal,


Luis mengetahui jika Andrew meninggal karena dirinya. Dia merasa marah pada dirinya sendiri. Kakakku merasa tertekan dengan semua itu. Jadi dia membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi dan tertabrak sebuah kereta. Sekarang dia juga sudah tiada. Kepergian Luis membuat ibuku menjadi seperti itu, dia selalu berteriak memanggil namanya. Setiap hari aku harus memberi dia obat penenang. Dan karena itulah Jonathan mengatakan aku dari keluarga pembunuh." Jelas Dara.


"Lalu Kemana ayahmu?" tanyaku.


"Dia bekerja diluar kota. Walaupun ibuku begitu tapi ayahku tetap bekerja keras untuk kami. Dia selalu memenuhi kebutuhan kami. Walaupun dia jarang pulang karena sibuk." jawab Dara.


Setelah mendengar itu semua. Aku jadi teringat jika aku dan Jo juga bertarung demi satu wanita yaitu Dara.


"Dara pasti akan merah besar, jika dia tahu soal taruhanku dengan Jonathan." Ucap batinku.


Dan aku juga tersadar setelah mendengar bahwa kakak Jonathan meninggal karena kakak Dara.


"Apa mungkin Jonathan berpacaran dengan Dara, hanyalah untuk membalas dendam kepadanya, karena dia pernah mengatakan padaku bahwa dia berpacaran dengan Dara hanya untuk balas dendam. Apa Dara tahu tentang ini." tanya batinku lagi.


"Dara boleh aku bertanya?"


"Bertanya? Apa yang ingin kamu tanyakan padaku? Tentu saja boleh."


"Apa kamu bahagia bersama Jonathan?"


"Kenapa bertanya soal itu?"


"Aku hanya ingin tahu perasaanmu terhadapnya, setiap aku melihatmu dengannya, kamu seperti tak bahagia."


"Memang. Aku tak bahagia Dallas, dia selalu kasar padaku,dia bahkan memutuskanku dan mengatakan pada semua orang bahwa aku adik seorang pembunuh. Walau begitu entah kenapa aku mencintainya. Aku juga sudah mengatakan padanya bahwa kita berdua harus merahasiakan kematian Luis dan Andrew. Tapi dia mengatakannya hari ini."


Aku pikir Dara tak mencintainya, tapi nyatanya dia sangat mencintai Jonathan, walaupun Jonathan selalu kasar padanya dan menyakitinya. Aku sedikit kecewa saat itu, aku terlalu berharap besar padanya.


"Oh ya Dara aku harus pulang sekarang."


"Dallas aku harap kamu merahasiakan semua ini."


"Baiklah Dara aku berjanji."


"Terima kasih banyak untuk hari ini Dallas."


"Iya, aku pergi dulu"


Aku pergi dengan rasa kecewa. Bahkan Dara tidak tahu bahwa Jonathan tak pernah mencintainya, Jonathan hanya balas dendam padanya.


Dengan cara menyakiti Dara setiap hari melalui cinta palsunya. Tapi aku senang karena sekarang Dara sudah terbebas dari ikatan Jonathan. Walaupun aku tahu pasti Dara akan selalu diejek disekolah karena perkataan Jonathan.


Hari itu aku datang lebih awal kesekolah. Bukannya langsung masuk kelas aku malah pergi kekantin. Lalu aku membuka laptopku untuk menonton pertandingan MMA. Telinga kananku tertutup earphone. Beberapa menit kemudian aku pergi ke tempat loker untuk menyimpan laptopku. Tapi tiba-tiba suara sorakan terdengar begitu keras.


Aku sangat penasaran dengan suara itu. "Kenapa semua orang berteriak?" tanyaku, ternyata mereka meneriaki Dara dengan kata-kata umpatan.


"Pembunuh! Dasar adik pembunuh, kau tak pantas menjadi primadona sekolah!" Ucap dari beberapa murid sekolah.


Namun sepertinya Dara takmemperdulikannya, Dara langsung pergi ke kantin dan duduk sendirian. Aku mencoba mendekatinya disaat semua orang menjauhinya.


"Dara kamu baik-baik saja?" tanyaku pada Dara.


"Aku tak bisa mengatakan aku baik-baik saja. Jujur aku sangat sedih dengan ucapan mereka tapi aku mencoba bertahan."


Lalu aku berfikir apakah ini salahku? aku berniat menjaga Dara dan menjauhkan dirinya dari Jonathan yang tak punya hati itu. Tapi nyatanya aku malah membuat Dara terluka.