
Ketika di sekolah saat jam istirahat, tiba-tiba handphone semua orang berbunyi. Aku tidak tahu pemberitahuan apa itu. Lalu aku bertanya pada Yasmin yang duduk di depanku.
"Yas ada apa?" tanyaku.
"Dallas 1 menit lagi Jonathan akan siaran langsung di Instagram." Jawab Yasmin.
"Apa kamu tidak mengikuti Jonathan di Instagram?"
"Tidak."
Lalu siaran langsung pun di mulai. "Lihat, Jonathan sudah memulainya!" kata Yasmin.
Dalam siaran langsung di akun Jonathan yang di saksikan banyak orang itu, Jonathan ternyata tengah berada di dalam kelasnya bersama dengan Dara dan beberapa temannya terutama Bintang dan Barbara pun ada disana.
"Hai semuanya! Hari ini dengan di saksikan banyak orang, aku ingin mengatakan satu hal kepada kekasihku yang bernama Dara Esmeralda ini, hal yang sangat penting.
Dara, sudah satu tahun lamanya kita menjalin hubungan ini, tapi aku ingin hubungan kita berakhir disini." Seru Jonathan dalam siaran langsungnya, sembari memegang tangan Dara.
"T-tapi kenapa Jo?" Tanya Dara yang ada di hadapanya dengan wajah yang bingung.
"Maafkan aku Dara, tapi aku tidak bisa berpacaran dengan adik seorang pembunuh." ucap Jonathan halus namun menyakitkan.
"Jo. apa yang kamu katakan?" tanya Dara.
Lalu semua murid yang mendengarnya, langsung memojokan Dara, mereka semua menatap tajam Dara.
"Tak kusangka dia dari keluarga pendosa seperti itu."
"Iya benar seharusnya dia jangan jadi primadona sekolah, jika yang dikatakan Jonathan itu benar."
Aku yang mendengar itu semua di handphone Yasmin. Merasa sangat marah karena aku teringat tentang taruhan semalam. Jonathan yang harus memutuskan hubungannya dengan Dara.
Saat itu aku benar-benar marah kepada Jonathan dan mendatangi kelasnya, namun ketika aku tiba disana, Dara sudah pergi entah kemana. Aku menghampiri Jonathan dan memukul wajah Jonathan dengan satu pukulan keras.
"Apa yang lo katakan sama Dara Jo! Gue udah bilang putusin Dara baik-baik!" Aku berteriak begitu keras di hadapan wajah Jonathan.
Namun aku langsung teringat Dara. Aku pergi mencarinya. Ketika aku bertanya pada pak satpam sekolah, ternyata Dara berlari keluar dari sekolah tanpa membawa kendaraan.
Karena Selama ini Dara selalu berangkat bersama Jonathan, aku membawa mobilku untuk mencarinya. Ketika di perjalanan handphoneku tak berhenti bergetar karena Yasmin yang terus menelpon, namun aku tak mengangkatnya.
"Kemana Dara pergi?" gumamku sembari menyetir mobil.
Setelah 10 menit lamanya, akhirnya aku menemukan Dara. Dara tengah duduk di sebuah taman seorang diri, aku menghampirinya perlahan aku berdiri di depan Dara yang terus menundukan kepalanya.
"Dara~" panggilku pelan. Lalu Dara mengangakat kepalanya dan melihat diriku yang berdiri di hadapannya.
Aku melihat wajah Dara benar-benar pucat dan air matanya yang terus mengalir.
"Dallas apa yang kamu lakukan disini?Pergilah Dallas... aku ingin sendiri..."
"Tidak. Aku tak akan pergi, aku ingin disini."
"Untuk apa?"
"Aku ingin di sini. Tolong izinkan aku disini menemanimu Dara. Walaupun kamu menolaknya aku tetap bersikeras menemanimu disni." tegasku.
"Baiklah kalo begitu aku yang akan pergi."
Tiba-tiba Dara pergi dan itu membuatku sedikit kesal, aku menarik tangan Dara dan memaksa Dara masuk kedalam mobilku. Lalu aku membawanya kesuatu tempat.
Entah kenapa dalam pikiranku aku ingin membawa Dara ke rumahku. Di dalam mobil, kami sama sekali tak mengobrol bahkan saling pandang pun tidak. Setelah beberapa menit di perjalanan akhirnya aku tiba dirumahku bersama Dara.
"Ini rumahku." ucapku pada Dara yang masih didalam mobil.
"Kenapa kamu membawaku kerumahmu? Apa yang akan kamu lakukan padaku?" tanya Dara.
"Sudah ikut saja, di rumah ada Bi Munah. Apa kamu berfikir aku akan melakukan hal yang buruk padamu?"
Dara pun mau keluar dari dalam mobil, ketika tiba di depan rumah, kami berdua langsung di sambut oleh Bi Munah di depan pintu.
"Den Dallas kenapa sudah pulang? Ini masih jam sekolah" ucap Bi Munah.
"Tenang bi kami free hari ini. Oh iya ini Dara temanku, Bi Munah tolong buatkan makanan untuk kami." pintaku pada Bi Munah.
Lalu Dara tersenyum sembari menjabat tangan Bi Munah dengan senang hati sembari memperkenalkan diri.
"Hai Bi aku Dara." Sapa Dara pada Bi Munah.
"Loh sepertinya Non Dara habis menangis ya?"
"Eum, Bi buruan yah aku lapar nih." timpalku.
"Oh iya bibi akan buatkan makan yang enak untuk kalian berdua." Jawab Bi Munah yang langsung buru-buru ke dapur.
"Masuklah." Lalu aku mengajak Dara duduk di meja makan, aku duduk berhadapan dengan Dara, namun Dara terus terdiam tanpa berkata-kata.
"Dara..." panggilku pada Dara yang terus terdiam.
"Dara."
"I-iya Dallas, ada apa?"
"Dara aku tahu kamu pasti sangat sedih berpisah dari Jonathan. Tapi cobalah untuk mengerti, dia telah memfitnahmu tadi." Ucapku pada Dara.
"Dallas, bagaimana jika yang di katakan Jo itu benar, jika aku dari keluarga pendosa. Apa kamu juga akan membenciku seperti semua murid disekolah?" tanya Dara padaku dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Kenapa dia begitu jahat dan mengatakan semuanya di depan semua orang. Padahal aku sudah menepati janjinya agar dia merahasiakan semua ini." Ucap Dara lagi.
"Dara aku mempercayaimu." ucapku pada Dara, agar Dara sedikit tenang. Namun tiba-tiba Dara izin ke toilet.
"Dallas aku ingin ke toilet, kearah mana aku harus pergi?"
Lalu aku mengantar Dara ke toilet kamarku, karena toilet bawah air kerannya tak berfungsi. Setelah itu aku pergi kembali keruang makan untuk menunggu Dara.
Tetapi setelah beberapa menit Dara belum juga kembali. Aku benar-benar khawatir saat itu. Dengan cepat aku berlari ketoilet kamarku yang ada di lantai atas. Setibanya disana aku mendengar Dara menangis, aku takut dia melakukan hal aneh di dalam sana. Aku terus mengetuk pintu agar Dara keluar tapi Dara hanya terus menangis.
Tok! Tok! Tok!
"Dara! Apa yang terjadi? Buka pintunya. Dara!"
Aku berteriak sembari mengetuk pintu kamar mandi dengan terus menerus. Agar Dara mau membuka pintunya, dan akhirnya Dara membuka pintu kamar mandi itu dalam keadaan baju seragam dan seluruh tubuhnya yang basah, bahkan mata Dara juga benar-benar terlihat sangat merah karena dia tak berhenti menangis.
"Dara..." seruku pelan.
dengan memberanikan diri aku memeluknya. Karena di saat-saat seperti itu aku tahu Dara membutuhkan pelukan. Aku memeluknya dengan erat. Aku tidak tahu apa Dara sedih karena di putuskan oleh Jonathan atau ucapan Jonathan itu benar, dan karena ucapan Jonathanlah, Dara seperti benar-benar merasa terbebani.
Ketika aku memeluk Dara dalam keadaan seluruh pakaiannya yang basah, Dara langsung menangis dengan sangat keras mengeluarkan semua rasa sakit di hatinya dalam pelukanku.