DALLAS

DALLAS
CHAPTER 10



"Dara bagaimana jika malam ini kita berkencan?"


"Berkencan. Malam ini?"


"Ya, aku akan menjemputmu malam ini."


"B-baiklah, kalo begitu aku pulang dulu."


Dengan spontan aku mengajak Dara berkencan malamnya.


Malam itu terjadi, malam yang tak pernah kuduga akan terjadi, yaitu berkencan dengan Dara. Tepat pukul 8 malam dengan pakaian yang rapih sembari mengemudikan mobil hitamku. Aku pergi mendatangi rumah Dara. Dalam perjalanan, aku terus tersenyum seperti seseorang yang baru pertama kali di mabuk cinta.


Lalu aku berkhayal mungkin Dara dengan gaun merahnya, tengah berdiri menungguku di depan rumahnya. Ketika aku asik berkhayal tiba-tiba handphoneku yang di simpan di saku bajuku berbunyi.


Tililit tililit


Ketika aku melihatnya aku mendapatkan panggilan dari Coach Bimo. Aku pun menepikan mobilku sebentar untuk menjawabnya.


"Hallo Coach."


"Dallas! Dimana kamu?! Pertandingan akan segera dimulai."


"P-pertandingan?! Bukannya besok ya coach?"


"Pertandingannya malam ini, coach sudah mengirimmu pesan sejak tadi sore agar kamu bersiap, tapi kamu tak membacanya. Coach terus menelponmu tapi nomermu tidak aktif. Apa kamu menyalakan mode pesawat?" Oceh coach Bimo di telepon.


"M-maafkan aku coach aku lupa mematikan mode pesawat." jawabku malu dan gugup.


"Padahal kamu sedang di rumah kenapa kamu harus menyalakan mode pesawat. Sudah cepat kemari, coach akan mengirimkan alamatnya!"


Malam itu aku tak jadi menjemput Dara. Bahkan aku tak mengabari Dara jika kencan ini batal, karena aku terburu-buru menuju lokasi pertandingan MMA malam itu. Aku pergi kesana sendirian, ketika aku sudah tiba dilokasi yang di kirim oleh coach Bimo. Aku sempat bingung kenapa tempatnya begitu sepi.Tapi tiba-tiba seorang pria mengetuk kaca mobilku.


Tok! Tok! Tok!


Aku pun membuka kaca mobilku.


"Apa anda bernama Dallas?" tanya pria itu.


"I-Iya saya Dallas." jawabku.


"Kamu akan bertarung disini malam ini?"


"Iya, tapi dimana arena tinjunya? Kenapa disini sangat sepi?"


"Tunggu sebentar. Saya akan membukakan gerbangnya."


Lalu pria yang tak kukenal itu membukakan gerbang yang tinggi dan besar untuk-ku.


"Oh itu gerbang, kenapa aku baru menyadarinya. Apa karena gerbang itu berbeda, itu hampir mirip dengan tembok." gumamku sembari melihat pria yang tak kukenal tadi mendorong gerbang yang terlihat besar dan berat. Lalu pria itu menyuruhku masuk ke dalam dengan mobilku.


Ketika aku masuk ke dalamnya disana sangat sepi tetapi ada banyak mobil yang terparkir disana.


"Kenapa tempat ini seperti gedung yang sudah tua?" tanyaku sembari keluar dari mobil dan mencari arah jalan masuk menuju arena pertandingan. Tiba-tiba coach Bimo memanggil namaku dari arah tangga.


"Dallas! Cepat kemari pertandingan akan dimulai." teriak coach Bimo.


"Coach." lalu aku berlari ke arahnya.


"Cepat buka bajumu dan ikuti aku, kita sudah tak punya banyak waktu." Kata coach Bimo sembari berlari bersamaku menaiki anak tangga.


Aku menuruti perkataannya dan membuka bajuku, lalu aku tiba di sebuah ruangan yang di dalamnya ada Pak Harris.


"Pak Harris." sapaku yang baru datang ketika melihat pak Harris yang tengah menungguku di ruangan itu.


"Dallas dengar saya, hadiah MMA ini cukup besar. sekitar 1 miliar."


"1 Miliar?!" Sentakku kaget.


"Ya dan ingat kamu sudah menandatangani kontrak dengan saya di atas Materai. Jadi kamu harus mengikuti perintah saya dan Coach Bimo." Ucapnya dengan tatapan yang penuh keseriusan.


"Baik. Aku berjanji."


Aku berjalan bersama coach Bimo dan Pak Harris masuk menuju arena pertandingan itu. Namun aku merasa tak enak dan merasa semuanya berbeda dengan apa yang aku pikirkan. Di arena itu tampak tak ada satu pun kamera, hanya ada banyak pria yang menggunakan jas dan berdasi rapih yang menontonnya, dan juga beberapa wanita yang mendampingi mereka dengan pakaian dan tas yang serba mewah, Seketika aku berhenti melangkah.


"Dallas!" panggil Coach Bimo dengan tatapan tajam.


"Dallas, cepat pertandingan akan segera dimulai."


"Tidak. Aku tidak mau bertanding.Kalian pikir aku tidak tahu pertandingan seperti apa ini hah! Ini ilegalkan. Aku tak mau bertarung ilegal, Coach telah berbohong padaku."


Ya saat itu aku menyadari jika coach Bimo dan Pak Harris membohongiku. Mereka mengontraku untuk pertarungan tinju ilegal bukan legal. Pantas jika aku marah.


"Pantas sejak tadi arena ini benar-benar berbeda, dengan arena tinju yang seperti aku lihat di pertandingan tinju lain.


Tanpa t-shirt dan lenganku yang terlilit hand wrap, aku berjalan menuju pintu keluar. Namun arah pintu keluar ruangan arena itu di hadang oleh 2 pria bertubuh kekar dan besar yang menghadang.


"KUNCI PINTU ITU! DAN JANGAN BIARKAN DIA KELUAR!" teriak Pak Harris. langkahku pun terhenti. Lalu Pak Harris menghampiriku dengan menunjukan sebuah video di handphonenya.


"Lihat! Jika kamu melanggar kontraku dan pergi dari arena ini. Wanita ini akan kubunuh." bisik pak Harris di hadapan wajahku. Sembari menunjukan video itu.


Ketika aku melihatnya wanita itu adalah Dara. Dalam video itu ada 4 orang pria yang tengah mengawasi rumah Dara. Bahkan aku melihat Dara dengan gaun merah di depan rumahnya. Dan aku teringat lagi jika seharusnya malam ini adalah kencan pertamaku dengannya.


"Ya. Itu Dara, dia muridku juga." Cetus pak Harris.


Lalu aku marah semarah-marahnya.


"Brengsek." Geramku di hadapan wajah pak Harris, lalu Pak Harris menampar wajahku.


Plak!!!


Kedua pria bertubuh besar dan kekar itu membawaku ke arah ring dan melemparkanku ke atasnya dengan begitu keras. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi karena jika aku melawan pak Harris, maka dia dan anak buahnya akan membuat Dara dalam bahaya.


Tanpa ada wasit, aku berada diatas ring melawan seorang lelaki yang tak ku kenal. Dengan di saksikan oleh pria berdasi dan para wanitanya. Pertandingan MMA ilegal pun di mulai.


Fight!


Aku bertanding habis-habisan d iatas ring. Bahkan dalam pertandingan itu tak ada yang mengatur waktu berapa lama pertandingan berlangsung. Pukulan demi pukulan terlontar kepadaku, Namun karena kemampuanku yang cukup baik aku berhasil mengalahkannya. Lawanku itu KO hingga tak sadarkan diri. Sedangkan aku, hidung dan mulutku penuh dengan Darah karena bertarung bebas di atas ring hanya dengan tangan yang di lilit oleh handwrap.


Aku memenangkan pertandingan itu. Namun aku sama sekali tak mendapatkan uangnya, Pak Harris yang mengambil uang itu dari seorang pria berdasi yang bernama Hiro.


Setelah pertandingan itu aku dibawa kesebuah ruangan oleh coach Bimo dan pak Harris.


"Hahaha, bagus Dallas! Bagus, kamu petarung hebat." seru pak Harris dengan tawanya yang lepas dan tangan kanan yang memegang koper penuh uang.


"Oh ya Bimo. Nanti bawakan dia makanan dan juga pakaian agar dia tetap disini." Suruh pak Harris pada coach Bimo. Aku pun terkejut setelah mendengar perkataan pak Harris.


"Tunggu. Apa maksud anda? Tidak, saya tidak mau di kurung disini dan di lepas saat hanya akan bertanding." ucapku marah.


"Karena jika saya melepasmu keluar dari sini. Pasti kamu akan melarikan diri dan melaporakan ini semua!" Jawab pak Harris dengan mata yang terbelalak.


"Baiklah, aku akan menuruti perintah kalian, aku akan selalu siap untuk pertandingan ilegal itu. Lagi pula saya sudah menandatangi kontrak diatas materai selama satu tahun. Saya tidak akan melanggarnya. Izinkan saya keluar dari sini, saya tidak mau orang di sekitar saya mencemaskan saya. Saya berjanji akan merahasiakannya."


Aku terus memohon kepada pak Harris. Dan mencoba patuh terhadap dirinya, agar dia tak mengurungku disini.


"Benar Harris jika kita mengurungnya, mental dia juga akan terganggu, bisa-bisa Dallas akan kehilangan staminanya nanti ketika akan bertanding lagi." Seru coach Bimo meyakinkan Pak Harris temannya sendiri.


Aku tidak tahu sebenarnya Coach Bimo ada di pihakku atau pak Harris. Karena di sisi lain Coach Bimo seperti ada di pihakku bahkan tatapannya seperti sangat khawatir ketika melihatku bertanding tadi.


Lalu pak Harris menyetujuinya agar tak mengurungku di tempat itu.


"Baiklah. Tapi ingat jika kamu melanggar janjimu dan memberitahu semua ini pada seseorang. Dara, wanita yang kamu sukai akan hilang dan tak kan pernah bisa kamu temui lagi. Dara akan hilang bagaikan ditelan bumi."


Pak Harris mengancamku terus menerus jika aku melanggar janjinya. Dan itu membuatku amat sangat marah, tapi aku berusaha tenang.


"Baiklah saya berjanji. Tapi jika saya sudah menepati janjinya. Saya harap pak Harris tidak melakukan hal buruk pada Dara."


Kami berdua saling bersalaman dan berjanji untuk tidak melanggar aturan.


Aku pulang kerumah malam itu dengan wajah yang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Dalam perjalanan pulang aku terus terdiam memikirkan apa yang barusan terjadi.


"Kenapa pak Harris tahu jika aku menyukai Dara? Aku tahu dia kepala sekolahku tapi apakah sedetail itu dia tahu percintaan muridnya?" tanyaku.


Lalu tiba-tiba saja aku teringat Dara.


"Ya ampun Dara."


aku membawa mobilku dengan kecepatan tinggi menuju rumah Dara untuk menemuinya.


Ketika aku tiba disana. Aku melihat 4 orang yang aku lihat di video tadi yang tengah mengawasi rumah Dara, mereka pergi meninggalakan area perumahan Dara dengan mobil berwarna hitam.


Dengan cepat aku keluar memarkirkan mobilku di depan rumah Dara dan mengetuk pintu rumahnya.


"Tok! Tok! Tok!


Dara membukakan pintu untukku. Namun tatapannya langsung berubah ketika melihat diriku.


"Dara... m-maafkan aku, aku datang terlambat untuk berkencan." ucapku tergagap-gagap.


Namun Dara tak memperdulikan ucapanku itu Dara langsung memegang wajahku dengan mata yang berkaca-kaca.


"Dallas, apa yang terjadi dengan wajahmu?"


"Ah aku lupa, seharusnya aku menemui Dara setelah luka pukulan diwajahku itu hilang. Agar Dara tak curiga jika aku telah bertanding MMA." ucap batinku.


"Dallas masuklah akan ku obati." ajak Dara sembari menarik tanganku.


Ketika aku masuk ke dalam rumahnya, Sepertinya ibunya sudah tertidur karena tampak sepi. Aku duduk disofa rumah Dara sedangakan Dara mengambil kotak P3k.


Dara pun membersihkan lukaku.


"Dara maafkan aku."


"Dallas soal kencan tak masalah. Kita bisa lakukan dilain hari, yang terpenting saat ini adalah, kamu harus menjawab pertanyaanku."


"Pertanyaan apa?"


"Apa yang terjadi dengan dirimu? Dan siapa yang memukulimu? Kamu tahu aku sangat membenci orang yang suka bertengkar. Apa Jonathan yang membuatmu seperti ini?"


"Tidak. Bukan Jonathan, ini hanya ulah preman jalanan tadi, gara-gara aku tak sengaja menabrak motornya yang tengah terparkir di tepi jalan."


Aku berbohong lagi dan lagi pada Dara. Tanpa tahu apa akibatnya nanti.